NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Beberapa hari berlalu dengan lambat di rumah sakit.

Berkat penanganan medis yang intensif dan ketelatenan para perawat, kondisi fisik Fatma berangsur-angsur membaik.

Luka cambukan di punggungnya mulai mengering, dan memar di pergelangan tangannya tak lagi sebiru kemarin.

Dokter akhirnya memberikan lampu hijau bagi Fatma untuk diperbolehkan pulang.

Suasana di lobi rumah sakit sore itu terasa begitu canggung namun sarat akan ketetapan hati.

Kabar mengenai jatuhnya talak satu dari Adrian kepada Fatma sudah tersebar. Hakam, yang baru saja tiba dari Yogyakarta, sudah mengetahui segalanya.

Tidak ada lagi rasa hormat yang tersisa dari Hakam untuk kakak kandungnya; kini fokusnya sepenuhnya beralih untuk melindungi wanita yang sangat dihormatinya itu.

Hakam melangkah mendekati Fatma yang sudah rapi dengan gamis dan jilbab besarnya, membawa tas pakaian kecil di tangan kirinya.

"Ayo, Mbak, aku antar. Abah sudah menunggu di rumah," ucap Hakam lembut, dengan sengaja menekankan kata 'Mbak' tanpa embel-embel statusnya sebagai adik ipar lagi.

Status hubungan darahnya dengan Adrian tidak akan mengurangi rasa baktinya untuk mengawal Fatma kembali ke pelukan keluarganya.

Fatma mengangguk pelan, memberikan senyum tulus yang sudah lama tidak terukir di wajah pucatnya.

"Terima kasih banyak ya, Kam. Kamu sudah repot-repot menjemput."

"Sama sekali tidak repot, Mbak. Ini sudah jadi kewajibanku," jawab Hakam tegas.

Sementara Hakam membimbing Fatma menuju mobilnya yang terparkir di area depan lobi, di sudut lain parkiran rumah sakit, sebuah mobil SUV hitam tampak sudah menyalakan mesinnya.

Di dalam mobil itulah garis takdir yang baru bagi tiga pria yang mencintai Fatma akan dimulai.

Adrian duduk di kursi tengah dengan tangan kanan yang masih digendong menggunakan arm sling akibat jahitan yang belum kering.

Di sampingnya, Ustaz Damar duduk dengan wajah tenang namun sedingin es, sementara Bryan berada di balik kemudi, menatap spion tengah dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Semua keperluan sudah masuk ke bagasi, Pak Adrian, Ustaz," lapor Bryan, suaranya terdengar formal namun ada nada ketegasan baru di sana.

"Ya. Jalan sekarang, Bryan. Kita menuju ke pondok pesantren Abah," perintah Ustaz Damar datar.

Beliau melirik Adrian yang sejak tadi matanya tidak lepas memandangi mobil Hakam yang perlahan bergerak meninggalkan lobi rumah sakit.

Adrian meremas celana kainnya dengan tangan kirinya yang sehat.

Dadanya sesak melihat Fatma pergi menjauh darinya, masuk ke dalam perlindungan orang lain. Namun, janji hitam di atas putih sudah ia tandatangani. Lusa yang dijanjikan telah tiba, dan hari ini, ia harus membuktikan kata-katanya di hadapan Ustaz Damar dan Bryan.

Dua mobil itu pun akhirnya bergerak membelah jalanan kota secara terpisah—satu mobil membawa Fatma menuju ketenangan dan kesembuhan batinnya, sementara mobil lainnya membawa tiga pria menuju gerbang pesantren, tempat di mana ego, cinta, dan pertobatan mereka akan diuji di bawah atap yang sama.

Gema selawat yang dilantunkan para santri lamat-lamat menyambut kedatangan Fatma di pelataran pondok pesantren.

Begitu turun dari mobil Hakam, Fatma langsung dihambur pelukan hangat oleh Umi yang sudah menahan tangis sejak mendengar kabar putrinya disiksa.

Abah berdiri di samping Umi, wajah sepuhnya tampak tegar meski sorot matanya menyimpan luka yang mendalam atas penderitaan sang putri.

Namun, suasana khidmat itu mendadak menegang ketika Fatma melihat dua orang paruh baya yang teramat ia kenali berdiri di teras kediaman Abah.

Mereka adalah kedua orang tua Adrian, yang sengaja datang dari kota setelah mendengar seluruh kekacauan dan perceraian yang terjadi.

Tidak lama berselang, mobil SUV hitam yang membawa Adrian, Ustaz Damar, dan Bryan tiba.

Ketiga lelaki itu turun dengan langkah tegap, namun membawa gemuruh hati yang berbeda.

Di bawah tatapan tajam semua orang, mereka bertiga dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu utama.

Adrian, Ustaz Damar, dan Bryan kini duduk berdampingan di atas kursi kayu jati yang panjang.

Adrian menunduk dalam, tak berani menatap wajah mertuanya—yang kini telah menjadi mantan mertua—serta kedua orang tuanya yang menatapnya dengan kekecewaan mendalam.

Abah duduk di kursi tunggal di hadapan mereka, sementara Fatma, Umi, dan kedua orang tua Adrian menyimak dari sisi ruangan.

"Adrian," panggil Abah, suaranya berat dan berwibawa, membuat seisi ruangan seketika hening.

"Berikan padaku surat perjanjian yang dulu kamu tanda tangani sebelum kamu jatuh sakit di rumah sakit."

Dengan tangan kanan yang gemetar, Adrian merogoh saku kemejanya dan menyerahkan selembar kertas berharga itu kepada Abah.

Abah menerima kertas tersebut, memandangnya sekilas, lalu tanpa ragu sedikit pun...

Sreek!

Sreek!

Abah menyobek surat perjanjian itu menjadi potongan-potongan kecil di hadapan semua orang, lalu menjatuhkannya ke atas meja.

"Surat ini dibuat dengan statusmu sebagai suami yang harus bertobat dan mendidik diri jika ingin mempertahankan istrimu. Sekarang, surat ini tidak lagi berlaku. Aku menyobeknya karena kamu sudah menjatuhkan talak, dan kamu bukan lagi suami dari Fatma, putriku," ucap Abah tegas.

Adrian memejamkan mata, hatinya mencelos melihat satu-satunya ikatan hukum yang ia miliki dengan Fatma kini telah hancur menjadi sampah.

Abah kemudian mengeluarkan selembar kertas baru dari dalam map hijau di sampingnya.

Beliau meletakkannya di atas meja, lalu menatap bergantian ke arah Adrian, Ustaz Damar, dan Bryan.

"Kalian bertiga berada di sini karena sama-sama menaruh rasa pada putriku. Dan Islam tidak melarang seorang pria baik-baik untuk meminang wanita yang merdeka setelah masa idahnya selesai. Namun, aku tidak akan membiarkan putriku jatuh ke lubang yang sama. Ini adalah 10 syarat mutlak dari aku dan Umi yang harus kalian pahami dan penuhi di pondok ini jika salah satu dari kalian ingin menjadi pendamping Fatma kelak:"

10 Syarat Mutlak dari Abah:

Kelulusan Akhlak dan Agama: Wajib menyelesaikan pendidikan kilat kitab kuning dan fikih rumah tangga di bawah bimbingan dewan guru pesantren selama minimal satu tahun, tanpa terkecuali.

Ujian Kesabaran dan Ego: Wajib mengabdi pada pesantren dengan melakukan pekerjaan kasar (seperti membersihkan lingkungan pondok dan melayani keperluan santri) untuk mengikis kesombongan dan ego keduniawian.

Buta Jabatan dan Harta: Di dalam lingkungan pondok, semua gelar duniawi—baik itu direktur, pengawal, maupun ustaz—ditanggalkan. Semua diperlakukan sama sebagai musafir yang mencari ilmu.

Mandiri secara Finansial yang Halal: Jika ingin meminang kelak, seluruh mahar dan biaya nafkah harus bersumber dari usaha yang murni halal, bukan dari hasil pemerasan, paksaan, atau bisnis yang merugikan orang lain.

Menjaga Batas Suci (Iffah): Selama masa idah Fatma belum selesai dan selama berada di pondok, dilarang keras berinteraksi berdua saja (khalwat) atau mendekati Fatma tanpa izin dari Abah.

Mendapat Restu Ibu Kandung: Bagi yang ingin meminang, wajib membawa rida penuh dari ibu kandungnya sendiri sebagai bukti bahwa ia adalah lelaki yang berbakti.

Sumpah Anti-Kekerasan: Bersedia menandatangani sumpah di atas Al-Qur'an dan hukum negara bahwa tidak akan pernah melakukan kekerasan fisik maupun verbal sekecil apa pun kepada Fatma.

Siap Menjadi Pelindung, Bukan Penguasa: Memahami bahwa seorang istri adalah amanah Allah yang harus disayangi dan dibimbing, bukan budak yang bisa diperintah atau diancam demi ego pribadi.

Rida Fatma adalah Kunci Utama: Siapa pun yang menunjukkan progres terbaik di pondok, keputusan akhir mutlak berada di tangan Fatma.

Jika Fatma menolak, maka pria tersebut harus mundur dengan ikhlas tanpa dendam.

Persaingan Sehat karena Allah: Selama di pondok, dilarang keras melakukan intimidasi, sabotase, atau perkelahian antar sesama. Jika terjadi pergesekan fisik, maka pria yang memulai akan langsung diusir dari pesantren secara tidak hormat.

Abah mengetuk meja sekali. "Kertas ini akan ditempel di dinding kamar pengabdian kalian. Pintu pondok terbuka lebar untuk kalian belajar. Namun, jika ada satu saja syarat yang kalian langgar... silakan angkat kaki dari tanah pesantren ini saat itu juga."

Ustaz Damar menjadi orang pertama yang merespons.

Tanpa ragu sedikit pun, beliau menganggukkan kepalanya takzim, melipat kedua tangannya di depan dada sebagai tanda kepatuhan mutlak pada keputusan sang kiai.

Sebagai seorang yang paham agama, beliau tahu bahwa syarat-syarat ini adalah benteng terbaik untuk menjaga kehormatan Fatma.

Di sampingnya, Adrian dan Bryan sempat saling pandang.

Ada kilat persaingan yang tidak bisa disembunyikan dari tatapan mata mereka berdua. Adrian yang terbiasa hidup mewah dan memerintah, kini harus menghadapi kenyataan akan hidup mandiri di kamar pengabdian.

Sementara Bryan, meski sudah terbiasa dengan kedisiplinan, harus menekan egonya karena kini statusnya sejajar dengan mantan bosnya.

Namun, demi satu nama yang sama, keduanya mengembuskan napas panjang lalu mengangguk mantap.

"Kami siap, Abah," ucap Adrian dan Bryan hampir bersamaan.

Abah tersenyum tipis, lalu mengetuk meja dua kali.

Beliau memanggil beberapa santri senior yang sudah menunggu di luar teras.

"Bawa ketiga tamu kita ini ke kamar pengabdian di dekat asrama santri putra. Tunjukkan tugas-tugas awal mereka untuk besok subuh."

"Baik, Abah. Mari, Ustaz, Pak Adrian, Mas Bryan, silakan mengikuti kami," ucap salah satu santri dengan sopan.

Ketiga lelaki itu pun bangkit berdiri. Ustaz Damar melangkah paling depan, diikuti Bryan, dan Adrian yang berjalan paling belakang sambil sesekali melirik lengan kanannya yang digendong perban.

Mereka melangkah keluar dari kediaman Abah, memulai babak baru yang akan mengupas tuntas kepribadian mereka yang sebenarnya.

Setelah pintu depan tertutup dan suasana ruang tamu kembali tenang, Umi langsung mengelus lembut pundak Fatma yang masih tampak lesu.

"Sekarang, ayo putri Umi harus makan dulu. Kamu harus mengembalikan tenagamu, Sayang. Di dapur, Umi sudah memasak ikan bakar kesukaanmu," ucap Umi dengan suara keibuan yang meneduhkan, mencoba mengalihkan pikiran Fatma dari ketegangan yang baru saja terjadi.

Mama Adrian, yang sejak tadi duduk diam dengan mata berkaca-kaca karena menahan rasa bersalah atas kelakuan putranya, ikut bergeser mendekati Fatma.

Wanita paruh baya itu memegang tangan Fatma dengan lembut, seolah enggan melepaskan ikatan yang telah retak itu.

"Mama juga membawakan abon sapi kesukaanmu dari kota, Fatma. Mama sengaja menyiapkannya sendiri untukmu," ucap Mama Adrian dengan suara parau.

Di dalam hatinya, ia masih teramat sangat menganggap Fatma sebagai menantu terbaiknya, terlepas dari surat cerai yang sudah dijatuhkan oleh Adrian.

Fatma menatap kedua wanita yang begitu menyayanginya itu bergantian.

Air matanya hampir kembali menetes, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa syukur yang mendalam.

"Terima kasih, Umi, Mama..." lirih Fatma, memberikan senyuman paling tulus sore itu.

Didampingi oleh Hakam, Umi, dan Mama Adrian, Fatma melangkah perlahan menuju ruang makan, meninggalkan semua beban masa lalunya di ruang tamu yang kini telah bersih dari bayang-bayang kezaliman.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!