Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Bukan Kejutan Lagi
Jam 02.10 siang di toko roti Nam Jisu. Pelanggan ramai memadati toko. Memilah milih jenis roti yang mereka inginkan.
Anjani nampak sibuk melayani seorang pria muda yang tampangnya berusia anak kuliah, berperawakan sedang dengan bahu agak turun. Wajahnya biasa saja.
Apa yang membuat kesal? Ini bukan kali pertama. Pemuda itu datang hampir setiap hari, dan selalu ingin dilayani oleh Anjani, tidak mau oleh Jisu atau satu rekan yang lain yang sebut saja namanya; Jang Mirim, gadis yang selalu mengepang rambutnya dua bagian kiri dan kanan dimulai dari atas kepala.
“Jadi, rasa apa yang ingin kau makan?” tanya Anjani. Sudah cukup kesal karena sepertinya pelanggan satu itu sengaja membuat pusing dengan terus mengganti jenis roti yang dipilihnya.
Memaksa tukar pada Jisu atau Mirim, mereka bahkan tidak bisa dipanggil. Jisu melempar gestur melalui tatapan bahwa dia tak ingin ikut campur urusan yang demikianーselama itu di batas wajar dan masih terlihat tidak membahayakan.
Mirim malah sengaja melarikan diri, mengambil roti-roti ke bagian pantry.
Ingin mengusir atau serendahnya membentak kasar, tapi pemuda itu adalah seorang pelanggan. Anjani tak ingin usaha roti sahabatnya mendapat rating buruk karena pelayanan 'tak menyenangkan.
Ini beban mental namanya.
“Sepertinya seleraku terus berubah dalam hitungan detik,” kata pemuda pelanggan, berlagak merengutkan wajah.
Anjani mengembus napas secara kasar, berulang mengerang di dalam hati karena rasa jengah sudah mengepul di ujung kepala. “Silakan pilih saja dulu, setelah mantap pilihan, kau bisa memanggilku lagi. Aku layani yang lain dulu.”
“Ah, Nona Anjani!” Pemuda itu mencegah saat Anjani akan melangkah.
“Ck! Dia bahkan tahu namaku.” Memejamkan mata dalam posisi membelakangi, Anjani berbalik badan lagi dengan raut dipaksa tenang. “Sudah memutuskan?” tanyanya, hancur minat melihat wajah yang masih sama seperti sepuluh detik lalu.
Pemuda itu malah tersenyum, senyuman yang baginya termanis di batas sanggup. “Umm, sudah. Aku ingin taburan keju, dua saja.”
Mendesah berat sekali mendengar itu, Anjani benar-benar ingin tenggelam.
“Taburan keju ... rasa itu bahkan sudah disebutnya berulang kali.”
“Baiklah. Aku kemaskan. Kuharap seleramu tidak berubah lagi.”
Sekuat hati mengabaikan tatapan pemuda itu yang terus menerus dengan senyum yang semakin lama semakin terasa mengesalkan saja.
"Ini pesananmu."
Pemuda itu meraihnya, lalu membayar segera.
Namun ternyata kisahnya belum selesai sampai di sana.
"Nona, boleh tulis nomormu di ponselku dulu? Kurasa ... aku suka padamu.”
Anjani terentak lalu mengerang, “Ya, Tuhan.” Mata bening yang ingin marah itu menatap ponsel yang disodorkan si pemuda sinting ke hadapannya. “Maaー”
GREB!
Kalimatnya terpotong.
Baik dia maupun pemuda itu sama-sama terkejut.
Ponsel si pelanggan baru saja direbut seseorang dengan cara serampang.
“Mau kutulis nomor kontak wanita yang lebih cantik?”
Seraut wajah tersenyum nakal, menggoyangkan ponsel pelanggan muda itu di depan wajahnya.
NG?
“Siapa kau?”
“Jeong,” desis Anjani, terkejut, lalu mendesah sesaat kemudian. Dia tidak merasa terbebas, karena baginya satu pengganggu lain datang merecok. Tapi .... “Ya, dia memang selalu muncul di saat yang dibutuhkan.”
“Aku ... pacarnya," tukas Jeong, ringan dan santai.
Pemuda itu langsung tergagap, dengan wajah terdongak karena perbedaan tinggi mencolok. “Pa-pacar?”
“Hmm, bahkan calon suami.”
Kenakalan kata-kata Jeong membuat si pemuda menelan ludah.
“Jadi, mau kuberi nomor wanita lain?”
Respon-nya seperti roket. “Tidak! Tidak perlu,” tolak si pemuda pelanggan, langsung merebut ponselnya dari tangan Jeong, kemudian melanting kabur.
“Ck, dia bahkan tidak meminta maaf," cibir Jeong.
Meski tidak selalu, tapi kebanyakan terjadi, aura lelaki ini memang selalu membuat orang di sekitarnya tidak berkutik, apalagi saat sudah berpenampilan rapi dan klimis sebagai pengacara gila.
Baru saja mengaku diri sebagai pacar Anjani, berengsek mana pun pasti akan melarikan diri, termasuk pemuda yang hanya mengandalkan senyuman konyol untuk menggoda.
Pandangannya sekarang pada Anjani yang masih terkejut dengan reaksi pemuda tadi.
“Lain kali jika terjadi hal yang membuatmu tidak nyaman seperti barusan atau bentuk kesulitan lain, hubungi aku saja. Aku akan berlari ke hadapanmu segera, walau harus menukik dari langit ketujuh.”
PATS!
Anjani memelototi, trik konyol yangー
"Daebak!" Nam Jisu muncul bertepuk tangan, mendekat dengan tampang seperti mendapat tontonan seru, sekaligus juga terkejut. "Sepertinya aku melewatkan sesuatu di antara kalian?"
Anjani mengerang lagi sambil memejamkan mata, kerepotan hari ini membuatnya benar-benar ingin tenggelam. Sedang Jeong sepertinya tidak peduli.
"Kenapa kau meninggalkan pelanggan begitu saja, Jisu?" Bentuk pengalihan, tidak ingin membahas apa pun, Anjani melenggang berlalu menghampiri seorang kakek yang sedang sibuk mengunyah roti.
“Kakek itu sedang makan, Anja. Apa harus aku menungguinya?”
Jeong menyembunyikan senyum menanggapi sikap Anjani yang demikian. Saat ini wajahnya bermasker lagi, lengkap dengan topinya.
Detik setelah puas perhatiannya pada Anjani, Jisu mengalihkan pandangannya ke wajah Jeong, matanya yang kecil memicing penuh telisik. "Hey, Tuan Berkaki Panjang!"
"Ya.”
"Apa kalian sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku?"
Wajah itu ditatap Jeong sembari memasang raut seolah berpikir, lalu menjawab ringan, ”Kupastikan sebentar lagi kau akan mendengar kabar yang baik, Nona Bos.” Ditutupnya dengan senyuman.
Jisu tercengang. Jawaban yang ambigu, tapi menjurus padahal yang sangat jelas.
Sialnya, sekarang dia melihat Jeong melempar kiss bye pada Anjani yang memasang tampang penuh ancaman di posisinya.
"Dah, Anjani, sampai bertemu nanti."
“Hoo!” Mulut Jisu melebar.
Anjani membuang wajah dengan raut setengah meringis. “Kenapa dia bersikap menyebalkan begitu di depan Jisu?”
Dipastikan setelah ini dia akan mendapat banyak cecaran dari sahabatnya yang bawel itu.
Yeah, itu jelas dan sekarang sedang terjadi.
Setelah pengunjung memudar, Jisu benar-benar seperti kembang api tahun baru yang meledak-ledak, heboh dengan banyak pertanyaan yang demi apa pun membuat kuping Anjani terbakar.
"Aku sungguh tidak ada apa-apa dengannya, Jisu. Kami hanya berteman biasa." Itu jawaban ke sekian kali dan Jisu terus mengatakan bahwa dia tidak percaya.
“Tapi sejak kapan? Kau tidak pernah cerita soal itu padaku?! Pertemanan semacam apa yang kau jalani dengannya? TTM? Atau ....”
“Hah! Terserah kau saja!”
*
*
Malam hari, saat Anjani baru keluar dari toserba.
Rasanya sudah tidak pantas disebut kejutan lagi, Jeong sudah ada di halaman toko, bertengger di atas motornya lagi dengan wajah yang sok manis itu.
Tapi memang manis, bahkan lebih. Dia berkelas meski dengan penampilan yang sederhana.
Dan tetap bercahaya meski di tempat gelap.
Bagaimana ini?
Anjani canggung mendekatinya.
“Annyeong!” Jeong melambai saat langkah kaki kecil hampir sampai ke hadapannya.
“Kenapa kau ke sini?”
“Aku? Tentu saja menjemputmu.”
Anjani mendesah kasar. “Kau tidak perlu melakukan ini setiap hari. Semua jadi berpikir hubungan kita ....” Tiba-tiba kaku lalu membuang wajah. “Aku salah memilih kata.”
Namun ekspresi Jeong justru kebalikan dari dirinya. “Orang pikir kita pacaran, begitu? Bukankah itu lebih bagus?”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!