NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: TITIK NADIR DAN GERBANG KEKUATAN PAMUNGKAS

Malam di Lembah Shrouded seolah kehilangan detak jantungnya. Seluruh pasokan udara bersih di sekitar gerbang barat Desa Shrouded mendadak sirna, menyisakan hampa yang mencekam dan rasa dingin yang langsung menusuk hingga ke tulang sumsum. Penguasa Gorgan, sang tiran yang selama puluhan tahun mengunci tempat itu dalam teror, kini berdiri di atas tumpukan reruntuhan batu dengan aura kegelapan yang meluap-luap. Rasa murka karena kehilangan Rhea—jantung dari seluruh rantai kutukan sihir hitamnya—telah mengubahnya menjadi monster yang sepenuhnya kehilangan akal sehat.

"Semut-semut tidak tahu diri!" Raungan Gorgan bergaung berat, menggetarkan tanah dan membuat pepohonan mati di sekeliling lembah tumbang satu per satu. "Kalian pikir, hanya dengan memutuskan seutas rantai, kalian bisa berlari dari takdir kegelapan yang telah aku gariskan di tanah ini?! Tidak akan pernah!"

Dengan satu sentakan masif yang membelah tanah, Gorgan mengangkat kapak raksasa berduri miliknya tinggi-tinggi ke udara. Bilah logam berat yang berkarat itu tiba-tiba bergetar hebat. Kabut hitam yang semula menyelimuti seluruh lembah, bergerak memutar dengan kecepatan tinggi, tersedot masuk ke dalam pori-pori logam kapak tersebut seolah-olah senjata itu adalah lubang hitam yang haus akan kehidupan. Bilah kapak itu mendesis panas, memancarkan pendaran ungu gelap dan hitam yang pekat, menciptakan bau belerang dan kematian yang menyengat udara.

Targetnya tidak berubah. Sepasang mata merah menyala di balik topeng besi Gorgan terkunci lurus, mutlak, dan penuh kebencian pada sosok Mayang. Bagi sang tiran, gadis dengan jubah beludru merah tua itu adalah anomali. Pendaran cahaya fajar Aethelgard yang keluar dari tubuh Mayang adalah racun yang bisa menghancurkan seluruh imperium kegelapannya. Mayang harus dimusnahkan terlebih dahulu, dicabik hingga tak bersisa, sebelum ia membantai seluruh warga desa.

Wusssss!

Gorgan melompat ke udara, membelah malam, dan mengayunkan kapak raksasanya ke bawah dengan kekuatan penuh. Ayunan itu menciptakan gelombang kejut berbentuk sabit hitam raksasa yang melesat cepat, membelah angin dan meretakkan tanah murni di bawahnya.

Namun, Mayang tidak berdiri sendirian. Sebelum gelombang kehancuran itu sempat menyentuh ujung gaunnya, sebuah bayangan hitam melesat secepat kilat di depannya. Dion! Pemburu kabut itu melompat maju tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Tubuh kekarnya yang tinggi besar menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol seperti tali tambang yang ditarik kencang. Dengan satu raungan bariton yang memecah kesunyian malam, Dion menyilangkan belati perak besarnya di atas kepala, pasang badan sebagai perisai hidup yang mutlak.

KLANGGGGGGGGG!!!

Benturan hebat antara bilah kapak raksasa milik Gorgan dan belati perak Dion menciptakan dentangan logam yang begitu memekakkan telinga, bergema hingga ke ujung lembah. Percikan api magis berwarna hitam dan ungu membubung tinggi ke langit malam, menerangi wajah keduanya yang terkunci dalam pertarungan hidup dan mati.

Dion menahan seluruh beban hantaman itu. Namun, kekuatan sihir terlarang Gorgan kali ini berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda. Kedua kaki Dion seketika melesek masuk ke dalam tanah yang membeku hingga sebatas mata kaki. Tanah di sekelilingnya hancur, retak membentuk pola jaring laba-laba. Sisa luka parah akibat siksaan di dasar jurang yang belum pulih sepenuhnya membuat seluruh sendi dan otot di tubuh Dion menjerit kesakitan. Tubuh kekarnya mulai bergetar hebat di bawah tekanan berton-ton dari kapak Gorgan. Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar dari sela-sela bibirnya yang terkatup rapat, menetes membasahi tanah beku di bawahnya.

"Dion!" pekik Mayang. Jantungnya serasa berhenti berdetak di dalam dada. Melihat darah yang mengalir di dagu Dion, seluruh dunia Mayang seolah runtuh. Rasa ngeri yang teramat sangat mencengkeram tenggorokannya.

"Jangan... jangan bergerak, Mayang! Tetap... tetap di belakang punggungku!" geram Dion dari sela-sela giginya yang berlumur darah. Pandangannya sempat mengabur selama beberapa detik, namun sepasang mata abu-abu badainya tetap menyalang tajam, menolak untuk tumbang. Rasa posesif dan dorongan purba untuk melindungi wanita di belakangnya adalah satu-satunya hal yang menahan kesadarannya agar tidak runtuh.

Gorgan menyeringai kejam di balik topeng besinya. Ia menumpukan seluruh berat badannya pada gagang kapak, menekan Dion semakin dalam ke dalam tanah. "Pengkhianat lemah! Kau pikir kau siapa?! Kau hanyalah anjing pemburu yang kubesarkan di dalam kabut! Kau tidak akan pernah bisa menahan kekuatanku hanya dengan sebilah pisau mainan itu! Matilah bersama pelacur fajarmu!"

Perisai kabut ungu yang diciptakan Dion mulai bergetar. Retakan-retakan kecil berwarna hitam mulai muncul di permukaan pelindungnya, menyebarkan hawa busuk sihir terlarang yang siap menembus dan meremukkan dada Dion.

Melihat pria yang dicintainya, pria yang selalu berdiri paling depan untuk menepis setiap bahaya darinya, kini berada di ambang kematian demi dirinya, sesuatu di dalam diri Mayang meledak. Rasa takut, cemas, dan cinta yang teramat mendalam melebur menjadi satu kekuatan emosional yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jiwanya menolak untuk pasrah. Dia tidak akan membiarkan Dion hancur lagi. Dia tidak akan membiarkan kegelapan merenggut pria ini darinya.

"Tidak... Tidak akan pernah!" bisik Mayang.

Mayang membuang keranjang bunga Lunaria-nya hingga hancur berantakan. Ia mengabaikan semua peringatan keselamatan, merosotkan jubah beludru merah tuanya hingga melonggar di bahu, dan melangkah maju menerobos badai angin magis. Dengan seluruh keberanian yang tersisa, Mayang merangsek masuk ke dalam ruang sempit di belakang Dion. Ia melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling pinggang kekar Dion, memeluk pria itu dari belakang dengan sangat erat, menempelkan seluruh tubuh dan dadanya pada punggung kokoh Dion yang terasa panas dan bersimbah keringat.

"Kita hadapi ini bersama, Dion. Aku tidak akan membiarkanmu menanggung beban ini sendirian lagi. Buka matamu!" seru Mayang, suaranya yang semula lembut kini bergaung dengan nada suci, penuh wibawa, dan menggetarkan jagat raya.

Sentuhan fisik yang begitu intim dan penuh kepasrahan itu menjadi katalisator mutlak. Ikatan takdir yang selama ini tersembunyi di antara mereka berdua akhirnya terhubung sempurna. Energi dari inti Aethelgard di dalam tubuh Mayang tidak lagi mengalir seperti aliran sungai kecil, melainkan meledak seperti bendungan yang runtuh, mentransfer seluruh pasokan sihir murni langsung ke dalam aliran darah Dion melalui detak jantung mereka yang saling beradu.

DEG!

Waktu seolah berhenti berputar. Udara yang semula sedingin es mendadak berubah menjadi hangat dan murni. Dari titik di mana tubuh mereka menempel, sebuah pilar cahaya emas murni yang sejati melesat keluar, menembus kabut hitam Gorgan dan membubung tinggi membelah langit malam Lembah Shrouded. Cahaya itu begitu terang, begitu megah, hingga radius beberapa kilometer di sekeliling desa seketika menjadi terang benderang seperti siang hari. Setiap helai kabut hitam kutukan yang terkena cahaya ini langsung lenyap menguap menjadi udara kosong.

Di dalam pelukan Mayang, Dion merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia alami seumur hidupnya. Rasa sakit di sekujur ototnya menguap seketika, luka-luka dalamnya menutup dalam hitungan detik, dan setiap sel di tubuhnya dipenuhi oleh kekuatan baru yang tak terbatas. Tato naga ungu di lengan kanannya bermutasi secara gaib; pendaran ungunya kini melebur serasi dengan api emas milik Mayang.

Perisai mereka yang semula retak, dalam sekejap bertransformasi menjadi pelindung raksasa berbentuk naga fajar berlapis baja emas murni.

CRAAAAASSHHHHH!!!

Kapak raksasa milik Gorgan yang sedang menekan ke bawah, tidak mampu menahan benturan energi baru tersebut. Bilah logam hitam terlarang itu seketika retak seribu jalur, sebelum akhirnya meledak hancur berkeping-keping menjadi debu logam yang tak bersisa. Gorgan berteriak histeris saat gelombang balik dari ledakan emas-ungu itu menghantam dadanya dengan telak. Tubuh raksasanya terlempar puluhan meter ke belakang, berguling-guling di atas tanah sebelum akhirnya menghantam dinding batu hingga hancur. Zirah besi hitam kebanggaannya pecah berkeping-keping, memperlihatkan tubuhnya yang gemetar dan terbakar oleh sisa cahaya suci.

"T-Tidak mungkin... Ini... Ini adalah kekuatan fajar sejati yang legendaris..." tatih Gorgan dengan suara parau yang dipenuhi ketakutan mendalam. Ia mencoba berdiri, namun seluruh persendiannya mati rasa. Senjata pamungkasnya telah musnah.

Di tengah gerbang desa, pilar cahaya perlahan menyusut, menyisakan pendaran aura emas tipis yang menyelimuti tubuh Dion dan Mayang. Dion perlahan menurunkan belati peraknya. Napasnya memburu, bukan karena lelah, melainkan karena gejolak kekuatan luar biasa yang masih mengalir di nadinya. Ia membalikkan tubuhnya perlahan di dalam dekapan Mayang, menatap gadis itu yang masih memeluknya dengan napas yang terengah-engah dan mata yang masih menyala emas murni.

Sebuah senyuman tipis, penuh rasa bangga, dan kilatan posesif yang teramat dalam muncul di wajah tampan Dion. Ia mengangkat tangan kirinya, mengusap sisa keringat di pipi Mayang dengan jemarinya yang kasar namun lembut, lalu mengeratkan pelukan mereka, mengunci tubuh ramping Mayang di dada bidangnya.

"Kau luar biasa, Mayang-ku," bisik Dion rendah di dekat kening gadis itu, suaranya yang serak terdengar begitu memikat dan penuh kepemilikan mutlak. "Sekarang, mari kita selesaikan tikus tanah ini."

Mayang mendongak, menatap mata abu-abu badai Dion yang kini telah kembali jernih. Rasa lelahnya seolah sirna demi melihat pria itu kembali bugar dan berada di sisinya. Ia mengangguk pelan, menyandarkan jemarinya di atas dada Dion yang berdetak kuat. "Ya. Bawa kita menuju kemenangan, Dion."

Dion berbalik kembali menghadap Gorgan yang merangkak ketakutan di tanah. Di sekeliling mereka, ratusan monster The Stalker yang tersisa mulai melangkah mundur, melolong ketakutan melihat kehancuran tuan mereka. Dinamika pertempuran telah berbalik total. Sang pemburu dan sang gadis fajar kini berdiri sebagai penguasa medan laga yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!