Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Arsip Cahaya yang Terluka
Di dalam kapsul Navigasi Langit, udara mendadak terasa lebih berat, seolah-olah nama "Martha" membawa beban gravitasi tersendiri. ....
Arlo masih berdiri mematung di depan peta holografik, matanya menatap spiral energi yang baru saja muncul di layar. Itu adalah tanda tangan frekuensi yang sangat spesifik, sebuah sidik jari emosional yang tidak bisa dipalsukan.
"Arlo, kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," bisik Alana. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Arlo untuk mengembalikannya ke realitas kapsul.
Arlo berkedip, lalu menghela napas panjang. "Martha bukan sekadar navigator, Alana. Dia adalah otak di balik teori 'Lubang di Cakrawala'. Dialah yang menghitung koordinat keberangkatan pesawatku tahun 1975. Tanpa dia, aku tidak akan pernah sampai di sini. Tapi... dia seharusnya ikut denganku."
Alana mengerutkan kening. "Lalu kenapa dia t tertinggal????"
"Sesaat sebelum lepas landas, terjadi sabotase di landasan pacu. Seseorang membocorkan rencana kami kepada pihak militer pendahulu dari Para Penjemput Fajar. Martha memilih untuk tinggal dan menutup gerbang dari luar agar aku bisa lolos. Aku selalu menganggap dia ditangkap atau... dieksekusi."
Rasa penasaran Alana memuncak. Ia beralih ke meja kristalnya, namun kali ini bukan untuk menulis surat. Ia menyentuh permukaan meja dengan cara yang diajarkan Arlo, membayangkan sebuah perpustakaan. Seketika, layar kristal di depannya berubah menjadi aliran data yang mengalir seperti air terjun cahaya. Ini adalah Arsip Cahaya, rekaman dari segala sesuatu yang pernah melewati frekuensi Navasari.
"Aku ingin melihat rekaman hari itu," gumam Alana.
Arlo mencoba menahan tangan Alana, namun terlambat. Alana telah memasukkan kode tanggal: 15 Mei 1975.
Ruangan di sekeliling mereka mendadak berubah. Dinding kapsul seolah menghilang, digantikan oleh proyeksi 3D dari landasan pacu darurat di tengah hutan Navasari. Cahaya dalam proyeksi itu berwarna sepia, buram dan penuh bintik seperti film lama. Alana melihat pesawat Cessna milik Arlo yang sudah dimodifikasi dengan perangkat perak di sayapnya.
Ia melihat Arlo muda sedang berlari menuju kokpit. Dan di sana, berdiri seorang wanita muda dengan rambut pendek yang tegas Martha muda. Wajahnya penuh peluh dan kecemasan.
"Arlo, pergi sekarang! Mereka sudah melewati pagar timur!" teriak Martha dalam rekaman itu.
Alana memperhatikan dengan seksama. Di belakang Martha, di antara pepohonan, ia melihat siluet seorang pria lain. Pria itu tidak mengenakan seragam militer, melainkan jas hujan hitam panjang. Pria itu memegang sebuah alat pemancar kecil.
"Siapa pria itu, Arlo?" tanya Alana.
Arlo mendekat ke proyeksi tersebut, wajahnya mengeras. "Itu kakekmu, Surya."
Alana terperanjat. "Kakek? Tapi... kakek membantu kalian, kan?"
Dalam rekaman itu, Alana melihat sesuatu yang menghancurkan hatinya. Surya muda tidak sedang membantu. Ia tampak sedang berbicara ke arah hutan, memberi isyarat kepada para tentara tentang posisi Martha. Dan saat pesawat Arlo mulai lepas landas dan menghilang ke dalam retakan cahaya, Surya mendekati Martha. Bukannya menolong, Surya tampak mengambil sebuah buku catatan kecil dari tas Martha secara paksa sebelum wanita itu diseret oleh para tentara.
Proyeksi itu berakhir dengan kilatan cahaya putih yang menyakitkan. Alana kembali berada di dalam kapsul yang sunyi.
"Kakek mengkhianati mereka?" Alana menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir. "Jadi semua warisan yang dia tinggalkan padaku... semua jurnal itu... itu adalah hasil dari sebuah pengkhianatan?"
Arlo menunduk.
"Surya selalu merasa bahwa kekuatan langit terlalu berbahaya untuk dimiliki satu orang. Dia ingin membaginya dengan dunia atau mungkin, dia hanya takut akan kehilangan kakaknya selamanya. Aku menghabiskan puluhan tahun mencoba memaafkannya melalui surat-surat yang kukirim padanya."
"Pantas saja Martha tetap di sana," bisik Alana. "Dia tidak sedang menunggu untuk menolongku. Dia sedang menunggu untuk membalas dendam pada garis keturunan Surya. Dan aku... aku adalah cucunya."
Tiba-tiba, alarm kapsul berbunyi lagi. Kali ini bukan guncangan dari luar, melainkan peringatan dari bumi. Melalui kamera sensor mercusuar, Alana melihat Elian dan Martha sedang duduk berhadapan. Martha sedang menyerahkan sebuah minuman kepada Elian.
"Jangan minum itu, Elian!" Alana berteriak, meski ia tahu suaranya tidak akan sampai ke sana.
"Alana, gunakan sandi bintang mati sekarang!" Arlo mendesak. "Beritahu dia bahwa Martha membawa 'tinta hitam'. Itu adalah zat yang bisa memutuskan hubungan saraf dengan frekuensi kita. Jika Elian meminumnya, dia akan lupa siapa kau, dan dia akan menjadi boneka Martha untuk mengendalikan mercusuar!"
Alana segera kembali ke meja tulisnya. Jemarinya bergerak dengan gemetar yang hebat. Ia tidak lagi peduli pada aturan atau deteksi para Penjaga. Ia menuliskan sandi darurat dengan tinta darahnya yang paling merah.
Pola Cygnus: Bintang di leher pecah. Racun di tangan teman. Jangan percaya pada sejarah yang dia ceritakan.
Pesan itu melesat keluar. Alana menatap layar dengan jantung yang berdegup kencang. Ia melihat Elian di mercusuar mulai mengangkat gelasnya. Di dalam hatinya, Alana menjerit, berdoa agar sandi bintangnya lebih cepat dari pada Ia menyadari bahwa di balik "Surat Cinta dari Langit" yang puitis, tersimpan sebuah tragedi keluarga yang berlumuran darah dan pengkhianatan yang belum selesai selama setengah abad.
Udara di dalam kapsul Navigasi Langit mendadak terasa lebih berat, seolah-olah nama "Martha" membawa beban gravitasi tersendiri yang mampu menarik oksigen keluar dari paru-paru Alana. Arlo masih berdiri mematung di depan peta holografik, matanya menatap spiral energi yang baru saja muncul di layar. Itu bukan sekadar gangguan sinyal; itu adalah sebuah tanda tangan frekuensi yang sangat spesifik, sebuah sidik jari emosional yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin mana pun.
"Arlo, kau terlihat seperti baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling kelam," bisik Alana. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Arlo, namun tangannya berhenti di udara saat melihat Arlo bergetar halus.
Arlo berkedip, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti deru angin di padang pasir yang sunyi. "Martha bukan sekadar navigator bagiku, Alana. Dia adalah arsitek dari seluruh kegilaan ini. Dialah yang menghitung koordinat keberangkatan pesawatku pada malam badai tahun 1975. Tanpa otaknya yang cemerlang, aku tidak akan pernah menembus atmosfer dimensi ini. Tapi... dia seharusnya ikut denganku. Kami sudah berjanji untuk melampaui cakrawala bersama."
Alana mengerutkan kening, rasa ingin tahunya bercampur dengan firasat buruk. "Lalu kenapa dia tertinggal di bumi? Kenapa dia harus menderita selama lima puluh tahun sementara kau berada di sini?"
"Sesaat sebelum lepas landas, terjadi sabotase di landasan pacu darurat Navasari. Seseorang membocorkan rencana rahasia kami kepada pihak otoritas militer yang sekarang kau kenal sebagai cikal bakal Para Penjemput Fajar. Martha memilih untuk tinggal, ia keluar dari kokpit dan menutup gerbang hanggar dari luar agar aku memiliki waktu untuk memicu mesin cahaya. Aku selalu mengira dia ditangkap dan... lenyap. Aku menghabiskan puluhan tahun dengan rasa bersalah yang membakar jiwaku."
Alana tidak puas dengan jawaban yang menggantung. Ia beralih ke meja kristalnya, namun kali ini bukan untuk menulis surat. Ia menyentuh permukaan meja dengan cara yang lebih mendalam, membayangkan sebuah perpustakaan raksasa yang menyimpan setiap detik waktu yang pernah terjadi. Seketika, dinding kapsul yang tadinya menampilkan bintang-bintang berubah menjadi aliran data yang mengalir seperti air terjun cahaya berwarna indigo. Ini adalah Arsip Cahaya, rekaman dari segala sesuatu yang pernah melewati frekuensi elektromagnetik Navasari.
"Aku ingin melihat rekaman hari itu, Arlo. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana," gumam Alana.
Arlo mencoba menahan tangan Alana, namun jarinya sudah lebih dulu memasukkan kode tanggal keramat: 15 Mei 1975.
Seketika, realitas di sekeliling mereka seolah terkelupas. Dinding kapsul menghilang, digantikan oleh proyeksi tiga dimensi yang sangat nyata dari landasan pacu darurat yang kini telah menjadi hutan pinus lebat. Cahaya dalam proyeksi itu berwarna sepia, buram, dan penuh bintik hitam seperti film seluloid tua yang rusak. Alana melihat pesawat Cessna milik Arlo yang sudah dimodifikasi dengan perangkat logam perak di bagian sayapnya, mesinnya menderu mengeluarkan percikan listrik biru.
Ia melihat Arlo muda sedang berlari panik menuju kokpit. Dan di sana, berdiri seorang wanita muda dengan jaket penerbang kulit dan rambut pendek yang tegas Martha muda. Wajahnya penuh peluh, matanya menyiratkan keberanian yang luar biasa sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Arlo, pergi sekarang! Jangan menoleh! Mereka sudah melewati pagar timur!" teriak Martha dalam rekaman itu, suaranya terdistorsi oleh angin kencang.
Alana memperhatikan dengan seksama ke arah bayangan di balik pepohonan. Di sana, ia melihat siluet seorang pria lain yang tidak mengenakan seragam. Pria itu memakai jas hujan hitam panjang, berdiri di kegelapan sambil memegang sebuah alat pemancar radio kecil.
"Siapa pria itu, Arlo? Dia tidak terlihat seperti tentara," tanya Alana dengan jantung yang berdegup kencang.
Arlo mendekat ke proyeksi tersebut, wajahnya mengeras seolah-olah ia sedang melihat setan. "Itu kakekmu, Surya."
Alana terperanjat, dunianya seolah runtuh. "Kakek? Tapi... kakek membantu kalian, kan? Dia yang menjaga jurnal-jurnalmu!"
Dalam rekaman itu, Alana melihat kenyataan yang menghancurkan hatinya. Surya muda tidak sedang membantu. Ia tampak memberikan isyarat dengan lampu senter ke arah pasukan militer, menunjukkan posisi Martha yang sedang bersembunyi. Dan saat pesawat Arlo mulai meluncur, memicu ledakan cahaya yang menandakan keberhasilannya menembus dimensi, Surya mendekati Martha yang baru saja ditangkap. Bukannya menolong, Surya tampak merampas sebuah buku catatan kecil dari tas Martha secara paksa—sebuah buku yang Alana kenali sebagai jurnal pertama yang ia temukan di rumah kakek.
Proyeksi itu berakhir dengan jeritan Martha yang diseret ke dalam truk militer, sementara Surya berdiri diam memandangi pesawat kakaknya yang hilang di langit. Cahaya proyektor meredup, mengembalikan mereka ke dalam kapsul yang sunyi dan dingin.
"Kakek mengkhianati kalian?" Alana menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras. "Jadi semua warisan yang dia tinggalkan padaku... semua rumah dan jurnal itu... itu adalah hasil dari sebuah pengkhianatan besar? Dia mencuri masa depan Martha!"
Arlo menunduk, tidak berani menatap mata Alana. "Surya selalu merasa bahwa kekuatan langit terlalu berbahaya untuk dimiliki oleh orang seperti aku dan Martha. Dia ingin 'melindungi' dunia, atau mungkin dia hanya cemburu karena ia tidak terpilih untuk pergi. Aku menghabiskan puluhan tahun mencoba memaafkannya melalui surat-surat batin yang kukirim, mengira dia hanya seorang penjaga yang setia. Ternyata, dia adalah sipir penjara bagi Martha."
"Pantas saja Martha tetap berada di sana selama lima puluh tahun," bisik Alana dengan suara bergetar. "Dia tidak sedang menunggu untuk menolongku. Dia sedang menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan apa pun yang dicintai oleh keturunan Surya. Dan aku... aku adalah sasaran termudahnya."
Tiba-tiba, alarm kapsul berbunyi nyaring. Kali ini bukan guncangan dari luar, melainkan peringatan sensor biologis dari bumi. Melalui kamera sensor mercusuar yang baru saja diaktifkan, Alana melihat Elian dan Martha sedang duduk berhadapan di balkon menara. Martha sedang menyerahkan sebuah gelas kecil berisi cairan transparan yang berkilau kebiruan zat yang Arlo kenal sebagai "Tinta Hitam".
"Jangan minum itu, Elian! Itu racun memori!" Alana berteriak histeris, meski ia tahu suaranya hanya akan memantul di dinding kapsul.
"Alana, cepat! Gunakan sandi bintang mati!" Arlo mendesak, ia menarik Alana ke meja tulisnya. "Beritahu dia bahwa Martha membawa pengkhianatan dalam gelas itu. Tinta hitam itu akan memutuskan hubungan sarafnya dengan frekuensi kita. Jika Elian meminumnya, dia akan lupa siapa kau, dan dia akan menjadi boneka Martha untuk mengendalikan mercusuar demi dendamnya!"
Alana segera mengambil pena kristalnya. Jemarinya bergerak dengan gemetar yang hebat, namun kali ini ada kemarahan yang memicu kecepatannya. Ia tidak lagi peduli pada estetika atau aturan keheningan para Penjaga. Ia menuliskan sandi darurat dengan tinta darahnya yang paling merah, memadukan frekuensi amarah dan keputusasaan.
Pola Cygnus: Bintang di leher angsa harus segera diputuskan. Racun di dalam gelas perak. Jangan percaya pada wanita dari masa lalu. Ingatlah namaku, Elian!
Pesan itu melesat keluar dari kapsul, membelah awan malam Navasari dengan kecepatan cahaya. Alana menatap layar dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Ia melihat Elian di mercusuar mulai mengangkat gelasnya ke arah bibir. Martha tersenyum di sana, sebuah senyum kemenangan yang telah ia siapkan selama setengah abad.
lembaran kepolosan Alana selamanya. Ia kini menyadari bahwa ia tidak hanya sedang jatuh cinta pada pria dari langit, tapi ia juga sedang menanggung dosa berdarah dari kakek yang selama ini ia hormati. Perang ini bukan lagi tentang sains, tapi tentang penebusan dosa di antara dua dimensi.