NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:881
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Sisa Gengsi di Antara Dua Pemenang

Sirene mobil polisi meraung-raung di pelataran gedung Rani Group, memecah keheningan jalanan ibu kota pasca-hujan. Di dalam ruang rapat lantai 40, suasana yang tadinya mencekam kini berubah menjadi kepanikan massal yang memalukan.

Pintu ganda ruang rapat terbuka kasar, dan belasan petugas kepolisian berpakaian preman bersama tim penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melangkah masuk dengan surat perintah penangkapan resmi di tangan mereka.

"Tuan Aris, dan para Dewan Komisaris yang namanya tercantum dalam manifes aliran dana gelap Yayasan dan suap internal, Anda semua resmi ditahan atas dugaan pencucian uang, korupsi korporat, dan manipulasi pasar saham," ujar kepala penyidik dengan nada tanpa kompromi.

Wajah tampan Aris yang biasanya selalu tersenyum sombong kini pucat pasi seperti mayat. Sepasang matanya bergetar hebat saat kedua tangannya ditarik ke belakang dan dikunci dengan borgol besi yang bergemerincing dingin. Sebelum diseret keluar, Aris sempat menoleh, menatap Rani dengan tatapan penuh dendam dan ketidakpercayaan.

Rani berdiri tegak di ujung meja, menyilangkan tangannya di dada dengan aura Alpha Woman yang menyala mutlak. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap kepergian mantan tunangannya itu dengan pandangan dingin yang menghina. Begitu enam komisaris korup lainnya juga digiring keluar, ruang rapat besar itu mendadak menjadi sangat luas dan sunyi.

Rani merosot perlahan ke kursinya. Napasnya yang sempat tertahan kini berembus panjang. Dia melirik proyektor besar yang masih menampilkan data digital kiriman Riko dari Batam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum yang dia sembunyikan rapat-rapat.

'Kamu benar-benar elang yang mengerikan, Riko Pratama. Di saat aku berpikir kamu pergi karena marah, kamu justru sedang menghancurkan seluruh musuhku dari kejauhan,' monolog batin Rani, dadanya berdesir aneh oleh rasa haru yang bergejolak dengan gengsinya.

Tiga hari kemudian.

Efek dari gebrakan Riko memicu gempa bumi di dunia bisnis Jakarta. Dokumen audit dari Pak Salim dan kesaksian Haris di kantor polisi tidak hanya membersihkan nama Riko, tetapi juga secara legalitas membatalkan seluruh penyitaan aset masa lalu. Pratama Corp resmi dinyatakan sebagai korban sabotase ilegal. Berita di seluruh media finansial langsung berbalik arah; Riko tidak lagi disebut sebagai "pria parasit bangkrut", melainkan "Sang Elang yang Merebut Kembali Takhtanya". Saham Rani Group pun kembali meroket tajam setelah faksi korup dibersihkan.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kemenangan besar itu, hubungan domestik mereka justru membeku di titik nol.

Sore itu, Riko melangkah masuk ke dalam gedung Rani Group. Penampilannya hari ini benar-benar berubah total. Tidak ada lagi jaket kulit hitam yang lusuh atau kaos taktis yang penuh debu. Riko mengenakan setelan jas tiga potong berwarna charcoal grey yang dijahit khusus, membungkus tubuh kekar dan tegapnya dengan kemewahan yang sangat berkelas. Rambutnya ditata rapi, dan jam tangan kronograf mewah melingkar di pergelangan tangannya.

Langkah kakinya yang mantap menggema di koridor lantai eksekutif, memancarkan aura Alpha Male dominan yang siap mengambil alih dunia bisnis. Dia datang hari ini bukan sebagai suami kontrak yang numpang hidup, melainkan sebagai CEO Pratama Corp yang statusnya kini kembali setara.

Klek.

Riko membuka pintu ruang kerja Rani tanpa mengetuk, sebuah kebiasaan lama yang tetap dia pertahankan dengan egoistik.

Rani yang sedang memeriksa berkas di mejanya langsung mendongak. Untuk beberapa detik, napas Rani tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku menatap sosok Riko yang terlihat begitu menawan, gagah, dan sangat berwibawa dengan jas mahalnya. Rasa rindu yang hebat mendadak menyergap dadanya, membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Namun, begitu mengingat kata-kata dingin Riko sebelum pergi ke Batam, Rani langsung memasang kembali topeng Alpha Woman-nya yang angkuh.

Rani bersandar di kursi kebesarannya, melipat tangan di dada, mencoba menahan gejolak di hatinya dengan gengsi yang tinggi. "Tuan Riko Pratama. Penampilan yang luar biasa untuk seseorang yang baru saja memenangkan hukum. Ada perlu apa CEO Pratama Corp yang terhormat datang ke kantorku?"

Riko berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja Rani. Dia menatap wajah cantik istrinya dengan sepasang mata elang yang dalam, menatap lekat-lekat bibir Rani yang dulu pernah dia kecup di safe house. Ada rasa cemburu yang sempat melintas di benaknya saat mengingat bagaimana Aris mencoba mendekati Rani tempo hari, namun Riko meredamnya dengan keangkuhan seorang pria yang terluka harga dirinya.

Riko merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek bank dan meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja kaca. Di atas cek itu, tertera angka nominal yang sangat besar—jumlah yang persis sama dengan seluruh utang masa lalu Riko yang pernah dibayarkan oleh Rani di awal kontrak mereka.

"Aku ke sini untuk melunasi kewajibanku, Nyonya Rani," suara bariton Riko terdengar sangat berat, dingin, dan penuh penekanan. "Uang itu adalah pelunasan seluruh dana yang kamu keluarkan untukku. Sesuai dengan kalimatmu tempo hari... ini hanya bisnis, bukan?"

Melihat buku cek itu, hati Rani seketika terasa seperti diremas dengan kejam. Rasa sakit hati yang luar biasa menghantam dadanya. Kata-kata Riko yang menggunakan kalimatnya sendiri untuk membatasi hubungan mereka benar-benar menusuk egonya.

Rani berdiri dari kursinya, menatap Riko dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan rasa bersalah yang bercampur aduk, namun dia menolak untuk meneteskan air mata di depan pria itu. "Jadi, begitu caramu berterima kasih setelah aku membiarkanmu menggunakan perusahaanku sebagai tameng dan batu loncatanmu untuk bangkit, Riko?!"

"Berterima kasih?" Riko mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Rani dengan intensitas yang begitu pekat hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma parfum maskulin Riko yang mahal langsung mengunci indra penciuman Rani. "Aku sudah menyelamatkan perusahannmu dari mosi tidak percaya dewan komisaris dan mantan kekasihmu itu, Rani. Jika bukan karena bukti yang aku kirim dari Batam, hari ini kamu tidak akan duduk di kursi CEO ini dengan gaun mahalmu."

Rani menahan napasnya, tatapan mereka saling mengunci dengan sengit—sebuah pertarungan ego dan gengsi yang luar biasa tinggi, namun di balik ketegangan itu, ada ketertarikan fisik dan emosional yang begitu kuat yang coba mereka sangkal.

"Kontrak pernikahan kita masih tersisa tiga Minggu lagi, Tuan Riko," desis Rani, suaranya bergetar menahan rindu yang tertutup amarah. "Secara hukum, kamu masih suamiku."

Riko menegakkan kembali tubuhnya, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana jasnya dengan gaya yang sangat arogan namun memikat. "Aku tahu. Dan aku tidak akan melanggar hukum. Aku akan tetap tinggal di rumah utama bersamamu sampai hari terakhir kontrak itu selesai."

Riko berbalik, melangkah menuju pintu. Namun sebelum membuka pintu, dia berhenti dan menoleh sedikit ke belakang, memberikan tatapan mata elangnya yang sarat akan janji yang rumit. "Tapi ingat satu hal, Rani... setelah tiga minggu ini berakhir dan kontrak kita robek, aku tidak akan lagi berdiri di belakangmu sebagai pria sewaan. Aku akan berdiri di depanmu sebagai kompetitormu di dunia bisnis Jakarta. Bersiaplah."

Blam!

Pintu kaca tertutup rapat. Rani berdiri terpaku di belakang mejanya, menatap cek yang ditinggalkan Riko dengan napas yang memburu. Tangannya gemetar hebat. Gengsi mereka telah membuat kemenangan besar ini terasa begitu hambar dan menyakitkan. Mereka kini berada di bawah satu atap yang sama untuk tiga minggu ke depan, namun terpisahkan oleh dinding ego yang semakin tebal, bersiap untuk saling menguji cemburu dan rindu yang tertahan di balik selimut kamar mereka yang kembali dingin.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!