NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lencana di Pundak

Angin sore Ibu Kota bertiup lebih kencang dari yang Zehar Pradipta duga, tercium bau debu dan bau aspal yang baru disiram air hujan semalam.

Ia berdiri tegak di halaman markas besar Kepolisian Ibu Kota, mengenakan seragam lengkap yang sudah disetrika rapi. Di bahu kanan dan kirinya, lencana pangkat Ajun Komisaris Polisi berkilau terkena sinar matahari yang mulai condong ke barat, lencana tanda pengakuan atas tujuh tahun lamanya bertugas di daerah perbatasan yang penuh gejolak dan bahaya.

Tepat pukul tujuh pagi, Zehar sudah berdiri di depan peta wilayah kerja yang tergantung di dinding ruang komando. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya tajam, seolah telah terlatih menangkap setiap tanda yang tersembunyi di balik keramaian kota.

Tubuhnya yang tegap dan tinggi twrlihat makin kokoh di balik seragam yang pas di badan, menampakkan jejak‑jejak ketahanan yang dibentuk oleh perjuangan panjang di luar kota.

“Selamat bertugas kembali di Ibu Kota, AKP Zehar,” terdengar suara yang akrab mendekat.

Zehar menoleh, lalu tersenyum tipis melihat sosok Briptu Bagas yang berjalan mendekat sambil menyesuaikan letak topinya. Raut wajah Bagas cerah, penuh semangat yang dibarengi nada bercanda yang tak pernah hilang.

“Terima kasih, Bagas. Rasanya asing sekaligus akrab saat kembali lagi ke sini,” jawab Zehar pelan sambil menatap peta yang penuh tanda garis dan titik.

“Banyak yang berubah sejak aku pergi.”

“Benar. Jalanan makin padat, orang makin sibuk, dan masalah pun tak pernah berkurang,” sahut Bagas sambil menunjuk peta.

“Hari ini jadwal patroli kita meliputi kawasan pusat usaha, persimpangan utama, hingga pinggiran kota yang kerap menjadi tempat berkumpul orang tak jelas.”

Zehar mengangguk mantap.

“Baik. Kita mulai sekarang juga.”

Keduanya berjalan menuju kendaraan patroli yang sudah terparkir rapi di halaman depan. Mobil berwarna biru tua dengan tulisan kepolisian yang jelas terlihat bersih dan siap bergerak.

Zehar duduk di kursi pengemudi, sementara Bagas duduk di sebelahnya. Mesin kendaraan menderu pelan, lalu meluncur keluar gerbang markas menuju jalan raya yang mulai dipenuhi kendaraan.

Pertama‑tama mereka menuju kawasan pusat kota. Di sana gedung‑gedung tinggi menjulang rapat, lalu lintas berdesakan, dan orang‑orang berjalan cepat seolah tak punya waktu untuk berhenti.

Zehar mengemudikan kendaraan dengan tenang, matanya terus mengamati sekeliling. Ia melihat cara kendaraan bergerak, sikap pejalan kaki, hingga gerak‑gerik orang yang tampak tidak biasa di tepi trotoar.

“Di sini semuanya terlihat teratur di permukaan, namun di baliknya tersembunyi banyak hal,” ucap Zehar pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Tepat sekali, Pak. Seperti yang sering Bapak lihat di daerah, hanya saja di sini kedoknya lebih rapi,” jawab Bagas sambil sesekali memberi laporan singkat mengenai keadaan di sekitarnya.

Mereka berhenti sejenak di persimpangan paling padat. Zehar turun, berdiri tegak di tepi jalan, memberi isyarat tangan yang jelas dan tegas untuk mengatur arus kendaraan.

Gerakannya terlatih, mantap, tanpa terlihat ragu sedikit pun. Ini merupakan hasil dari bertahun‑tahun mengatur ketertiban di jalanan yang jauh lebih sulit dan berbahaya di luar kota.

Wajahnya tetap tenang meski suara klakson dan keributan terdengar di sekelilingnya. Pengendara yang lewat pun menatapnya dengan rasa hormat, patuh pada setiap isyarat yang diberikannya.

Setelah keadaan persimpangan kembali lancar, mereka kembali naik ke kendaraan dan melanjutkan perjalanan menuju bagian tengah kota.

Di sana terdapat pasar besar yang padat pengunjung. Zehar dan Bagas berjalan beriringan di antara deretan kios, mengamati ketertiban, menegur pelanggaran ringan, serta menyapa warga yang menyapa mereka lebih dulu.

Banyak yang menatap lencana di pundak Zehar dengan rasa hormat, menyadari bahwa ia bukan petugas baru yang belum mengenal seluk‑beluk tugas.

“Terlihat tenang hari ini,” ucap Bagas sambil menatap sekeliling.

“Ketenangan semacam ini butuh dijaga terus‑menerus,” jawab Zehar.

“Di daerah, aku belajar bahwa ketidaktertiban sering kali muncul tiba‑tiba saat orang merasa situasi sedang aman.”

Mereka terus bergerak, menelusuri jalan‑jalan sempit di pinggiran kota hingga kembali menuju jalan raya utama. Sepanjang perjalanan, Zehar mencatat setiap hal yang perlu diperhatikan, seperti lampu lalu lintas yang rusak, trotoar yang terhalang, hingga kelompok orang yang berkumpul tanpa tujuan jelas. Semua dicatatnya dengan teliti di dalam buku catatan kecil yang selalu tersimpan di saku seragamnya.

Menjelang siang, mereka sampai kembali di kawasan yang lebih dekat ke pusat pemerintahan. Di sana bangunan‑bangunan tampak lebih terawat, jalanan lebih luas, namun kesibukan tetap tak berkurang.

Zehar terus mengamati dengan pandangan yang tajam namun tidak menakutkan. Ia mendekati sekelompok pengendara yang berhenti sembarangan, berbicara dengan nada tegas namun tetap santun, menjelaskan aturan yang berlaku tanpa menimbulkan perselisihan.

“Tegas namun tetap hangat, itulah ciri khas Bapak yang tak pernah berubah sejak dulu,” ujar Bagas sambil tersenyum saat mereka kembali naik ke kendaraan.

Zehar hanya tersenyum tipis sambil menatap lencana di bahu kirinya yang terasa makin berat namun bermakna. Ia teringat masa‑masa sulit di daerah. Dulu ia bertugas di jalanan berlumpur, cuaca yang tak menentu, bahaya yang mengintai di setiap tikungan, serta perjuangan menjaga keamanan di tengah masyarakat yang terbelah.

Semua itu membentuknya menjadi orang yang tenang, tidak mudah terkejut, dan selalu berpikir sebelum bertindak. Sifat inilah yang kini ia bawa ke jalanan Ibu Kota yang sangat berbeda namun tak kalah menuntut.

Siang hari berlalu, matahari bersinar terik namun Zehar tak mengurangi kewaspadaannya. Ia terus memandu perjalanan patroli menuju kawasan perumahan, lalu kembali ke jalan‑jalan utama yang menghubungkan satu distrik ke distrik lain.

Di setiap tempat yang disinggahi, ia melakukan tugasnya dengan ketelitian yang sama, memeriksa, memberi petunjuk, menegur, sekaligus mendengarkan keluhan warga yang mendekat.

“Sudah lama kami berharap ada petugas yang benar‑benar memperhatikan keadaan di sini,” ujar seorang warga tua saat Zehar berhenti sejenak di tepi jalan.

“Tugas kami memastikan setiap warga merasa aman dan tertib,” jawab Zehar dengan nada yang lembut namun tegas.

“Kami akan terus berpatroli secara teratur.”

Saat sore mulai menjelang, kendaraan patroli kembali menuju arah markas. Sepanjang jalan pulang, Zehar terus mengamati keadaan yang mulai berubah, lampu‑lampu jalan mulai menyala, keramaian bergeser ke tempat hiburan dan pusat perbelanjaan. Ia mencatat beberapa titik yang butuh pengawasan lebih ketat untuk hari‑hari berikutnya.

Sesampainya di halaman markas, Zehar turun dari kendaraan, merapikan kembali seragamnya, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela kendaraan. Lencana di pundaknya masih berkilau, kini dibalut sedikit debu jalanan tanda bahwa hari pertamanya bertugas kembali di Ibu Kota telah dijalani sepenuhnya.

“Lancar sekali hari ini, Pak,” kata Bagas sambil berjalan mendekat.

“Masih banyak kawasan lain yang harus kita telusuri besok dan hari‑hari sesudahnya.”

“Ya,” jawab Zehar sambil menatap ke arah gedung‑gedung tinggi yang terlihat dari kejauhan.

“Kota ini luas, namun setiap sudutnya menjadi tanggung jawab yang harus kujaga dengan sebaik‑baiknya.”

Ia melangkah masuk ke ruang pelaporan, duduk di depan meja kerja sambil menata kembali catatan hasil patroli.

Di dalam hatinya, ia merasakan ketenangan yang sama seperti saat bertugas di daerah, sebuah perasaan yakin bahwa setiap langkah yang diambil, setiap perintah yang disampaikan, dan setiap pengawasan yang dilakukan memiliki manfaat untuk masyarakat.

Di balik lencana di pundak itu tersimpan janji yang tak pernah ia lupakan. Menjaga ketertiban, melindungi masyarakat, dan tetap berdiri tegak di mana pun tugas menuntutnya berada.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!