NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Hadiah dari Putra Mahkota

"Waktu itu hamba mendengar perbincangan ayah dengan ibu, walau tidak jelas tapi mereka berkata bahwa hamba ini bukanlah putri mereka. Lalu mereka sempat menyinggung kata-kata istana dan juga jenderal besar," ucapku.

"Istana dan Jenderal besar?" ucap Nona Huang masih menyimak.

"Iya, Nona. Di percakapan mereka juga hamba mendengar ayah berkata kalau dirinya takut hamba dalam bahaya, hamba tidak mengerti apa maksud dari semua perkataan ayah itu. Namun hamba tetap ingin tahu siapa sebenarnya keluarga asli hamba, maka dari itu hamba ingin sekali pergi ke istana, walau ayah melarang." ucapku menceritakan.

Aku kemudian meraih tangan nona Huang dan memohon padanya. "Nona, tolong jangan bilang pada ayah kalau hamba menceritakan hal ini pada anda. Karena yang ayah tahu, hamba belum mengetahui kebenaran ini."

Nona Huang merasa terenyuh. "Baiklah Qiuye, aku berjanji tidak akan memberi tahu tabib Jiang kalau kau sudah tahu yang sebenarnya."

"Terima kasih Nona, dan hamba mohon jangan sebarkan juga masalah warna rambut hamba ini pada semua orang. Karena ayah berkata hamba harus menyembunyikan warna asli rambut hamba ini dan hamba telah berjanji padanya," pintaku kemudian.

"Baiklah Qiuye, aku berjanji tidak akan memberitahukan warna asli rambutmu ini pada semua orang," janjinya padaku.

"Terima kasih Nona muda, terima kasih... " aku bersujud padanya dan nona muda segera membangunkanku.

"Sudah Qiuye, jangan bersikap seperti ini. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, jadi ku mohon janganlah bersedih lagi."

"Terima kasih Nona," aku menghapus air mataku. "Nona, bolehkah hamba meminta pertolongan anda? Karena hamba rasa hanya Nona yang bisa membantu hamba."

"Apa yang bisa aku bantu untukmu, Qiuye?"

"Nona, hamba ingin mencari informasi di istana ini. Hamba dengar dari bibi Cen, katanya di ruang arsip istana ada semua data-data para dayang dan juga pelayan yang bekerja disini. Tapi bibi Cen bilang kalau ingin masuk ke ruang arsip tersebut kita harus punya ijin khusus, jadi Nona bisakah anda membantuku meminta ijin itu agar aku bisa masuk ke dalam arsip istana?" pintaku memohon

"Karena hamba merasa, mungkin saja ibu kandung hamba pernah menjadi seorang pelayan atau dayang di istana ini. Dan mungkin saja karena mereka terkena skandal makanya mereka membuangku," sambungku dan menjelaskan dugaanku seperti itu.

Nona Huang terdiam sejenak sambil menatapku, melihat raut wajahku yang menyedihkan akhirnya ia mengabulkan permintaanku.

"Baiklah Qiuye, aku akan membantumu. Kebetulan kemarin malam putra mahkota mengundangmu untuk bertemu dengannya, dan aku akan membantumu meminta ijin darinya," ucap nona Huang.

"Terima kasih Nona," ucapku senang dan menangis bersamaan.

Setelah aku bercerita kepada Nona Huang, Bibi Lan dan para pelayan wanita diminta masuk ke dalam kamar.

"Untuk kejadian yang baru saja kalian lihat, aku meminta kepada kalian agar tidak memberitahu apapun, kepada siapapun mengenai apa yang sudah kalian lihat pada diri Qiuye. Anggaplah sebagai rahasia kita semua dan apabila aku mengetahui ada salah satu dari kalian yang berani membocorkannya, maka sumpah demi apapun aku akan membuat hidup kalian menderita. Apa kalian mengerti!" kecam Nona Huang.

"Baik Nona," patuh semua pelayan termasuk Bibi Lan.

Setelah memberi pemberitahuan tersebut, nona Huang kembali mendekatiku. "Apa kau sudah merasa tenang sekarang? Apa kau sudah masih bersedih lagi?"

"Tidak Nona, terima kasih." Aku mempercayai nona muda Huang dan berharap ia menepati perkataannya itu.

...***...

Setelah menyelesaikan sarapan pagi dan meminum obat, Nona Huang mengajakku untuk bertemu dengan Putra Mahkota.

"Apa boleh hamba bertemu seperti ini? Maksud hamba, hamba terlihat kumuh dan kotor. Bagaimana kalau Yang Mulia takut dan merasa jijik dengan keberadaan hamba, Nona." tanyaku ragu-ragu dan merasa malu dengan penampilanku.

"Tidak apa Qiuye, Putra Mahkota adalah pria yang baik. Yang Mulia tidak akan merasa jijik pada rakyatnya sendiri, apalagi Putra Mahkota Song Mu adalah penerus takhta kerajaan setelah kaisar nanti. Maka Yang Mulia tidak boleh melarang rakyatnya untuk bertemu," balas Nona Huang.

"Baiklah kalau begitu, Nona." Aku memberanikan diriku, sesekali merapihkan pakaian dan juga penampilanku.

Setelah itu Nona Huang meminta Kasim agar menyampaikan berita kedatangannya dan meminta ijin untuk bertemu dengan Putra Mahkota.

"Salam hormat pada Yang Mulia Putra Mahkota," ucap nona Huang setelah dipersilahkan masuk.

"Aku senang sekali akhirnya kau datang kesini, silahkan duduk."

"Baik Yang Mulia," patuh Nona Huang lalu duduk.

Sedangkan aku masih berdiri di luar pintu.

"Yang Mulia, kemarin anda meminta hamba agar membawa tabib pribadi anda. Dan hamba akan memperkenalkannya pada Yang Mulia," ucap nona Huang terlebih dahulu.

"Hm mana dia? Apakah tabib muda itu yang berada dibelakangmu?" tanya Putra Mahkota penasaran.

"Tabib Qiuye masuklah!" titah Nona Huang.

"Baik Nona," sahutku lalu masuk dan memberi hormat kepada Putra Mahkota. "Hamba Tabib Qiuye memberi hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota," salamku sambil membungkukkan badanku.

"Jadi dia adalah tabib itu, berdirilah. Dan duduklah disamping kami," titah Putra Mahkota.

Aku mengangkat wajahku dan menatap nona muda Huang, seakan meminta ijin terlebih dahulu padanya.

"Yang Mulia Putra Mahkota yang memintamu untuk duduk, kenapa harus menatapku? Bangunlah Qiuye," ucap Nona Huang merasa lucu dengan kekikukanku.

"Ah baik," balasku menurut.

"Jadi, kau adalah tabib Qiuye."

"Ya, Yang Mulia."

"Kenapa menunduk saja, angkat kepalamu. Aku tidak akan menghukummu," ucap Putra Mahkota Song merasa gemas.

Aku menurut lalu mengangkat wajahku agar Yang Mulia Putra Mahkota bisa melihat rupaku yang masih muda ini.

Akan tetapi raut wajahnya seketika berubah, senyumnya tertarik turun ketika melihat wajahku. "Ibunda Permaisuri," gumamnya seperti melihat wajah Permaisuri Liu saat muda dulu.

"I-iya Yang Mulia, anda bicara apa barusan?" tanyaku. Akan tetapi Putra Mahkota hanya terdiam menatap wajahku, sehingga aku sontak menundukkan kepala.

"Ah tidak apa-apa, maaf aku hanya terkejut saja. Aku tidak menyangka diusiamu yang masih sangat muda kau sudah menjadi tabib," ucap Putra Mahkota membuyarkan pandangannya dan bergumam mungkin hanya kebetulan saja.

"Ya Yang Mulia," jawabku dengan kepala tertunduk

"Yao Er ... Ayo kita minum dulu," ucapnya menuangkan secawan anggur untuk mencairkan suasana. Sesekali menegok kearahku seperti ingin memastikan sesuatu.

"Baik," balas nona Huang.

"Oh iya, aku sampai lupa. Aku ingin berterima kasih kepadamu tabib Qiuye karena telah menjaga dan merawat Yao Er. Dan sebagai imbalan atas keberanianmu kemarin aku ingin memberikanmu ini," ucap Putra Mahkota. Lalu memberikanku sebuah gantungan giok yang sangat indah.

"Ini untuk hamba Yang Mulia?" ucapku sangat senang.

"Benar, dengan liontin giok ini kau bebas mengelilingi istana sampai puas tanpa harus takut para penjaga menangkapmu," balas Putra Mahkota.

"Terima kasih Yang Mulia," ucapku seperti melihat secerca harapan.

"Jangan berlebihan seperti itu, ini hanyalah gantungan biasa."

"Yang Mulia, apa dengan liontin giok ini hamba boleh kemana saja?"

"Tentu saja, digiok itu ada ukiran namaku. Jadi kau tinggal tunjukkan saja dan mereka akan mengerti kalau kau adalah orangku," jawab Putra Mahkota seperti pamer.

"Kalau begitu bolehkah hamba meminta ijin untuk memasuki ruang arsip istana?" tanya Qiuye to the point

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!