NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hadiah untuk honey

Vivian hampir muntah.

Bukan karena jijik. Tapi karena mual. Mual pagi hari yang gak bisa dielakkan. Bau ayam lada hitam yang tadi dia masak dengan bangga, sekarang malah kayak gas beracun yang nyerang hidungnya.

Kenapa Vivian yang asli di novel gak mual sih? batinnya sambil nelan ludah pahit. Sampai-sampai baru ketahuan hamil setelah kandungannya 7 bulan. Gak masuk akal.

Rugi. Sungguh kerugian besar. Kalau dari awal ketahuan hamil, kan bisa langsung pegang kartu AS. Gak perlu drama bundir segala.

Sekarang Vivian harus nahan. Nahan mual, nahan pusing, nahan pengen ngacir ke toilet. Dia masih senyum. Senyum dipaksa. Senyum tipis yang kalau dilihat dosen akting pasti dikasih nilai E.

Makanan di atas meja sama sekali tak disentuh. Mau minum air putih aja ragu. Takutnya baru masuk seteguk, langsung keluar semua. Bisa kacau rencananya.

"Vivian, kenapa tidak makan?"

Suara lembut Bu Ratna ngebelah hening meja makan.

Vivian kaget. Dia noleh. Mata mertuanya itu... khawatir. Tulus.

Biarpun selama ini Vivian asli sering sekali menyakiti hatinya. Ngerendahin di depan tamu, ngejawab ketus, pernah juga nyiram bunga hadiah Bu Ratna pake air panas. Tapi melihat progres Vivian ke arah lebih baik hari ini, hati Bu Ratna sedikit luluh.

Ditambah lagi, Vivian adalah menantu yang dijodohkan oleh mendiang suaminya, Pak Wijaya. Waktu masih hidup, Pak Wijaya pegang tangan Bu Ratna, pesen, "Jaga Vivian ya, Ma. Dia gak punya siapa-siapa." Bu Ratna akan selalu menyayangi Vivian untuk menghormati mendiang suaminya. Meski sakit, meski nyesek.

"Em, aku... aku sudah makan," jawab Vivian sambil tersenyum maksa. Bibirnya ditarik sampai ujung. Padahal keringat dingin segede buliran jagung udah muncul di pelipis, di tengkuk, di seluruh punggungnya. Kaos dalemnya pasti udah basah.

Dia mau muntah. Sumpah, mau banget. Tapi takut semua orang curiga.

Vivian tak ingin kehamilannya terbongkar saat ini. Belum ada dukungan. Bisa saja semua orang di rumah berpikir Vivian tak mau cerai karena ingin anaknya jadi pewaris. Sementara rumor "Eric mandul" yang disebar Vivian asli masih belum reda. Bisa saja keluarganya mengira Vivian hamil anak Doni, lalu bersekongkol buat nguras harta warisan.

Fitnahnya dobel. Sakitnya kuadrat.

Belum saatnya. Sabar, Nak, bisiknya ke perut yang masih rata. Kita main cantik dulu.

"Permisi, Nyonya... Pak Doni menunggu Anda di luar."

Suara pelayan bernama Yuni tiba-tiba muncul dari ambang pintu ruang makan. Napasnya ngos-ngosan, wajahnya panik.

DEG.

Semua orang di meja makan teperanjat. Sendok Cika jatuh. Gelas Cindy berhenti di tengah jalan. Bu Ratna refleks pegang dada. Eric? Eric yang dari tadi diem, sekarang rahangnya mengeras. Matanya jadi gelap.

"Si Doni ini, mau apa dia datang?" Vivian mendengus. Emosinya yang tadi ditahan karena mual, sekarang meledak.

BRAK!

Dia gebrak meja sampe piring bergetar. Empat orang di meja itu kaget. Cika sampe ngik kecil.

"Pacarnya pasti minta uang lagi," Chindy merutuk, bibirnya monyong setengah meter. "Ya Tuhan, tolong singkirkan saja manusia ini dari muka bumi. Bikin malu keluarga!"

Sementara Vivian tak mendengarkan ocehan Chindy. Darahnya udah naik ke ubun-ubun. Doni. Si benalu. Si pria matre yang bikin Vivian asli mati konyol di kontrakan.

Dia dorong kursinya. Kaki kursi berdecit nyaring. Tanpa bilang apa-apa, dia jalan ke arah halaman. Langkahnya cepet, tangannya terkepal kesal di samping badan. Celemeknya udah dilepas, tapi aura "ibu-ibu ngamuk" nya masih nempel.

Di halaman depan, berdiri seorang pria.

Badannya tegap, pake kemeja slim fit dibuka dua kancing biar keliatan kalung emasnya. Rambutnya klimis, minyak wangi nyengat sampe dua meter. Tapi... tinggi dia gak lebih dari Eric. Rahangnya gak setegas Eric. Hidungnya gak semancung Eric. Matanya gak sedalam Eric.

Singkatnya: B-grade. KW super. Gak ada apa-apanya dibanding suami Vivian asli.

Doni. Pria matre level dewa.

"Sayang, apa kamu marah?" ucap Doni, senyumnya ngebuka, gigi putihnya kinclong. Sok cool. "Aku bawakan hadiah untukmu."

Tangannya ngeluarin kotak beludru merah dari saku. Dibuka. Di dalemnya kalung emas putih dengan liontin merah delima. Keliatan mahal. Buat ukuran Doni.

Vivian cuma tersenyum meremehkan. Bibirnya miring.

Barang seperti itu, di kamarnya ada banyak. Dilempar-lempar juga gak sayang. Eric ngasih tiap minggu kayak ngasih permen. Yang ini? Keliatan kayak barang diskonan di mal.

"Sudah ya, Doni," sahut Vivian, nadanya datar, dingin, gak ada manja-manjanya kayak Vivian asli. "Aku gak mau urusan sama kamu lagi. Putus. Tamat. The End."

Doni kaget. Matanya membulat. "Sayang? Kamu... kamu ngomong apa?"

"Katanya kamu ingin beli kalung ini," sahut Doni cepet, nada suaranya mulai kesal. Pria itu kesel karena semalam Vivian blokir semua kontaknya. WA, telepon, IG, sampe TikTok. "Ini sudah aku belikan. Harganya sangat mahal, tau! Aku sampai jual jam tanganku!"

Vivian malah ketawa kecil. "Oh, jadi jam tanganmu dijual? Kasihan. Terus sekarang mau minta ganti ke aku?"

"Bu... bukan gitu!" Doni panik.

Vivian udah muak. Dia gak mau debat sama sampah masyarakat di pagi hari. Bisa-bisa mualnya kumat lagi.

Tiba-tiba, ide gila muncul di otaknya. Senyumnya ngembang. Tapi senyum iblis.

"HONEY...!!!" Vivian teriak. Kenceng banget. Suaranya melengking, nyaring, sampe terdengar ke seisi rumah. Burung di pohon sampe terbang kaget.

Dari arah samping rumah, terdengar suara gedebukan. GUK! GUK!

Tak lama, seekor anjing hitam muncul. Besar. Gede banget. Jenis Doberman, badannya berotot, telinganya tegak, matanya tajam. Namanya Honey. Tapi kelakuannya gak sweet sama sekali. Itu anjing penjaga rumah Wijaya yang paling galak. Cuma nurut sama Eric dan... anehnya, sama Vivian asli kalau lagi bawa daging.

Honey lari kecil ke arah Vivian, lidahnya melet-melet.

"Honey, kemarilah," ucap Vivian dengan suara selembut mungkin. Dia jongkok. "Paman kasih kamu hadiah, loh."

Sebelum Doni paham apa yang terjadi, Vivian udah gercep. Dia rampas kotak kalung dari tangan Doni. Doni bengong.

Vivian buka kotaknya, ngambil kalung liontin merah delima itu. Terus dengan santai, dia kalungin ke leher Honey. Klik. Pas. Malah keliatan cocok. Mewah.

"Kalung seperti ini tak cocok untukku," ucap Vivian, sambil berdiri, nepuk-nepuk kepala Honey. Dia natap Doni dengan senyum menghina. "Ini lebih cocok untuk anjing. Karena diberikan oleh anj_ng."

Muka Doni merah padam. Urat di lehernya keluar. "Sayang, kamu ngomong apa sih?! Kamu gila ya?!"

Vivian gak jawab. Dia malah ngelus punggung Honey. "Honey, cepat... terima kasih ke Paman," ucapnya, terus dorong bokong Honey pelan ke arah Doni.

Seolah paham perintah, Honey langsung pasang kuda-kuda.

GUK! GUK! GRRRRHHHH!!!

Anjing besar itu lari secepat kilat ke arah Doni. Giginya keliatan, air liurnya netes. Badannya yang besar dan suara gonggongannya bikin nyali Doni ciut sampai ke dengkul.

"ANJ_NG! AWAS KAU VIVIAN!" ancam Doni, suaranya melengking kayak banci. "Siang nanti akan aku pastikan kamu sujud minta maaf di depanku!"

Tapi teriakannya gak guna. Dia udah lari kocar-kacir, sepatunya lepas satu, sambil dikejar Honey ngitari air mancur taman. "TOLONG! AMPUUN! ANJ*NG GILA!"

Vivian ngakak. Ngakak puas. Ngakak sampe perutnya sakit. Bahkan rasa mual yang dari tadi nyiksa langsung hilang kayak ditelan bumi. Lega banget.

"Rasain! Benalu!" teriaknya sambil tepuk tangan.

Dia gak sadar, dari tadi ada 3 pasang mata yang ngintip dari jendela lantai dua ruang makan.

Bu Ratna, Cika, sama Eric. Mereka diem, melongo.

Mereka liat semua. Liat Vivian bentak Doni. Liat Vivian kalungin kalung mahal ke anjing. Liat Vivian ketawa lepas.

Bu Ratna nutup mulutnya. "Ya Allah... apa dia masih Vivian yang kemarin?" bisiknya gak percaya.

Cika cuma bisa mangap. "Kak Vivian... keren banget..."

Dan Eric? Eric bersedekap. Alisnya berkerut. Tapi sudut bibirnya... sedikit, sedikit banget, hampir gak keliatan... terangkat.

Istri gilanya ini, kayaknya, udah diganti orang lain.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!