NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ardevar Media Studio

Gedung Ardevar Media Studio menjulang tinggi di tengah ibukota, dinding kaca hitamnya memantulkan cahaya pagi yang terang.

Mireya mendongak cukup lama.

Dadanya berdebar.

Ini berbeda jauh dari agensi lamanya yang sempit dan kusam.

Di sini, bahkan lobi saja terasa seperti dunia lain.

Lantai marmer mengilap.

Layar hologram besar menampilkan trailer drama terbaru.

Beberapa wajah artis terkenal terpampang di poster digital yang berganti-ganti.

Mireya tanpa sadar menggenggam ujung tasnya erat.

“Kenapa? Takut?” tanya Rhea sambil melirik.

Mireya tersenyum kaku.

“Sedikit… tempatnya bikin lututku lemes, Kak.”

“Bagus. Berarti kamu sadar ini kesempatan besar.”

Rhea melangkah lebih dulu, sepatu haknya berdetak rapi di lantai.

“Ayo. Jangan bikin aku malu. Aku yang bawa kamu ke sini.”

Mireya langsung mengangguk cepat dan mengikuti dari belakang.

Lift privat membawa mereka ke lantai sebelas.

Pintu terbuka.

Lorong panjang dengan kaca bening di kedua sisi menampilkan beberapa studio.

Ada yang sedang latihan dance.

Ada yang membaca naskah.

Ada juga yang sedang pemotretan.

Mireya sampai menoleh ke kanan kiri.

Matanya berbinar.

“Wah…”

Rhea menahan senyum tipis.

“Jangan kayak anak desa baru lihat kota.”

“…aku emang anak daerah, Kak.”

Rhea memutar mata, tapi tidak membalas.

Mereka berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan:

SCREEN TEST ROOM B

Seorang staf pria menyambut mereka.

“Selamat pagi, Manager Rhea.”

“Ini kandidat yang akan dites?”

“Iya.” jawab Rhea singkat.

“Tolong mulai dari dasar. Aku mau lihat sendiri.”

Mireya menelan ludah.

Dasar?

Dasar yang kayak apa?

Begitu masuk, ruangan itu cukup luas.

Di tengah ada tanda silang putih di lantai.

Di depan ada tiga kamera.

Lampu sorot.

Dan meja panjang tempat dua orang evaluator duduk.

Salah satunya bahkan langsung membuka terminal hologram untuk mencatat.

Mireya makin tegang.

“Berdiri di tanda itu.”

Salah satu evaluator menunjuk ke tengah.

Mireya menurut.

“Kita mulai dari tes ekspresi kamera.”

“Hah?”

Rhea dari belakang langsung menjelaskan.

“Ini basic. Mereka mau lihat wajahmu hidup atau nggak di kamera.”

“Oke… siap.”

tes pertama: ekspresi

“Ekspresi senang.”

Mireya langsung menarik napas dan tersenyum.

Bukan senyum dipaksa.

Senyum hangat yang perlahan membuat matanya ikut berbinar.

Evaluator mengangguk.

“Bagus.”

“Sekarang sedih.”

Seketika wajah Mireya berubah.

Tatapannya meredup.

Bibirnya sedikit bergetar.

Dalam hitungan detik, matanya sudah tampak berkaca-kaca.

Rhea yang melihat dari belakang sedikit mengangkat alis.

Cepat.

Anak ini cepat masuk emosi.

“Marah.”

Mireya menegang.

Tatapannya menajam.

Rahangnya mengeras.

Namun matanya justru terlihat terluka.

Seperti marah yang ditahan.

Evaluator mulai saling pandang.

tes kedua: improvisasi adegan

“Kita lanjut.”

Salah satu evaluator berdiri.

“Bayangkan ibumu sedang sakit keras.”

Mireya membeku.

Kalimat itu menusuk terlalu dekat.

“Dan kamu baru diberi tahu kalau obatnya terlalu mahal.”

“Coba improv satu menit.”

Ruangan mendadak hening.

Mireya menarik napas.

Lalu pelan-pelan…

dia masuk.

“Katakan… masih ada cara lain, Dok…”

Suaranya gemetar.

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Jangan bilang tidak ada harapan…”

Air matanya jatuh begitu saja.

Natural.

Bukan dibuat-buat.

“Dia cuma… cuma satu-satunya keluarga yang aku punya…”

Ruangan hening total.

Bahkan evaluator yang tadi santai kini berhenti mengetik.

Rhea menatap Mireya cukup lama.

— dia nggak sedang akting.

dia mengambil perasaannya sendiri.

Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

...****************...

Ruangan masih hening setelah adegan sebelumnya.

Salah satu juri—seorang wanita berusia sekitar empat puluhan dengan rambut disanggul rapi—menutup terminal hologramnya pelan.

Tatapannya jatuh pada Mireya.

“Aku pernah mendengar sedikit tentang latarmu.”

Mireya yang masih berdiri di tengah tanda silang langsung menegang.

“Katanya kamu hanya hidup berdua dengan ibumu yang sakit.”

Suara wanita itu tidak terdengar merendahkan.

Justru lebih seperti sedang mengamati.

“Jadi adegan tadi mungkin terlalu mudah untukmu.”

Mireya menelan ludah.

Mudah?

Kalau dibilang mudah… itu justru terlalu nyata.

Juri itu lalu bersandar di kursinya.

“Sekarang kita ganti.”

Matanya menajam sedikit.

“Aku ingin melihat seberapa jauh kemampuanmu.”

Rhea yang berdiri di belakang juga mulai serius.

Ia menyilangkan tangan di dada.

“Nah, ini baru menarik.”

Juri itu mengetuk meja pelan.

“Bayangkan kamu adalah seorang putri.”

“Putri?”

“Iya.”

Wanita itu melanjutkan dengan tenang.

“Bukan putri yang lembut dan manis.”

“Tapi putri dari kerajaan bisnis.”

“Lahir dalam kekayaan.”

“Cantik, berkuasa, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan sejak kecil.”

Mireya terdiam.

Juri itu tersenyum tipis.

“Dia sombong.”

“Angkuh.”

“Dan begitu memesona sampai orang memaklumi kesombongannya.”

“Karena saat dia berjalan, semua mata tertuju padanya.”

“Bisa?”

Dadanya kembali berdebar.

Karakter seperti ini…

jauh sekali dari dirinya.

Namun justru itu inti tesnya.

Mireya menarik napas panjang.

“Baik.”

Awalnya ia menutup mata.

Membayangkan.

Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak pernah kekurangan.

Tidak pernah dipandang rendah.

Tidak pernah dipaksa bertahan hidup.

Seseorang yang lahir di puncak.

Lalu saat matanya terbuka—

auranya berubah.

Bahu yang tadi sedikit menunduk kini tegak sempurna.

Dagu terangkat.

Tatapan matanya menjadi dingin.

Senyumnya tipis.

Bukan ramah.

Tapi elegan.

Ia melangkah satu langkah ke depan.

Lambat.

Penuh keyakinan.

Seolah ruangan itu memang miliknya.

“Apa?”

Suaranya lembut.

Namun ada nada tajam yang menusuk.

“Kau pikir semua orang berhak berbicara padaku?”

Juri yang tadi memberi skenario sedikit mengangkat alis.

Bagus.

Lanjut.

Mireya mengangkat tangan, seolah sedang memandang seseorang dari atas.

Tatapannya turun.

Meremehkan.

“Kalau kau ingin berada di dekatku, setidaknya belajarlah berdiri dengan pantas.”

Senyumnya terangkat sedikit.

Cantik.

Menusuk.

Angkuh.

“Jangan membuatku melihat sesuatu yang memalukan.”

Ruangan mendadak hening.

Bahkan staf di samping kamera sampai saling pandang.

Aura gadis itu…

berubah total.

Rhea yang melihat dari belakang tanpa sadar memicingkan mata.

anak ini… dia cepat menangkap karakter.

Padahal baru beberapa detik lalu dia menangis sebagai putri yang putus asa.

Sekarang— dia seperti benar-benar seorang putri yang lahir di puncak dunia.

Juri itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Tapi kurang.”

Mireya berkedip.

“Kurang…?”

“Kurang satu hal.”

Wanita itu mengetuk meja.

“Kesombonganmu masih terlihat seperti dibuat.”

“Seorang putri sejati tidak perlu berusaha terlihat sombong.”

“Dia hanya perlu… ada.”

Kalimat itu membuat Mireya membeku.

Rhea langsung ikut bicara.

“Dengar baik-baik.”

“Karakter seperti itu tidak sadar bahwa dirinya sombong.”

“Baginya dunia memang berputar di sekitarnya.”

Mata Mireya langsung membesar.

Oh.

Dia paham.

Kalau tadi dia bermain sombong.

Sekarang dia harus merasa berhak.

...****************...

Mireya terdiam.

Kalimat Rhea masih terngiang di kepalanya.

Dia tidak sadar dirinya sombong.

baginya dunia memang berputar di sekitarnya.

Dunia berputar…

di sekitarnya…

Entah kenapa, sebuah wajah langsung muncul di kepalanya.

Rambut hitam rapi.

Tatapan mata dingin.

Rahang tegas.

Jas gelap yang selalu sempurna.

Cara dia berdiri.

Cara dia memandang orang.

Cara dia berbicara seolah semua keputusan memang sudah pasti benar.

…Zevran.

Mata Mireya langsung membesar.

YA AMPUN.

ini bukannya sombong…

tapi vibe-nya mirip banget Zevran

Dia langsung membayangkan.

Kalau Zevran adalah perempuan.

Cantik.

Elegan.

Kaya dari lahir.

Dibesarkan di puncak dunia.

Maka hasilnya pasti seperti karakter ini.

Seorang putri bisnis yang bahkan tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang tunduk.

Napas Mireya melambat.

Ia memejamkan mata sebentar.

Membayangkan sosok itu.

Cara Zevran mengangkat dagu.

Cara dia memandang orang tanpa terburu-buru.

Cara semua orang otomatis memberi jalan saat dia lewat.

Ya.

Ini dia.

Saat Mireya membuka mata lagi—

auranya berubah.

Kali ini jauh lebih tenang.

Lebih mengerikan justru.

Bukan sombong yang dibuat-buat.

Tapi kesan seseorang yang sejak lahir memang berada di atas.

Ia melangkah maju.

Pelan.

Anggun.

Tatapannya turun ke arah kursi kosong di depan.

Seolah ada seseorang berdiri di sana.

Bibirnya melengkung tipis.

Senyum yang cantik.

Namun terasa dingin.

“Kau memanggilku?”

Suaranya lembut.

Nyaris manis.

Tapi ada sesuatu di dalamnya.

Jarak.

Batas.

Hierarki.

Ia mengangkat tangan perlahan, menyentuh ujung rambutnya.

Gerakannya halus.

Terlatih.

Seolah terbiasa dilayani.

Tatapannya turun.

Bukan menghina.

Lebih buruk.

Ia seperti sedang menilai sesuatu yang tidak penting.

“Oh…”

Bibirnya sedikit terangkat.

“Jadi kau orang yang dimaksud.”

Hening.

Lalu Mireya memalingkan wajah sedikit.

Dagu terangkat.

“Baiklah. Bicara.”

“Aku tidak punya banyak waktu.”

Suaranya tenang.

Tidak meninggi.

Tidak tajam.

Tapi justru itu membuat semua orang di ruangan merasakan tekanan.

Seolah kata-katanya adalah perintah.

Bukan permintaan.

Ruangan mendadak hening.

Salah satu staf kamera sampai lupa berkedip.

Juri wanita itu menatap Mireya lebih lama.

Rhea perlahan menurunkan tangan yang tadinya bersedekap.

Matanya menyipit.

ini… beda.

Sangat beda.

Kali ini Mireya tidak sedang “bermain sombong”.

Dia benar-benar menjadi seseorang yang merasa dirinya berada di atas.

Dan yang paling mengerikan—

itu terasa sangat natural.

Juri itu akhirnya bersuara pelan.

“…bagus.”

Mireya masih mempertahankan ekspresinya.

Lalu juri itu melanjutkan,

“Sekarang aku mengerti.”

“Aura ini…”

wanita itu menatapnya tajam.

“Kamu mengambil referensi dari seseorang, bukan?”

Jantung Mireya langsung nyaris copot.

ASTAGA.

KETAHUAN.

...****************...

Rhea memandang Mireya cukup lama.

Tatapannya tajam, seperti sedang membedah sesuatu.

“Bagaimana kamu bisa secepat itu menangkap karakter?”

Mireya berkedip.

Ia menunduk sedikit, lalu tersenyum kikuk.

“…aku nggak tahu juga, Kak.”

Rhea mengangkat alis.

Mireya lalu memegang ujung bajunya pelan.

“Dari kecil aku suka memperhatikan orang.”

“Cara mereka bicara… cara mereka marah… cara mereka tersenyum…”

Ia berhenti sebentar, seperti mencari kata yang tepat.

“Kadang aku cuma lihat orang ngobrol, tapi lama-lama aku bisa kebayang kalau aku ada di posisi mereka.”

Rhea terdiam.

Mireya lanjut, kali ini sedikit malu.

“Dan… aku gampang kebawa.”

“Hah?”

“Kalau aku dekat sama orang yang ceria, aku jadi ikut ceria.”

“Kalau dia ngomongnya lebay, aku suka ikut lebay.”

“Kalau dia tenang, aku juga jadi tenang.”

Ia tertawa kecil.

“Kadang aku baru sadar setelah orang lain bilang aku berubah.”

Ruangan mendadak hening.

Salah satu juri malah melepas kacamatanya sedikit.

Rhea memicingkan mata.

Lalu pelan-pelan sudut bibirnya terangkat.

“Oh.”

“Jadi kamu tipe yang menyerap.”

Mireya memiringkan kepala.

“Menyerap?”

Rhea mengangguk.

“Kamu belajar dari observasi.”

“Bukan dari teori.”

“Bukan dari kelas.”

“Kamu melihat, merasakan, lalu meniru sampai terasa alami.”

Ia mengetuk meja dengan jari.

“Bakat seperti ini jarang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!