Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Pagi itu, suasana di lobi utama mansion Widjaja kembali memanas, namun bukan karena urusan bisnis, melainkan karena drama perpisahan satu hari yang dibuat oleh Aurora. Sebuah koper hitam milik Anggara sudah siap di samping pintu, dan Langit sudah berdiri tegap dengan seragam safari hitamnya yang rapi, tampak sangat profesional—seolah-olah kejadian "biologi" semalam tidak pernah terjadi.
Aurora, yang masih mengenakan piyama sutra dibalut outer tipis, berpegangan erat pada lengan seragam Langit, matanya dibuat sesedih mungkin.
"Mas... masa kamu tega sih ninggalin aku? Ini kan baru sehari kita jadi pengantin baru yang sah di rumah ini. Nggak bisa diganti Pak Bambang aja apa yang nemenin Papa?" rengek Aurora dengan nada manja yang bisa melelehkan es kutubun, tapi tidak dengan hati Anggara Widjaja.
Anggara yang sedang membetulkan letak dasinya menoleh dengan tatapan tajam. "Aurora, kamu jangan manja! Langit itu kerja, bukan main! Agenda Papa di luar kota hari ini padat, dan Papa butuh Langit untuk mengurus protokol dan keamanan."
Aurora mengerucutkan bibirnya, menoleh ke arah Langit yang hanya bisa diam membeku dalam posisi siapnya. "Ih, Papa apaan sih? Kayak nggak pernah muda aja. Mas... Papa tuh sirik banget tahu nggak, soalnya Mama Melati nggak pernah se-manja aku ke Papa."
Perdebatan di Teras: Ajudan di Tengah Badai
Langit berdehem pelan, mencoba tetap menjaga wibawanya di depan sang mertua sekaligus atasannya itu. Ia menatap Aurora dengan tatapan lembut, namun tersirat ketegasan.
"Ra, cuma sehari. Besok malam Mas sudah sampai rumah lagi," bisik Langit pelan, berusaha melepaskan kaitan tangan Aurora di lengannya dengan halus.
"Sehari itu lama, Mas! Dua puluh empat jam, seribu empat ratus empat puluh menit! Kamu tahu nggak betapa sepinya kamar itu kalau nggak ada kamu?" seru Aurora tanpa malu, membuat Pak Bambang yang sedang memanaskan mesin mobil di depan pura-pura sibuk memeriksa ban.
Bintang, si ajudan junior yang berdiri di dekat pintu, hanya bisa menunduk sambil menahan senyum. Ia tahu persis betapa kakunya Langit jika sudah didebat oleh Aurora di depan umum.
"Aurora, cukup!" tegur Anggara lagi. "Langit, masuk ke mobil sekarang. Kita sudah telat sepuluh menit gara-gara dramanya istrimu ini."
"Siap, Pak," jawab Langit kaku. Ia menoleh ke Aurora sekali lagi. "Mas berangkat dulu. Jaga kesehatan, jangan telat makan."
"Nggak mau! Cium dulu baru boleh berangkat!" tantang Aurora sambil menunjuk pipinya.
Langit melirik Anggara yang sudah mendengus frustrasi. Wajah sang ajudan kaku itu mulai berubah warna menjadi merah jambu. "Ra... ada Bapak... nggak enak."
"Bodo amat! Papa kan juga sering cium Mama kalau mau berangkat ke kantor. Masa aku nggak boleh?" Aurora tetap keras kepala, kakinya dihentak-hentakkan ke lantai marmer.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Elang muncul dengan kemeja kantor yang sudah rapi, memegang segelas jus jeruk di tangannya.
"Gila ya, pagi-pagi udah denger suara toa masjid pindah ke teras," celetuk Elang sambil bersandar di kusen pintu. "Ra, lepasin si Langit. Kasihan dia, mukanya udah kayak kepiting rebus gitu loh. Lagian, lo mau Langit dipecat Papa gara-gara nggak profesional?"
"Kak Elang diem deh! Urusin aja tuh sekretaris baru Kakak yang katanya galak itu!" balas Aurora sengit.
Elang tertawa mengejek. "Langit, kalau gue jadi lo, gue bakal seneng banget ke luar kota. Setidaknya telinga lo dapet istirahat dari teriakan dia selama dua puluh empat jam. Telinga Papa aja sampai harus disumpal kapas, apalagi lo yang ada di jarak satu sentimeter."
"Kakak jahat banget sih!" Aurora hampir melempar bantal hias ke arah Elang kalau tidak ditahan oleh Langit.
"Langit! Mobil!" Anggara memberikan perintah terakhir dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.
Langit mengangguk patuh. Sebelum benar-benar melangkah, ia membungkuk sedikit dan berbisik di telinga Aurora. "Nanti malam Mas telepon lewat video call. Janji. Jangan bikin rusuh di rumah selama Mas nggak ada."
"Janji ya?" Aurora mulai melunak, matanya berkaca-kaca (yang entah beneran atau akting).
"Janji."
Langit akhirnya bisa berjalan menuju mobil. Ia membukakan pintu untuk Anggara, lalu masuk ke kursi depan di samping Pak Bambang. Begitu mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan pelataran mansion, Aurora masih berdiri di teras sambil melambaikan tangan dengan dramatis.
"MAS LANGIT! JANGAN LIRIK-LIRIK CEWEK LAIN DI SANA YA! AWAS AJA!" teriak Aurora yang suaranya bergema di seluruh halaman.
Di dalam mobil, Anggara hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memijat keningnya. "Langit, kamu itu sebenarnya ngasih pelet apa ke anak saya? Kok dia bisa se-obsesif itu?"
Langit yang sedang memasang sabuk pengaman kembali kaku. "Mohon maaf, Pak. Saya sendiri juga bingung."
Pak Bambang yang menyetir akhirnya tertawa kecil. "Itu namanya cinta, Pak Anggara. Langit ini kan diam-diam menghanyutkan. Di luar kaku kayak beton, di dalem... ya kita semua denger sendiri lah semalam."
"Pak Bambang!" seru Langit protes, membuat tawa pecah di dalam mobil tersebut, kecuali Langit yang hanya bisa menatap jalanan dengan wajah yang masih terasa panas.
***
Setelah mobil yang membawa Papa Anggara dan Mas Langit hilang dari pandangan, suasana hati Aurora yang tadinya mendung seketika berubah menjadi mode profesional. Meskipun statusnya adalah nyonya muda Widjaja, Aurora tetaplah seorang model papan atas yang tidak mau mencampuradukkan urusan ranjang dengan urusan karier—setidaknya saat kamera sudah mulai menyala.
Di lantai atas, Mayang, asisten pribadinya yang sudah setia menemani sejak awal karier Aurora, sedang sibuk merapikan tas perlengkapan kosmetik dan beberapa pasang sepatu bermerek.
"Ayo, Non Aurora! Kita sudah terlambat lima belas menit. Nanti Kak Rio bisa ngamuk lagi, Non tahu sendiri kan kalau manajer kamu itu sudah pasang muka singa, nggak ada yang berani mendekat," teriak Mayang dari ambang pintu kamar.
Aurora keluar dari walk-in closet dengan gaya santai, namun pancaran auranya tetap megah. "Iya, Kak May! Bentar, aku lagi cari ikat rambut yang kemarin Mas Langit belikan. Kok nggak ada ya?"
"Aduh, Non! Ikat rambut bisa beli lagi, tapi kalau jadwal Kak Rio yang geser, satu agensi bisa gempar. Ayo!" Mayang menarik tangan Aurora dengan gemas.
Aurora hanya bisa pasrah. "Iya, iya, Kak May. Mas Langit pergi, eh sekarang aku malah diomelin Kak May. Nasib, nasib..."
Di dalam mobil menuju lokasi pemotretan, Mayang sibuk membacakan jadwal. "Hari ini kita foto temanya outdoor, ya, Non. Lokasinya di Taman Hutan Kota yang baru itu."
"Outdoor lagi, Kak?" Aurora mengeluh sambil menyandarkan kepalanya ke jendela. "Duh, panas nggak ya? Kemarin aku baru saja perawatan kulit, nanti kalau belang Mas Langit bisa pangling pas pulang."
Mayang tertawa kecil sambil mengoleskan lip balm ke bibir Aurora. "Makanya, nanti jangan banyak mengeluh. Kak Rio sudah pesan konsepnya Nature Goddess. Jadi Non harus kelihatan menyatu sama pohon dan bunga-bunga. Lagian, Mas Langit pasti makin cinta kalau lihat istrinya makin cantik kena sinar matahari pagi."
"Bisa aja deh Kak May," sahut Aurora dengan pipi yang merona tipis.
Begitu sampai di lokasi, seorang pria dengan kacamata hitam besar dan pakaian yang sangat modis—Kak Rio—sudah berdiri sambil berkacak pinggang di samping peralatan lighting.
"AURORA WIDJAJA! Kamu pikir ini jam karet apa?!" teriak Rio begitu melihat Aurora turun dari mobil. "Kita ini mengejar golden hour! Kalau matahari sudah terlalu tinggi, bayangannya jadi jelek di wajah kamu yang mahal itu!"
"Maaf, Kak Rio... tadi ada drama perpisahan sedikit sama Mas Ajudan," ucap Aurora dengan wajah tanpa dosa, sambil memberikan senyum manis andalannya.
Rio mendengus, namun matanya tetap memeriksa penampilan Aurora dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Mas Ajudan, Mas Ajudan... mentang-mentang baru sah. Ya sudah, May! Cepat bawa dia ke tenda make-up. Aku mau dia kelihatan segar, ethereal, tapi tetap punya sisi berani. Jangan kelamaan!"
"Siap, Kak Rio!" jawab Mayang sigap.
Tiga puluh menit kemudian, Aurora keluar dari tenda dengan gaun chiffon berwarna hijau sage yang melambai tertiup angin. Rambutnya dibiarkan terurai dengan hiasan bunga-bunga kecil. Begitu ia berdiri di tengah taman di antara pepohonan besar, suasana seketika berubah.
"Oke, Ra! Masuk posisi!" Rio mengarahkan kamera besarnya. "Bayangkan kamu itu peri hutan yang lagi menunggu kekasihnya. Tatapannya jangan kosong, kasih sedikit kerinduan di sana!"
Aurora langsung berpose. Ia menekuk satu kakinya, menyentuh batang pohon dengan jemarinya yang lentik, dan memberikan tatapan sayu ke arah lensa.
Cekrek! Cekrek!
"Bagus! Gorgeous!" Rio berteriak puas. "Lagi, Ra! Sekarang coba duduk di rumput itu. Anggap saja rumput itu bahu suami kamu, kasih ekspresi nyaman tapi tetap elegan!"
Mendengar kata 'suami', Aurora otomatis tersenyum sangat tulus. Bayangannya langsung melayang pada Langit.
"Wah, gila! Ekspresi ini yang aku mau!" Rio terus menekan tombol shutter. "Dapet banget aura pengantin barunya! May, lihat tuh anak asuh kamu, kalau lagi kangen emang auranya beda ya!"
Mayang yang berdiri di pinggir lapangan sambil memegang botol air minum tertawa. "Iya, Kak Rio. Itu namanya kekuatan cinta Mas Ajudan!"
Di tengah sesi pemotretan, tiba-tiba beberapa fans dan orang lewat mulai berkerumun di pinggir area yang sudah dipasangi garis pembatas.
"Itu Aurora Widjaja kan? Yang nikah sama ajudan papanya?" bisik-bisik orang di sekitar mulai terdengar.
Aurora sempat terganggu, ia sedikit melirik ke arah kerumunan. Kak Rio langsung menyadari itu. "Fokus, Aurora! Jangan dengerin laler hijau! Kamu itu profesional!"
"Maaf, Kak Rio. Habisnya mereka berisik banget," keluh Aurora pelan.
"May! Mana keamanan?" teriak Rio.
"Lagi diatur, Kak Rio! Tenang!" Mayang berlari-lari kecil mengoordinasikan staf keamanan lokasi.
Aurora kembali fokus. Ia mengganti posenya, kali ini lebih berani dengan menatap tajam ke arah kamera sambil memegang helai rambutnya. Ia ingin menunjukkan bahwa meski ia sedang merindu, ia tetaplah Aurora yang kuat dan mandiri.
Saat jam istirahat makan siang, Aurora langsung menyambar ponselnya. Ia menjauh dari kerumunan, duduk di bawah pohon yang agak sepi.
"Kak May, tolong dong jagain jangan sampai Kak Rio lihat aku main hp," pinta Aurora.
"Iya, Non. Tapi sebentar saja ya, nanti Kak Rio bisa meledak lagi."
Aurora segera melakukan video call ke nomor Langit. Hanya butuh dua kali nada sambung, wajah kaku suaminya muncul di layar. Langit tampaknya sedang berada di dalam mobil, masih dengan wajah seriusnya.
"Mas..." Aurora memanggil dengan nada manja yang khas.
"Iya, Ra. Lagi apa? Kok pakai baju hijau begitu? Kamu di mana?" tanya Langit beruntun, suaranya terdengar cemas.
"Lagi pemotretan outdoor, Mas. Panas banget di sini. Kamu tega ya ninggalin istrinya kepanasan begini demi Papa," adu Aurora sambil memajukan bibirnya.
Langit tampak menghela napas, ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya. "Kerja, Ra. Jangan manja. Pakai sunblock-nya yang banyak. Mas nggak mau kamu sakit."
"Mas... kangen..."
"Baru beberapa jam, Ra."
"Biarin! Pokoknya nanti malam Mas harus gantiin waktu aku yang hilang hari ini!"
Tiba-tiba suara Rio menggelegar dari kejauhan. "AURORA! ISTIRAHAT SELESAI! AYO KERJA LAGI!"
Aurora tersentak. "Duh, singa agensinya sudah bangun. Mas, aku kerja dulu ya! Love you, Mas Ajudan kaku!"
"Iya, love you too, Ra. Fokus kerjanya," jawab Langit sebelum menutup telepon.
Aurora kembali ke set dengan semangat baru. Meski ia dan Langit masih harus menabung untuk rumah impian mereka, meski mereka masih tinggal di bawah atap Papa Anggara yang penuh aturan, bagi Aurora, setiap lelahnya hari ini adalah untuk masa depan mereka.
"Oke, Kak Rio! Aku siap! Mau gaya apa lagi? Jungkir balik juga aku jabanin!" seru Aurora penuh energi, membuat Rio menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib model kesayangannya itu.
***
Mood banget cegil satu ini 🤣🤣