Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 — Sore yang Menyisakan Jejak
Koridor studio sore itu lebih sunyi dari biasanya.
Lampu-lampu belum sepenuhnya menyala, hanya cahaya dari jendela panjang di sisi gedung yang masuk miring, menimpa lantai dengan warna jingga pucat. Haruto berjalan paling depan, langkahnya santai tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Di belakangnya, Mei dan Yukito berjalan berdampingan, membawa tas masing-masing, suara langkah mereka berpadu pelan.
Dari kejauhan, mereka melihat Ren dan Airi keluar dari arah studio.
Ren berjalan sedikit lebih cepat. Tangannya menggenggam tas Airi, sementara Airi sendiri menunduk, langkahnya pendek-pendek, seolah tubuhnya sedang berusaha menyusul pikirannya yang tertinggal entah di mana.
Haruto memperlambat langkah.
“Airi?” panggilnya refleks.
Airi menoleh sebentar. Wajahnya pucat. Matanya sembab, merah di tepinya, tapi ia tetap berusaha tersenyum, senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
“Aku pusing,” katanya pelan. “Aku mau pulang.”
Sebelum Haruto sempat bertanya lebih jauh, suara lain menyela dari balik pintu studio yang masih terbuka.
“Kalian boleh pulang.”
Pria itu berdiri di sana, rapi dan tenang. Kemejanya tersetrika halus, rambutnya disisir ke belakang tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya. Wajahnya menyunggingkan senyum sopan yang terasa… terlalu pas.
“Sepertinya Airi tidak enak badan,” lanjutnya dengan nada formal.
Ren tidak menunggu lebih lama. Ia hanya mengangguk singkat, lalu membawa Airi pergi. Langkah mereka menjauh, suara sepatu mereka menghilang di tikungan koridor.
Mei menatap punggung Airi sampai benar-benar tak terlihat.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Bukan karena Airi pulang lebih dulu. Bukan juga karena Ren terlihat tegang. Tapi karena cara pria itu berdiri, cara ia berbicara, dan cara ruangan itu terasa mendadak… dingin.
“Masuk,” kata pria itu ringan. “Kita lanjutkan sebentar.”
Haruto menoleh ke Mei dan Yukito. Yukito mengangkat bahu kecil, ekspresinya ragu tapi tidak menolak. Haruto menghela napas pelan, lalu melangkah masuk.
Studio itu terang. Lebih terang dari biasanya.
Lampu-lampu utama menyala penuh, memantulkan cahaya di lantai dan dinding kedap suara. Rasanya seperti ruang yang dipersiapkan dengan sengaja. Seolah seseorang ingin memastikan setiap sudut terlihat jelas.
Mei memperhatikan itu tanpa berkata apa-apa.
Pria itu berjalan ke tengah ruangan, merapikan lengan kemejanya dengan gerakan santai. Tidak ada tanda tergesa, tidak ada kekakuan. Seperti seseorang yang terbiasa berada di ruang seperti ini.
“Sebelum kita akhiri,” katanya sambil menoleh ke mereka bertiga, “mohon perkenalkan diri saya terlebih dahulu.”
Ia tersenyum.
“Takahashi Shun. Dosen baru di kampus ini.”
Mei merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Nama itu.
Entah kenapa, nama itu seperti menyentuh sesuatu di ingatannya. Bukan kenangan yang jelas, lebih seperti bayangan yang melintas cepat, terlalu cepat untuk ditangkap.
“Saya juga akan menjadi pembimbing klub band kalian ke depannya,” lanjut Takahashi. “Mulai minggu ini.”
Haruto mengernyit pelan. “Pembimbing?”
“Iya,” jawab Takahashi tenang. “Kampus ingin lebih terlibat dengan kegiatan mahasiswa, terutama yang akan tampil di acara besar.”
Yukito mengangguk kecil. “Oh… begitu.”
Haruto melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menghela napas. “Kalau begitu… hari ini kita nggak latihan dulu, Sensei.”
Takahashi menoleh padanya. “Kenapa?”
“Vokalis kami lagi nggak enak badan,” jawab Haruto jujur. “Latihan tanpa vokalis rasanya percuma.”
Tidak ada kecurigaan di wajah Takahashi. Ia hanya mengangguk, seolah itu keputusan yang masuk akal.
“Baik,” katanya. “Kalau begitu, kita akhiri pertemuan hari ini.”
Ia melangkah ke arah pintu, lalu berhenti sejenak.
“Kalian bisa duluan,” katanya. “Saya akan mengunci ruangan ini sendiri.”
Nada suaranya ringan. Terlalu ringan.
Haruto mengangguk. Yukito juga. Mei hanya membalas dengan anggukan kecil, matanya tidak lepas dari wajah Takahashi.
Mereka keluar dari studio bersama.
Koridor terasa lebih panjang saat mereka berjalan menuju lobi. Suara langkah mereka bergema pelan, dan di antara langkah-langkah itu, Mei merasakan ketidaknyamanan yang semakin jelas.
Ia memperlambat langkah, lalu tiba-tiba menarik tangan Yukito.
Yukito terkejut kecil. “Eh? Kenapa, Mei?”
Haruto berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menoleh.
Mei menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram lengan Yukito, seolah butuh pegangan.
“Aku… merasa nggak nyaman,” katanya akhirnya.
Yukito berkedip. “Nggak nyaman?”
Mei mengangguk. “Sensei itu.”
Haruto mengerutkan dahi. “Kenapa?”
Mei menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Tapi namanya… rasanya nggak asing.”
Ia mencoba mengingat lebih jauh, tapi yang ia dapat hanya potongan perasaan, bukan fakta. Seperti mimpi yang baru saja hilang saat bangun tidur.
Yukito menatap Mei dengan ragu. “Mungkin cuma perasaan kamu aja?”
“Bisa jadi,” jawab Mei. Tapi nada suaranya tidak yakin. “Tapi aku jarang salah soal beginian.”
Haruto diam. Ia menatap ke arah studio yang kini pintunya tertutup rapat. Entah kenapa, bayangan Airi yang berjalan tertunduk tadi kembali muncul di benaknya.
“Kalau memang ada yang aneh,” katanya akhirnya, “kita perhatiin aja dulu.”
Mei mengangguk, meski rasa tidak nyaman itu belum juga pergi.
Di dalam studio, Takahashi berdiri sendirian.
Ia memastikan pintu terkunci, lalu merapikan pakaiannya sekali lagi. Wajahnya kembali netral, senyum sopan itu menghilang, digantikan ekspresi datar yang sulit dibaca.
Ia menatap ke arah kursi tempat Airi tadi duduk.
Kosong.
Namun jejaknya masih terasa.
Takahashi menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak ditujukan pada siapa pun.
“Sampai bertemu lagi,” gumamnya pelan.
Di luar gedung, langit sore mulai berubah warna. Jingga memudar menjadi ungu, lalu perlahan gelap.
Mei berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, perasaan tidak nyaman itu masih menempel seperti bayangan. Yukito mengikutinya, pikirannya penuh tanda tanya, sementara Haruto berjalan di depan, diam-diam memutuskan satu hal dalam hati.
Apa pun yang terjadi nanti, ia tidak akan membiarkan band ini berjalan tanpa saling menjaga.
Sore itu berlalu seperti sore-sore lainnya.
Namun sesuatu telah tertinggal.
Sesuatu yang belum memiliki nama, tapi kelak akan menuntut untuk dihadapi.
Dan tanpa mereka sadari, jejak itu sudah mulai membentuk arah cerita yang tidak akan mudah diputar balik.
--
Haruto berjalan sedikit lebih cepat dari Mei dan Yukito.
Langkahnya mantap, tapi pikirannya tidak sepenuhnya lurus ke depan. Bayangan wajah Airi yang pucat tadi terus muncul, bersisian dengan senyum sopan Takahashi yang entah kenapa terasa tidak pas di kepalanya.
Di dekat pintu keluar gedung, sebelum belok ke arah parkiran motor, Haruto berhenti mendadak.
Ia menoleh ke belakang.
“Eh,” panggilnya.
Mei dan Yukito ikut berhenti.
“Besok kan weekend,” lanjut Haruto sambil menggaruk tengkuknya. “Gimana kalau kita latihan di studio biasa yang suka kita sewa itu?”
Yukito mengangkat alis sedikit. “Yang di daerah seberang sungai?”
“Iya,” jawab Haruto. “Kita biasa sewa kalau weekend juga, kan. Lebih bebas. Nggak perlu ribet sama urusan kampus.”
Mei langsung mengangguk. “Aku setuju.”
Jawabannya terlalu cepat, bahkan untuk dirinya sendiri. Tapi ia memang butuh alasan untuk tetap bersama, tetap dekat, tetap bisa melihat Airi besok tanpa suasana kampus yang terasa mendesak.
Yukito tersenyum kecil. “Kalau begitu, oke. Aku bisa.”
“Jamnya nanti kita atur di grup,” kata Haruto. “Biar Ren sama Airi juga tahu.”
Mei mengangguk lagi. Ada rasa lega kecil di dadanya. Latihan di luar kampus berarti jarak, setidaknya sedikit, dari sosok Takahashi.
Mereka bertiga keluar gedung bersama.
Udara sore menyambut dengan angin yang lebih dingin. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, sementara langit di atas kampus berubah menjadi biru tua yang tenang.
Di persimpangan kecil, mereka berhenti.
Parkiran motor ada di kanan. Halte bus di kiri.
Haruto mengambil helm dari tasnya. “Aku duluan, ya.”
“Iya,” jawab Yukito. “Hati-hati.”
Mei mengangguk singkat. Haruto menaiki motornya, mesin menyala, lalu ia melaju pergi, meninggalkan suara knalpot yang perlahan menjauh.
Yukito menoleh ke Mei. “Kamu naik bus?”
Mei menggeleng. “Enggak. Apartemenku deket. Jalan kaki aja.”
“Oh,” Yukito tersenyum kecil. “Kalau gitu aku ke halte dulu.”
Mereka berjalan beriringan sebentar sampai di depan halte. Yukito berhenti, sementara Mei terus melangkah.
“Besok ketemu,” kata Yukito.
“Besok,” jawab Mei.
Mei melanjutkan langkahnya sendirian.
Trotoar itu sepi. Lampu-lampu apartemen mulai menyala, satu per satu, seperti mata-mata kecil yang mengintip dari kejauhan. Sepatu Mei berbunyi pelan setiap kali menyentuh aspal.
Pikirannya kembali ke studio.
Ke cahaya yang terlalu terang.
Ke cara Takahashi berdiri.
Ke nada suaranya saat menyebut nama Airi, meski ia tidak mengatakannya secara langsung.
Dan ke namanya.
Takahashi Shun.
Mei berhenti sejenak di bawah lampu jalan.
Ia mengeluarkan ponselnya, ragu beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama.
Hinami.
Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali.
“Halo?” suara Hinami terdengar di seberang, sedikit terengah, seperti baru selesai berjalan.
“Hinami,” kata Mei pelan. “Maaf kalau aku ganggu. Kalau kamu lagi sibuk, bilang aja.”
“Enggak, kok. Kenapa, Mei?” tanya Hinami, nadanya langsung serius.
Mei menarik napas. “Aku cuma… sepertinya ada yang gawat.”
Ada jeda singkat di seberang sana.
“Apa maksudmu?” tanya Hinami.
Mei menelan ludah. “Hinami… guru SMP Airi dulu, namanya Takahashi Shun, ya?”
Hening.
Terasa lebih panjang dari seharusnya.
“Kenapa kamu nanya itu?” suara Hinami berubah. Lebih pelan. Lebih waspada.
Mei meremas ponselnya. “Aku ketemu dosen baru hari ini. Pembimbing band kami. Namanya sama persis.”
“Mei…” Hinami menghembuskan napas pelan. “Kamu yakin?”
“Belum,” jawab Mei jujur. “Makanya aku nanya. Aku cuma… ngerasa nggak nyaman. Kayak ada sesuatu yang salah.”
Di seberang sana, Hinami tidak langsung menjawab.
Mei bisa membayangkan ekspresi Hinami sekarang. Alisnya mengerut, bibirnya terkatup rapat, pikirannya berputar cepat.
“Besok aja,” kata Mei akhirnya. “Besok kita tanya Airi langsung. Pelan-pelan. Kalau dia siap.”
Hinami menarik napas dalam. “Iya. Jangan apa-apa dulu. Jangan bikin dia kaget.”
“Iya,” jawab Mei. “Aku cuma pengen pastiin.”
Telepon ditutup.
Mei menurunkan ponselnya perlahan.
Langkahnya kembali bergerak menuju apartemen, tapi dadanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Seolah potongan-potongan kecil yang ia rasakan tadi mulai menyusun gambar yang tidak ia sukai.
Malam itu, di kota yang terlihat tenang, tiga orang memikirkan hal yang sama dengan cara berbeda.
Haruto memikirkan band dan latihan.
Yukito memikirkan suasana yang terasa berubah.
Dan Mei… memikirkan satu nama yang tidak seharusnya kembali muncul.
Sementara itu, tanpa mereka tahu, bayangan yang mereka rasakan sudah berdiri terlalu dekat.
Dan cerita, pelan-pelan, mulai mengarah ke titik yang tidak bisa lagi dihindari.