NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Masuk Lemas, Keluar Bugar

"Disembunyikan... maksud Tuan Muda apa?" tanya Ruo Li sambil memiringkan kepalanya. "Ruo Li kan tidak terlihat."

Wang Hao berbalik membelakangi gerbang kota. Lampu-lampu lampion di kejauhan memantulkan cahaya redup di punggungnya.

"Tidak terlihat bukan berarti tidak bisa dilacak. Kota ini lebih besar dari Kota Lanyu, dan aku tidak tahu siapa yang mungkin mengawasi."

Ia mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya mulai bergerak, melukis simbol-simbol kuno di udara malam. Setiap goresan meninggalkan jejak cahaya putih yang berputar pelan, membentuk pola rumit yang saling bertautan. Simbol itu adalah fragmen dari Formasi Penerimaan Roh, teknik yang ia ciptakan di kehidupan sebelumnya ketika ia harus menyelundupkan roh peliharaannya melewati penghalang dimensi.

"Cincin ruang pada dasarnya menolak masuknya tubuh spiritual," lanjutnya sambil terus melukis. "Para penempah menanamkan mekanisme itu untuk mencegah kontaminasi energi yin. Tapi mekanisme itu bisa diubah, selama kau tahu di mana letak simpulnya."

Simbol terakhir selesai. Rangkaian cahaya putih itu berputar mengelilingi jari Wang Hao, lalu ia mendorongnya ke arah cincin ruangnya. Begitu menyatu, cincin itu berkilau selama satu detik, lalu meredup.

Wang Hao menurunkan tangannya. "Ini hanya untuk berjaga-jaga. Aku hanya mampir ke kota ini untuk membeli stok arak dan menginap semalaman. Besok pagi perjalanan akan dilanjutkan."

Ruo Li memiringkan kepalanya sejenak, kemudian mengangguk dengan ekspresi percaya. "Baiklah, Tuan. Ruo Li percaya."

Wang Hao memajukan tangannya. "Bagus. Sekarang masuk ke dalam."

Tubuh transparan Ruo Li perlahan mengecil, berubah menjadi seutas benang cahaya putih yang meliuk pelan, lalu masuk ke dalam cincin ruang Wang Hao. Proses itu berlangsung tanpa suara, tanpa perlawanan.

Wang Hao berbalik menatap gerbang Kota Fengyu. Dinding batu setinggi sepuluh meter itu dihiasi ukiran harimau dan burung phoenix yang sudah mulai terkikis oleh waktu, sisa-sisa kejayaan Dinasti Hongye yang runtuh delapan ratus tahun lalu. Konon kota ini dulu adalah benteng perbatasan yang menahan invasi binatang iblis dari selatan.

Ingatannya melayang pada perjalanan dua minggu terakhir. Hutan, sungai, bukit-bukit rendah. Semuanya berjalan lancar, terlalu lancar. Tidak ada binatang iblis yang menyerang, tidak ada kultivator jahat yang menghadang, tidak ada reruntuhan kuno yang muncul dari dalam tanah.

Perjalanannya kurang memuaskan.

Tapi Wang Hao tidak kecewa. Setidaknya ia telah melewati wilayah terpencil, dan kini tiba di kota yang lebih besar. Setelah ini, dengan semakin mendekat ke pusat wilayah barat, ia berharap perjalanannya akan lebih menantang. Semakin besar kota yang ia masuki, semakin kuat kultivator yang akan ia temui. Semakin banyak kesempatan untuk mengasah pedangnya.

Kemudian ia berjalan menuju gerbang.

Begitu jarak sudah dekat...

Dua penjaga berjubah merah dengan simbol pedang dan perisai di dada menatapnya tajam. Kultivasi mereka hanya di Kondensasi Qi lapis enam, tapi postur mereka tegap dan waspada.

"Biaya masuk dua koin emas," kata salah satu penjaga sambil menjulurkan tangannya.

Wang Hao menjentikkan jarinya. Satu batu roh tingkat rendah melesat keluar dari cincin ruangnya dan mendarat di telapak tangan penjaga itu.

"Satu batu roh setara tiga koin emas. Sisanya untuk kalian."

Penjaga itu menatap batu roh di tangannya, lalu menatap Wang Hao dengan alis terangkat. Pemuda berjubah hijau dengan sulaman perak ini tidak terlihat seperti bangsawan, tapi caranya memberikan batu roh begitu ringan seperti memberikan receh. Ia menyingkir ke samping tanpa berkata apa-apa.

Wang Hao melangkah masuk.

Begitu melewati gerbang, Kota Fengyu langsung menyambutnya dengan denyut kehidupan yang berbeda dari Kota Lanyu. Lampion-lampion merah mulai dinyalakan di sepanjang jalan batu selebar empat kereta kuda. Bangunan-bangunan batu tua dengan atap genting melengkung berjejer di kedua sisi, beberapa di antaranya memiliki papan nama yang sudah mulai pudar dimakan usia.

Jalanan dipenuhi oleh para pedagang yang membereskan kios mereka, kultivator dengan pedang di pinggang, dan penduduk biasa yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka melirik ke arah Wang Hao, tapi hanya sekilas. Di kota sebesar ini, seorang pemuda kondensasi qi bukanlah pemandangan yang menarik perhatian.

Wang Hao berjalan menyusuri jalan utama. Ketika ia melewati papan pengumuman, potongan-potongan percakapan dari kerumunan di sekitarnya menangkap pendengarannya.

"Nalan Yehuan..."

"Dia dulu dari wilayah terpencil katanya..."

"Menikah dengan Tuan Muda Klan Murong lima tahun lalu..."

Wang Hao tidak memperlambat langkahnya. Nama itu milik Chen Nan, bukan miliknya. Pertunangan itu telah dibatalkan sebelum kematian Chen Nan, dan Nalan Yehuan telah memilih jalannya sendiri. Ketika Wang Hao bangkit dari kubur, tidak ada lagi urusan yang tersisa di antara mereka.

Dan Wang Hao tidak peduli.

Ia terus berjalan hingga tiba di depan rumah makan besar berlantai dua dengan papan kayu bertuliskan karakter emas: "Masuk Lemas, Keluar Bugar."

Wang Hao membaca nama itu, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. "Nama yang unik."

Ia kemudian melangkah masuk.

Lantai pertama rumah makan itu dipenuhi meja-meja kayu bundar yang hampir semuanya terisi. Pedagang berjubah sederhana minum arak di sudut, kultivator berpedang makan dengan satu tangan sementara tangan satunya tetap di gagang senjata, dan beberapa pria berjubah mewah dari klan-klan berada duduk di meja tengah dengan pelayan yang bolak-balik untuk melayani mereka. Suara percakapan, dentingan mangkuk, dan tawa berbaur dengan aroma daging panggang dan arak yang berasal dari dapur.

Wang Hao menemukan satu meja kosong di sudut dekat jendela. Ia berjalan ke sana, duduk dengan tenang, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding.

Seorang pelayan wanita muda dengan celemek putih bersih menghampirinya.

"Pesan apa, Tuan Muda?"

"Satu kambing bakar utuh, satu mangkuk sup ayam, dan teh harum manis," jawab Wang Hao datar.

Pelayan itu mengangguk, lalu berbalik dan berjalan menuju dapur. Langkahnya ringan, menunjukkan ia sudah terbiasa melayani puluhan meja sendirian.

Wang Hao mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap lampion-lampion yang kini sudah menyala penuh di sepanjang jalan. Cahaya merah keemasan menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding bangunan tua.

Dari meja sebelah, suara seorang wanita paruh baya dengan jubah hijau lusuh menangkap pendengarannya.

"Kau dengar tidak? Lima tahun lalu, Tuan Muda dari Klan Murong menikah dengan seorang gadis dari wilayah terpencil. Namanya Nalan Yehuan."

Pria gemuk yang duduk di hadapannya mendengus. "Masalahnya apa? Aku tidak suka membicarakan orang lain."

"Ehh, kau mungkin tidak tahu." Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Setahun setelah menikah, istri Tuan Muda Klan Murong melahirkan seorang putri. Tapi sayangnya, di umur empat tahun, usia di mana seorang anak sedang di masa keceriaan, semuanya harus kandas karena kelumpuhan. Tuan muda dan istrinya itu sudah mencari tabib, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan."

Pria gemuk itu memajukan tubuhnya ke depan. "Klan Murong di kota besar dan bersejarah itu. Kalau tidak salah... Kota Handan bukan? Jaraknya dari sini dua bulan perjalanan?"

"Benar," wanita itu mengangguk. "Itulah yang kudengar."

Wang Hao mendengarkan tanpa fokus. Pikirannya tetap tenang, tidak terusik oleh nama yang pernah terkait dengan tubuh yang kini ia tempati.

Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan nampan besar. Ia meletakkan satu ekor kambing bakar utuh yang masih mengepulkan asap tipis, semangkuk sup ayam dengan kuah bening dan potongan daun bawang mengambang di permukaannya, serta secangkir teh harum manis yang aromanya langsung memenuhi udara di sekitar meja.

Wang Hao mulai menyantap makanannya. Setiap suapan ia kunyah perlahan, menikmati rasa daging kambing muda yang empuk dan bumbu rempah yang meresap sampai ke tulang.

Pintu rumah makan terbuka lagi.

Dua orang pria melangkah masuk. Keduanya mengenakan jubah hitam polos tanpa simbol, tidak membawa senjata yang terlihat, dan berjalan dengan langkah yang tenang namun terukur. Tapi aura yang terpancar dari tubuh mereka langsung menusuk indra Wang Hao seperti jarum es.

Pendirian Fondasi tahap akhir.

Tapi ini bukan Pendirian Fondasi biasa. Aura mereka lebih padat, lebih stabil, lebih tajam. Setiap helai energi spiritual yang berputar di sekitar tubuh mereka terkendali dengan presisi yang hanya dimiliki oleh kultivator yang telah menempah fondasi mereka ditempat konsentrasi energi spritual yang tinggi.

Dibandingkan dengan Yun Changsheng yang pernah ia hadapi, dua orang ini jelas jauh lebih kuat.

Keduanya mengambil meja di sudut yang berlawanan dengan Wang Hao, persis di seberang ruangan. Posisi itu memungkinkan mereka melihat seluruh ruangan sekaligus, termasuk meja Wang Hao yang tersembunyi di sudut dekat jendela.

Mereka memesan makanan dengan suara pelan. Pelayan yang sama mencatat pesanan mereka, lalu berjalan kembali ke dapur. Kedua pria itu tidak banyak bicara satu sama lain, hanya duduk dengan postur tegak, sesekali mencuri pandang ke arah Wang Hao.

Wang Hao tidak peduli. Ia merobek sepotong daging kambing dari tulang rusuknya, mengunyahnya perlahan, lalu meneguk teh harum manisnya.

Jika dua orang itu menginginkan sesuatu, mereka akan mendatanginya. Jika tidak, mereka hanya akan menjadi bagian dari pemandangan malam ini.

1
Jumadil
mantap thor
Jumadil
kok susah dapat cincinnya
Jojo Shua
🙏🔥
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!