NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pisau

Dering ponsel menyentak lamunanku, Juliana memanggil.

"Hallo," sapaku sambil menahan Isak tangis.

"Winda, kamu dimana? Udah mau pukul 9 nih. Sebentar lagi acaranya di mulai, tau!" Suara Ana terdengar heboh di ujung sana. Belum sempat aku membalas, di kembali menambahkan, "kamu kan sudah janji, Winda! Nama kamu pun udah aku daftarkan. Jadi kalau kamu gak datang, aku dan Adam gak bisa ikut pertandingan ini."

Kuhela nafas dan melap hidungku yang berair. "Ya ya. Sebentar lagi aku sampai, aku udah mau jalan nih," balasku berbohong. Lalu sambungan telpon aku putuskan.

Sudah hampir satu jam ternyata aku duduk di kursi kerja Adam ini, melihat surat perceraian bersama lembaran kertas putih lainnya. Ada beberapa cetakan penamaan status anak di luar nikah, hukum menikahi gadis yang hamil di luar nikah dan bermacam lagi.

Sepertinya Adam benar-benar serius dengan rencananya yang ingin menceraikan aku.

Yang lebih menarik perhatianku, di meja itu juga terdapat beberapa lembar kertas A4 yang di coret dengan tulisan tangan menyerupai sebuah diagram. Dia seperti mencoret kertas itu  untuk menyelesaikan masalah hubungan kami. Dia menjadikan masalah ini jadi satu persoalan yang di selesaikan dengan logika.

Kepalaku pusing memahami coretan tangan Adam di kertas. Tidak ada satupun yang aku pahami. Jujur, aku pun tidak mau memahami coretan tangannya itu, karna aku memang tidak hamil!

***

Ponselku kembali berdering saat akan memarkirkan mobil. Aku abaikan saja, keluar dari mobil segera kuayunkan kaki ke lapangan kampus, tempat acara masak memasak diadakan.

Dari jauh, sudah dapat kulihat Ana yang duduk di sebelah Adam dan mereka sedang mengobrol dan saling tertawa.

Senyum Adam yang sudah tak pernah kulihat lagi sewaktu di rumah, kini malah merekah ketika mengobrol dengan Juliana. Dia juga memandang Ana tanpa memperdulikan mahasiswi lain di sekeliling yang asyik memandangnya.

"Hai! Sorry, telat," ucapku dengan berat hati. Ana menoleh padaku, di susul Adam setelahnya.

"Senang deh, akhirnya kamu datang juga! Untung lombanya belum di mulai," balas Ana sedang Asam hanya memandangku dengan kening berkerut, lalu menolah ke arah Ana.

"Winda ikut team kita juga?"

Ana mengangguk dengan senyum riangnya. "Surprise!"

Kening Adam masih berkerut, jelas dia tamoak tidak menyukai kejutan ini.

"Memangnya dia bisa masak?" tanya Adam lagi tanpa menoleh kearahku, seolah menganggapku tidak wujud.

Bohong, jika aku tidak tersinggung dengan responnya ini.

"Gak masalah kok. Kamu jangan matan. Aku hanya ingin mencari pengalaman saja ikut lomba ini," jawab Ana.

Sumpah, aku makin kesal dengan panggilang aku-kamu yang diucapkan Ana pada Adam. Atau pencapaian yang menyakitkan hatiku.

"Eh, bentar ya? Aku mau ke toilet. Kebelet banget nih." Ana berdiri dan lansung berlari mencari toilet.

Adam mengangkat kepala memandangku. "Kenapa tidak bilang, ikut team ini?" tanyanya dingin.

"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu wakil Lecturer di team ini?" Kukembalikan pertanyaan itu badannya sambil menyilangkan tangan di dada.

Adam memandang kesekeliling, aku pun turut melakukan hal yang sama, mencari apa yang sedang di lihatnya. Kemudian, Adam menepuk kursi tempat Ana duduk tadi, menyuruhku agar duduk di sana. Mungkin dia tidak mau obrolan ini di dengar orang lain yang berada di sekitar kami.

"Kenapa kamu ikut lomba ini? Kamu tidak bisa memasak pun? Memangnya tidak takut minyak panas?" Pertanyaan bernada sinis itu di ucapkannya ketika aku melabuhkan duduk.

"Kenapa gak kamu tanya Ana aja. Karna dia yang mengajakku," balasku ketus, kedua tangan masih bersikap di dada.

"Pulang saja. Berikan alasan apa pada Ana setelah penentuan nomor team. Saya rasa itu tidak apa-apa, karna di aturan hanya mewajibkan peserta hadir sebelum nomor team diundi." Adam memberi saran tanpa melihat padaku.

"Oh, jadi saran ini dari seseorang yang menasihati aku untuk menghadapi ketakutanku?" balasku dan berhasil membuat Adam menoleh.

"Apa kamu telah melakukannya?"

"Ya, aku sedang mencoba," jawabku dan di balas senyum sinis oleh Adam. Pandangannya lurus kedapan, entah siapa yang di lihatnya sambil geleng-geleng kepala.

"Entahlah, tapi saya meragukannya. Mungkin karna saya tidak melihat usahamu untuk mencoba?" ucapnya palan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

Baru aku akan membuka mulut untuk membantah yang di katakannya itu, Ana sudah muncul, bersamaan dengan itu panitia mengumumkan agar semua peserta berkumpul untuk mencabut nomor urut.

Adam menjadi wakil tim yang mengambil nomor urut dan tim Ana mendapatkan nomor 5.

Sesi pertama ini yang ikut ada 9 tim di lanjutkan sesi kedua dan ketiga hingga malam nanti.

Ada satu tim lagi di kelasku yang ikut dalam lomba ini dan di wakilkan oleh dosen OSK. Dia salah satu dosen ganteng di kampus. Tapi kalau di lihat-lihat lebih ganteng Adam sih.

"Baiklah, semuanya! Kalian diberi waktu 1 jam 30 menit untuk menyiapkan 3 hidangan, hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup, masing-masing 1 porsi. Kalian boleh membuka keranjang kalian dan waktu di mulai dari sekarang!"

Panitia penyelenggara mulai memberi arahan. Aku pun mendekati Adam dan Ana yang sedang membuka keranjang di tim kami.

"Adam, sebaiknya kita masak apa ya? Kamu ada idea gak?" tanya Ana merengek manja pada Adam. Mereka sedang melihat-lihat isi keranjang yang kami dapat di meja nomor lima.

"Hm....bagaimana dengan dessert? Mungkin kita bisa buat kek karna itu keahlianmu?" Adam memberi usul membuat senyum Ana merekah.

"Idea bagus! Aku bisa membuat cake kukus dari bahan-bahan ini. Nah, berhubung kita dapat daun jeruk juga, bagaimana untuk hidangan keduanya kita buat tomyam? Kamu bisa membuatnya kan," jawab Ana sambil menyentuh lengan Adam dan Adam malah tertawa kecil mendengar idea Ana.

Untuk yang tidak tahu tomyam itu apa. Tomyam adalah hidangan asam pedas yang berasal dari Thailand. Tomyam memiliki rasa khas asam dari jeruk nipis, pedas dari cabai, dan gurih dari bumbu rempah lainnya.

"Kamu serius, ingin saya masak tomyam?" tanya Adam.

Keberadaan aku di sana seperti tidak wujud. Mereka sama sekali tidak mengajakku berpartisipasi. Aku menoleh kearah meja nomor 3, tin dari kelasku juga. Mereka tersenyum padaku sambil mencemburui kemesraan Adam dan Ana.

"Gak apa-apa. Kita di sini buat seru-seruan aja. Bukan buat merebut juara 1. Bisa masak dengan kamu aja, aku udah seneng banget!" ucap Ana kecentilan.

Mataku kini tertuju pada pisau yang berada di depan, tampak begitu menarik perhatian.

"Baiklah, kita masak tomyam," pasrah Azam menuruti kemauan Ana dan tertawa kecil. Kemudian Ana bertepuk tangan, begitu semangat untuk memulai.

"Kalau gitu, kita mulai sekarang. Aku harus cepat, karna mengukus keknya butuh waktu 1 jam. Kamu bikin tomyam dulu ya, sambil kita pikir hidangan pembuka."

Adam mengangguk dengan rencana Ana.

"Win!"

Ana memanggilku yang sejak tadi bengong tidak tau mau ngapain.

"Potongin semua ini ya," ucap Ana sambil memberikan bawang-bawang, lobak dan entah apa lagi namanya aku pun tak begitu tahu. Setelah memberikan perintah itu, Ana pun sibuk menyiapkan keknya.

Akhirnya aku di ikut sertakan dalam aktifitas mereka. Kuambil bawang besar dan membolak-baliknya. Masalahnya sekarang, aku bingung bagiamana cara memotongnya? Apa di kupas dulu? Tapi berapa lapis harus di kupas? Aih, ini lah masalahku yang tidak pernah mamasak. Sampai memotong bawang pung aku tak bisa.

"Sini, saya kasih contoh."

Adam tiba-tiba muncul di sebelahku dan mengambil bawang besar dalam bakul, lalu mulai mengupasnya.

"Untuk memasak tomyam, potongan bawangnya mudah saja. Pertama kamu potong dua dulu, kupas juga kulit yang tipis ini, setelah itu baru iris kecil-kecil," terang Adam sambil menunjukkan keahliannya. Kayaknya mudah saja dia melakukannya.

"Adam! Sini sebentar. Tolongin aku dulu!" Ana tiba-tiba berteriak memanggil Adam.

Adam menghela nafas dan memandangku sekilas sebelum beranjak mendekati Ana.

Kulanjutkan memotong bawang yang terkendala. Coba mengulangi langkah-langkah yang di tunjukkan Adam tadi. Tapi entah karna sakit hati, entah karna bawang, tiba-tiba mataku perih dan ber-air.

Kukedipkan mataku untuk menghilangkan cairan itu, tapi tak berhasil. Mataku terus saja mengeluarkan air. Akhirnya aku lap dengan jariku, tap ah! Mataku tambah pedih.

Aku meringis sambil mengibas-ngibaskan tangan ke matamu. Terkadang aku seka juga dengan punggung tangan. Tapi bukan makin baikan malah makin pedih terasa.

"Kenapa dengan matamu?" tanya Adam yang sudah berada di sebalehku. Tanganku yang sedang mengucek mata diambilnya.

Aku coba membuka mata, tapi terasa pedih. Aku kembali meringis.

Kemudian Adam membuka kelopak mataku perlahan dan meniupnya.

Tapi aku malah sedih. Sudah lama aku tak mendapatkan perhatiannya seperti ini.

Ayo lah, Winda! Kamu jangan lemah. Jangan sampai menangis.

"Udah. Mataku udah baikan," ucapku ketus sambil menepis tangannya saat pedih di mataku mulai reda.

Adam memandangku sekilas, lalu kembali ke bak air mencuci bahan-bahan untuk dimasaknya.

Kulanjutkan lagi memotong bawang. Suara panitia yang mengumumkan waktu sudah berjalan 15 menit membuatku cemas karna masih banyak bawang yang harus di kupas, di potong dan entah harus diapakan lagi. Apalagi ketika Ana memintaku lobak yang belum aku apa-apakan.

Kupercepat kerjaku. Namun, aku bingung, lobak ini harus diapakan? Di potong di kupas atau dia apakan. Ah, bodoh amat lah. Kulakukan saja seperti yang Adam tunjukkan tadi.

Pertama lobak itu kupotong dua, lalu mengiris tipis-tipis.

Tawa Ana dan Adam yang sedang bercanda di tempat masak mencuri perhatianku. Ketika mereka tertawa, aku menoleh kearah mereka sambil tanganku masih memotong memotong lobak. Tapi tiba-tiba aku mersakan perih di jariku.

"Aaawww!" Aku menjerit. Jariku bagai desengat aliran listrik bertegangan tinggi.

Aku semakin cemas melihat ujung jariku yang tak henti mengeluarkan cairan berwarna merah tanpa henti.

"Aduh, Winda! Kamu kenapa lagi? Sini cuci dulu."

Adam kembali datang dan membawaku ke bak air. Tapi rasa sakit di jariku tidak sebanding dengan sakit di hati ketika mendengar kata-katanya aku.

Aku ini kayak beban saja di matanya.

"Itulah, tadi saya sudah suruh pulang, tapi kamu tidak mau. Lihat, apa yang terjadi sekarang? Untung tidak sampai putus!"

Sempat-sempatnya Adam mengomel, sebelum memanggil panitia untuk mengobati lukaku.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!