Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Udara di koridor menuju kamar utama Ratu Elara terasa sangat tipis. Derap langkah Alistair, Benedict, dan Gideon yang mengawal Aurora—yang kini berjalan dengan martabat seorang putri meski masih berpakaian pelayan—menggema seperti detak jantung yang berpacu. Mereka baru saja melewati lorong rahasia di balik rak buku perpustakaan saat pintu besar kamar Ratu terbuka.
Ratu Elara berdiri di sana, hanya mengenakan jubah sutra putih, wajahnya pucat pasi. Ia telah terbangun sejak ledakan cahaya biru dari bawah tanah tadi menggetarkan nuraninya. Ketika matanya tertuju pada sosok gadis yang berdiri di antara putra-putranya, Ratu Elara membeku.
"Bunda," bisik Alistair, suaranya parau. "Lihatlah dia. Bukan dengan matamu, tapi dengan hatimu."
Gideon menyerahkan gulungan sutra emas yang keluar dari mekanisme rahasia Pulpen Cendana Emas. "Ini adalah tulisan tangan Bunda. Pulpen itu terbuka... oleh darah gadis ini."
Ratu Elara menerima gulungan itu dengan tangan gemetar. Saat ia membaca baris demi baris pesan kasih sayang yang ia tulis delapan belas tahun lalu, air matanya tumpah tak terbendung. Ia mendekati Aurora, menyentuh pipi gadis itu yang kini bersih dari sihir gelap Malakor. Wajah Aurora kini memancarkan aura yang begitu murni, sangat mirip dengan wajah masa muda sang Ratu.
"Anakku..." tangis Ratu Elara pecah. Ia memeluk Aurora dengan kekuatan yang luar biasa, seolah takut jika ia melepaskannya, gadis itu akan menghilang lagi. "Maafkan Bunda... Bunda yang macam apa aku ini sampai tidak mengenali darah dagingku sendiri?"
"Bunda, tidak ada waktu untuk meratap," sela Benedict dengan nada waspada. "Malakor dan Morena sedang menuju ke sini. Kita harus menemui Ayahanda di aula utama sebelum Malakor memutarbalikkan fakta lagi."
Sementara itu, di aula utama yang megah, Raja Alaric sedang berdiri dengan bingung di depan singgasananya. Pesta telah berhenti mendadak, setelah Raja Malakor kembali dari perjalanan bawah tanah dan melihat Ara tidak ada di sana. Para bangsawan berbisik-bisik ketakutan melihat amarah yang terpancar dari wajah Raja Malakor.
"Alaric! Kau telah mengizinkan putra-putramu mencampuri urusan penting ini!" geram Malakor. "Pelayan pencuri itu telah menggunakan sihir hitam untuk menipu mereka! Aku mencium bau sihir penghancur dari arah penjara!"
Morena berdiri di samping Malakor, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan. "Ayahanda Raja! Pangeran Alistair dan yang lainnya telah terperangkap oleh rayuan pelayan itu! Mereka mencoba menyembunyikannya!"
Tepat saat itu, pintu aula utama terbuka lebar. Dentuman pintu yang menghantam dinding membuat seluruh ruangan sunyi senyap.
Alistair masuk pertama kali, diikuti oleh Benedict dan Gideon yang menghunus pedang mereka, membentuk barisan pelindung. Di tengah-tengah mereka, Ratu Elara berjalan sambil menggandeng erat tangan Aurora.
"Hentikan semua sandiwara ini, Malakor!" suara Alistair menggelegar, membungkam bisikan para bangsawan.
Raja Alaric melangkah maju, bingung melihat istrinya memeluk pelayan yang tadi ia perintahkan untuk dipenjara. "Elara? Apa maksud semua ini? Mengapa kau membawa pencuri itu ke sini?"
"Dia bukan pencuri, Alaric!" teriak Ratu Elara dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Dia adalah Aurora kita! Putri kita yang sesungguhnya!"
Morena tertawa histeris, mencoba menutupi kegugupannya. "Bunda, kau pasti sudah diguna-guna! Lihatlah aku! Aku yang membawa pulpen itu! Aku yang memiliki bukti!"
"Bukti yang kau curi, Morena!" sahut Gideon tajam. Ia melemparkan gulungan sutra emas ke atas meja perjamuan di depan Raja Alaric.
"Baca ini, Ayah! Pulpen itu adalah sebuah kunci. Dan hanya darah Aurora yang bisa membukanya. Darah gadis yang kau panggil pencuri inilah yang membuka rahasia ini!"
Raja Alaric membaca gulungan itu. Wajahnya perlahan berubah dari bingung menjadi terkejut, lalu menjadi penuh dengan penyesalan yang mendalam. Ia menatap Aurora, lalu menatap Morena yang mulai gemetar.
"Malakor..." Alaric menoleh pada Raja Noxvallys itu. "Jelaskan padaku, mengapa darah gadis ini bisa membuka pusaka keluargaku jika dia hanyalah seorang pelayan?"
Raja Malakor menyipitkan mata. Ia tahu posisinya terdesak. "Itu hanyalah trik sihir! Gadis itu pasti sudah meminum darah Morena secara diam-diam!"
"Kebohonganmu sudah berakhir, Malakor!" Alistair melangkah maju. "Kami menemukan pengawal pribadimu mencoba meracuni Aurora di dalam sel tadi malam. Jika dia benar-benar bukan siapa-siapa, mengapa kau begitu bernafsu membunuhnya sebelum fajar menyingsing?"
Morena, yang merasa dunianya runtuh, tiba-tiba kehilangan kendali. Sifat aslinya yang kasar dan kejam meledak di depan umum. "Diam kau, Pangeran bodoh! Aku sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk posisi ini! Aku tidak akan membiarkan pelayan kotor ini mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Seluruh aula terkesiap. Kata-kata Morena adalah pengakuan secara tidak langsung. Raja Alaric terpaku, kecewa melihat gadis yang ia peluk sebagai putri ternyata hanyalah monster haus kekuasaan.
"Jadi benar..." suara Raja Alaric bergetar karena amarah. "Kau hanyalah penipu yang dikirim oleh Malakor."
Melihat rencana besarnya gagal, Malakor tidak lagi berpura-pura ramah. Aura hitam pekat mulai keluar dari tubuhnya. "Jika aku tidak bisa menguasai Aethelgard melalui pernikahan, maka aku akan menguasainya melalui darah!"
Malakor merapal mantra cepat, menciptakan gelombang energi gelap yang menghantam meja-meja pesta. Para bangsawan berlarian ketakutan. Malakor menarik Morena ke belakangnya. "Kita pergi, Morena! Kerajaan ini akan segera menjadi lautan api!"
"Tangkap mereka!" perintah Raja Alaric.
Pasukan ksatria Aethelgard menyerbu maju, namun Malakor menggunakan sihir hitamnya untuk menciptakan kabut asap tebal yang membutakan mata. Dalam kekacauan itu, Malakor dan Morena berhasil melarikan diri melalui balkon aula yang menuju langsung ke arah lembah di mana pasukan Noxvallys sudah menunggu.
Alistair dan saudara-saudaranya ingin mengejar, namun Alistair menahan mereka. "Biarkan mereka pergi untuk saat ini. Keselamatan Aurora dan keamanan istana adalah prioritas utama. Malakor tidak akan berhenti di sini, perang akan segera datang."
Saat kabut asap menghilang, suasana aula menjadi sunyi. Raja Alaric berjalan perlahan mendekati Aurora. Di depan seluruh bangsawan yang tersisa, sang Raja yang agung itu berlutut di depan putrinya.
"Aurora... anakku," suara Raja Alaric pecah.
"Ayah telah buta. Ayah telah menyakitimu dengan tangan Ayah sendiri. Bisakah kau memaafkan Ayah yang malang ini?"
Aurora, dengan air mata yang mengalir di pipinya, memegang tangan ayahnya. Ia tidak merasa dendam. Segala penderitaan di Noxvallys seolah terbayar lunas saat ia merasakan hangatnya dekapan keluarganya yang asli. "Ayah... hamba sudah pulang. Itu sudah cukup bagi hamba."
Ketujuh pangeran mendekat, membentuk lingkaran pelindung di sekitar adik mereka. Mereka bersumpah dalam hati bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi air mata yang jatuh dari mata biru Aurora karena ulah orang lain.
Namun, di kejauhan, di perbatasan hutan yang gelap, Morena menatap istana Aethelgard dengan dendam yang membara.
"Ini belum berakhir, Aurora," bisiknya penuh kebencian. "Aku akan kembali, dan kali ini, aku akan meratakan kerajaanmu dengan tanah."
Fajar pun menyingsing di Aethelgard.
Matahari terbit membawa harapan baru, namun juga menandai dimulainya babak baru yang lebih berbahaya.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.