NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana di dalam kamar rawat Vina berubah drastis. Jika sebelumnya ruangan itu terasa menyesakkan oleh aroma obat dan ketegangan, kini suara tawa kecil mulai terdengar menyelinap di antara bunyi alat medis.

Aldi dan Dafa benar-benar menjadi bintang panggung sore itu. Mereka berdiri di samping tempat tidur Vina, memperagakan gerakan konyol seolah sedang berada di pentas komedi.

"Vin, lo tahu nggak kenapa donat tengahnya bolong?" tanya Aldi dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.

Vina menggeleng pelan, ada binar geli di matanya yang mulai kembali hidup.

"Karena kalau tengahnya diisi, itu namanya bakpao, bukan donat! Sama kayak hati gue, kalau nggak ada tawa dari lo, rasanya bolong kayak donat," celetuk Aldi yang langsung disambut sorakan "huuuu" dari teman-temannya.

" apasih, garing " ledek vina, namun dengan tawa kecil milik nya

Dafa tidak mau kalah, ia menimpali dengan lelucon receh lainnya yang membuat Vina akhirnya tertawa lepas, sebuah pemandangan yang membuat semua orang di ruangan itu bernapas lega.

Sementara itu, di sofa panjang, Gavin dan Rian tampak sangat serius. Mereka bukan sedang merenung, melainkan sedang terjebak dalam duel sengit permainan game online di ponsel masing-masing.

"Rian! Cover gue dari kiri! Jangan biarin mereka masuk!" seru Gavin setengah berbisik, berusaha tidak mengganggu kenyamanan Vina namun tetap kompetitif.

"Sabar, Vin! Gue lagi healing nih! Lo jangan maju sendirian kayak jagoan!" balas Rian dengan jempol yang bergerak secepat kilat.

Dara duduk dengan tenang di sisi tempat tidur. Sesekali ia memotong kecil buah apel dan menyuapkannya dengan sabar kepada Vina. "Makan lagi ya, Vin. Biar pipi lo nggak pucat lagi, biar kalau Aldi melucu, lo punya tenaga buat ketawa," ucap Dara lembut yang dibalas anggukan patuh oleh Vina.

Di sudut dekat pintu, Ayah Vina berdiri bersama Pak Surya dan Bu Tia. Sang ayah tak henti-hentinya menyeka sudut matanya, merasa sangat bersyukur melihat putrinya bisa kembali tersenyum di tengah trauma yang begitu hebat.

"Terima kasih, Pak Surya, Bu Tia. Saya tidak menyangka teman-teman sekolahnya begitu peduli," ucap Ayah Vina tulus.

Pak Surya mengangguk dengan wibawa yang tenang. "Mereka anak-anak baik. Kami di sekolah akan memastikan lingkungan yang aman untuk Vina saat dia kembali nanti."

Bu Tia tersenyum, namun matanya sesekali melirik ke arah pintu. "Bu Raisa sepertinya masih di mushalla. Mungkin beliau sedang menenangkan diri sejenak. Kejadian hari ini memang sangat menguras emosi, apalagi beliau yang paling depan membela Vina tadi."

ucapan bu tia di benarkan oleh pak surya. Orang tua vina bersyukur karena masih ada orang yang mau membantu keluarga mereka dengan senang hati

......................

Suasana hangat di dalam kamar rawat itu perlahan mulai mereda saat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Raisa melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah yang tampak lebih segar setelah dari mushalla, meski sisa-sisa kelelahan tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dari matanya.

Ia berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan di depannya dengan senyum haru, melihat Vina yang tertawa kecil karena ulah Aldi dan Dafa. Namun, sebagai guru, ia tahu kapan waktu untuk beristirahat.

"Anak-anak, cukup dulu ya untuk hari ini," suara Raisa terdengar lembut namun tegas, memecah keriuhan kecil di sudut ranjang.

Aldi yang sedang memeragakan gerakan silat konyol langsung berhenti, sementara Gavin dan Rian serentak mematikan layar ponsel mereka.

"Yah, Bu... sebentar lagi, dikit lagi menang nih," keluh Rian pelan, namun ia tetap memasukkan ponselnya ke saku saat melihat tatapan Raisa.

"Jam besuk akan segera tutup," lanjut Raisa sambil mendekat ke arah Vina. Ia mengusap punggung tangan Vina dengan penuh kasih.

"Vina juga butuh istirahat total supaya besok kondisinya jauh lebih stabil. Tenang saja, besok-besok kalian boleh ke sini lagi."

Dara segera merapikan sisa buah-buahan dan meletakkannya di nakas. "Ibu benar. Vin, kita pulang dulu ya. Jangan lupa dihabiskan susunya."

Vina mengangguk pelan, tatapannya kini jauh lebih tenang. "Makasih ya semuanya... hati-hati di jalan."

Pak Surya dan Bu Tia juga mulai beranjak. "Mari, anak-anak. Bapak antar kalian sampai ke depan," ujar Pak Surya sambil memberikan kode kepada Gavin dan kawan-kawan untuk segera bergerak.

Satu per satu mereka berpamitan kepada orang tua Vina. Raisa menunggu hingga murid-muridnya keluar dari ruangan. Sebelum ia sendiri melangkah pergi, Ayah Vina sempat menahan langkahnya sebentar.

"Terima kasih banyak, Bu Raisa. Kalau bukan karena Ibu yang mendesak anak-anak ini datang, mungkin Vina masih akan sangat tertutup," bisik Ayah Vina dengan mata berkaca-kaca.

"Sama-sama, Pak. Vina kuat, dia hanya butuh pengingat bahwa dia tidak sendirian," jawab Raisa tulus.

Saat Raisa berjalan keluar menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi, ia tidak menyadari bahwa di kejauhan, dua orang pria berpakaian gelap tengah mengawasinya dari balik pilar.

......................

Lobi rumah sakit sudah mulai sepi saat Raisa melangkah keluar dari lift. Langkah kakinya yang teratur bergema di atas lantai marmer yang dingin. Namun, baru beberapa meter ia berjalan menuju pintu keluar, sebuah suara berat dan berwibawa menghentikan langkahnya.

"Bu Raisa."

Raisa menoleh dan mendapati Dokter Fatih tengah berdiri di dekat meja resepsionis, masih mengenakan kemeja kerjanya namun jas putihnya sudah tersampir di lengan. Sorot matanya tajam, mengamati sekeliling lobi dengan waspada sebelum kembali menatap Raisa.

"Dokter Fatih? Anda belum pulang?" tanya Raisa sedikit terkejut.

Fatih tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Tunggu saya di sini. Saya akan ambil mobil, lalu saya antar Anda pulang."

Raisa mengerutkan kening, merasa tawaran itu sangat tiba-tiba. "Terima kasih, Dokter. Tapi tidak perlu. Saya sudah berencana memesan taksi daring. Lagipula arah rumah kita mungkin berbeda."

"Sudah malam, dan suasana di luar sedang tidak kondusif," potong Fatih cepat. Intuisi tajamnya sebagai dokter yang terbiasa membaca situasi darurat menangkap kehadiran dua pria asing yang tampak terlalu lama berdiam diri di sudut parkiran sejak tadi.

"Jangan membantah. Tunggu di kursi itu, lima menit lagi saya kembali ke lobi."

Raisa menghela napas, harga dirinya sebagai wanita mandiri sedikit terusik. "Dokter, saya menghargai perhatian Anda, tapi saya benar-benar bisa pulang sendiri. Saya terbiasa—"

"Raisa," Fatih menyebut namanya tanpa imbuhan Bu, suaranya merendah namun mengandung nada yang sangat tidak terbantahkan. "Ini bukan permintaan, tapi perintah demi keamanan Anda. Saya tidak punya waktu untuk berdebat sementara perasaan saya sedang tidak enak melihat situasi di luar sana. Duduk, dan tunggu saya."

Raisa terdiam. Ia belum pernah melihat Fatih seserius ini di luar urusan medis. Aura kepemimpinan pria itu begitu kuat hingga Raisa kehilangan kata-kata untuk menolak lebih jauh. Tanpa menunggu jawaban lagi, Fatih berbalik dan berjalan cepat menuju akses parkir dokter.

Raisa akhirnya duduk di kursi tunggu lobi dengan perasaan campur aduk. Ia sempat melirik ke arah luar kaca besar, dan baru menyadari ada sebuah mobil hitam dengan mesin menyala yang terparkir di area gelap yang tidak seharusnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, menyadari bahwa mungkin kekhawatiran si dokter es itu ada benarnya.

Hanya dalam hitungan menit, mobil sedan hitam milik Fatih berhenti tepat di depan lobi. Fatih menurunkan kaca jendela, menatap Raisa dengan isyarat mata agar ia segera masuk.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!