NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Sarapan Beraroma Asing

Elang menatap wajah mungil Ega yang sangat mirip dengan foto masa kecilnya sendiri. Gurat garis keturunan itu seolah mengunci seluruh nalar logis seorang CEO di dalam dirinya. "Kamu juga kelihatan sangat lelah, wajahmu pucat sekali. Sebaiknya kamu istirahat dan tidur di sofa panjang itu, biar aku yang menjaga Ega semalaman ini. Aku tidak akan bisa tenang jika meninggalkannya dalam kondisi seperti ini."

Mendengar penuturan tegas dari Elang, Cindy menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya kembali menetes, membasahi punggung tangannya sendiri. "Mas ... kenapa kamu masih sebaik ini sama aku setelah apa yang aku lakukan dulu?" tanyanya dengan nada yang teramat lirih, sarat akan penyesalan masa lalu.

"Sudahlah, Cin. Jangan bahas masa lalu sekarang. Yang penting sekarang adalah kesembuhan Ega," potong Elang, nadanya melembut, menyiratkan sisa-sisa perhatian yang pernah hidup subur di hatinya untuk wanita itu.

Di balik tundukan kepalanya yang tampak penuh duka dan rasa bersalah, sepasang sudut bibir Cindy perlahan terangkat, membentuk sebuah lengkungan senyum kemenangan yang sangat tipis dan samar. Dalam hatinya, kepuasan yang teramat besar bergejolak hebat. Cindy tahu betul, Elang adalah pria yang digerakkan oleh rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dengan memegang kendali atas Ega, ia tahu ia telah berhasil merebut perhatian penuh Elang di malam pertama pernikahan pria itu. Rencana awalnya berjalan jauh lebih sempurna dari yang ia bayangkan. Alin, gadis muda yang tidak tahu apa-apa itu, sudah kalah telak di babak pertama tanpa perlu Cindy mengotori tangannya secara terang-terangan.

Elang menarik sebuah kursi kayu ke dekat sisi ranjang Ega. Ia memeras kembali handuk kompresan, lalu menempelkannya ke dahi bocah itu dengan gerakan yang sangat telaten. Pikirannya malam ini sepenuhnya tersita oleh detak napas Ega dan kehadiran Cindy di sudut ruangan.

Sama sekali tidak terlintas di dalam benak Elang untuk menengok ke atas, ke lantai dua rumahnya. Ia melupakan fakta bahwa di atas sana, di balik pintu kamar yang dingin dan terkunci, ada seorang gadis yang baru saja ia ikat dengan janji suci di depan tuhan. Elang tidak memikirkan bagaimana perasaan Alin yang harus melewati malam pertama pernikahan mereka sendirian, berteman dengan sepi dan air mata yang mengering di bantal, sementara suaminya sendiri memilih menghabiskan malam dengan menjaga wanita dari masa lalu yang belum usai di hatinya.

Malam itu, di bawah atap rumah yang baru, jarak antara lantai satu dan lantai dua terasa seperti jurang pemisah yang teramat dalam dan tak terbendung—sebuah awal dari perjalanan panjang penuh luka yang harus dipikul Alin sendirian.

***

Cahaya matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela lantai dua, menyiram ranjang *king size* tempat Alin melewatkan malam pertamanya dalam kesunyian. Alin terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat dan sembap. Ia duduk termenung di tepi ranjang selama beberapa menit, menatap lurus pada pantulan dirinya di cermin meja rias. Rambutnya yang panjang berantakan, dan gurat kelelahan batin tercetak jelas di wajah pucatnya. Namun, hidup harus tetap berjalan. Sebagai wanita yang dididik dengan tata krama yang kuat oleh keluarganya, Alin menolak untuk terus terpuruk di dalam kamar.

Setelah membasuh wajah dan menyisir rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, Alin mengganti baju tidurnya dengan daster rumahan sewarna pastel yang sederhana. Ia membuka pintu kamar, lalu menuruni satu demi satu undakan tangga ke bawah dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. Langkahnya terhenti tepat di undakan terakhir ketika sebuah aroma gurih nasi goreng mentega dan wangi seduhan kopi hitam menguar dari arah dapur, memenuhi seluruh sudut ruang tengah yang masih menyisakan keharuman bunga melati sisa kemarin.

Di balik meja bar dapur yang higienis dan modern, tampak sesosok wanita sedang bergerak dengan begitu lincah. Cindy. Wanita itu sudah mengenakan apron linen cokelat muda milik Alin yang tergantung di balik pintu dapur—apron yang seharusnya dipakai oleh Alin sebagai nyonya rumah ini di pagi pertamanya. Rambut Cindy dicepol rapi ke atas, memperlihatkan leher tirusnya. Ia tampak begitu luwes membolak-balikkan nasi di atas wajan, sesekali menoleh ke arah meja makan tempat Ega duduk sambil memainkan sendok plastik.

Alin mematung di dekat lemari pendingin besar. Pemandangan di depannya terasa begitu menyentuh ulu hatinya, sebuah ironi yang dikemas rapi. Cindy tampak begitu natural menguasai dapur tersebut, seolah-olah ianyalah sang istri sah yang sudah bertahun-tahun menempati rumah ini.

"Eh, Alin ...."

Cindy menoleh, memutus keheningan dapur saat matanya menangkap keberadaan Alin. Wanita itu buru-buru mematikan kompor gas, lalu menghapus tangannya yang sedikit basah pada ujung apron dengan gestur yang tampak kikuk dan penuh rasa sungkan. Wajahnya mendadak berubah menjadi sangat tidak enak.

"Maaf, Lin. Aku kelancangan ya?" Cindy melangkah mendekat dengan senyum manis yang dipaksakan, sepasang matanya menatap Alin dengan binar penuh permohonan maaf. "Tadi pagi-pagi sekali Ega bangun dan merengek lapar karena semalam tidak makan apa-apa setelah disuntik dokter. Aku bingung mau membangunkanmu di atas, pasti kamu masih sangat lelah ... jadi aku berinisiatif masak sendiri."

Alin hanya berdiri diam, jemarinya meremas pelan ujung daster katunnya. Matanya melirik sekilas pada piring-piring porselen putih yang sudah tertata rapi di atas meja makan. "Tidak apa-apa, Mbak Cindy. Terima kasih sudah membantu membuatkan sarapan."

"Aku benar-benar minta maaf, Alin. Aku sama sekali tidak ada niat untuk lancang di dapurmu," ucap Cindy lagi, suaranya melembut, terdengar begitu tulus dan penuh penyesalan hingga siapa pun yang mendengar pasti akan menaruh simpati padanya. Ia lalu menunjuk mangkuk berisi nasi goreng yang masih mengepulkan asap. "Ini ... aku juga sekalian membuatkan sarapan kesukaan Mas Elang. Nasi goreng mentega tanpa bawang bombay, dengan telur mata sapi setengah matang. Sejak dulu, Mas Elang selalu menyukai menu ini setiap pagi sebelum berangkat ke kantor."

Mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Cindy, Alin merasakan dadanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Sebuah senyum kecut perlahan terukir di sudut bibir Alin. Cindy sedang meminta maaf, tetapi di saat yang sama, wanita itu juga sedang mempertegas posisinya—bahwa ia jauh lebih mengenal detail kebiasaan dan selera Mas Elang dibandingkan Alin yang statusnya adalah istri sah.

"Oh, ya? Baguslah kalau begitu, Mbak. Saya malah belum sempat bertanya pada Mas Elang apa menu sarapan kesukaannya," sahut Alin dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang dan datar. Ia berjalan mendekati wastafel, berniat mencuci tangan.

Bersambung ...

1
Lisna Wati
lajut
Kimmy Doankz
mudahan cinta itu berawal dari makanan 🤭
Ayudya
bagus Lin kamu harus tunjukan sikap badas dan bar bar kamu ke elang yg bego🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
hadeh Cindy sadar diri itu perlu Uda syukur Alin ga mampir kamu dan kamu di biarkan tinggal di rumahnya🤣🤣🤣🤣
Kar Genjreng
astagaa ya Lang loe si yang mulai duluan,,, kalau di pikir Lang sakitnya Lin banget nget,,,coba di bayangke. coba loe bisa membedakan yang stri sah dan mantan mana malam pertama,,,belum lagi pelaminan nya geger dan memalukan s x,,
siapa npun akan marah sekarang di nikmati saja sikap Alin terhadap mu loe tidak boleh TREMOSI ya 🤣 coba sekarang buktinya mantan loe pakaian beli di departemen store saja protes,,,coba loe baik sama Alin pasti akan membalas seribu lebih baik tidak tamak dan bukan sandiwara ,,,angel wis Lang Leh darani kadung mungkal Alin,,, padahal Alin cantik muda sarjana,, mandiri. lemah lembut asal Ojo di centok wadine tapi neh di srempet ,, jangan tanya bar bar yang muncul 😇
Teti Hayati
Diiih... ada yg kepengen Lin... gak usah dikasih Lin. kekepin aja... 🤣🤣🤣
Puput Assyfa
ngarep yg ketinggian km Cindy,liat kebawah statusmu itu apa,gak capek apa dangak trs berharap yg lebih tp ujung2nya nyesek tanpa nenek Elang itu kere Cindy
Rarik Srihastuty
elang pengen sama yg di makan istrinya, menggiurkan ya aromanya. suruh aja masakin mbak pacar yg lg uring2an di rumah gegara merek baju 😂😂😂
Dcy Sukma
Hmmm... jatuh cinta duluan lewat masakan..🫣
Dcy Sukma
Untung Denis dah tau sifat matre si Cindil../Chuckle/..
Setyowati Setyowati
lanjut lagi yuk mom
Teh Euis Tea
si elang sebenarnya minta di layani am alin tuh tp malu
Mutaharotin Rotin
dasar g tau diri,g punya terima kasih,mau nuntut,emang kamu bininya elang sombong amat sok kaya🤦
Sugiharti Rusli
bagi Alin prinsipnya sekarang dia hanya fokus membuat nenek Aisyah pulih, dan urusan rumah tangganya ga terlalu dia pikirkan dengan serius dan Elang dianggap kasat mata saja sekarang😷😷😷
Sugiharti Rusli
dan sekarang si Elang seperti tertantang dengan sikap Alin yang tidak terintimidasi lagi berhadapan dengan dirinya yah,,,
Sugiharti Rusli
susah sih yah kalo orang sudah merasa jatuh cinta, yang dia lihat hanya kebaikan yang sejatinya hanya topeng saja,,,
yuni ati
Terlalu PD Cindy🤣
Sugiharti Rusli
entah pemikiran bodoh mana yang si Elang punya yah sampai bisanya jatuh cinta sama modelan spek kek si Cindy😏😏😏
Sugiharti Rusli
yah kali mau dianggap siapa kamu Cindy di sisi Elang sekarang dengan berharap dapat apa yang sesuai keinginan kamu,,,
Halimatus Syadiah
bagus alin, terus bersikap cuek sama elang, agar dia tidak seenaknya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!