Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Golem Kristal
Kaelen menutup matanya sejenak. Dia memusatkan seluruh konsentrasinya. Dia mengerahkan Elemen Tanah yang kini telah dia kuasai hingga tingkat Mahir 80%, lalu menggabungkannya dengan sifat kecepatan dan ketajaman dari Elemen Petir yang ada di dalam dirinya. Dia tidak melepaskan petir yang menyambar. Dia hanya mengubah energi petir itu menjadi getaran halus namun berfrekuensi sangat tinggi.
[KEMAMPUAN DIPAKAI: RESONANSI ELEMEN.]
[EFEK: MENYEARASKAN GETARAN DENGAN OBJEK, KEMUDIAN MENGUBAH FREKUENSI UNTUK MERUNTUHKAN STRUKTUR.]
Kaelen menempelkan telapak tangannya ke lantai batu yang kokoh itu. Getaran halus yang tidak terlihat mata merambat cepat menyebar ke seluruh ruangan gua, lalu masuk ke dalam kaki-kaki Golem Batu yang berdiri di atas tanah yang sama.
Detik berikutnya, keajaiban terjadi.
Puluhan Golem Batu itu tiba-tiba berhenti bergerak kaku. Mata merah mereka berkedip-kedip aneh. Tubuh mereka yang kokoh dan keras mulai bergetar hebat, seolah ada gempa bumi kecil yang berasal dari dalam diri mereka sendiri. Retakan-retakan halus muncul dengan cepat di permukaan kulit batu mereka, lalu menyebar bagaikan jaring laba-laba hingga ke seluruh tubuh.
KRAK..
KRAK..
DUUARRR..
Satu per satu, diikuti suara gemuruh yang panjang dan berat, tubuh-tubuh raksasa itu hancur berantakan. Bukan terlempar atau pecah karena pukulan, melainkan runtuh menjadi tumpukan kerikil, pasir, dan debu batu biasa. Hanya dalam sekejap mata, ancaman yang membuat mereka terdesak habis-habisan itu lenyap sepenuhnya.
Keheningan mutlak menyelimuti ruangan gua itu.
Dimas menganga lebar. Pedang di tangannya hampir terlepas. Sari menatap tak percaya ke arah tumpukan puing batu, lalu ke arah Kaelen yang masih berdiri tenang dengan tangan menempel di tanah. Guru Hanes, yang seumur hidup mempelajari elemen Tanah membelalakkan matanya hingga hampir keluar dari kelopak. Dia tahu teknik resonansi, itu adalah konsep tingkat tinggi yang baru dipelajari guru besar atau penyihir tingkat tinggi. Namun melakukannya secara massal dan secepat ini? Tidak pernah terbayangkan.
"Kau... kau menghancurkan struktur energi mereka dari dalam?" tanya Guru Hanes dengan suara bergetar karena takjub.
Kaelen mengangkat tangannya dan berdiri tegak. Dia kemudian berjalan mendekati salah satu tumpukan puing terbesar, mencari sisa inti energi yang tertinggal. Di tengah tumpukan itu ada sebutir batu berwarna abu-abu pekat yang memancarkan sisa hawa energi. Itulah Inti dari Golem itu.
"Tanah dan batu itu punya ritme dan ikatan penyatuan, Guru," jawab Kaelen pelan namun jelas sambil menyentuh inti itu. "Kalau kita tidak melawan kekerasan mereka, tapi mengubah ritme dan memutus ikatannya. Sekeras apa pun batu itu akan hancur seketika."
Saat tangannya menyentuh inti itu, energi di dalamnya mengalir masuk ke tubuhnya, diurai dan dipelajari oleh Sistem.
[ANALISIS ELEMEN BATU SELESAI. DIINTEGRASIKAN KE DALAM ELEMEN TANAH UTAMA.]
[TINGKAT PENGUASAAN TANAH: MAHIR 80% → 90%.]
[PEMAHAMAN STRUKTUR MINERAL MENINGKAT. KEMAMPUAN MEMANIPULASI BENDA PADAT SEMAKIN TINGGI.]
Kekuatan Kaelen bertambah lagi, dan pemahamannya semakin dalam. Dia sadar, elemen Tanah bukan hanya soal menebalkan pertahanan atau membuat tembok. Ini adalah elemen yang menguasai segala bentuk benda padat di dunia ini, mulai dari debu halus hingga gunung raksasa.
"Brilian. Benar-benar brilian," gumam Guru Hanes berulang kali. Matanya menatap Kaelen dengan pandangan yang sama sekali baru. Bukan lagi sebagai murid, melainkan sebagai rekan sejawat yang jenius. "Teknik itu bahkan aku sendiri belum bisa menggunakannya sehalus itu."
Kaelen hanya tersenyum tipis sebagai jawaban, lalu memungut sisa-sisa inti energi lainnya yang berserakan. Setiap sentuhan dan setiap hisapan kecil itu, seolah menanamkan pemahaman baru yang lebih dalam ke dalam benak dan aliran darahnya. Di matanya, dunia kini terlihat berbeda. Dia tidak lagi hanya melihat bentuk fisik benda, tapi juga komposisi, ikatan, dan potensi energi yang tersimpan di dalamnya.
“Kita tidak boleh berlama-lama di sini,” ucap Guru Hanes, menyadarkan diri dari kekagumannya. Dia menatap lorong yang lebih dalam dan gelap di hadapan mereka. “Kau sudah membuktikan kemampuanmu, Kaelen. Bahkan melebihi ekspektasi terliar sekalipun. Tapi ingat, Golem Batu tadi hanyalah penghuni terlemah di zona ini. Semakin ke dalam, bebatuan akan semakin keras, energinya semakin pekat, dan penghuninya. Jauh lebih berbahaya.”
“Kami siap, Guru!” jawab Kaelen dengan nada tegas.
Di belakangnya Lira, Dimas, Raka, dan Sari mengangguk mantap. Kepercayaan diri mereka kini melonjak tinggi. Jika Kaelen sanggup menaklukkan musuh sekuat itu dengan mudah. Tidak ada lagi hal yang mustahil bagi kelompok mereka.
Mereka kembali bergerak, meninggalkan puing-puing Golem yang berserakan. Lorong demi lorong mereka lalui. Semakin jauh melangkah, pemandangan di sekitar berubah drastis. Dinding-dinding gua yang tadinya berwarna abu-abu kusam kini mulai memancarkan kilauan samar. Butiran-butiran mineral menempel rapat. Berkilauan indah memantulkan cahaya lentera sihir mereka. Udara di sini jauh lebih padat, seolah setiap tarikan napas memasukkan partikel energi murni langsung ke dalam paru-paru.
“Kita sudah memasuki perbatasan Zona Tengah,” jelas Raka yang paling paham mengenai karakteristik bebatuan. Dia kemudian menyentuh dinding gua yang berkilauan itu. “Lihat ini. Ini bukan batu biasa. Ini adalah batu Kristal Mentah. Kepadatannya sepuluh kali lipat lebih keras dari batu yang kita temui tadi. Di sini, sihir elemen Tanah akan menjadi jauh lebih kuat, tapi bahayanya juga berlipat ganda.”
Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Dari langit-langit gua yang tinggi, sepotong batu raksasa jatuh.
Namun bukan menabrak lantai, melainkan mendarat dengan tegak dan hidup. Diikuti oleh puluhan bentuk serupa lainnya yang muncul dari balik bayangan.
Makhluk-makhluk ini berbeda jauh dari Golem Batu sebelumnya. Tubuh mereka bukan lagi kasar dan berwarna kusam, melainkan bening, berkilauan, dan tajam di setiap sisinya. Cahaya yang mengenai tubuh mereka dipantulkan kembali, menciptakan silau yang menyakitkan mata. Tinggi tubuh mereka mencapai tiga meter, dan di tangan kanan masing-masing terbentuk sebilah pisau tajam yang terbuat dari kristal yang sama.
“Golem Kristal!” seru Guru Hanes. Suaranya sedikit meninggi karena kaget. “Sialan. Seharusnya makhluk tingkat ini hanya ada di bagian dalam Zona Tengah. Kenapa mereka sudah berpatroli di sini?!”
“Mereka lebih kuat?” tanya Dimas sambil mengerahkan api di kedua tangannya. Dia bersiap menyerang.
“Jauh lebih kuat!” potong Guru Hanes cepat. “Batu mereka sekeras berlian. Tahan panas luar biasa, dan permukaannya memantulkan sihir. Jangan serang sembarangan! Seranganmu akan berbalik menghancurkanmu sendiri!”
Namun Golem Kristal itu tidak memberi waktu untuk berdiskusi. Salah satu makhluk terdepan melesat maju dengan kecepatan yang mengejutkan, jauh lebih gesit dibandingkan saudara mereka yang berbatu kasar. Bilah kristal di tangannya menyambar ke arah Dimas yang paling dekat.
Dimas dengan sigap menangkis menggunakan pedang apinya.
KLANG..
Suara benturan nyaring terdengar, diikuti percikan cahaya yang menyilaukan. Dimas terlempar mundur beberapa langkah, tangannya terasa mati rasa. Pedang apinya sedikit meredup, sementara bilah kristal lawan sama sekali tidak tergores sedikit pun.
“Keras sekali! Apakah benda ini tidak bisa dihancurkan?!” seru Dimas kaget.
Sari mencoba membantu dengan memotong menggunakan angin bertekanan tinggi, namun bilah angin itu terbelokkan dan terpantul begitu saja saat menyentuh permukaan tubuh Golem yang licin dan berkilauan itu.
“Pertahanannya sempurna. Kita tidak bisa menembusnya,” gumam Raka putus asa sambil berusaha membentuk dinding pertahanan tanah yang segera saja retak dan hancur dipukul hancur oleh kepalan tangan kristal.
Lira terus-menerus melemparkan bola air dan perisai pelindung, namun serangan itu seolah tidak ada bedanya dengan percikan air hujan bagi makhluk-makhluk bening itu.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/