Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Penasaran Yang Tidak Terbayarkan
Di tengah lamunan Ethan memikirkan siapa pembunuh para bandit itu, salah satu prajurit medis menanyakan apa yang harus di lakukan dengan mayat ini.
"Maaf, Pak Ethan... Bagaimana dengan tindakan selanjutnya untuk mayat ini?"
Pertanyaan tiba-tiba dari salah seorang prajurit seketika memecahkan lamunan Menteri Ethan.
"Eh, maaf, Aku tadi sedang memikirkan siapa kira-kira dalang di balik pembunuhan sadis ini, dan apa motif aslinya... Eh, iya, tadi kamu bicara apa?" Ethan tersadar dari lamunan
Prajurit itu tersenyum maklum. "Pak Menteri sepertinya kelelahan karena kurang tidur ya? Ini Pak, bagaimana dengan pengurusan mayat ini?"
"Oh, bawa dan simpan dulu jasad ini ke ruangan kremasi istana. Nanti setelah mayat rekannya yang satu lagi berhasil ditemukan, kita akan mengkremasi mereka bersamaan," perintah Ethan.
Melihat para prajurit mulai membungkus jasad tersebut, Alexa tahu tontonannya sudah usai. Ia langsung berbalik dan menatap Kirana, memicu rencana mundurnya agar tidak memancing kecurigaan lebih jauh.
"Kayanya para prajurit sudah selesai menangani evakuasinya. Ayo kita balik ke kamar, Kirana. Aku ingin mengemas barang-barang bawaanku untuk segera bersiap pulang ke rumah," ajak Alexa.
Kirana tersentak, menatap temannya dengan kecewa. "Pulang? Eh, tapi kau kan baru semalam menginap di sini, Alexa? Ayolah, menginaplah lebih lama lagi di istana!"
Alexa memasang senyum bersalah, menggeleng pelan. "Maaf ya, Kirana. Aku sudah berjanji kepada Ayahku sebelum pergi kalau aku tidak akan lama-lama di sini. Lagipula, kemarin aku sudah berjanji kepada Ibuku untuk membantunya membereskan dan merapikan rumah hari ini."
Kirana menghela napas pasrah. "Yah... yaudah deh kalau begitu. Aku antar kau sampai ke gerbang depan kerajaan ya?"
"Oke, terima kasih Kirana."
Setelah Alexa mengemasi pakaiannya ke dalam tas kain kecil, kedua gadis itu melangkah bersama menuju gerbang utama istana. Namun, di dekat pos penjagaan gerbang, sosok Menteri Ethan ternyata sudah berdiri di sana berpura-pura seolah baru saja berpapasan, padahal ia sengaja menghadang untuk memeriksa satu hal.
"Eh, Tuan Putri mau ke mana?" tanya Ethan dengan raut wajah ramah yang dibuat-baik.
"Eh, Pak Menteri," sahut Kirana. "Ini, aku mau mengantar Alexa sampai ke gerbang depan. Dia sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya hari ini."
"Ya, Pak Ethan," timpal Alexa sopan.
Ethan menaikkan sebelah alisnya. "Pulang? Bukankah baru semalam kau menginap di kamar Tuan Putri, Alexa?"
"Maaf, Pak Ethan. Saya sudah memiliki janji kemarin dengan Ibu saya setelah pulang dari istana ini. Saya ingin membantu beliau merapikan seluruh isi rumah," jawab Alexa mantap dengan alasan palsu yang konsisten.
"Hmm... okelah kalau begitu," angguk Ethan pelan.
Kirana kemudian menyela, "Oh ya, bagaimana dengan perkembangan penyelidikan mayat di sungai tadi, Pak Ethan? Apa sudah ada petunjuk?"
"Kami masih menyelidiki jasad tersebut, Tuan Putri. Yah, doakan saja yang terbaik bagi keamanan Central," jawab Ethan, lalu pandangannya beralih sepenuhnya mengunci mata Alexa.
"Oh ya, maaf sekali ya Alexa... Kami mempunyai prosedur tetap di kerajaan ini, bahwa setiap tamu yang akan keluar dari lingkungan istana wajib diperiksa terlebih dahulu seluruh barang bawaannya. Soalnya, beberapa hari lalu kami pernah kecolongan perhiasan berharga yang diam-diam dibawa lari oleh mantan pelayan. Kami tidak ingin hal memalukan itu terulang kembali. Jadi, maaf ya jika ini membuatmu tidak nyaman."
Kirana langsung cemberut, membela temannya. "Pak Ethan! Alexa ini orang baik-baik, dia temanku! Jangan samakan dia dengan pencuri!"
Alexa menepuk pundak Kirana, tersenyum tenang. "Gak apa-apa kok, Kirana, aku mengerti tugas beliau. Silakan diperiksa, Tuan Ethan."
Menteri Ethan memberi isyarat kepada seorang prajurit gerbang. Prajurit itu dengan teliti membuka tas kain milik Alexa, memeriksa setiap sudut pakaian ganti yang dibawanya. Namun, hasilnya nihil. Tidak ditemukan perhiasan, senjata, ataupun barang mencurigakan milik istana.
"Ok, semuanya bersih," ucap Ethan setelah prajuritnya memberi kode aman. Sang menteri kembali tersenyum ramah. "Oh ya, nanti kapan-kapan mainlah lagi kesini ya, Alexa. Kadang Tuan Putri Kirana ini sangat kesepian di istana luas ini, hehe."
"Yeuh! Pak Ethan jangan begitu lah, bikin malu saja!" seru Kirana dengan pipi yang sedikit merona kesal.
Alexa tertawa kecil. "Hehe, saya sangat berterima kasih atas undangan hangatnya, Tuan Ethan. Jika ada waktu luang, saya pasti akan main lagi kesini. Dan saya juga sangat berterima kasih kepada pihak kerajaan atas keramahan undangan hari ini. Saya sangat menghargainya."
"Alexa, apakah kau dijemput oleh Ayahmu, atau mau pulang dengan dikawal oleh prajurit kami menggunakan kereta?" tawar Ethan menguji.
"Tidak usah repot-repot, Tuan. Saya jalan kaki saja, lagipula jaraknya tidak terlalu jauh," tolak Alexa halus. Ia lalu berbalik dan melambaikan tangannya ke arah sang putri. "Dadaah Kirana! Kita ketemu lagi di sekolah besok pagi ya!"
"Dadah Alexa! Hati-hati di jalan!" seru Kirana melambaikan tangan dengan ceria.
Sambil membawa tas kainnya, Alexa berjalan melangkah keluar menembus gerbang besi istana. Dari balik pilar gerbang, Menteri Ethan menatap punggung gadis itu yang kian menjauh dengan pandangan yang teramat pelik.
Ia memeriksa ulang hasil laporan prajuritnya di dalam benak. (Dia tidak membawa barang apa pun yang mencurigakan di dalam tasnya... dan tidak ada setitik pun bercak darah yang menempel di pakaian gaun yang dipakai sejak kemarin. Hah... semoga saja tim prajurit yang kusuruh menyisir sungai pemukiman bisa membawa pulang bukti fisik yang nyata jika memang dia terlibat...)
Kirana yang melihat menterinya melamun langsung berpamitan. "Baiklah Pak Ethan, kalau begitu saya balik ke kamar dulu ya..."
"Ah, iya. Silakan, Tuan Putri," sahut Ethan, membungkuk hormat melepas kepergian putri sulung raja.
Di sepanjang jalan raya Central yang membelah pemukiman, Alexa berjalan dengan langkah santai. Sepanjang jembatan dan tepian aliran air, matanya melihat puluhan prajurit kerajaan yang sedang sibuk menyusuri dan menyisir pinggiran sungai.
Bukannya panik, sebuah senyuman penuh kemenangan dan kelicikan justru terukir jelas di wajah manis sang mata-mata. Ia merasa sangat terkesan dengan pemikiran dan pergerakan cepat yang diambil oleh Perdana Menteri Ethan.
(Para prajurit rupanya sudah mulai menyusuri area sungai pemukiman ya?) batin Alexa dengan tawa geli yang tertahankan . (Padahal kuperkirakan tadinya jasad bandit bodoh itu tidak akan hanyut sejauh ini hingga menembus taman kerajaan. Tapi takdir tampaknya benar-benar sedang mempermudah pekerjaanku di planet ini. Hah... rencana besarku kini menjadi selangkah lebih maju.)
Alexa melirik sekilas ke arah istana . (Aku juga tidak boleh mengabaikan kecurigaan dari Menteri Ethan itu. Dia orang yang cukup tajam... Tapi, kuperkirakan Raja Nexalion juga tidak akan segera pulang dalam waktu dekat. Semua ini... justru membuat permainan penyamaran ini menjadi semakin menarik, haha...)