NovelToon NovelToon
I AM A GOD IN ANOTHER WORLD

I AM A GOD IN ANOTHER WORLD

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: WERWET

we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20 permasalahan yang menjadi jadi

Malam itu, toko perhiasan sudah benar-benar sepi.

Lampu minyak di dalam ruangan menyala redup.

Bayangan rak kayu memanjang di dinding.

We Lin duduk di kursi kasir sambil memutar liontin tua di tangannya.

Benda itu terlihat biasa saja.

Tidak ada kilau.

Tidak ada pola khusus.

Namun sistem tidak berhenti mengulang satu hal.

[Objek Tersembunyi]

[Dianjurkan Untuk Diamati Lebih Lanjut]

"Hm..."

We Lin menatapnya lama.

Tetua Morcant dari sudut ruangan melirik sekilas.

"Kau masih memegang benda itu?"

"Iya."

"Kenapa?"

We Lin berpikir sebentar.

"Rasanya seperti barang yang tidak boleh hilang."

"..."

Tetua Morcant menghela napas pelan.

"Perasaanmu makin aneh akhir-akhir ini."

We Lin tidak menjawab.

Ia justru menyimpan liontin itu ke dalam saku.

Lalu menutup mata sejenak.

Seolah mencoba merasakan sesuatu.

Namun tetap saja.

Tidak ada yang berubah.

Hanya benda tua biasa.

Di sisi lain kota.

Markas kecil Hunter malam itu sedang tidak tenang.

Beberapa anggota berkumpul di sebuah ruangan sempit.

Di atas meja, sebuah peta kota terbentang.

Titik kecil ditandai di satu lokasi.

"Toko perhiasan itu lagi?"

tanya seorang pria dengan suara berat.

"Ya."

jawab anggota lain.

"Kali ini ada transaksi baru."

"Benda apa?"

"Belum diketahui."

Pria itu mengetuk meja pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

"Setiap orang yang datang ke sana selalu melaporkan hal aneh."

"Tanpa kecuali."

Seorang anggota lain membuka catatan.

"Hunter muda yang membawa cincin."

"Pria tua yang menjual kalung."

"Keduanya kembali dengan kondisi berbeda dari sebelumnya."

Pria di ujung meja terdiam.

"Apa maksudnya berbeda?"

"Yang satu cincin aktif kembali."

"Yang satu mendapatkan harga jauh di atas perkiraan."

"..."

Suasana menjadi hening.

Seseorang akhirnya berbicara pelan.

"Apakah kita sedang berhadapan dengan seorang artefaktor tingkat tinggi?"

"Tidak mungkin hanya itu."

jawab pria utama.

"Artefaktor bisa menjelaskan benda."

"Tapi tidak menjelaskan orangnya."

Ia menatap peta itu lama.

"Toko itu terlalu sederhana untuk menjadi kebetulan."

"Mulai besok, awasi tempat itu lebih ketat."

Sementara itu, di toko perhiasan.

We Lin sedang membersihkan meja.

Gerakannya santai seperti biasa.

Tetua Morcant membaca buku tua di pojok ruangan.

Suasana benar-benar tenang.

Sampai—

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu diketuk.

We Lin langsung berdiri.

"Hari ini banyak tamu."

gumamnya.

Ia membuka pintu.

Di luar berdiri seorang wanita dengan pakaian formal.

Bukan Hunter.

Bukan pedagang biasa.

Tapi seseorang dengan aura pejabat kota.

"Permisi."

"Ini toko perhiasan milik We Lin?"

"Iya."

Wanita itu menatapnya sebentar.

Lalu mengangguk kecil.

"Aku dari Departemen Administrasi Kota."

"Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan."

We Lin memiringkan kepala.

"Tanya saja."

Wanita itu masuk perlahan.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

Rak sederhana.

Etalase kayu.

Dan seorang pria tua yang sedang membaca buku.

Tidak ada yang mencurigakan.

Namun justru itu yang membuatnya aneh.

"Toko ini sudah lama berdiri?"

tanyanya.

"Tidak terlalu."

jawab We Lin.

"Hm."

Wanita itu mencatat sesuatu.

"Kami menerima laporan bahwa beberapa artefak yang seharusnya tidak aktif..."

"Tiba-tiba berfungsi setelah diperbaiki di tempat ini."

We Lin berhenti menyapu.

"Aku hanya memperbaiki barang rusak."

jawabnya tenang.

Wanita itu menatapnya tajam.

"Itu yang semua orang katakan."

"..."

Tetua Morcant dari sudut ruangan mulai memperhatikan.

Ia tidak ikut bicara.

Tapi suasana sudah sedikit berubah.

We Lin tetap tenang.

"Ada yang salah?"

Wanita itu menggeleng.

"Belum."

"Tapi kami akan melakukan observasi."

"Silakan."

jawab We Lin singkat.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada kekhawatiran.

Hanya jawaban sederhana.

Wanita itu sedikit mengernyit.

Biasanya orang akan gugup saat didatangi pejabat.

Namun pemuda di depannya tidak menunjukkan itu sama sekali.

Seolah tidak peduli.

Setelah wanita itu pergi.

Tetua Morcant akhirnya berbicara.

"Sepertinya mereka mulai memperhatikanmu."

"Hm?"

"Siapa?"

"Orang-orang kota."

"Oh."

We Lin mengangguk pelan.

"Lumayan."

"...lumayan?"

"Iya."

"Selama mereka tidak mengganggu pelanggan."

Tetua Morcant terdiam.

Ia merasa percakapan ini selalu berakhir di tempat yang sama.

We Lin tidak pernah melihat sesuatu sebagai masalah besar.

Malam berikutnya.

Di markas Hunter.

Laporan baru masuk.

"Dia mengizinkan observasi tanpa penolakan."

Pria utama membaca laporan itu dengan serius.

"Dia tidak takut."

"Atau dia tidak peduli."

Seorang anggota bertanya pelan.

"Apakah kita lanjutkan pengawasan?"

Pria itu terdiam lama.

Lalu mengangguk.

"Lanjutkan."

"Dan tingkatkan."

"Target ini..."

"Semakin tidak bisa dipahami."

Di toko perhiasan.

We Lin duduk di kasir.

Liontin tua itu masih ada di sakunya.

Ia mengeluarkannya sekali lagi.

Melihatnya sebentar.

"Hm..."

"Masih sama saja."

Ia memasukkannya kembali.

Lalu berdiri.

"Sudah malam."

"Tutup toko."

Tetua Morcant mengangguk.

"Besok kau akan terus mengabaikannya?"

We Lin berpikir sebentar.

"Kalau tidak berubah, ya."

"..."

Tetua Morcant tidak menjawab lagi.

Di luar jendela.

Angin malam berhembus pelan.

Tidak ada yang tahu.

Bahwa sebuah benda kecil di saku We Lin...

Sedang diam-diam menjadi pusat perhatian banyak pihak.

Dan semuanya baru saja dimulai.

Keesokan paginya.

Toko perhiasan kembali buka seperti biasa.

We Lin sedang menyusun beberapa gelang di etalase.

Tetua Morcant menyeduh teh sambil membaca buku tua.

Suasana tenang.

Tok.

Pintu kembali terbuka.

Namun kali ini yang datang bukan pelanggan.

Melainkan wanita dari Departemen Administrasi Kota yang datang semalam.

Di belakangnya berdiri dua pengawal.

"Kami hanya ingin melakukan observasi."

kata wanita itu.

We Lin mengangguk.

"Silakan."

Ketiga orang itu mulai melihat-lihat seluruh ruangan.

Rak kayu.

Laci penyimpanan.

Peralatan perbaikan.

Semuanya tampak biasa.

Salah satu pengawal tiba-tiba berhenti.

Pandangannya tertuju pada saku baju We Lin.

"Apa yang kau simpan di sana?"

We Lin memasukkan tangan ke dalam saku.

"Liontin."

"Boleh kami lihat?"

"Tentu."

We Lin mengeluarkan liontin tua itu lalu meletakkannya di atas meja.

Wanita itu mengambilnya perlahan.

Ia mengamati dari berbagai sisi.

"Hanya benda tua..."

gumamnya.

Salah satu pengawal ikut melihat.

Namun saat jarinya hampir menyentuh liontin itu—

Drrtt...

Sebuah getaran kecil muncul.

Tidak kuat.

Tapi cukup membuat semua orang terdiam.

Wanita itu langsung menarik tangannya.

"Apa kau melihatnya?"

tanyanya.

Pengawal itu mengangguk pelan.

"Aku merasakan sesuatu."

We Lin memiringkan kepala.

"Benarkah?"

Ia mengambil kembali liontin itu.

Namun saat berada di tangannya.

Tidak terjadi apa-apa.

Tetua Morcant yang sejak tadi diam perlahan menutup bukunya.

Tatapannya tertuju pada liontin tua itu.

Untuk pertama kalinya.

Ekspresinya berubah serius.

"...We Lin."

"Hm?"

"Mulai hari ini."

"Jangan tunjukkan benda itu kepada siapa pun."

We Lin berkedip pelan.

"Kenapa?"

Tetua Morcant tidak langsung menjawab.

Ia hanya terus menatap liontin tersebut.

Seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah lama terlupakan.

We Lin melihat liontin di tangannya.

Lalu menatap Tetua Morcant.

"Jadi... benda ini berbahaya?"

Tetua Morcant menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu."

"..."

"Itulah yang membuatku khawatir."

Wanita dari Departemen Administrasi Kota ikut memperhatikan.

"Kakek, apakah Anda mengenali benda itu?"

Tetua Morcant terdiam beberapa saat.

"Aku hanya merasa pernah melihat simbol seperti ini."

"Di mana?"

"Lupa."

Ia mengusap dahinya pelan.

"Sudah terlalu lama."

Ruangan kembali sunyi.

Wanita itu akhirnya berdiri.

"Kami tidak menemukan pelanggaran apa pun."

"Tapi untuk sementara, kami akan terus mengawasi toko ini."

We Lin mengangguk.

"Silakan."

Jawaban itu membuat wanita tersebut sedikit bingung.

Ia sudah beberapa kali datang.

Namun pemuda di depannya tidak pernah terlihat gugup.

Setelah mereka pergi.

Tetua Morcant langsung menutup pintu.

Klik.

Ia menoleh ke arah We Lin.

"Coba berikan liontin itu."

We Lin menyerahkannya.

Tetua Morcant memegang benda itu dengan hati-hati.

Beberapa detik berlalu.

Tidak terjadi apa-apa.

"Hm..."

Ia membalik liontin itu.

Lalu membersihkan sedikit debu yang menempel.

Tiba-tiba.

Terlihat sebuah garis kecil.

Seperti ukiran yang selama ini tertutup.

Tetua Morcant membelalakkan mata.

"Ini..."

We Lin ikut mendekat.

"Ada apa?"

"Itu bukan goresan."

"Lalu?"

"Itu segel."

"..."

We Lin memiringkan kepala.

"Segel untuk apa?"

Tetua Morcant menggeleng.

"Aku tidak tahu."

"Tapi biasanya benda yang disegel..."

"...tidak dibuat untuk orang biasa."

Belum sempat mereka berbicara lagi.

Ding.

Suara sistem tiba-tiba muncul.

[Mendeteksi Perubahan Pada Objek]

[Segel Pertama Telah Terbuka]

[Syarat Pemilik Terpenuhi]

We Lin berkedip pelan.

"Hm?"

Tetua Morcant tidak bisa melihat jendela sistem.

Ia hanya melihat wajah We Lin yang tiba-tiba diam.

"Ada apa?"

We Lin menatap liontin itu.

Perlahan.

Permukaan benda tua tersebut mulai memancarkan cahaya redup.

Tidak terang.

Namun cukup untuk menerangi meja kasir.

Tetua Morcant tanpa sadar mundur satu langkah.

"Itu..."

Sementara di markas Hunter.

Seorang anggota tiba-tiba berlari masuk.

"Lapor!"

Pria utama mengangkat kepala.

"Ada apa?"

"Alat pendeteksi artefak di wilayah utara..."

"...baru saja aktif."

"Levelnya?"

Anggota itu menelan ludah.

"Belum pernah tercatat sebelumnya."

Ruangan menjadi hening.

Pria utama berdiri perlahan.

"Toko perhiasan."

katanya pelan.

"Semua orang bersiap."

Di toko.

Cahaya liontin perlahan meredup.

Lalu muncul satu tulisan kecil di hadapan We Lin.

[Artefak Kuno Berhasil Diaktifkan]

[Mencari Informasi...]

[Data Tidak Ditemukan]

[Pengguna Memiliki Hak Akses Lebih Tinggi]

We Lin hanya menggaruk kepalanya.

"Hm..."

"Kenapa benda ini malah tambah merepotkan?"

Tetua Morcant menatapnya tanpa berkata-kata.

Untuk pertama kalinya.

Ia merasa bahwa pemuda yang tinggal bersamanya...

Mungkin sedang memegang sesuatu yang bisa mengubah seluruh kota.

Tetua Morcant masih menatap liontin itu.

Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat serius.

"We Lin."

"Hm?"

"Mulai sekarang, jangan sembarangan mengeluarkan benda itu."

We Lin memasukkan kembali liontin ke dalam saku.

"Baik."

Jawabannya singkat.

Seolah yang baru saja terjadi hanyalah hal biasa.

Tetua Morcant hanya bisa menghela napas.

Di luar toko.

Dua orang berpakaian hitam sedang berdiri di sebuah gang.

Mereka adalah anggota Hunter yang ditugaskan mengawasi.

"Apa kau merasakannya?"

tanya salah satu dari mereka.

"Iya."

jawab yang lain.

"Gelombang energi itu berasal dari dalam toko."

"Kita laporkan?"

"Tentu."

Salah satu dari mereka segera mengeluarkan alat komunikasi.

Namun sebelum sempat berbicara.

Alat itu mengeluarkan suara retakan kecil.

Krrt...

Lalu mati.

"Apa?"

Ia mencoba menyalakannya lagi.

Tetap tidak berfungsi.

"Kau juga?"

Orang satunya memeriksa alat miliknya.

Hasilnya sama.

Keduanya saling berpandangan.

Belum pernah hal seperti ini terjadi.

Di dalam toko.

We Lin sedang menyapu lantai.

"Hm..."

"Sudah hampir selesai."

Tetua Morcant menatapnya.

"Kau tidak penasaran dengan liontin itu?"

"Penasaran."

"Lalu kenapa kau tidak mencoba memeriksanya lagi?"

We Lin berhenti menyapu.

Ia berpikir sejenak.

"Kalau dipaksa sekarang, mungkin malah rusak."

"..."

"Lebih baik menunggu."

Tetua Morcant tidak tahu harus berkata apa.

Pemuda itu selalu memiliki cara berpikir yang sulit dipahami.

Malam semakin larut.

Setelah toko ditutup.

We Lin masuk ke kamarnya.

Ia mengeluarkan liontin itu sekali lagi.

Ding.

[Jendela Sistem Aktif]

[Artefak Kuno Terikat Dengan Pengguna]

[Sinkronisasi: 3%]

[Disarankan Untuk Tidak Membuka Segel Berikutnya]

We Lin membaca tulisan itu.

"Lalu bagaimana cara menaikkan sinkronisasi?"

Tidak ada jawaban.

We Lin mengira sistem sudah kembali diam.

"Hm..."

We Lin meletakkan liontin itu di meja samping tempat tidur.

Lalu mematikan lampu.

Beberapa saat kemudian.

Ding.

Suara sistem kembali terdengar.

[Misi Tersembunyi Terbuka]

[Temukan Asal Usul Artefak Kuno]

[Hadiah: ???]

[Hukuman Gagal: Tidak Diketahui]

We Lin berkedip.

"Hadiahnya tidak jelas."

"Hukumannya juga tidak jelas."

"Kenapa sistem hari ini aneh sekali?"

Ia menguap pelan.

"Besok saja dipikirkan."

Ia pun berbaring dan menutup mata.

Sementara itu.

Jauh di bawah kota.

Di sebuah ruangan batu yang gelap.

Api biru kecil tiba-tiba menyala.

Seorang pria tua berjubah membuka matanya.

Di depannya terdapat puluhan kristal yang telah padam selama bertahun-tahun.

Namun kini.

Salah satunya bersinar kembali.

Pria tua itu perlahan berdiri.

"Tidak mungkin..."

Ia menyentuh kristal tersebut.

Getaran kecil langsung menyebar ke seluruh ruangan.

"Segel itu..."

"...akhirnya aktif lagi."

Di belakangnya, seorang gadis muda bertanya.

"Guru, apa yang terjadi?"

Pria tua itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya terus tertuju pada kristal.

Lalu ia berkata pelan.

"Carilah."

"Apa yang harus kucari?"

"Seseorang."

"Seseorang?"

Pria tua itu mengangguk.

"Pemilik baru artefak itu."

"Karena jika dia jatuh ke tangan yang salah..."

Ia berhenti sejenak.

"...bukan hanya kota ini yang akan berubah."

"Tetapi seluruh kerajaan."

Pada saat yang sama.

We Lin yang sedang tertidur tiba-tiba bermimpi.

Ia berdiri di tempat yang sangat gelap.

Tidak ada langit.

Tidak ada tanah.

Hanya kehampaan.

Di depannya.

Terlihat sosok bayangan mengenakan jubah hitam.

Wajahnya tidak terlihat.

Namun di lehernya tergantung liontin yang sama.

Sosok itu perlahan mengangkat tangan.

Lalu terdengar sebuah suara.

"Penjaga berikutnya..."

"...akhirnya telah ditemukan."

We Lin perlahan membuka mata.

Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat.

Mimpi itu terasa sangat nyata.

Ia lalu menoleh ke arah meja di samping tempat tidur.

Liontin tua itu masih tergeletak di sana.

Tidak bercahaya.

Tidak bergerak.

Hanya sebuah benda tua biasa.

We Lin menggaruk kepalanya pelan.

"Hm..."

"Mimpi yang aneh."

Lalu ia kembali berbaring.

Tanpa mengetahui bahwa di luar rumah.

Seseorang sedang berdiri di atas atap toko perhiasan.

Diam.

Mengawasi.

Dan tatapannya tidak pernah lepas dari jendela kamar We Lin.

Perlahan, sosok itu berbalik.

Lalu menghilang ke dalam gelap.

Seolah ia sudah mendapatkan jawaban yang dicarinya.

Pagi hari.

Sinar matahari perlahan masuk melalui jendela toko perhiasan.

We Lin membuka matanya.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Lalu menoleh ke arah meja.

Liontin tua itu masih berada di sana.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada perubahan.

"Hm..."

"Mungkin memang cuma mimpi."

Ia mengambil liontin itu.

Lalu memasukkannya ke dalam saku.

Setelah itu, ia turun ke lantai bawah.

Tetua Morcant sudah lebih dulu bangun.

Ia sedang menyapu halaman depan toko.

"Kau bangun."

"Iya."

"Mimpi buruk?"

We Lin sedikit terdiam.

"Ada mimpi aneh."

Tetua Morcant menghentikan sapunya.

"Mimpi seperti apa?"

"Ada seseorang."

"Ia menyebutku Penjaga berikutnya."

Gerakan Tetua Morcant langsung berhenti.

Namun hanya sesaat.

Ia kembali menyapu seperti biasa.

"Mungkin hanya mimpi."

"Mungkin."

jawab We Lin.

Tak lama kemudian.

Pintu toko dibuka.

Hari itu pelanggan pertama datang.

Seorang pemuda dengan pakaian sederhana.

Di pinggangnya tergantung sebuah pedang tua.

"Permisi."

"Apa di sini bisa memperbaiki artefak?"

We Lin mengangguk.

"Bisa."

Pemuda itu meletakkan sebuah gelang logam di atas meja.

"Ayahku meninggalkan benda ini."

"Tapi tidak pernah bisa digunakan."

We Lin mengambil gelang itu.

Ding.

[Artefak Rusak Terdeteksi]

[Tingkat Kerusakan: 91%]

[Terjadi Resonansi Tidak Dikenal]

We Lin berkedip.

"Hm?"

Biasanya sistem hanya menunjukkan kondisi barang.

Namun kali ini.

Ada sesuatu yang berbeda.

Tetua Morcant memperhatikan dari kejauhan.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

jawab We Lin singkat.

Ia mulai memeriksa gelang tersebut.

Sementara itu.

Di luar toko.

Seorang pria berjubah sedang berdiri di seberang jalan.

Wajahnya tertutup tudung hitam.

Tatapannya tidak pernah lepas dari We Lin.

Di tangannya terdapat sebuah kristal kecil.

Namun kristal itu perlahan retak.

Krek...

Pria itu mengepalkan tangannya.

"Benar."

"Artefak itu telah memilih pemilik baru."

Pada saat yang sama.

Di markas Hunter.

Laporan darurat kembali masuk.

"Alat pendeteksi aktif lagi."

Pria utama mengangkat kepalanya.

"Lokasi?"

"Toko perhiasan."

Ruangan langsung menjadi sunyi.

Salah seorang anggota bertanya.

"Apakah kita bergerak?"

Pria utama berpikir beberapa saat.

Lalu menggeleng.

"Tidak."

"Kali ini..."

"...kita tunggu siapa yang datang lebih dulu."

"Siapa?"

Pria itu melihat ke arah jendela.

"Orang-orang yang selama ini hanya ada di legenda."

Kembali ke toko.

We Lin memegang gelang logam itu.

Perlahan.

Ia memperbaiki bagian yang rusak.

Ding.

[Perbaikan Selesai]

Pada saat yang sama.

Liontin di dalam saku We Lin mengeluarkan getaran kecil.

Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Kecuali Tetua Morcant.

Tatapannya perlahan berubah.

Ia melihat ke arah We Lin.

Lalu ke arah saku tempat liontin itu disimpan.

Entah kenapa.

Ia merasa ada sesuatu yang berubah.

Namun ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

"Perasaanku..."

"...tidak enak."

gumamnya pelan.

We Lin mengangkat kepala.

"Hm?"

Tetua Morcant menggeleng.

"Tidak ada apa-apa."

Namun jauh di dalam hatinya.

Ia mulai merasa bahwa liontin tua itu...

Mungkin menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.

Dan mungkin.

Kedatangan We Lin ke kota ini...

Bukanlah sebuah kebetulan.

1
WER
assalamualaikum teman-teman maaf di episode ini terasa ngulang karena author lupa cek ulang episode nya, tapi tenang episode nya udah aku benerin jadi gak ada lagi ulang adegan sekali lagi maaf 🙏🙏
Clevareus
wei lin spek kulkas 🥶🧊
WER: ❄️❄️ dingin tetapi tidak kejam 🗿
total 1 replies
grimreaper
aman aja. Ada tetua yang jaga
WER: makasih bang udah support 😆👍👍
total 1 replies
SANG
Lanjutkan💪👍💪👍
SANG
Semangat💪👍
WER
assalamualaikum teman-teman coba kasih aku saran atau masukan,kritik dll supaya ceritanya lebih bagus lagi /Smile/
Quinnela Estesa
tujuan ada, tapi konflik internal dan eksternal masih belum jelas🙄 posisi tokonya seolah berada di antabaranta😌
WER: iya kak karena di episode itu aja yang yambung
total 15 replies
SANG
Lanjut ya Thor👍💪
SANG
Semangat💪
SANG
Asik banget💪👍
SANG
🍒 seru
SANG: Iya masama dek
total 2 replies
SANG
Aku kasih suka ya Thor💪👍
SANG
Aku kasih like ya Thor💪👍
SANG: Oke dek👍💪
total 2 replies
WER
maaf kalo ada yang salah kata kerena ini author ngerjain nya buru buru ✍️
WER
maaf temen temen di episode ini bakalan panjang karena author ingin cerita ini mendapatkan kontrak jadi maaf 🙏
Vida77
hiatus kah? thor
WER: gak juga besok update 😄✍️
total 1 replies
grimreaper
seratus cincin itu over power semua ga Thor?
WER: op semua bang makasih bang udah support 👍👍😆😆👍👍👍👍
total 1 replies
Clevareus
detik detik sebelum gosip panas 🗿
WER: hehh detik detik nya bang, makasih bang udah support 😆
total 1 replies
Clevareus
bro wei lin si penjual yang tidak tahu apa yang dijual 🤣🙏
Clevareus
Bro Teo benar benar ingin mencari informasi kepada orang yang baru datang ke dunianya 😭
WER: ya kan bang Teo kan gak tau kalo we Lin terlempar ke dunia lain.makasih bang udah support dan komentar 😆👍👍👍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!