NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Alur Yang Berubah

Semua manusia di dunia ini punya masalah. Masalah manusia akan selesai jika manusia sudah masuk surga.

Setidaknya kalimat bijak itu sedikit mengurangi rasa stres dalam diri Alissa. Daripada pusing memikirkan masalahnya di dunia novel ini, lebih baik Alissa bersenang-senang dengan menggunakan uang Sean. Selama ia masih menjadi istri antagonis itu, akan ia kuras uangnya. jika perlu sampai habis!

Alissa tertawa Jahat di dalam hati. Akan ku hadapi masalah, tapi sambil menguras uang Sean!

"Tas sudah, baju sudah, parfum, makeup, sepatu...hm, apalagi ya?" monolog Alissa di tengah kerumunan orang di mall kota.

"Astaga, bahkan semua yang ku beli ini belum menghabiskan setengah dari uang bulanan yang Sean berikan." padahal dia sudah menghabiskan jutaan dollar lho ini.

"Pantas saja Alissa asli tidak mau pisah dari Sean." sekarang perempuan itu paham. Maksudnya, perempuan mana yang tidak tergiur dengan semua ini?

Punya suami tampan yang kaya raya. Semuanya ada. Alissa asli memiliki segalanya. Hanya satu minusnya. Dia tidak memiliki cinta suaminya.

Hah, jika hanya tidak memiliki cinta dari pasangan, mungkin Alissa yang sekarang akan bertahan. Namun sayang, di sini nyawanya yang dipertaruhkan. Tentu saja dia harus melawan bukan.

"Ahh, bukankah sebaiknya aku menyiapkan tabungan untuk kehidupan layak setelah berpisah dengan Sean?" benar. Selama ini Alissa selalu berkoar-koar ingin pisah, tanpa memikirkan jangka panjangnya.

Setelah berpisah dari Sean, dia akan tinggal di mana? Tunggu---

Bahkan sejak dirinya terjebak di sini, dia belum sama sekali bertemu dengan orangtua Alissa asli. Bahkan dia juga belum tahu bagaimana rupa sang protagonis wanita.

Inilah jika terlalu fokus ingin lepas dari Sean tanpa mempedulikan masalah lainnya Alissa. Kenapa kau bisa sebodoh ini!

"Aku akan membeli properti. Hm, lalu...perhiasan, tanah, lalu apalagi ya yang cocok untuk investasi?" Alissa mengusap dagu dengan ibu jari dan telunjuknya membuat gestur berpikir.

"Akan kupikirkan nanti. Sebaiknya aku makan siang saja dulu."

Keasikan belanja, Alissa sampai lupa jika kandungannya juga perlu diberi makan. Menaiki eskalator, perempuan itu menuju restaurant jepang. Tiba-tiba dia ingin makan sushi. Mungkin inilah yang dinamakan ngidam.

Duduk di kursi yang terletak di pojok, Alissa memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya. Sampai akhirnya dia mendengar kursi yang digeser. Sontak saja, Alissa mengalihkan atensinya.

"Hei, apa kabar?" sapa orang itu dengan senyum hangatnya.

"Seperti yang dilihat." balas Alissa cuek. Dia ingin mengusir, tapi juga merasa sungkan.

"Sendiri?" Ellard kembali membuka pembicaraan. Tidak peduli jika Alissa merasa tidak nyaman.

"Kau buta ya?"

Jawaban sarkas dari Alissa tidak membuat Ellard tersinggung. Justru laki-laki itu tertawa renyah sampai Alissa sendiri menatap laki-laki itu aneh.

Sepertinya semua tokoh di sini memang tidak ada yang waras.

"Aku tidak buta. Bahkan aku bisa melihat seorang suami yang lebih memilih jalan bersama wanita lain dibanding dengan istrinya sendiri." kalimat Ellard membuat Alissa mengerutkan kening tak paham.

"Maksudmu?"

Ellard menyunggingkan senyum geli. Ia arahkan telunjuknya pada pintu restaurant sebagai jawaban. Mengikuti arah telunjuk Ellard, mata Alissa membola ketika menemukan Sean jalan bersama seorang perempuan.

Mereka terlihat mesra dengan sang perempuan yang menggandeng lengan Sean manja. Melihat itu, Alissa mendengus sinis.

Dasar laki-laki murahan! Padahal baru tadi pagi Sean menci-umnya dengan sangat brutal. Dan sekarang lihatlah, apa yang iblis itu lakukan.

"Aku tidak tahu jika Tuan Sean sangat akrab dengan adiknya." kata Ellard yang kembali mencuri perhatian Alissa.

"Adik?" tanya Alissa memastikan.

"Bahkan daripada sebagai saudara, bukankah mereka terlihat seperti sepasang kekasih?"

Alissa kembali menatap dua orang berbeda gender yang sedang memesan makanan itu. Perempuan dengan mata sebiru samudra dengan rambut pirangnya. Dan yang paling khas adalah, dia memiliki tahi lalat di ujung alis kirinya.

"Stella." gumam Alissa tanpa sadar.

"Kau cemburu?"

Alissa menatap Ellard dengan kernyitan di dahinya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"

"Maksudmu?"

"Kau...tidak cemburu? Melihat Stella bersama laki-laki lain." karena di dalam novel, penjelasan tentang obsesi Ellard pada Stella begitu liar.

Bukankah ini sedikit aneh. Ah tidak. Bukankah ini sangat aneh saat daripada menyeret Stella dengan cemburu yang membara, Ellard malah menghampirinya.

Apakah alur sebenarnya telah melenceng. Jika memang benar alur telah berubah, lalu bagaimana nasibnya. Apakah tetap akan mati di tangan Sean?

Ellard tertawa geli. Ia pangku dagunya dengan telapak tangan. Menatap Alissa dengan tatapan yang...entahlah. Bahkan Alissa tidak tahu jenis tatapan apa itu.

"Kenapa aku harus cemburu? Perempuan yang aku inginkan ada di depanku sekarang."

"Tadi kau bilang apa?" karena terlalu larut dalam pikirannya, Alissa sampai tidak mendengar pasti apa yang protagonis laki-laki itu sampaikan.

Ellard tersenyum sekilas. "Lupakan. Jadi, kau tidak ingin melabrak mereka?" tanyanya seolah mencoba memancing.

Alissa menatap tak minat. "Buat apa?"

Obrolan mereka harus terhenti kala pelayan menyajikan pesanan Alissa.

"Terimakasih." perempuan itu tersenyum sopan. Pelayan itu membungkuk sopan sebelum pergi.

"Buat apa? Dia suamimu Alissa." decak Ellard tak percaya.

"Dia jalan bersama adiknya jika kau lupa." kata Alissa terlampau santai.

"Tapi yang aku lihat, mereka seperti sepasang kekasih." balas Ellard meyakinkan.

Alissa mengendikan bahu acuh. Mulai memakan makanan yang membuat cacing-cacing di perutnya memberontak.

"Aku tidak peduli. Lagi pula aku dan Sean akan---

Alissa mempunyai ide. Ia ambil ponselnya dan menyalakan fitur kamera. Memotret Sean dan Stella diam-diam. Siapa tahu, ini akan berguna suatu hari nanti.

"Kau dan Sean akan?"

Alissa menatap Ellard sengit. Entah kenapa dia menjadi kesal dengan laki-laki itu sangat ingin tahu kehidupannya dengan Sean.

"Boleh aku berkata jujur?" kata Alissa tanpa menjawab pertanyaan dari Ellard.

"Tentu. Katakan dan dengan senang hati aku akan mendengarkan."

"Aku merasa tidak nyaman duduk denganmu. Bisa tolong kau cari tempat duduk lain?" aku Alissa. Dia tidak peduli jika Ellard akan tersinggung dengan ucapannya.

Ellard tersenyum tipis sembari mengangguk mengerti. "Tentu. Maaf telah membuatmu tidak nyaman."

Ya, cepat pergilah! "Tidak apa-apa. Kau bisa pergi sekarang."

Laki-laki itu berdiri. Menatap Alissa dalam. Tidak ingin hanyut oleh tatapan Ellard, Alissa fokuskan perhatiannya pada makanan pesanannya.

"Aku pergi." laki-laki menghela nafas saat Alissa mengangguk tanpa menoleh padanya.

"Alissa, hubungi aku kapanpun kau membutuhkan bantuan." ucapnya lalu mengusak puncak kepala Alissa.

"Aku selalu bersamamu."

Alissa tidak terlalu mendengarkan. Perut laparnya lebih utama. Sedang asik-asik makan, lagi-lagi ia mendengar kursi yang digeser. Seketika perempuan itu berdecak kesal.

"Apalagi---

Alissa menelan kembali omelannya. Tatapan kesalnya berubah malas.

"Ternyata kau." ucapnya tanpa minat.

"Ternyata kau? Memangnya sebelum diriku, kau bicara pada siapa?" tanya Sean dengan kerutan di keningnya.

"Bukan urusanmu."

Sean berdecak tak puas dengan jawaban Alissa. "Tentu saja urusanku. Kau istriku."

Mendengarnya membuat Alissa tersenyum sinis. "Suami yang sedang berselingkuh maksudmu?" sindirnya telak.

"Selingkuh apanya?"

"Dengan siapa kau datang?" tanya Alissa menantang. Dia yakin, Sean tidak akan bisa menjawab.

"Aku datang bersama Stella. Tadi dia memintaku untuk mengantarnya ke sini. Dia ingin bertemu kekasihnya."

Apa?! Kekasih?!

Alissa mengarahkan pandangannya pada kursi bekas Sean dam Stella duduk. Kosong, sudah tidak ada orang di sana.

"Stella punya kekasih?" tapi siapa, Ellard? Tapi laki-laki itu yang malah mengatakan jika Sean dan Stella seperti sepasang kekasih.

"Iya, dia punya." jawab Sean apa adanya.

"Dan kau tidak cemburu?" pancing Alissa.

Sean tersenyum penuh arti. Dia ambil sushi sebelum mengarahkannya pada mulut Alissa untuk disuapi.

"Aku baru sadar jika aku tidak menyukai Stella. Sayangku padanya murni selayaknya seorang kakak pada adiknya."

"Oh, benarkah?" Alissa tak serta merta percaya.

"Hum, dan Alissa...sepertinya aku mecintaimu."

"Uhuk...uhuk!!"

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!