Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa
🦋
Sejak hari pertama masuk sekolah itu, ada kebiasaan kecil yang tidak pernah Nadira ceritakan pada siapa pun: memperhatikan Keenan dari jauh.
Bukan dengan cara menatap penuh harap seperti tokoh utama drama romantis. Tidak, Nadira tidak seberani itu. Ia hanya melirik cepat, memalingkan wajah, lalu berpura-pura sibuk dengan buku atau kertas kosong.
Keenan… entah kenapa terasa berbeda.
Anak laki-laki itu tidak seperti Fero yang mudah naik darah, atau anak-anak laki-laki lain yang ributnya tiada henti. Keenan membawa dirinya dengan tenang, rapi, suaranya lembut ketika memanggil teman, dan ia tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Gaya jalan Keenan pun pelan, seolah ia tidak pernah terburu-buru marah seperti laki-laki yang sering ditemui Nadira di rumah.
Dan itu... untuk seorang gadis yang tumbuh dengan bentakan keras dan standar yang berat—terasa seperti angin segar yang jarang ia temui.
-
Jam istirahat kedua.
Kelas 7A mulai riuh oleh suara anak-anak yang sibuk mengobrol, menata bekal, atau merapikan rambut. Nadira duduk dengan Izarra di bangku belakang. Izarra asyik menggambar doodle bunga-bungaan di buku tulis, sementara Nadira menatap meja, jari-jarinya mengusap ujung buku dengan gelisah.
"Dira," Izarra memanggil tanpa mengangkat kepala, "kok dari tadi kamu ngelamun terus? Biasanya kamu paling bawel banget tiap istirahat loh."
Nadira tersentak kecil. "Hah? Enggak kok."
Izarra mengangkat wajah, alisnya terangkat tinggi. "Jangan bohong. Muka kamu itu kayak orang yang habis ngelakuin dosa besar."
Nadira menghela napas. Ia mencoba menahan senyum, tapi bibirnya sudah terlanjur melengkung malu.
"Zarra… Keenan itu baik juga ya."
Sekian detik hening.
Lalu...
"A-APA?!" Izarra hampir menjatuhkan pulpennya. "Tunggu! TUNGGU! Maksudnya… kamu suka sama Keenan?!"
Nadira langsung menutupi wajah dengan kedua tangan. "Bukan sukaaa… bukan suka banget! Cuma… ya… dia lembut. Friendly. Kayak orang yang gampang bikin nyaman gitu."
Izarra langsung merapatkan kursinya, mendekat seperti agen rahasia yang baru mendapat informasi yang sangat penting.
"Cieeee… Nadirrrraaaa." Senyumnya nakal bukan main.
"Zarraaa!" Nadira memukul pelan lengan temannya.
"Serius, Dira. Kamu tuh ngomong sambil senyum sendiri," Izarra terkekeh. "Maaf ya, tapi muka kamu itu jelas-jelas muka orang yang sedang jatuh hati."
Nadira menunduk, pipinya panas dan merah. "Aku cuma… ya… sedikit."
Izarra makin semangat. "Aku comblangin!"
"JANGAN!" Nadira buru-buru menarik tangan Izarra. "Jangan, malu tau! Masa cewek duluan yang suka?"
Izarra memutar mata dramatis sekali.
"Dira. Hello? Ini tahun 2017. Cewek suka duluan tuh bukan sebuah dosa."
"Tapi aku… nggak biasa."
Izarra melembut. Senyumnya perlahan berubah jadi hangat, tidak mengejek, tidak mengolok-olok.
"Denger ya. Kamu itu lembut, baik, gak neko-neko. Kalau Keenan nggak lihat kamu… itu salah dia. Bukan salah kamu."
Nadira menunduk lagi—kali ini bukan karena malu, tapi karena hatinya hangat. "Thanks, Zarra."
Izarra menjitak kepalanya pelan. "Lah, kenapa formal banget? Aku temen kamu."
Mereka tertawa.
Untuk pertama kalinya hari itu, dada Nadira terasa lebih ringan.
Rumah Kakek Wiratama_Malam Hari
Rumah itu berdiri kokoh dengan dinding hijau tua, tapi entah mengapa suasananya selalu terasa dingin setiap kali matahari terbenam.
Lampu ruang tengah menyala redup, membuat bayangan perabotan terlihat lebih panjang dari biasanya.
Nadira baru pulang. Ia melepaskan sepatu, meletakkan tas di kursi, lalu mengusap wajahnya yang lelah.
Langkah kaki berat muncul dari arah dapur.
Fero.
Anak laki-laki itu berdiri dengan ekspresi sinis, tangan bersedekap seperti polisi yang menangkap tersangka.
"Kamu pulang malam banget sih," ucap Fero, nada meremehkan menetes dari suaranya.
"Tadi ada rapat osis," jawab Nadira datar. Ia terlalu lelah untuk memulai perang dingin.
Fero mendengus. "Alasan aja. Pasti habis jalan sama cowok kan."
Nadira memutar mata. "Nggak semua orang kayak kamu, Fero. Suka pulang sore cuma buat main gak jelas."
Kata-kata itu seperti pemantik bensin.
"A-APA KAMU BILANG?!" tingkat suara Fero melonjak, jarinya menunjuk tajam.
Nadira mengangkat kedua tangan. "Aku cuma bilang..."
"HEI! Apa lagi ini ribut-ribut?!"
Erwin muncul dengan gelas di tangan, wajahnya campur aduk antara jengkel dan menyerah.
Laki-laki itu selalu jadi penengah diantara pertengkaran Nadira dan Fero.
"Kalian baru pulang sekolah beberapa menit loh," Erwin menghela napas panjang. "Tapi ributnya udah kayak tiga jam."
Nadira menghindari tatapan Erwin. Ia benci ini, benci jadi sumber masalah padahal ia tidak mencari masalah.
Tapi situasi menegangkan itu belum selesai. Langkah yang jauh lebih berat terdengar dari arah ruang tamu.
Dan seketika… suasana berubah.
Kakek Wiratama memasuki ruangan. Sosok tua itu berhenti, mengamati mereka bertiga dengan tajam.
"Ada apa ini?" suaranya rendah tapi menggetarkan.
Fero bergerak duluan. Tentu saja. "Kek, Nadira bilang aku pulang sore cuma buat main terus."
"Aku nggak bilang begitu kek!" Nadira hampir putus asa. "Aku cuma..."
"Diam." Satu kata dari Kakek sudah cukup untuk memotong napas Nadira.
Kakek Wiratama menatap cucu perempuan nya, sorot matanya tajam sekali.
"Nadira, kamu itu harus bisa mengalah," ucapnya. "Fero itu laki-laki. Jangan menantang terus."
Nadira membeku.
Kalimat itu…
Kalimat yang sama…
Yang selalu menghantui rumah itu.
Erwin mencoba menyela, meski ia tahu kecil harapannya didengar. "Kek, tadi cuma salah paham kok. Nadira nggak..."
"Erwin," suara kakek cukup untuk membungkamnya. "Jangan membela dia. Nadira harus belajar sopan pada saudaranya."
Kata-kata itu meluncur seperti pisau tanpa ampun.
Nadira menunduk. Tangannya meremas kaus, kukunya hampir menembus kain.
Ia tidak menangis. Ia tidak mau, air matanya hanya akan membuatnya terlihat semakin lemah.
Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang pecah. Retakan kecil, diam, tapi jelas terdengar oleh hatinya sendiri.
Ia menatap lantai, mencoba bernapas dengan stabil. Tapi semakin ia mengatur napas, semakin dadanya terasa sesak.
Kakek pergi ke ruang TV, meninggalkan ketiga cucunya.
Erwin menghela napas, lalu menegur Fero dengan lirih, "Kamu tuh jangan buat suasana semakin panas."
Fero mendengus pelan dan pergi tanpa peduli.
Erwin menatap Nadira, mencoba tersenyum menenangkan. "Udah ya. Jangan dipikirin, sana ganti baju."
Nadira hanya mengangguk kecil. Ia tidak membalas apa pun. Ia tidak mampu melakukannya.
Ketika Erwin pergi, ia berdiri sendirian di ruang tamu yang remang itu. Di sana… di tengah keheningan yang pahit, keinginan kecil mulai tumbuh dalam dirinya.
Keinginan untuk didengar, untuk dilihat, untuk dianggap berharga. Hanya itu. Tidak muluk-muluk.
Tapi di rumah itu…
Cinta bukan sesuatu yang diberikan. Cinta adalah sesuatu yang diperebutkan.
Dan malam itu, dalam kesenyapan yang menusuk, Nadira menggenggam tekadnya diam-diam, tapi kuat:
"Suatu hari… Kakek akan melihat aku. Suatu hari… aku akan membuat beliau sayang padaku."
Bukan sekadar supaya ia menang. Bukan supaya ia menginjak Fero. Tapi karena...
Ia sudah terlalu sering disalahkan. Terlalu sering tidak dianggap. Terlalu sering merasa sendirian bahkan di dalam rumah sendiri.
Cinta, bagi Nadira… bukan kebutuhan. Cinta adalah bukti bahwa dirinya ada.
Dan Nadira benar-benar ingin membuktikannya.