Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kaisar masih duduk di teras mushola, menatap perban di lengannya dengan tatapan kosong. Hatinya dipenuhi rasa penasaran yang aneh. Ia ingin tahu siapa wanita berjilbab yang wajahnya memancarkan keteduhan dan kepolosan itu.
Kaisar bangkit, rasa sakit di lengannya seolah tidak seberapa dibandingkan gejolak rasa ingin tahu di dadanya.
Ia melangkah perlahan kembali ke pusat pasar, menuju los sayuran tempat Aisya tadi berdiri.
Ia mendekati seorang ibu penjual sayur yang menyaksikan seluruh kejadian penodongan tadi.
“Ibu, maaf mengganggu,” ujar Kaisar dengan nada yang lebih sopan dari penampilannya.
Ibu penjual itu, yang bertubuh gempal dan ramah, menoleh.
“Oh, Nak yang tadi nolongin ya? Ya ampun, lukanya parah, Nak. Sudah diobati sama mbak Aisya tadi?”
Kaisar langsung tercekat. Ia menangkap satu kata kunci dari ucapan ibu itu.
“Aisya? Namanya Aisya, Bu?” tanya Kaisar berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Ibu itu mengangguk lalu tersenyum. “Iya perempuan yang tadi itu namanya Aisya, Nak. Ya ampun, baik banget dia. Padahal uangnya tadi habis buat beli obat buat kamu.”
Senyum tipis dan lega muncul di wajah Kaisar. Akhirnya, ia tahu nama perempuan yang mencuri perhatiannya sejak pandangan pertama.
Kaisar kembali tersenyum sendiri, rasa sakit di lengan seolah sirna. Ia merasakan gejolak aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Namun, senyum itu seketika luntur ketika ibu penjual sayur melanjutkan ucapannya dengan nada prihatin.
“Mbak Aisya itu kasihan sekali, Nak. Dia sudah menikah. Hanya saja, suaminya kurang beruntung.”
Ucapan ibu itu bagai tamparan keras bagi Kaisar. Sudah menikah. Dua kata itu menghantamnya, meremukkan harapan yang baru saja ia bangun.
Kaisar terdiam, menatap ibu itu dengan pandangan kosong.
“Suaminya pegawai kantoran. Mereka tinggal sama mertuanya. Mertuanya itu galak sekali, Nak. Ibu Marni namanya. Kasihan Aisya, setiap ke pasar, matanya selalu memerah, seperti habis menangis. Padahal dia itu sabar, sopan, dan rajinok sekali,” lanjut ibu itu, dengan nada mengeluh.
“Mereka menikah dua tahun tapi belum dikaruniai anak. Ibu Marni selalu menyalahkan Aisya. Padahal ya namanya juga ujian hidup. Soal anak itu kan dari Allah, bukan Aisya yang menentukan. Wajar saja kalau belum dikasih momongan. Semua orang punya ujiannya sendiri-sendiri.”
Kaisar benar-benar terdiam. Ia memproses informasi itu perlahan. Wanita cantik, polos, dan baik yang ia sukai ternyata adalah istri orang.
Bahkan Aisya sedang menanggung penderitaan rumah tangga yang pahit, dicaci maki mertua karena belum memiliki anak.
Ada rasa sakit yang dalam menyebar di dada Kaisar. Ini adalah jatuh cinya sekalitus patah hati pertamanya. Ia kecewa karena kenyataan tak seindah harapannya.
Kaisar ingin sekali menyelamatkan Aisya, melindunginya dari penderitaan itu. Namun, ia tidak punya hak. Aisya adalah istri orang lain.
Kaisar berusaha mengendalikan emosinya. Ia mengangguk pelan kepada ibu penjual itu, berterima kasih atas informasinya. Setelah berpamitan, ia segera berjalan menjauh dan mengambil ponselnya.
Lantas, Kaisar menghubungi anak buah kepercayaannya, Dhani.
“Jemput saya sekarang juga. Di area pasar kota. Jangan banyak tanya, cepat!” perintah Kaisar, suaranya terdengar dingin dan tegang, jauh dari kesan santai yang ia tunjukkan pada Aisya tadi.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam, tiba di dekat mushola.
Dhani keluar dari mobil. Lalu, menatap penampilan bosnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi tak percaya.
Rambut gondrong Kaisar semakin acak-acakan, kausnya robek bekas tusukan pisau, dan ia berdiri di antara tumpukan sayuran.
“Bos, Seriously? Anda ngapain? Astaga! Saya kira anda disandera beneran! Ternyata anda sedang cosplay preman pasar?” sindir Dhani tanpa basa-basi.
Dhani tidak bisa menahan tawa kecil melihat bosnya yang adalah seorang miliarder muda, kini berpenampilan seperti gembel dan terluka.
Kaisar tidak merespons. Ia menatap Dhani dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
Ekspresi itu membuat tawa Dhani seketika terhenti.
“Diam dan jangan banyak bicara,” ujar Kaisar dengan nada datar. “Kita pulang sekarang. Tapi, setelah ini, aku mau kamu mencari tahu tentang wanita bernama Aisya. Lengkap. Suaminya siapa, mertuanya siapa, semua detail kehidupannya.”
Dhani, yang terkejut dengan nada serius Kaisar, segera mengangguk patuh.
“Baik, Bos. Akan saya siapkan semua informasinya.”
Kaisar melangkah masuk ke dalam mobil. Ia menyandarkan kepalanya ke jok kulit mewah, menatap perban di lengannya. Luka sayatan itu terasa perih, tetapi tidak seperih luka yang baru saja ia rasakan di hati.
Aisya adalah istri orang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang serba mudah, Kaisar merasakan sebuah kekecewaan yang mendalam. Ia jatuh cinta, tetapi takdir kejam mempertemukannya dengan seorang wanita yang sudah terikat janji suci.
“Tumben sekali si bos memintaku mencari informasi seorang wanita. Mana nggak jelas lagi! Yang namanya Aisya kan banyak,” gerutu Dhani dalam hati.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣