Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan api di utara
Deru mesin helikopter militer AgustaWestland AW101 menenggelamkan semua suara di dalam kabin yang kedap suara. Leonardo duduk tegak, mengenakan rompi anti peluru di balik kemeja hitamnya. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat, menatap lurus ke depan melalui kaca depan helikopter yang gelap. Di sampingnya, Olivia duduk membeku, terbalut jaket taktis tebal yang kebesaran di tubuhnya. Tangannya dicengkeram erat oleh Leonardo, genggaman yang menyalurkan panas posesif sekaligus ketegangan yang mematikan.
Di belakang mereka, Marco dan lima anggota tim serbu elit De Luca memeriksa senapan serbu HK416 mereka. Suasana kabin dipenuhi aroma maskulin dari minyak senjata dan ketakutan yang diredam oleh adrenalin.
"Tiga menit menuju target, Tuan," suara pilot bergema melalui headset taktis yang dikenakan Leonardo.
Leonardo menoleh ke arah Olivia. Ia melepaskan sejenak cengkeramannya, lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan besarnya. Mata gelapnya menatap lurus ke dalam mata biru Olivia yang dipenuhi ketakutan.
"Tetap di belakangku. Jangan lepaskan rompi itu. Apapun yang terjadi, jangan jauh dariku," perintah Leonardo lugas. Kalimatnya bukan sebuah permohonan, melainkan instruksi militer yang absolut.
Olivia hanya bisa mengangguk kaku. Ia tidak pernah membayangkan akan berada di dalam helikopter tempur, menuju markas kartel yang baru saja membom toko bunganya.
Target mereka adalah sebuah villa berbenteng di perbukitan berbatu di luar Asturias, markas operasi sisa-sisa klan Navarro di Utara.
Begitu helikopter berada di posisi, pintu samping terbuka lebar. Angin malam yang dingin menderu masuk.
"Serang," perintah Leonardo pendek.
Helikopter itu tidak mendarat. Dua senapan mesin berat M134 Minigun yang terpasang di sisi helikopter mulai memuntahkan ribuan peluru per menit ke arah villa di bawah sana. Suara tembakan itu seperti raungan binatang buas yang kelaparan. Rentetan peluru pelacak berwarna merah menghujani atap dan halaman villa, meledakkan mobil-mobil penjaga dan menghancurkan dinding batu.
Olivia tersentak, menutup telinganya dengan kedua tangan meski sudah memakai headset pelindung. Ia melihat ledakan demi ledakan kecil terjadi di bawah sana. Dari ketinggian, manusia terlihat seperti semut yang berlarian panik, lalu tumbang diterjang peluru panas.
Leonardo tidak berkedip sejenak pun. Ia memperhatikan kehancuran itu dengan kepuasan dingin seorang algojo. Baginya, setiap ledakan adalah balasan untuk ketakutan yang dialami Olivia.
Setelah serangan udara meratakan pertahanan luar, helikopter turun perlahan untuk melakukan fast-roping (turun menggunakan tali tali cepat).
"Ayo," Leonardo mencengkeram pinggang Olivia, menggendongnya keluar dari pintu helikopter yang masih melayang rendah, lalu turun menggunakan tali dengan kecepatan yang mengerikan bagi Olivia. Marco dan timnya menyusul dengan cepat.
Kaki mereka menapak di tanah yang dipenuhi puing-puing dan jasad-jasad yang bergelimpangan. Aroma jelaga, darah, dan mesiu langsung menusuk hidung Olivia. Ia ingin muntah, namun Leonardo menariknya paksa untuk bergerak maju di belakang perlindungan tubuhnya.
"Sapu area dalam!" teriak Leonardo pada Marco.
Mereka masuk ke dalam villa yang sudah hancur setengahnya. Baku tembak jarak dekat terjadi di lorong-lorong sempit. Leonardo melepaskan tembakan dengan pistol Glock 19-nya dengan akurasi mematikan, menjatuhkan setiap penjaga Navarro yang mencoba melawan. Ia bergerak dengan insting predator yang terlatih, memastikan Olivia selalu berada di sisi yang aman darinya.
Operasi itu berlangsung cepat dan brutal. Tidak ada tawanan. Klan De Luca tidak meninggalkan saksi dari klan Navarro hidup-hidup.
Di ruang tengah villa, Leonardo berdiri di depan jasad Miguel Navarro, pemimpin operasi di Utara. Pria itu tewas tertembak di dada.
Leonardo menatap jasad musuhnya tanpa emosi. Ia menurunkan senjatanya, lalu berbalik menatap Olivia yang berdiri gemetar di sudut ruangan, wajahnya sepucat kertas, menatap genangan darah di lantai.
"Semua sudah selesai, Olivia. Tidak ada lagi Navarro," ucap Leonardo lugas. Ia melangkah mendekati istrinya, mencoba merangkulnya dengan tangan yang masih hangat karena sisa-sisa pertempuran.
Pingsan di Ambang Pintu
Kembali ke Madrid, suasana di dalam helikopter terasa hening. Adrenalin telah menguap, menyisakan kelelahan yang luar biasa. Olivia tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Ia hanya duduk meringkuk, menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela. Pengalaman melihat pembantaian secara langsung telah menghancurkan mentalnya.
Helikopter mendarat di helipad mansion De Luca saat fajar mulai menyingsing. Leonardo turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Olivia.
Olivia mencoba melangkah turun dari helikopter. Namun, begitu kakinya menapak di tanah beton helipad, ia merasa dunianya berputar hebat. Penglihatannya mendadak gelap. Kakinya terasa lemas seperti jelly, tidak sanggup menopang berat tubuhnya.
"Leonardo..." bisik Olivia lirih, suaranya hampir tidak terdengar di tengah deru sisa-sisa mesin helikopter.
Tanpa peringatan, tubuh Olivia limbung dan jatuh pingsan di ambang pintu helikopter.
"Olivia!" Leonardo bereaksi dengan kecepatan insting. Ia menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam lantai beton. Wajah posesifnya langsung berubah menjadi kepanikan yang liar.
"Marco! Panggil dokter pribadi ke kamar utama! Sekarang!" teriak Leonardo, suaranya bergetar karena rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Leonardo menggendong tubuh lemas Olivia yang tidak sadarkan diri, berlari menuju mansion. Ia tidak peduli lagi dengan kemenangan atas Navarro; ia hanya peduli pada kenyataan bahwa mawar Inggris-nya baru saja ambruk di dalam pelukannya, dan ia tidak tahu mengapa.
Paranoid posesifnya kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam karena telah membawa Olivia ke dalam pusaran kekerasannya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...