"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari H.
Akhirnya hari yang di nantikan oleh Kiara datang juga. Hari sabtu, hari di mana pertama kalinya dia akan kencan dengan seorang Kaisar Mahesa, bosnya sekaligus calon suami (kontrak) nya.
Walau sangat gugup, Kiara merasa sangat bersemangat. Aneh, saat akan pergi kencan pertama kalinya setelah jadian dengan Fero, Kiara tak pernah merasa seperti ini. Apa yang membuat kali ini berbeda? padahal jika di telisik, justru hubungannya dengan Fero adalah real sedangkan dengan Kaisar adalah palsu. Apa mungkin karena ini adalah hubungan palsu, makanya Kiara berdebar-debar, takut ketahuan?
Kiara sudah mandi sejak subuh tadi, bahkan gaun indahnya pun sudah dia setrika dengan rapih. Setelah merias wajah secukupnya dan merapihkan rambutnya, Kiara pun mengenakan gaun indahnya. Kiara mengambil wedges hitam bertali yang tak pernah dia pakai setelah membelinya beberapa tahun yang lalu.
"Akhirnya, tiba saatnya aku memakai ini," gumamnya sambil tersenyum.
Setelah memakai sepatu yang membuat tinggi Kiara bertambah lima centi, Kiara memandangi pantulan dirinya di cermin. Dia menarik napas dalam dan terdiam -lupa untuk menghembuskannya karena terkejut dengan tampilan dirinya sendiri.
"Waah.. ternyata aku lumayan juga," gumamnya sambil tersipu malu karena menganggap dirinya cantik dan sepadan untuk jalan di sisi seorang Kaisar Mahesa..
Drrttt. Ddrrrt.
Kiara menoleh dan melihat nama Kaisar di layar ponselnya, Buru-buru di menyambar benda pipih berwarna putih itu kemudian menempelkannya di telinga, "halo?"
"Sudah siap?" tanya Kaisar. Suaranya begitu berat dan berkharisma, membuat Kiara terhipnotis.
"Halo?"
"Ah! I-iya, Pak. Saya sudah siap," jawab Kiara dengan gugup.
"Saya jemput kamu-"
"Ja-jangan. Sa-saya akan pergi ke sana. Di- dimana kita bertemu?" jawab Kiara cepat. Mana mungkin Kiara membiarkan Kaisar datang ke rumahnya sedangkan Fero menginap di sini sejak semalam. Bisa-bisa mereka bertemu dan Fero mengacaukan semuanya. Kiara harus tetap menyembunyikan hubungannya dengan Kai hingga hari pernikahan tiba, agar rencananya sukses dan membuat Fero dan Mona shock karena saking terkejutnya.
Kiara benar-benar sudah tak sabar melihat wajah shock mereka berdua.
"Baiklah, kamu bisa menitipkan motormu di kantor, lalu Saya akan menjemputmu di sana," jawab Kaisar.
"Ba-baik Pak, nanti Saya tunggu Pak Kaisar di perempatan dekat kantor."
"Jangan. Tunggu saja di basemen, di dekat motormu, biar Saya masuk dan menjemputmu," jawab Kaisar dengan cepat. Mana mungkin dia membiarkan Kiara berdiri di pinggir jalan menunggu dirinya.
"Sa-saya berangkat sekarang!" ucap Kiara lalu mematikan ponselnya. Kiara melirik jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangannya dan tersenyum, "jam sembilan, dia mau ajak aku ke mana sih pagi-pagi gini di hari sabtu?" gumam Kiara sambil tersenyum dan melipat bibirnya ke dalam. Jujurly, dia sangat bersemangat.
Saat Kiara akan turun dari kamarnya dia terdiam dan menjitak pelan kepalanya sendiri, "Astaga! bagaimana aku turun lewat tangga curam ini menggunakan wedges!" akhirnya Kiara melepas sepatu bertalinya dan menjinjingnya dengan tangannya dan berjalan menuruni tangga loteng yang lumayan curam.
Saat sampai di bawah, dia langsung berpapasan dengan Fero yang baru saja keluar dari kamar Mona. Heuh! membuat Kiara badmood aja sepagi ini!
Fero tampak terkejut melihat penampilan Kiara. Dia bahkan terang-terangan memandangi Kiara dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Mau kemana kamu pagi-pagi begini!" ketus Karina yang kesal karena melihat anak tirinya sudah sangat cantik pagi-pagi. Berbeda sekali dengan putrinya yang masih bergumul di kasurnya karena habis melayani Fero semalam.
"Aku mau masak soto! kamu harus bantu-bantu di dapur! siapa yang ijinkan kamu pergi di hari libur begini!"
Kiara mengernyit sambil melirik sinis pada ibu tirinya itu. "Masak soto buat siapa? kenapa aku yang repot bantu-bantu padahal aku juga nggak makan sama sekali! Ayah aja nggak pernah kalian kasih makan!" ketusnya sambil berlalu meninggalkan Karina yang tampak melotot dengan kesal padanya.
"Dasar anak nggak tau diri! pemalas! sukanya kelayapan! nggak pernah bantu orang tua!" caci maki dari mulut Kaina keluar dengan lancar sekali, namun Kiara tak memperdulikannya.
Kiara masuk ke kamar Ayahnya untuk berpamitan. Dan seperti yang dia duga, Ayahnya terlihat sangat bahagia melihat dirinya yang tampak sangat cantik.
"Lelaki itu beruntung sekali mendapatkan putriku yang sangat cantik," ucap Ayah sambil tersenyum lebar.
"Aku beneran cantik, kan, Yah? aku gugup banget!" ucap Kiara sambil duduk di sebelah ranjang sang Ayah.
"Ayah yakin, semua lelaki yang berpapasan denganmu akan bengong karena kecantikanmu, Kia," ucap Ayah dengan nada menggebu-gebu.
Kiara tersenyum lalu meraih jemari ayahnya, "maaf, Kiara nggak bisa temani Ayah hari ini," sesalnya.
"Jangan perdulikan Ayah, pergilah bersenang-senang!" ucap Ayah sambil menepuk lembut tangan Kiara.
Kiara tersenyum sambil mengangguk. Pagi tadi sekitar jam 7, Kiara sudah menyuapi ayahnya makan dan minum obat. Kiara juga sudah membersihkan tubuh Ayahnya dengan air hangat dan mengganti pempers serta baju. Kiara juga sudah menyediakan potongan buah segar di meja kecil sebelah ranjang Ayah, agar Ayahnya bisa makan saat dia merasa lapar. Jika Kiara tidak melakukan itu semua terlebih dahulu, dia khawatir ayahnya akan kelaparan karena ibu tirinya sudah lama tak mau mengurus sang Ayah. Ibu tirinya bertahan di sini hanyalah karena dia tak punya tempat tinggal lain, dan hanya rumah inilah tempatnya berteduh.
"Ayah, sudah ada air, roti dan buah di sini. Kalau Ayah lapar, jangan lupa makan ya," pinta Kiara.
"Iya, pergilah! bersenang-senang, Ayah baik-baik saja!" Ayah mendorong Kiara agar pergi secepatnya.
"Iya, aku pergi dulu, Yah," ucap Kiara sambil berjalan pelan keluar dari kamar sang Ayah. Setelah itu Kiara terus berjalan keluar dari rumah, tanpa memperdulikan Fero yang duduk di ruang TV dan terus memperhatikan dirinya.
Kiara duduk di kursi teras dan mulai mengenakan wedges yang sempat dia lepas karena harus menuruni tangga, setelah itu, dia pun bergegas menuju motor matic kesayangannya.
"Pacarmu nggak jemput?" tanya Fero dengan sinis. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di ambang pintu dan menatap Kiara.
"Bukan urusanmu!" ketus Kiara sambil memakai helm dan memutar kontak motornya.
"Lelaki macam apa yang nggak mau jemput ceweknya! jangan-jangan dia cuma cowok miskin? nggak punya motor apalagi mobil? hahaha!" Fero masih terus mengejek Kiara.
"Paling tidak, dia membeli semua nya dengan uangnya sendiri, bukan hasil dari ngemis ke Om nya, kaya Lu!" ketus Kiara lalu menarik gas motornya dan meninggalkan Fero yang sudah bersungut kesal karena emosi.
"Sial!" geram Fero sambil menatap kepergian Kiara. "Kenapa saat denganku dulu dia tak pernah berdandan secantik itu sih!"
...
Kiara memasuki area perkantorannya yang gerbangnya masih tertutup rapat. Karena hari ini libur, tentu saja gerbang kantornya di tutup.
"Loh, Mbak Kiara? lembur?" tanya security sambil membuka gerbang untuk Kiara agar bisa masuk.
Kiara hanya tersenyum lalu menjalankan motornya masuk ke area basemant. Kiara membawa motornya dan memarkirnya di dekat pintu masuk agar nanti saat dia pulang dia tak terlalu jauh berjalan untuk mengambil kembali motornya.
Saat Kiara sedang melepaskan helm bogonya, sebuah mobil sedan mewah berwarna silver muncul dan berhenti tepat di sebelah Kiara.
Dan sosok itu muncul. Lelaki berpostur tinggi dengan tubuh atletis keluar dari mobil itu. Kaisar terlihat begitu sempurna, menawan dan luar biasa tampan walaupun hanya mengenakan sweater lengan panjang yang di tarik sedikit untuk menunjukkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Kulitnya tangannya yang begitu putih sangat kontras dengan sweaternya, di tambah dengan beberapa otot menonjol itu, memberikan kesan sangat seksi.
Penampilan serba hitam yang dikenakan Kaisar begitu sempurna dan berhasil menghipnotis Kiara.
"Kiara?" panggilan Kaisar membuyarkan lamunan Kiara.
"Y-Ya?"
"Ayo masuk, kita pergi," ucap Kaisar.
"Ah i-iya, ayo..." jawab Kiara gugup.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣