Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebakaran
Lampu jalanan yang masuk melalui celah gorden memberikan pencahayaan monokromatik di dalam kamar sempit Sophie. Ketegangan baru muncul setelah pintu terkunci; bukan lagi ketegangan karena maut, melainkan karena ruang pribadi yang kini terinvasi oleh kehadiran Maximilian.
"Aku akan tidur di sofa. Kau tidurlah di ranjangmu," ucap Max dengan nada final, seolah ia sedang memberikan perintah di ruang rapat. Namun, ia meringis saat mencoba meregangkan bahunya yang masih terbebat perban.
Sophie menatap Max dengan tangan bersedekap. "Tuan Hoffmann, sofa itu bahkan tidak cukup untuk menampung setengah dari panjang kaki Anda. Dan Anda sedang terluka. Jika jahitan Anda terbuka karena tidur meringkuk di sana, saya yang akan disalahkan oleh dokter."
"Lalu apa maumu? Aku tidak akan membiarkan wanita yang menjaga nyawaku tidur di lantai sementara aku menguasai ranjangnya," balas Max, matanya berkilat penuh dominasi. Sifat posesifnya muncul bahkan dalam hal sekecil ini; ia ingin memastikan Sophie nyaman, namun dengan caranya yang memaksa.
"Maka kembalilah ke rumah sakit," tantang Sophie dingin.
Max tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Sophie terdesak ke pinggiran ranjangnya sendiri. "Aku tidak akan pergi. Dan aku tidak akan membiarkanmu kedinginan di sofa. Kita berdua orang dewasa, Sophie. Tidurlah di sisi kiri, aku di kanan. Jangan membantah lagi."
Sophie terdiam, menyadari bahwa berdebat dengan Max saat pria ini sedang dalam mode obsesif adalah sia-sia. Dengan helaan napas panjang, ia akhirnya mengalah. "Baiklah, tapi jangan berani melewati batas tengah."
Ranjang kecil itu terasa semakin sempit saat tubuh besar Max berbaring di sana. Sophie berbaring membelakangi Max, tubuhnya tegang seperti dawai biola, sementara Max berbaring terlentang dengan satu tangan di belakang kepala, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Hanya ada suara detak jam dan napas mereka yang saling bersahutan. Aroma parfum Max—campuran antara kayu cedar dan sedikit aroma rumah sakit—mulai menguasai indra Sophie.
Tiba-tiba, Sophie merasakan tempat tidurnya bergerak. Tanpa peringatan, tangan Max melingkar di pinggang Sophie, menarik tubuh wanita itu mundur hingga punggungnya menempel rapat pada dada bidang Max.
"Tuan Hoffmann..." Sophie memprotes, mencoba melepaskan tangan itu, namun cengkeraman Max mengeras secara posesif.
"Diamlah. Aku kedinginan," bisik Max di tengkuk Sophie. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Sophie meremang. "Biarkan seperti ini. Aku hanya ingin memastikan kau tidak lari ke mana-mana."
Sophie membeku. Di satu sisi, otaknya memperingatkan bahwa ini adalah posisi yang sangat berbahaya bagi misinya. Namun di sisi lain, kehangatan tubuh Max memberikan rasa aman yang aneh—rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kehancuran keluarganya.
Max membenamkan wajahnya di antara helai rambut Sophie, menghirup aroma vanila yang menenangkan dari rambutnya. "Kau milikku malam ini, Sophie."
Sophie tidak menjawab. Ia tetap menjaga batasannya dengan tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak lagi meronta. Di balik kegelapan, matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan. Di bawah selimut yang sama, ia merasakan detak jantung Max yang kuat di punggungnya.
Ironis. Pria yang sedang mendekapnya dengan begitu penuh kasih adalah putra dari pria yang ingin ia hancurkan. Dan pria yang sedang memeluknya ini juga tidak tahu bahwa beberapa inci dari tempat mereka berbaring, di dalam saku mantel Sophie, tersimpan data yang bisa meruntuhkan dunianya.
...****************...
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Berlin, namun badai sudah berkecamuk di dalam ruang kerja Richard Hoffmann. Cahaya biru dari layar tablet di atas meja mahagoninya memantulkan gurat kemarahan yang membuat wajah pria itu tampak seperti ukiran batu yang retak.
Laporan dari orang suruhannya baru saja masuk: Subjek utama tidak kembali ke rumah sakit maupun kediamannya. Ia menghabiskan malam di apartemen target.
BRAK!
Richard menghempaskan gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Cairan merah sisa wine memercik ke karpet mahal, tampak seperti noda darah segar yang melambangkan kemurkaannya.
"Bodoh! Kau benar-benar sudah kehilangan akal, Maximilian!" geram Richard dengan suara rendah yang bergetar karena emosi.
Pikiran Richard berputar liar. Baginya, tindakan Max bukan sekadar pemberontakan seorang putra kepada ayahnya, melainkan sebuah ancaman eksistensial bagi seluruh imperium yang ia bangun di atas kebohongan. Jika Max mulai terikat secara emosional dengan Sophie, maka tinggal tunggu waktu sampai rahasia sepuluh tahun lalu—rahasia tentang Eleonor dan sabotase terhadap Hans—terbongkar oleh orang dalam.
Ia membayangkan Max bersandar di bahu Sophie, di dalam apartemen kusam yang seharusnya sudah rata dengan tanah bertahun-tahun lalu. Baginya, itu adalah penghinaan tertinggi. Putri dari wanita yang menolaknya kini sedang menjerat putra tunggalnya.
Richard segera meraih ponselnya dan menelpon sang algojo yang gagal melakukan tugasnya semalam.
"Kau membiarkan dia masuk ke sana?" desis Richard saat sambungan terhubung. "Aku tidak peduli jika anakku ada di sana. Jika dia tidak keluar dalam satu jam, bakar gedung itu. Buatlah seolah-olah terjadi kebocoran gas. Aku tidak akan membiarkan benih-benih Adler tumbuh kembali di samping darah dagingku."
"Tapi Tuan, keselamatan Tuan Muda Max—"
"Lakukan saja!" potong Richard dengan kejam. "Max akan selamat jika dia berada di pihak yang benar. Jika dia memilih berada di sarang musuh, maka dia harus merasakan panasnya api yang sama."
Richard memutus sambungan telepon. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah Neukölln dengan tatapan iblis yang haus darah. Baginya, Sophie Adler bukan lagi sekadar asisten; wanita itu adalah hantu dari masa lalu yang harus dikubur hidup-hidup sebelum ia meruntuhkan segalanya.
...****************...
Pukul 04:45 pagi. Cahaya kelabu fajar mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Sophie. Maximilian terbangun lebih dulu. Rasa sakit di bahunya sudah jauh mereda, namun sensasi hangat dari tubuh Sophie yang sempat bersandar di dekatnya semalam meninggalkan kesan protektif yang aneh di hatinya.
Ia bergerak sangat perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak membangunkan wanita yang kini tampak begitu tenang dalam tidurnya. Max berniat mencari air minum di dapur sebelum ia pergi sesuai janji. Namun, saat ia hendak beranjak dari sisi ranjang, matanya tertuju pada sudut kamar yang gelap—tepat di dinding beton di samping meja rias Sophie.
Max menyipitkan mata. Ia berdiri dan melangkah mendekat. Di sana, sebuah papan kaca besar yang bersandar pada dinding memantulkan cahaya fajar yang pucat.
Jantung Max seolah berhenti berdetak saat ia berdiri tepat di depan papan itu.
Di atas kaca tersebut, tertulis nama ayahnya: Richard Hoffmann, dilingkari dengan tinta merah tebal yang tampak seperti noda darah. Garis-garis putih menjalar seperti jaring laba-laba, menghubungkan nama ayahnya dengan catatan teknis yang Max kenali sebagai data rahasia perusahaannya: Legacy-Internal, Blocked Records, dan sebuah diagram aliran dana ke Lutz-Logistics.
"Apa-apaan ini?" desis Max pelan, suaranya bergetar antara amarah dan keterkejutan yang luar biasa.
Ia menyentuh tulisan tangan Sophie yang rapi namun tajam. Di pojok bawah papan, ia membaca catatan yang menghantam egonya hingga hancur: "Richard: Sang Penipu. Ayah: Korban."
Kesadaran menghantam Max dengan telak. Sophie tidak pernah luluh padanya. Kedekatan mereka, perhatian di rumah sakit, bahkan kelembutan semalam—semuanya hanyalah pion dalam permainan catur Sophie untuk menghancurkan ayahnya. Max merasa seperti orang bodoh yang baru saja menyerahkan kunci hatinya kepada seorang mata-mata yang sedang menyiapkan tiang gantungan untuk keluarganya.
Baru saja Max hendak berbalik untuk mencengkeram bahu Sophie dan menuntut penjelasan, indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing.
Bau gosong.
Awalnya tipis, namun dalam hitungan detik, aroma asap yang menyengat mulai merembes masuk melalui celah bawah pintu kamar. Max menoleh ke arah pintu. Ia melihat kepulan asap kelabu yang tebal mulai memenuhi langit-langit kamar.
"Sophie! Bangun!" teriak Max, mengabaikan papan kaca itu sejenak karena insting pelindungnya masih lebih kuat daripada amarahnya.
Sophie tersentak bangun, matanya membelalak melihat Max berdiri di depan papan rahasianya dengan wajah yang campur aduk antara murka dan panik, sementara asap mulai memenuhi ruangan.
"Max, apa yang—"
"Ada api, Sophie! Apartemen ini terbakar!" Max menyambar lengan Sophie, menariknya paksa dari ranjang. Suaranya menggelegar di antara bunyi kretek kayu yang mulai dilalap api dari luar kamar.
"Ayah! Ayahku di ruang tengah!" jerit Sophie. Wajahnya yang tadi masih mengantuk kini berubah menjadi topeng horor. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Max, tenaganya mendadak menjadi dua kali lipat karena panik. "Lepaskan aku, Max! Ayahku tidak bisa berjalan!"
Max melihat api mulai menjilat daun pintu kamar. Ia tahu tidak ada waktu untuk bertanya soal papan kaca atau pengkhianatan sekarang. Jika mereka tidak bergerak dalam hitungan detik, mereka semua akan mati terpanggang.
"Tetap di belakangku!" perintah Max. Ia menyambar selimut tebal, membasahinya dengan sisa air di teko nakas seadanya, dan menyampirkannya ke bahu Sophie.
Max menendang pintu kamar hingga terbuka. Pemandangan di depan mereka sangat mengerikan; ruang tengah sudah dipenuhi api yang berkobar dari arah pintu depan, seolah-olah seseorang sengaja menyiramkan bensin di sana. Di tengah ruangan, Hans Adler terlihat berusaha menggapai kursi rodanya yang terguling, terbatuk-batuk hebat di tengah kepulan asap hitam.
Udara di dalam apartemen itu bukan lagi oksigen, melainkan jelaga panas yang membakar paru-paru. Suara reruntuhan langit-langit kayu yang terbakar menciptakan dentuman ritmis yang mengerikan. Sophie terbatuk hebat, matanya perih dan berair, namun ia terus merangkak mengikuti Max yang menerjang kobaran api di ruang tengah.
"Ayah!" jerit Sophie saat melihat Hans sudah terkulai lemas di lantai, tangannya masih berusaha menggapai kursi rodanya yang kini mulai dijilat api.
Max tidak membuang waktu. Meski bahunya yang terluka berdenyut seakan ditarik paksa, ia membungkuk dan mengangkat tubuh Hans Adler dengan satu sentakan kuat. Hans yang setengah sadar sempat membuka matanya, menatap wajah Max dengan sisa-sisa kesadarannya. Ia melihat wajah yang sangat mirip dengan Richard Hoffmann—pria yang menghancurkannya—namun kali ini, pria itu sedang mendekapnya untuk menyelamatkannya.
"Pegang erat, tuan Adler! Jangan lepaskan!" geram Max, suaranya parau karena asap.
"Max, lewat sini! Pintu balkon!" Sophie berteriak sambil menunjuk ke arah pintu kaca di ujung ruangan. Api sudah memblokir jalan menuju pintu utama, menjadikan balkon di lantai empat itu sebagai satu-satunya harapan.
Mereka berlari menembus koridor api. Sebuah balok kayu yang membara jatuh tepat di antara Max dan Sophie.
"Sophie!" raung Max.
Sophie melompat menghindari balok itu, helai rambutnya sempat tercium bau sangit karena panas yang ekstrem. Ia berhasil mencapai pintu balkon dan membukanya dengan paksa. Angin dingin malam Berlin menyapu wajah mereka, memberikan sedikit napas kehidupan di tengah neraka itu.
Max keluar ke balkon sambil menggendong Hans, disusul Sophie yang langsung mengunci pintu kaca untuk menahan api keluar selama beberapa detik lagi. Mereka terjebak. Di belakang mereka api mengamuk, dan di depan mereka adalah ketinggian lantai empat tanpa tangga darurat.
"Kita harus turun lewat pipa air itu, Sophie!" Max menunjuk pipa besi tua di sisi balkon. "Aku akan menurunkan ayahmu dulu dengan selimut ini, baru kau, lalu aku."
Sophie menatap Max. Di bawah cahaya api yang memantul di wajah Max yang kotor oleh jelaga, Sophie melihat ketulusan yang murni.
Pipa besi itu tampak rapuh, berkarat di bawah guyuran hujan tipis yang mulai turun, namun itulah satu-satunya jembatan antara mereka dan nyawa. Max dengan cepat merobek selimut tebal yang ia bawa, memilinnya menjadi tali darurat yang kuat, lalu mengikatkannya pada tubuh Hans yang sudah setengah pingsan.
"Sophie, bantu aku menahannya!" seru Max.
Sophie segera mencengkeram kain itu bersama Max. Otot-otot lengan Max menegang hebat; luka di bahunya mulai mengeluarkan darah, merembes di balik kausnya, namun ia tidak melepaskan beban itu sedikit pun. Perlahan, dengan koordinasi yang penuh ketegangan, mereka menurunkan Hans ke lantai bawah.
Beruntung, beberapa tetangga yang sudah berada di luar segera menangkap tubuh Hans dan menjauhkannya dari reruntuhan yang mulai berjatuhan.
"Sekarang kau, Sophie! Cepat!" Max menarik selimut itu kembali ke atas.
"Tidak, Max! Bahumu berdarah, kau tidak akan kuat menahan beratku!" teriak Sophie di tengah deru api yang kini mulai memecahkan kaca balkon.
Tanpa banyak bicara, Max menyambar pinggang Sophie dan mengangkatnya. "Aku tidak memintamu memberikan analisis medis! Turun sekarang!"
Sophie terpaksa merambat turun melalui pipa besi itu. Tangannya perih bergesekan dengan logam kasar, namun ia berhasil menginjak tanah dengan selamat. Ia mendongak, matanya membelalak melihat lidah api sudah menjulur keluar dari pintu balkon, menjilat punggung jaket Max.
"MAX! LOMPAT!" jerit Sophie histeris.
Tepat saat balkon kayu itu mulai retak dan runtuh, Max melompat. Ia tidak sempat menggunakan pipa; ia terjun bebas dan mendarat di atas tumpukan sampah serta semak belukar yang empuk namun kotor.
BRAAK!
Struktur balkon itu jatuh beberapa detik kemudian, menghantam tanah dengan ledakan api yang menyilaukan. Sophie berlari sekuat tenaga, mengabaikan panas yang menyengat, menuju sosok Max yang terkapar di tanah.
"Max! Maximilian!" Sophie berlutut di sampingnya, membalikkan tubuh pria itu. Wajah Max tertutup jelaga, pelipisnya mengucurkan darah segar, dan napasnya tersengal-sengal.
Max membuka matanya perlahan, menatap wajah Sophie yang basah oleh air mata dan keringat. Alih-alih meringis kesakitan, ia justru mencengkeram pergelangan tangan Sophie dengan sisa tenaganya—sebuah cengkeraman yang tetap posesif meski dalam keadaan sekarat.
"Kau... masih berhutang penjelasan padaku..." bisik Max parau, matanya sempat melirik ke arah lantai empat yang kini ludes terbakar—termasuk papan kaca rahasia milik Sophie.
Sophie terpaku. Genggaman tangan Max di pergelangan tangannya terasa seperti borgol panas yang membakar kulitnya. Kata-kata Max barusan lebih menyakitkan daripada hawa panas api yang baru saja mereka lalui.
Mata Sophie membelalak, pupilnya bergetar saat ia menyadari arti tatapan Max yang sempat melirik ke arah sisa-sisa kamarnya di lantai empat. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, lebih dingin daripada udara malam Berlin.
"K-kau... kau melihatnya?" suara Sophie nyaris tak terdengar, tenggelam di antara hiruk-pikuk petugas pemadam kebakaran di belakang mereka.
Max tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Sophie dengan sorot mata yang menghancurkan—perpaduan antara amarah yang terpendam, luka dikhianati, dan obsesi yang masih belum padam. Cengkeramannya pada tangan Sophie semakin kuat, seolah ia sedang menahan satu-satunya orang yang baru saja menusuk jantungnya dari belakang.
"Ayahku... Sang Penipu?" Max mengulang tulisan di papan itu dengan nada getir yang menyayat. "Dan ayahmu... Korban?"
Sophie merasa dunianya runtuh. Seluruh strategi yang ia susun dengan rapi, topeng yang ia pakai dengan hati-hati, semuanya hancur menjadi abu bersama apartemennya. Ia mengira telah berhasil menjebak sang predator, namun di detik ini ia menyadari bahwa sang predator telah melihat seluruh isi kepalanya sebelum ia sempat meluncurkan serangan pamungkas.
"Max, aku bisa jelaskan—"
"Tidak di sini," potong Max parau. Ia mencoba duduk dengan susah payah, wajahnya meringis menahan sakit saat luka di bahunya kembali terbuka, namun matanya tetap mengunci Sophie. "Kau pikir kau bisa menggunakanku untuk menghancurkan keluargaku, Sophie? Kau pikir aku hanya bidak catur di papan kacamu?"
Sophie terdiam, air matanya jatuh—kali ini bukan karena asap, tapi karena rasa takut yang nyata. Bukan takut akan kematian, tapi takut pada pria di depannya ini. Max yang ia kenal adalah pria yang kejam, namun Max yang baru saja menyelamatkan ayahnya sambil membawa luka pengkhianatan di matanya adalah sosok yang jauh lebih berbahaya.
"Tuan! Anda harus segera dibawa ke ambulans!" seorang petugas medis datang menghampiri mereka.
Max mengabaikan petugas itu. Ia menarik Sophie mendekat ke wajahnya, hingga napas mereka yang berbau asap saling bersentuhan. "Kau dan ayahmu ikut denganku. Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai aku mendapatkan kebenaran dari mulutmu sendiri. Kau adalah 'tahanan' pribadiku sekarang, Sophie Adler."
Di bawah sirine yang meraung dan kobaran api yang mulai padam, Sophie menyadari satu hal yang mengerikan: papan kacanya mungkin sudah hangus, tapi kini ia benar-benar masuk ke dalam sangkar emas Maximilian, dan kali ini, Max tidak akan lagi tertipu oleh kelembutan palsunya.