Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman kembali
Jam dinding di ruang keluarga berdetak pelan, jarumnya sudah mendekati setengah sebelas malam.
Mamah Zian berdiri di dekat jendela, kembali melirik jam untuk kesekian kalinya. Biasanya ia tidak setegang ini. Tapi malam ini berbeda. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan bukan cemas berlebihan, lebih seperti firasat halus yang menggelitik dada.
Ia berjalan mondar-mandir kecil.
Gelas teh hangat di meja tersenggol ujung bajunya, hampir jatuh. Mamah Zian refleks menahannya.
“Astaghfirullah…” gumamnya, lalu duduk perlahan.
Ayah Zian melirik dari balik korannya. “Kamu khawatir?”
Mamah Zian tersenyum tipis. “Sedikit. Bukan karena Zian ke rumah Raya… tapi entah kenapa perasaanku tidak tenang.”
Ayah Zian terdiam sejenak, lalu melipat korannya. “Zian bukan anak ceroboh.”
“Aku tahu,” sahut Mamah lirih. “Justru karena itu.”
Di sisi lain kota, mobil Zian melaju meninggalkan kawasan rumah Raya.
Lampu jalan membentang panjang di aspal yang mulai lengang. Hujan sudah benar-benar berhenti, meninggalkan udara dingin yang menusuk pelan.
Zian memegang kemudi dengan satu tangan, pikirannya masih tertinggal di lorong sempit rumah Raya.
Tatapan mata itu. Suara lirih yang meminta agar ia tidak pergi tanpa bicara lagi.
Dadanya terasa penuh—bukan sesak, tapi berat dengan cara yang hangat dan menakutkan sekaligus.
Ia melirik spion.
Lampu mobil lain menyala di kejauhan.
Zian mengerjap, kembali fokus ke jalan.
Beberapa ratus meter kemudian, ia melirik spion lagi.
Mobil itu… masih ada.
Jaraknya tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak menjauh.
Zian mengerutkan kening.
Ia menambah kecepatan sedikit.
Mobil itu ikut menambah kecepatan.
Detak jantung Zian mengeras. Nalurinya_ naluri yang terbentuk dari pengalaman pahit masa lalu langsung siaga.
“Jangan paranoid,” gumamnya pelan.
Ia berbelok ke kiri, masuk ke jalan yang lebih kecil.
Beberapa detik kemudian, lampu itu ikut berbelok.
Zian mengepalkan rahangnya.
Bukan kebetulan.
Ia melaju lebih cepat, lalu tiba-tiba memperlambat laju mobil.
Mobil di belakang ikut melambat.
Zian menghembuskan napas pelan melalui hidung. Otaknya bekerja cepat. Jalan ini sepi. Terlalu sepi untuk konfrontasi sembarangan.
Ia kembali melirik spion.
Lampu itu berkedip sebentar.
Seolah memberi isyarat.
Dada Zian berdenyut keras.
Bayangan masa lalu teriakan, pukulan, ancaman yang pernah diucapkan dengan wajah penuh kebencian melintas begitu saja.
Kita akan bertemu lagi, Zian.
Tangannya mencengkeram kemudi lebih kuat.
“Apa kamu pikir aku tidak siap…” bisiknya.
Ia memutuskan berbelok mendadak ke arah jalan utama.
Mobil itu ikut berbelok.
Kini jaraknya lebih dekat.
Zian tidak lagi ragu.
Ia mengeluarkan ponsel, menekan satu nomor tanpa menaruhnya di telinga.
“Der,” ucapnya pelan begitu sambungan terhubung. “Aku merasa diikuti.”
Di seberang sana, suara Derry yang biasanya santai langsung berubah serius.
“Lokasi?”
Zian menyebutkan nama jalan, matanya tetap waspada menatap spion.
“Jangan berhenti,” ujar Derry cepat. “Arahkan ke jalan ramai. Aku on the way.”
Zian mengangguk meski tahu Derry tak bisa melihatnya.
Mobil di belakang kembali mendekat.
Lampu depannya menyorot tajam, seolah ingin memberi tekanan.
Zian menekan pedal gas, napasnya teratur tapi pikirannya tajam.
Di rumah besar, jam dinding berdentang pelan.
Setengah sebelas lewat lima.
Mamah Zian berdiri lagi, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan jelas.
“Ya Allah,” gumamnya lirih. “Jaga anakku.”
Di jalanan gelap itu, dua mobil melaju semakin cepat.
Lampu sein mobil lain menyala di kejauhan.
Zian sudah hampir mencapai jalan utama ketika dari sisi kanan, sebuah mobil hitam tiba-tiba menyelip dan memotong jalur kendaraan yang sejak tadi mengikutinya.
Derry.
Mobil itu berhenti setengah menghadang, cukup untuk memaksa kendaraan bertopeng di belakang Zian mengerem mendadak.
“Berhenti!” teriak Derry dari balik kaca terbuka, meski ia tahu suara itu takkan terdengar jelas.
Zian ikut menghentikan mobilnya beberapa meter di depan, turun dengan langkah cepat namun terukur. Matanya tak lepas dari kendaraan asing itu.
Lampu depan mobil hitam menyala terang.
Pintu tidak dibuka.
Tidak ada suara.
Beberapa detik yang terasa seperti menit berlalu dalam ketegangan.
Lalu… mesin mobil bertopeng itu meraung keras.
Kendaraan itu mundur cepat, berbelok kasar, lalu melesat pergi menembus gelap malam, meninggalkan suara ban berdecit dan bau aspal panas.
Derry mengumpat pelan. “Sialan.”
Zian masih berdiri, napasnya stabil tapi dadanya naik turun pelan. Matanya menyipit, berusaha merekam arah pelarian itu.
“Kamu kenal?” tanya Derry, mendekat.
Zian menggeleng. “Belum. Tapi caranya… bukan orang sembarangan.”
Derry menatapnya serius. “Ini bukan kebetulan, Zi.”
“Aku tahu.”
Hening sejenak di antara mereka.
“Pulang,” ujar Derry akhirnya. “Aku kawal sampai rumah.”
Zian mengangguk.
Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi kendaraan mencurigakan. Tapi rasa aman… tidak sepenuhnya kembali.
....
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas lebih sepuluh ketika mobil Zian akhirnya memasuki halaman rumah.
Lampu teras masih menyala.
Mamah Zian langsung berdiri begitu mendengar suara mesin.
Pintu terbuka sebelum Zian sempat mengetuk.
“Kamu kenapa malam sekali?” ucap beliau cepat, meneliti wajah putranya. “Kamu tidak apa-apa?”
Zian tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mah. Jalanan agak macet.”
Mamah Zian menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar percaya.
“Kamu yakin?” tanyanya lirih.
Zian mengangguk. “Iya.”
Ia tidak berbohong… tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Mamah Zian menghela napas, lalu meraih tangan putranya sebentar. “Istirahat. Kamu terlihat lelah.”
“Iya, Mah.”
Zian naik ke kamarnya dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang.
Di balik pintu tertutup, ia bersandar sejenak, memejamkan mata.
Ancaman itu belum selesai.
Ia bisa merasakannya.
...
Pagi datang seperti biasa.
Hotel kembali hidup dengan ritmenya yang sibuk.
Zian kembali ke kantor dengan setelan rapi dan wajah yang kembali dingin topeng profesional yang sudah lama melekat.
Di lobi, beberapa karyawan berbisik begitu melihatnya datang.
“Pak Zian sudah kembali.”
“Katanya kemarin tidak masuk.”
“Kelihatannya biasa saja…”
Derry berdiri di dekat resepsionis, menyambut Zian dengan senyum santainya yang khas.
“Pagi, Bos,” ucapnya, sedikit terlalu ceria.
Zian meliriknya singkat. “Pagi.”
Tatapan mereka bertemu sejenak cukup untuk saling memahami bahwa kejadian semalam tidak dibicarakan di sini.
Beberapa menit kemudian, Raya melangkah masuk.
Seragam front office membalutnya rapi. Rambutnya tersanggul sederhana. Wajahnya tenang, meski matanya sempat mencari-cari.
Dan berhenti… pada Zian.
Sekilas saja.
Tak ada senyum. Tak ada sapaan berlebihan.
Hanya anggukan kecil.
Sebagai atasan dan bawahan.
Zian membalas dengan anggukan yang sama.
Namun di balik sikap profesional itu, ada sesuatu yang berubah.
Saat Raya melayani tamu, Zian memperhatikan dari kejauhan bukan sebagai bos yang mengawasi kinerja, melainkan sebagai seseorang yang memastikan ia baik-baik saja.
Saat Zian memberi instruksi, nadanya tetap tegas, tapi tidak lagi dingin.
Dan Raya menyadarinya.
Di sela kesibukan, pandangan mereka sesekali bertemu. Singkat. Diam. Tapi cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tak perlu diucapkan.
Mereka tahu posisi masing-masing.
Mereka tahu batasnya.
Namun perasaan itu… tumbuh pelan, alami.
Bukan karena janji lama.
Bukan karena perjodohan.
Melainkan karena dua orang yang memilih saling menjaga di tengah dunia yang mulai menunjukkan sisi gelapnya.
Dan jauh di luar sana, seseorang yang bersembunyi di balik topeng… belum benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu.
Sementara Zian dan Raya, tanpa sadar, sedang melangkah lebih dekat ke arah cinta, dan ke arah bahaya yang sama..
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪
Zian pasti nya akan cari tau siapa mereka 🥲🥲
duhhh Zian blg ke Raya klo ada apa-apa ksh tau dong 😄😄
mengapa tuh Raya berdebar debar jgn² Raya bnran suka sama Zain 😄😄
duhh siapa yaa Pria yg mengintai Raya??
penasaran dg lanjut nyaa...
Di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhhh Zian tiba ingat masaalu nya 🥲
ada seseorang yg mengancam Zian dongg...
kasihan Zian🥲🥲
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy 🤗🥰💪
duhhh seperti nya Zian bakal suka sama Raya😄😄