NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:441.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gia-ku

Ares mengunci rapat pintu kamarnya, seolah tak ingin membiarkan wanita berisik tadi untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak akan membiarkan wanita itu kembali menyakiti Gia walau hanya sekedar mencubit lengan Gia yang kecil.

Punggung tegapnya berbalik untuk menatap istrinya yang tubuhnya masih gemetar ketakutan. Wajahnya masih dipenuhi dengan air mata karena penghinaan yang dilakukan oleh Ibu tirinya.

"Jangan menangis!" Ares mengusap air mata di wajah Gia.

"Jangan dengarkan apa yang dia katakan!" Ares sepertinya sudah menyiapkan suatu hal yang besar untuk memberikan pelajaran pada Sarah.

Dia sudah cukup diam atas hal memalukan yang Siska lakukan. Sarah juga sudah mengorbankan Gia untuk menggantikan Siska. Tapi Sarah justru tak tau diri, dia malah mengingatkan jasanya yang sudah menempatkan Gia salam posisi Nyonya Ardiansyah.

"Tapi memang benar kan Mas?" Gia mendongak menatap pria yang lebih tinggi darinya.

"Aku ini hanya anak haram yang tidak pantas bersanding denganmu. Aku ini cuma pengganti yang akan disingkirkan suatu saat nanti jika pemeran utamanya telah kembali!" Lanjut Gia dengan sisa nafasnya yang tersengal karena tangisan.

"Dengarkan Mas! Ngak ada yang akan menyingkirkanmu. Sekarang pemeran utamanya itu kamu sendiri. Mas susah bilang, tidak ada Siska lagi, yang ada cuma kamu. Nyonya muda Ardiansyah itu kamu!" Ares memegang kedua bahu Gia untuk menegaskan semua kata-katanya.

Mungkin karena Gia datang di saat yang tidak tepat. Wajahnya tertutup kain veil untuk menyembunyikan identitas yang sebenarnya saat itu. Dia yang berdiri gemetar di samping Ares karena pengantin yang satunya lagi pergi, wajar jika Gia sampai saat ini masih menganggap dirinya pengganti.

"Tapi aku ini noda Mas. Sampai kapan pun aku akan tetap jadi noda membandel yang akan mengotori kehormatan keluarga Ardiansyah. Gimana kalau semua orang tau?"

"Gia, kamu bukan noda. Kamu bukan hasil kesalahan siapa pun. Kamu adalah Gia yang Mas kenal, istri Mas. Mas nggak peduli siapa ayahmu atau bagaimana kamu dilahirkan. Di mata Mas, kamu lebih terhormat daripada wanita itu."

​Ares mengusap air mata di pipi Gia dengan ibu jarinya.

"Jangan pernah sebut dirimu noda lagi. Mas yang memilih kamu, dan Mas nggak akan biarkan siapa pun, termasuk Mama merendahkan kamu karena hal yang bukan salahmu. Mas juga tidak peduli apa kata orang lain, mereka tidak berpengaruh sama sekali untuk Mas!"

​Gia memeluk Ares erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Di tengah kehancuran identitasnya, ia menemukan bahwa pelukan Ares adalah satu-satunya tempat di dunia ini, di mana ia tidak merasa seperti sebuah kesalahan.

Ares keluar dari kamarnya setelah Gia tenang. Dia harus menghubungi asistennya untuk menangani masalah Sarah. Dia tidak akan tinggal diam atas apa yang Sarah lakukan.

Kemarahan Ares masih meluap-luap, bahkan dia mengingat tentang Papanya Gia yang belum muncul dihadapannya sampai detik ini. Ingin sekali Ares memaki pria itu karena tidak becus menjadi seorang Ayah.

Hanya dia yang Gia punya, namun dia tidak pernah peduli pada Gia dan hanya mementingkan Siska karena takut dengan Sarah. Pria tua tak bernyali kecil seperti itu sok-sokan selingkuh sampai mempunyai anak sari selingkuhannya.

Ares bertemu dengan Mamanya di ujung tangga. Entah mau kemana Mamanya karena kamar Ibunya ada di bawah. Wanita yang telah melahirkannya itu bersedekap dengan tatapan matanya yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawannya.

"Apa? Mama mau ikut menghakimi Gia seperti Nyonya Sarah?" Ares langsung terlihat menentang Mamanya dengan tatapan tak suka. Sifat otoriternya kembali terlihat di depan Ibunya.

"Kau menuduh Mama? Kamu pikir Mama serendah itu, Ares?" Tanya Nyonya Besar dengan suara rendah.

"Kamu pikir Mama akan membuang orang hanya karena kesalahan yang dilakukan orang tuanya dua puluh tahun lalu?"

​"Tapi sebelumnya... Mama bilang..."

​"Mama bilang asal-usulnya tidak jelas, karena Mama memang tidak tahu. Dan Mama bersikap keras selama ini karena Mama tahu dunia bisnis kita itu seperti sarang serigala" Nyonya Besar menatap pintu kamar yang tertutup itu.

"Gia terlalu lembut. Kalau Mama tidak mendidiknya untuk punya punggung yang tegak, Sarah dan orang-orang seperti dia akan mengunyahnya hidup-hidup!"

​Ares terdiam seribu bahasa. Ketegangan di pundaknya perlahan luruh.

​"Gimana, gimana keadaannya di dalam?" tanya Nyonya Besar dengan canggung karena baru pertama kali ini menunjukkan perhatiannya. Suaranya kali ini tidak mengandung nada perintah, melainkan kecemasan seorang ibu.

​"Dia syok, Ma. Dia merasa dirinya noda buat keluarga Ardiansyah" Jawab Ares lirih.

​Nyonya Besar mendengus kecil, namun kali ini terdengar lebih seperti rasa simpati.

"Gadis bodoh. Dia bukan noda. Justru kejujuran dan ketulusannya itu yang bikin dia lebih berharga dari Siska. Mama bersikap tegas soal etika bukan karena Mama benci dia, Ares. Tapi karena Mama mau saat dia berdiri di sampingmu, tidak ada satu orang pun yang bisa menghinanya, termasuk Sarah!"

​Ares menatap ibunya dengan pandangan yang baru.

"Jadi, Mama tidak akan memisahkan kami?"

​"Mama memang ingin menantu yang sempurna, tapi Mama lebih ingin anak Mama bahagia!"

Nyonya Besar menepuk bahu Ares.

"Masuklah lagi, jaga dia. Soal Sarah, biar Mama yang urus. Dia sudah berani menghina menantu Ardiansyah di meja makan saya, dia tidak akan pernah bisa melihat cahaya di kota ini lagi kalau Mama sudah bertindak!"

​Ares merasa dadanya sesak oleh rasa lega yang luar biasa. Ia meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan tulus.

"Terima kasih, Ma. Maaf tadi Ares sempat kasar!"

​"Sudahlah. Masuk sana. Berikan dia ketenangan!" Ucap Nyonya Besar sambil berbalik pergi, namun ia berhenti sejenak. "Oh, Ares. Bilang sama Gia, besok pagi tidak ada kelas etika. Suruh dia tidur lebih lama!"

​Ares tersenyum lebar. Ia kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Begitu ia duduk di tepi ranjang, ia melihat Gia yang terbangun kecil karena mendengar suara pintu.

​"Mas, itu Mama mertua. Apa aku harus pergi?" Bisik Gia dengan mata yang masih bengkak.

​Ares segera menarik Gia ke dalam dekapannya, mencium keningnya dengan penuh perasaan.

"Enggak, Gia. Mama baru saja ke sini buat tanya keadaan kamu. Dan tahu nggak, Mama bilang besok kamu boleh bolos kelas etika!"

"Benarkah, Mas?" Gia tertegun lalu meloloskan diri dari pelukan Ares.

​"Iya. Mama itu sayang sama kamu dengan caranya sendiri yang unik!"

"Mama sayang sama aku Mas?"

"Hmm!" Angguk Ares.

"Tapi..." Ares mencubit hidung Gia.

"Dari tadi kamu bicara sama Mas pakai aku aku terus. Mana Gia-ku yang kemarin?"

Jantung Gia mau lepas rasanya karena Ares menyebutnya Gia-ku. Hanya namanya, Gia yang ditambah ku di akhir namnya, tapi apa itu bisa berarti tanda kepemilikan? Apa Ares mengakui dirinya sebagai milik Ares?

1
Erna Riyanto
Gia mulai gila🤭🤭...hatinya mulai goyah hanya dgn kata" satria...ingat gia..klu bukan karena Ares km GK BS sprti skrg...kyk kacang LP kulit nya.
Eleanor Sthiency Elea
saya sangat suka dengan ceritanya
Eleanor Sthiency Elea
rasanya pengen gw dorong... kepalanya si Ares😏
Ray Aza
sarkasme yg memang sakit ditelinga tp faktanya mmg seperti itu. kalo sadar posisi hrsnya mulai mengupgrade diri biar bisa mendampingi suami dikondisi apapun. gpp memulai sesuatu dr nol, yg penting hrs sll tumbuh dan berkembang ke arah yg lebih baik. hilangkan mental pembantu, perbaiki kualitas diri, drpd sibuk membantu di dapur lbh baik pergi ke kampus membekali diri dgn ilmu. sepahit2nya kl lepas dr klrga itu sdh dpt bekal ilmu buat hidup mandiri. manfaatkan situasi sebaik2nya
christina paya wan
Gia mula lupa diri ...
Nethy Sunny
hadehh heran deh kenapa sih pada ter siska siska ares yg nikah kalian yg ikut campur sama mempelai wanitany cari mati kalian
Nethy Sunny
good gia 👍sekarang harus berani bela diri sendiri kalo perlu harus sangar selama bukan kita yang mulai duluan
Julidarwati
good ni suami yg keren💪
awesome moment
koq rasa bersalah?
Ayla Anindiyafarisa
bodoh
Rumi Yati
Terima kasih thor
Rumi Yati
Sarah syetan, siska hantunya
amilia indriyanti
semoga aku ketemu yang kayak ares
Kristina NellaWara
ngeri😆
Maya Ratnasari
di sini papa
Maya Ratnasari
di sini ayah
Maya Ratnasari
di novel novel selalu saja ada yg menjadi pendukung untuk tokohnya maju. di dunia nyata kok aku gak pernah punya yah. pantes ga maju maju, wkwkwkkk
Dede
jam 1:03 kering gigi eniiihhh nyengir trs
Dede
giaaa tukeran posisi dong😭
Rina Arie
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!