NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.

Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.

Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Lahirnya Seorang Putri

Musim dingin mulai menyelimuti kota kecil di Belanda. Salju tipis turun perlahan di luar apartemen hangat tempat Alya tinggal selama dua bulan terakhir.

Negara itu terasa asing.

Tenang.

Dan jauh dari kehidupan Sabrina sebelumnya.

Alya berdiri di dekat jendela sambil memegang perutnya yang kini sudah sangat besar. Napasnya sedikit berat.

“Kayaknya sebentar lagi ya…” bisiknya pelan.

Usia kandungannya sudah memasuki minggu terakhir.

Dan semakin mendekati hari persalinan, rasa takut mulai muncul perlahan di hatinya.

Ia belum pernah menjadi ibu.

Belum pernah melahirkan.

Belum pernah membayangkan hidupnya akan berubah sejauh ini.

Pintu apartemen terbuka pelan.

Ares masuk sambil membawa beberapa kantong belanja bersama istrinya, Tante Maya.

“Kamu belum tidur lagi?” omel Maya lembut.

Alya tersenyum kecil.

“Belum ngantuk.”

Maya langsung menghampiri sambil membenarkan selimut di pundak Alya.

“Jangan terlalu lama berdiri. Kakimu nanti bengkak.”

Melihat perhatian kecil itu membuat hati Alya terasa hangat.

Selama dua bulan ini, Ares dan Maya benar-benar menjaganya tanpa banyak bertanya.

Mereka bahkan rela pindah sementara ke Belanda demi menemani Sabrina sampai melahirkan.

“Kita sudah siap kok,” ujar Ares santai sambil meletakkan kantong belanja. “Rumah sakit tinggal sepuluh menit dari sini.”

Alya tersenyum pelan.

“Terima kasih, Om.”

Ares menatap keponakannya cukup lama sebelum berkata lembut—

“Kamu nggak perlu sendirian lagi.”

Dan kalimat itu hampir membuat Alya menangis.

---

Di sisi lain dunia…

Leon duduk diam di ruang kerjanya yang gelap.

Sudah hampir empat bulan sejak Sabrina pergi.

Dan tidak ada satu hari pun ia berhenti mencarinya.

Di atas meja terdapat kalender dengan beberapa tanggal yang diberi tanda merah.

Perkiraan hari lahir bayi Sabrina.

Leon mengusap wajahnya lelah.

Entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya semakin kacau.

Ia mulai sulit tidur.

Sulit fokus bekerja.

Bahkan mansion besar itu terasa semakin kosong setiap harinya.

Tatapannya jatuh pada foto USG kecil yang masih tersimpan di meja.

Anak perempuan.

Sabrina pernah tersenyum sangat lembut saat melihat foto itu.

Dan sekarang…

Leon bahkan tidak tahu di mana mereka berada.

“Mungkin sekarang dia udah lahiran…”

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Perasaan sesak mendadak memenuhi dada Leon.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia takut kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia miliki.

---

Malam harinya hujan salju turun semakin deras di Belanda.

Alya yang sedang tidur tiba-tiba terbangun karena rasa sakit tajam di perutnya.

“Ngh…”

Ia langsung memegangi perut sambil meringis.

Rasa nyeri itu datang lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

“Ares… Om…”

Suara Alya terdengar panik.

Tak sampai beberapa detik, pintu kamar langsung terbuka.

Maya buru-buru menghampiri.

“Kontraksi?!”

Alya mengangguk dengan napas gemetar.

“Sakit…”

Ares langsung panik setengah mati.

“Oke, oke! Kita ke rumah sakit sekarang!”

Suasana apartemen mendadak kacau.

Tas persalinan segera dibawa, mantel dipakaikan, dan Alya dibantu berjalan menuju mobil sambil menahan rasa sakit yang semakin kuat.

Salju turun deras sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Alya menggenggam tangan Maya erat sambil menahan air mata.

“Takut…”

Maya langsung mengusap rambutnya lembut.

“Nggak apa-apa sayang. Kamu kuat.”

---

Sementara itu di kota lain yang jauh…

Leon tertidur di sofa ruang kerjanya untuk pertama kalinya setelah berhari-hari begadang.

Dan malam itu ia bermimpi.

Ia berdiri di taman yang dipenuhi cahaya matahari hangat.

Lalu terdengar suara tawa kecil.

Seorang anak perempuan berlari ke arahnya memakai dress putih kecil dengan rambut panjang sedikit bergelombang.

Wajah anak itu sangat cantik.

Matanya…

Mirip Sabrina.

“Papa!”

Leon membeku.

Anak kecil itu tertawa ceria sebelum memeluk kakinya erat.

“Papa lama banget…”

Entah kenapa dada Leon langsung terasa sesak.

Ia berjongkok perlahan, mencoba melihat wajah anak itu lebih jelas.

Namun sebelum sempat menyentuhnya—

Semua mendadak menghilang.

Leon terbangun dengan napas berat.

Ruangan kembali gelap dan sunyi.

Pria itu memegang dadanya pelan.

Jantungnya berdetak sangat cepat.

Dan entah kenapa…

Perasaan gelisah memenuhi dirinya malam itu.

Seolah sesuatu yang sangat penting baru saja terjadi.

1
wulaniii
gais komen like dan kasih gift dong biar tambah semangat 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!