Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Panggilan Felix tidak pernah dijawab oleh Syerly. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menyimpannya lagi.
Berdiri ditengah lapangan basket, Felix melampiaskan semua emosinya pada bola ditangannya. Seolah ia ingin menguras semua tenaganya hanya untuk meredakan perasaannya yang menyesakkan dadanya.
Keringat sudah membasahi tubuhnya, nafasnya sudah memburu tapi semua itu tidak ada tanda-tanda mereda sedikitpun.
"Sialan!!!"
Felix melemparkan bola sekuat tenaga sampai memantul jauh.
Dengan napas terengah-engah, Felix akhirnya menjatuhkan diri di lantai lapangan. Dadanya naik turun, matanya menatap langit malam di atasnya.
Ia yang memilih hubungan tanpa nama ini. Ia pikir akan merasa bahagia dan nyaman.
Tapi, Felix tidak pernah menyangka. Hubungan tanpa ikatan sangatlah rapuh. Ia tidak mempunyai posisi. Ia tidak mempunyai status untuk memaksa Syerly tinggal.
Dan yang paling menyakitkan, ia belum siap kehilangan Syerly.
Langit masih gelap dan kosong. Perlahan, awan-awan hitam bergeser, menyingkap bintang-bintang yang sempat tertutup.
Felix tiba-tiba bangkit.
Ia tidak akan membiarkan semua ini berakhir begitu saja.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
---
Didepan meja bar, Syerly menatap layar ponselnya yang terus menyala.
Syerly memalingkan wajahnya. Ia mengangkat gelasnya dan meneguknya langsung. Rasa panas dari minuman itu mengalir di tenggorokannya.
"Syer..." seseorang memanggilnya.
Syerly menoleh.
Melihat orang yang berdiri disampingnya, senyum kecil muncul pada wajahnya.
"Kak Vinna, ada apa?" Tanya Syerly.
Vinna adalah pemilik Bar, saat ini sedang menatap Syerly dengan ragu-ragu.
"Bisakah kau membantuku?" Matanya tampak memohon.
"Penyanyi yang biasa tampil didalam Bar ku, mengalami kecelakaan. Aku tidak mempunyai waktu untuk mencari penggantinya." Jelas Vinna.
Tatapannya penuh harap.
"Jadi, bisakah kamu menggantikannya?"
"Baik." Jawab Syerly.
"Tapi, aku butuh waktu." Katanya pelan.
"Saat ini aku sedang sangat mabuk."
Vinna mengangguk lalu menepuk pundak Syerly lembut.
"Tidak apa-apa." Katanya.
"Aku akan pergi menyiapkan panggung untukmu."
Lalu Vinna pergi.
Disudut lain, kebetulan Gio dan Ivan sedang berada ditempat yang sama. Mereka sedang bersantai sambil menatap sekeliling.
"Bukankah itu Syerly."
Bisik sambil Ivan menyenggol Gio disebelahnya.
Gio menajamkan matanya.
"Mengapa dia berada disini?" Gumam Gio.
Ivan dengan cepat mengambil ponselnya.
"Aku akan menelpon Felix."
"Enn." Gio mengangguk setuju sambil mengamati Syerly yang tampak kesepian.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Felix untuk tiba. Begitu masuk kedalam Bar, tatapannya langsung tertuju pada Syerly.
Felix segera menghampirinya dengan langkah cepat. Seolah takut, gadis itu akan menghilang lagi.
Ivan memperhatikan dari kejauhan.
"Apa mereka bertengkar?" Bisik Ivan.
"Aku baru kali ini melihat Felix begitu gila. Ia mengikuti Syerly sampai kehilangan akal."
Gio menoleh kearah Ivan.
"Kau juga melihatnya."
Ivan mengangguk.
"Tapi itu semua membuatku khawatir." Katanya pelan.
Gio tidak menjawab, menunggu Ivan untuk melanjutkan.
"Felix dan Syerly mereka sangat mirip." Kata Ivan akhirnya.
"Mereka sangat mudah bosan dan mereka sama-sama pemain."
Gio tersenyum kecil.
"Kau tidak perlu khawatir!" Katanya dengan tenang.
"Sebagai teman Felix, kita hanya bisa disampingnya ketika saatnya ia terluka."
Setelah itu, Gio melirik kearah Felix yang kini berjalan mendekat kearah mereka dengan wajah dingin.
Felix tampaknya masih gagal menyelesaikan masalahnya dengan Syerly.
Syerly naik keatas panggung.
Senyumannya cerah menyapa semua orang. Seolah-olah gadis mabuk didepan bar tadi bukanlah dia.
Felix terus mengawasi Syerly tanpa berkedip. Tangannya berkali-kali mengisi gelas dengan bir dan menenggaknya cepat.
Atmosfir dingin yang dikeluarkan Felix membuat Gio dan Ivan tidak berani bertanya. Mereka hanya diam menerima tekanan berat dari Felix.
Meskipun begitu, mereka berdua berusaha membujuk Felix untuk berhenti minum.
Syerly telah mengakhiri lagunya. Ia masih tersenyum dan menyapa orang-orang sebelum turun dari panggung lalu pergi.
Felix yang melihat Syerly mencoba melarikan diri, langsung mengejarnya.
"Syer..." panggil Felix.
Mereka keluar dari Bar.
"Tunggu..."
Felix meraih tangan Syerly dan menahannya, memaksa gadis itu berhenti dan menatapnya.
"Ada apa denganmu?" suara Felix terdengar tajam.
"Mengapa kamu terus mengabaikanku?"
Felix menghelai nafas pelan, menatap gadis didepannya.
"Tolong!" katanya lebih pelan dengan suara yang sedikit bergetar,
"katakan padaku… apa salahku?"
Syerly menatap Felix dengan datar.
"Tidak apa-apa."
Syerly mencoba menarik tangannya, tapi Felix tidak membiarkannya pergi.
"Lalu mengapa kamu menghindariku?" Tanya Felix.
"Apa karena foto-foto kita yang tersebar?"
Syerly tersenyum tak sampai mata.
"Semua ini tidak ada hubungannya dengan itu. Aku hanya sudah bosan denganmu."
Kata-kata itu berhasil melukai Felix, begitu sakit sampai pertahanannya runtuh.
Genggamannya melemah.
"Lepas!!!"
Syerly menarik tangannya dengan kuat, hingga bebas.
Menyadari tangannya kosong, Felix menatap Syerly yang sudah mengambil satu langkah kebelakang. Seolah ingin menjaga jarak dengannya.
Emosinya yang selama ini Felix tahan akhirnya pecah. Felix menatap lurus kearah Syerly.
"Aku tidak percaya." Katanya tajam.
Felix maju satu langkah, ia ingin menutup jarak diantara mereka.
"Kau bilang, kita teman."
"Aku tidak bilang, akan berhenti berteman denganmu, Fel." Potong Syerly cepat.
"Tapi, apa yang kau lakukan sekarang." Suara Felix meninggi.
"Kau membuatku merasa, kau tidak menginginkanku lagi."
Syerly menatap Felix.
"Apa kau lupa, kita hanya bersenang-senang?"
Syerly mencoba menenangkan dirinya, tapi ia gagal.
Emosinya yang ia tahan sejak lama akhirnya juga ikut pecah.
"Kau sangat menyebalkan, Fel." Bentaknya.
Syerly mendorong Felix mundur satu langkah.
"Aku membenci semua perlakuan baikmu kepadaku. Kau membuatku tidak nyaman." Katanya tajam.
"Apa kau yakin." Kata Felix dengan suara rendah.
"Atau kau hanya takut mengakui perasaanmu.
Tatapan mereka penuh luka masing-masing.
Felix menghelai nafas, mencoba menenangkan dirinya.
"Syer... bukankah ini aneh?" Katanya pelan.
"Kita belum lama bertemu, tapi aku sudah sangat menyukaimu."
Felix tersenyum kecil, senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Aku sudah berkencan dengan banyak gadis." Katanya pelan.
"Tapi tak satu pun membuatku seperti ini."
Ia menatap Syerly lebih lama.
"Hanya kamu… yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya."
Tanpa memberi kesempatan Syerly untuk menghindar, Felix menariknya kedalam pelukannya lalu menciumnya langsung.
Ciuman itu sangat lembut dan hati-hati.
Seolah Felix melampiaskan semua kerinduannya dan kegelisahannya, tapi ia juga takut menyakiti Syerly.
Syerly hampir tenggelam didalamnya.
Kenyamanan dan kehangatan Felix sangat nyata. Tapi bisakah ia memilikinya selamanya?
Ketakutan itu datang mendadak, seperti badai yang menghancurkan perasaan manisnya.
Syerly mendorong Felix dengan kuat.
Plak!
Suara tamparannya sangat keras.
"Sialan..."
Syerly tidak tahu siapa yang sedang ia maki?
Entah memaki Felix karena memanfaatkannya.
Atau memaki dirinya sendiri karena mudah terbuai.
Syerly menatap Felix dengan kemarahan yang besar.
"Berhenti mengatakan kau menyukaiku! Apa kau pikir, itu membuatku bahagia?"
Nafas Syerly naik turun, mencoba untuk tetap tenang, tapi ia masih gagal mempertahankan suaranya.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak ingin menjalin hubungan apapun itu. Kau sudah melewati batas, Fel." Suaranya bergetar.
Semakin ia bicara, semakin besar kemarahannya dan semakin sesak dadanya.
"Syer..." panggil Felix dengan suara lemah. Ia ingin menyentuh tangan Syerly. Tapi Syerly menepisnya dengan kejam. Seolah sedikit saja sentuhan dari Felix dapat menghancurkan pertahanannya yang ia jaga.
"Pergi!" Katanya sambil mendorong Felix menjauh.
Tanpa menoleh lagi, Syerly berjalan pergi dengan cepat.
Meninggalkan Felix yang berdiri sendirian dan hanya dapat menatap punggung Syerly yang semakin menjauh.