NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 fitnah

Yan Shong menyaksikan selir kesayangannya bersujud di hadapan Nyonya Mu dan Nara. Sepasang mata Han Ruo kelihatan begitu merah dan membengkak, mirip mata kelinci yang sedang menderita.

Wajah rapuh wanita itu basah oleh air mata, seketika membakar amarah di dalam dada Yan Shong.

"Apa-apaan ini?!" raung Yan Shong sambil melangkah lebar memecah ruangan. Pandangan matanya menghunus tajam ke arah Nyonya Mu dan Nara.

Melihat amarah Yan Shong yang meledak, wajah Nyonya Mu seketika memucat pasi. Tubuhnya bergetar saat dia buru-buru melangkah mundur dua langkah karena ketakutan.

"Mas Shong..." panggil Han Ruo dengan suara lirih yang sengaja dibuat parau dan manja.

Dia menyeka sisa air matanya menggunakan sapu tangan, berlagak seolah baru menyadari kehadiran suaminya.

"Ada apa sebenarnya?!" Yan Shong bergegas maju, menopang lengan Han Ruo untuk membantunya bangkit berdiri.

Matanya tidak lepas menatap benci ke arah Nyonya Mu. "Apa mereka berdua menindasmu lagi? Katakan padaku!"

Nara mendengus sinis di dalam hati. Menindas Han Ruo?

Kalau Nyonya Mu punya keberanian untuk melakukan hal itu, ibunya tidak akan berakhir jadi keset dan budak di rumah ini selama belasan tahun.

"Tidak, Mas, bukan begitu. Aku cuma berniat menyuguhkan teh untuk memohon maaf pada Kakak," kilas Han Ruo sambil meremas ujung lengan baju Yan Shong, badannya sengaja dibuat bergetar seolah sedang ketakutan.

"Biarpun dulu kita yang bertunangan lebih dulu dan saling mencintai, kenyataannya Kakak yang dinikahi secara resmi pertama kali. Dulu aku masih kekanak-kanakan dan sering meributkan hal itu, jadi wajar kalau Kakak mendendam padaku. Aku cuma mau minta maaf," lanjut Han Ruo meraba emosi suaminya.

"Tapi Kakak menolak meminum teh pemberianku, dia bahkan..." Han Ruo sengaja menggantung kalimatnya sambil terisak pilu.

"Bohong! Aku sama sekali tidak bilang begitu!" potong Nyonya Mu dengan mata membelalak lebar, memandang Yan Shong dengan tatapan panik.

"Minta maaf untuk apa?! Kamu tidak punya salah apa pun pada wanita ini!" teriak Yan Shong dengan wajah memerah menahan murka.

Pria itu kemudian beralih menatap tajam istrinya. "Kalian berdua apakan dia?! Cepat bicara!"

"Mas, sudah, jangan bertanya lagi," potong Han Ruo dramatis.

Dia sengaja melepaskan pegangan tangan Yan Shong, lalu menjatuhkan lututnya kembali ke lantai kayu dengan gerakan tragis.

"Kak, tolong minumlah secangkir teh ini dan lupakan semua gesekan di antara kita. Aku cuma memohon satu hal, tolong jangan sebarkan hal-hal sensitif itu kepada orang luar lagi. Bagaimanapun juga, Kakak adalah seorang ibu yang punya anak perempuan," ratap Han Ruo memelas.

"Apa maksudmu? Apa yang dia sebarkan di luar?!" Tatapan mata Yan Shong seketika menajam, menangkap ada hal serius yang disembunyikan.

Nara menyipitkan matanya, mengamati setiap jengkal pergerakan Han Ruo dengan pandangan sedingin es.

Wanita ini benar-benar lihai. Dia sengaja memanfaatkan amarah Yan Shong untuk menggiring pria bodoh itu masuk ke dalam perangkap fitnah yang sudah disusunnya dengan rapi.

"Kak, biarpun Yan Ran dan saudara-saudaranya lahir dari rahimku, mereka semua tetap memanggilmu Ibu Pertama. Mereka itu pada dasarnya juga anak-anakmu sendiri! Kenapa Kakak harus tega membedakan status mereka dan mengecap mereka sebagai anak selir di depan orang-orang desa?" tanya Han Ruo dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.

"Kita berdua ini sama-sama mendampingi Mas Shong. Kalau kita bisa hidup rukun, bukankah rumah ini akan terasa jauh lebih damai?" lanjut Han Ruo menyudutkan Nyonya Mu.

Mulut Nyonya Mu spontan menganga karena terkejut. Dia ingin sekali menyangkal fitnah keji itu, tetapi tenggorokannya mendadak terasa tercekat parah hingga tidak ada satu patah kata pun yang berhasil lolos dari bibirnya.

Dia hanya bisa menatap heran ke arah Han Ruo yang terus memuntahkan kebohongan besar, padahal Nyonya Mu sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat sekasar itu di luar rumah.

"Keluarga kita ini cuma petani biasa di Desa Wu, buat apa meributkan status anak sah atau anak selir? Bukankah darah mereka sama-sama dari Keluarga Yan?!" cecar Han Ruo kian gencar memojokkan.

"Kakak tahu tidak, ucapan kejam Kakak di luar sana bisa mematikan masa depan Yan Ran dan yang lainnya! Kalau nanti Yan Quan berhasil lulus ujian dan menjadi cendekiawan besar, bagaimana pandangan orang-orang kota padanya? Label anak selir itu bakal menghancurkan hidup anakku!"

Tangisan Han Ruo meledak hebat layaknya bendungan yang jebol. "Kakak, kalau Kakak memang benci padaku, silakan hukum aku saja! Tapi tolong, jangan lampiaskan kebencian Kakak kepada anak-anak yang tidak berdosa. Aku memohon padamu, Kak!"

Gedebuk!

Han Ruo membenturkan dahinya ke lantai kayu dengan suara yang cukup kencang, membuat Nara refleks mengernyitkan dahi.

Nara membatin kalau ibu tirinya ini benar-benar totalitas dalam bersandiwara. Cara Han Ruo memfitnah begitu rapi dan meyakinkan, sampai-sampai kalau Nara tidak tahu watak aslinya, dia mungkin akan ikut mempercayai kebohongan itu.

Benar saja, si pria bodoh di depan mereka langsung termakan umpan.

Yan Shong yang akhirnya mengerti duduk perkara langsung meledak dalam kemarahan murni yang tak terkendali. Sepasang matanya memancarkan kebencian mendalam saat menatap lurus ke arah Nyonya Mu.

"Bagus sekali! Dasar wanita ular berhati busuk! Berani sekali kamu menyebar rumor keji untuk menghancurkan masa depan anak-anakku!" raung Yan Shong gelap mata.

Dia mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. "Kalau hari ini aku tidak menghajarmu sampai mati di sini, namaku bukan Yan Shong!"

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!