NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Suasana di dalam kabin lift yang sempit itu semakin mencekam. Bau gesekan kabel logam dan bau hangus semakin menyengat. Max segera mengeluarkan ponselnya, beruntung kali ini sinyal di dalam gedung masih berfungsi meski lemah.

"Lucas! Lift jatuh di antara lantai 15 dan 16. Sistemnya diretas! Buka paksa pintunya sekarang!" teriak Max ke ponselnya.

Hanya dalam hitungan menit yang terasa seperti berjam-jam, suara gaduh terdengar dari arah luar. Lucas muncul di celah pintu yang berhasil dibuka paksa sedikit dari lantai 16. Posisi lift itu menggantung tanggung; langit-langit lift sejajar dengan lantai 16.

"Tuan! Pegang tangan kami!" seru Lucas panik. Ia bersama dua petugas keamanan mencoba menarik pintu lift agar terbuka lebih lebar.

"Nona Adler dulu!" perintah Max tegas. Ia tidak memedulikan keselamatannya sendiri. Max mencengkeram pinggang Sophie, mengangkat tubuh wanita itu dengan kuat agar bisa mencapai celah di atap lift yang sudah terbuka.

"Pegang tangan Lucas, Sophie! Cepat!"

Sophie meraih tangan Lucas yang terjulur ke bawah. Dengan bantuan dorongan dari Max, Sophie berhasil merangkak keluar dan ditarik ke lantai beton yang aman. Begitu kakinya menginjak lantai, Sophie langsung berbalik, wajahnya pucat pasi menatap ke lubang lift.

"Max! Cepat, berikan tanganmu!" teriak Sophie, tanpa sadar ia memanggil nama pria itu tanpa gelar untuk pertama kalinya dengan nada penuh kekhawatiran.

Max melompat, tangannya sudah sempat menyentuh bibir lantai dan jari-jari Lucas hampir mencengkeram lengannya. Namun, tepat di saat kritis itu, suara KRETEK yang memilukan terdengar dari kabel baja di atas.

Sistem komputer gedung yang disabotase memberikan perintah terakhir: melepaskan rem darurat.

KLING!

Kabel baja itu putus. Lift mendadak meluncur ke bawah dengan kecepatan mengerikan.

"MAX!" jerit Sophie.

Tangan Max terlepas dari jangkauan Lucas. Dalam hitungan detik, kabin logam itu menghilang ke dalam kegelapan lubang lift yang dalam. Suara dentuman keras mengguncang seluruh gedung saat lift itu menghantam dasar lubang.

Sophie jatuh berlutut di depan lubang lift yang kosong. Air matanya pecah seketika. "Tidak... Max! Maximilian!"

Sophie tetap mematung menatap kegelapan di bawah sana. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Pria yang baru saja memeluknya, pria yang melindunginya dari kemarahan Isabella, dan pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa agar ia selamat lebih dulu, kini mungkin telah tewas di dasar sana.

Niat balas dendam Sophie mendadak terasa kosong. Di saat maut menjemput Max, Sophie baru menyadari bahwa ia tidak benar-benar menginginkan kematian pria itu.

Asap tipis dan debu semen mengepul dari lubang lift yang gelap, menyisakan keheningan yang mematikan setelah dentuman keras itu bergema. Sophie bersimpuh di tepi lubang, jemarinya mencengkeram lantai marmer hingga memutih. Isaknya tertahan di tenggorokan, matanya menatap nanar ke arah kegelapan tempat Max baru saja menghilang.

"Max..." bisiknya dengan suara yang pecah.

Dunianya seolah ikut runtuh bersama lift itu.

Namun, di tengah keputusasaan itu, terdengar sebuah suara gesekan logam yang kasar.

SRAAK! Kemudian diikuti oleh suara geraman tertahan yang sangat akrab di telinga Sophie.

Lucas segera mengarahkan senter kuatnya ke bawah. Cahaya itu membelah kegelapan dan menampakkan pemandangan yang membuat jantung semua orang seakan berhenti berdetak.

Sekitar tiga meter di bawah lantai, Maximilian tidak ikut jatuh bersama kabin lift. Di detik terakhir saat rem terlepas, dengan refleks seorang penyintas, Max telah melompat ke arah kabel baja cadangan yang masih tergantung statis di sisi dinding. Ia kini bergelantung hanya dengan kedua tangannya, kakinya berpijak pada tonjolan besi rel lift.

"Tuan! Anda masih di sana!" seru Lucas dengan napas lega yang meledak.

Sophie merangkak maju hingga kepalanya melongok ke lubang. "Max! Maximilian! Pegang erat-erat!" teriaknya, wajahnya yang tadi pucat kini basah oleh air mata syukur.

Max mendongak. Di bawah cahaya senter, wajahnya tampak kotor oleh oli dan debu, pelipisnya berdarah, dan napasnya tersengal-sengal. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Sophie yang sembab, sebuah senyum tipis yang getir muncul di bibirnya.

Aku... tidak akan pergi semudah itu, Sophie, batin Max dengan sisa tenaganya.

Lucas dan dua petugas keamanan segera bertindak. Mereka tidak bisa menunggu alat berat. Lucas mengikatkan tali pengaman pada tubuhnya sendiri sementara petugas lain menahannya. Lucas menjulurkan tubuhnya ke bawah, meraih kerah jas Max dan lengannya.

"Tarik! Sekarang!" komando Lucas.

Dengan susah payah, mereka menarik Max ke atas. Sophie ikut membantu, ia mencengkeram lengan kemeja Max yang robek, menggunakan seluruh tenaganya untuk menarik pria itu kembali ke permukaan bumi.

Begitu tubuh Max berhasil ditarik melewati bibir lantai, ia jatuh terjerembap di atas marmer yang dingin. Namun, sebelum Lucas bisa memeriksa kondisinya, Sophie sudah lebih dulu menghambur. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar atau noda oli yang akan mengotori pakaiannya, Sophie memeluk Max dengan sangat erat.

Sophie terisak di dada pria itu, bahunya berguncang hebat. "Jangan lakukan itu lagi... Jangan pernah lakukan itu lagi, dasar bodoh!"

Max tertegun. Rasa sakit di otot lengannya seolah sirna saat ia merasakan dekapan hangat Sophie. Ia perlahan mengangkat tangannya yang bergetar dan kotor, membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di rambut Sophie yang berantakan.

"Kau menangis untukku?" bisik Max di telinga Sophie, suaranya sangat rendah dan penuh emosi. "Aku pikir kau membenciku, Sophie."

Sophie tidak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Max akan menghilang lagi ke dalam lubang gelap itu. Di lantai kantor yang dingin dan penuh debu itu, ketegangan maut berubah menjadi momen yang begitu romantis dan mengharukan.

Max memejamkan matanya, menghirup aroma Sophie yang bercampur bau hangus logam. Di ambang kematian tadi, ia menyadari satu hal: ia tidak takut pada ketinggian atau kabel yang putus, ia hanya takut jika ia tidak bisa melihat mata dingin Sophie sekali lagi.

"Aku selamat," bisik Max lagi, kali ini lebih lembut sambil mengusap punggung Sophie. "Aku di sini."

...****************...

Kamar VIP rumah sakit itu begitu tenang, hanya terdengar suara detak ritmis dari monitor jantung yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan Max.

Cahaya matahari sore yang jingga menyelinap masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan dengan nuansa hangat yang kontras dengan kejadian mengerikan beberapa jam lalu.

Dokter baru saja keluar setelah memastikan

bahwa Max hanya menderita beberapa memar di bahu dan luka robek ringan di pelipis yang sudah dibersihkan. Maximilian berbaring di tempat tidur dengan sandaran yang ditinggikan, sementara Sophie berdiri di sisi tempat tidur, sibuk merapikan botol air mineral dan tas kerja yang sempat dibawa Lucas.

Keheningan di antara mereka terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi teriakan ketakutan, hanya ada napas yang tenang. Namun, Sophie bisa merasakan sepasang mata gelap itu tidak pernah lepas darinya.

Max menatap Sophie dengan senyum tipis yang tak kunjung hilang. Tatapannya bukan lagi tatapan predator yang mengancam, melainkan tatapan penuh binar yang seolah sedang memuja sebuah mahakarya.

Sophie yang merasa gerah dengan kebisuan itu akhirnya menaruh botol air dengan dentingan keras di atas meja nakas. Ia berbalik dan mendapati Max masih tersenyum ke arahnya.

"Berhenti melakukan itu, Tuan Hoffmann," tegur Sophie dengan suara yang kembali mendingin, seolah dinding es yang sempat runtuh di depan lubang lift tadi telah dibangun kembali dalam waktu singkat.

"Melakukan apa?" tanya Max dengan nada polos yang dibuat-buat, namun suaranya tetap terdengar berat dan serak.

"Menatap saya seolah-olah Anda baru saja memenangkan lotre. Itu sangat mengganggu," sahut Sophie datar. Ia melipat tangannya di dada, berusaha menjaga jarak profesional. "Kejadian tadi adalah murni reaksi kemanusiaan. Jangan berpikir bahwa air mata saya di depan lubang lift itu memiliki arti yang lebih dalam."

Max justru terkekeh pelan. Ia mengabaikan rasa perih di pelipisnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sophie.

"Kau bisa membangun kembali dinding esmu setinggi langit, Sophie. Tapi aku sudah melihat apa yang ada di baliknya," bisik Max. "Kau memanggil namaku. Bukan 'Tuan Hoffmann', tapi Max. Dan kau memelukku seolah duniamu akan berakhir jika aku tidak kembali ke atas."

"Saya hanya terkejut melihat bos saya hampir menjadi bubur di dasar lift. Itu akan sangat merepotkan administrasi perusahaan," balas Sophie cepat, namun ada semburat merah tipis yang muncul di pipinya yang pucat.

Max tidak memedulikan sangkalan itu. Ia mengulurkan tangannya yang masih dibalut perban tipis, meraih jemari Sophie yang berada di atas nakas. Sophie sempat ingin menarik tangannya, namun Max menggenggamnya dengan lembut namun posesif, memaksa wanita itu untuk tetap di tempatnya.

"Gengsimu ini sangat menarik, Sophie Adler," ucap Max pelan. Ia menarik tangan Sophie mendekat ke wajahnya, lalu mengecup punggung tangan Sophie dengan sangat lama dan intim. "Tapi aku tahu kebenarannya. Kau peduli padaku. Dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa lebih hidup daripada sebelumnya."

Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat intim. Jarak di antara mereka terkunci oleh tatapan yang saling mengunci. Sophie terdiam, lidahnya kelu untuk membalas ucapan Max. Ia membenci betapa hangatnya sentuhan Max, namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa detak jantungnya kembali berpacu liar, bukan karena takut, melainkan karena getaran yang ia sendiri tak sanggup jelaskan.

"Istirahatlah," bisik Sophie akhirnya, suaranya sedikit melunak meskipun ia tidak membalas genggaman tangan pria itu. "Anda butuh energi untuk menemukan siapa yang mencoba membunuh kita."

Max tersenyum lebih lebar, perlahan melepaskan tangan Sophie namun tetap mengunci matanya. "Aku sudah menemukannya, Sophie. Dan aku berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang akan disentuh oleh bahaya. Karena kau... adalah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah aku miliki."

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!