Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
berangkat ke pulau padar
Pagi itu suasana restoran hotel terasa hidup. Para direksi dan keluarga mereka berkumpul untuk sarapan, wajah-wajah segar dipenuhi antusiasme. Agenda hari itu cukup menantang, trekking ke Pulau Padar dan hampir semua orang terlihat bersemangat membicarakannya.
Hampir semua… kecuali Rayya.
Ia duduk di samping kedua orang tuanya dengan ekspresi datar. Matanya sesekali melirik daftar kegiatan yang dibagikan panitia, lalu kembali menunduk. Dalam hatinya, Rayya sudah memantapkan niat untuk tidak ikut.
“Pa,” ucapnya pelan sambil mencondongkan tubuh ke arah Pak Surya,
“Rayya kayaknya mau di hotel saja. Badan masih capek.” sambungnya.
Pak Surya menoleh, hendak menjawab, ketika sebuah suara menyela.
“Selamat pagi, Om. tante” ucap tommy sambil menyalam papa dan mama rayya.
Rayya menoleh cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok itu berdiri di samping meja mereka.
"Tommy." teriak rayya kaget.
Tommy tersenyum sopan sambil menjabat tangan Pak Surya.
“Maaf baru bisa menyusul. Saya Tommy Hariaksa.” ucap tommy memperkenalkan diri, tommy memang belum pernah di perkenalkan langsung oleh rayya, hanya dengan mamanya saja. pak surya mengenal tommy melalui forum pertemuan perusahaan.
Pak Surya tampak sedikit terkejut, namun segera membalas jabatan tangan itu dengan ramah.
“Oh, Direktur Utama Hariaksa Group. Selamat pagi. Selamat juga atas kemenangan tender kita bersama.” ucap pak surya.
“Terima kasih, Om. Saya juga senang bisa bekerja sama dengan Assyura Group,” balas Tommy.
Rayya menatap Tommy nyaris tak berkedip.
“Kamu… bukannya masih di Jakarta?” tanya rayya tak percaya.
Tommy menoleh padanya, tersenyum kecil.
“Aku berangkat subuh tadi. Pakai private jet. Aku nggak mau ngecewain kamu.” sahut tommy sambil tersenyum manis.
Jawaban itu membuat Rayya terdiam. Ada rasa hangat yang langsung mengalir di dadanya. Senyum tipis muncul tanpa ia sadari. Ia benar-benar merasa dihargai.
Pak Surya mengamati interaksi mereka dengan saksama.
“Kalian sudah saling kenal?” tanyanya, jelas terkejut melihat kedekatan yang tampak natural.
Rayya hendak menjawab, namun Tommy lebih dulu angkat bicara.
“Kami kenal sejak lama, Om.” jawab tommy.
“Oh begitu,” gumam Pak Surya sambil tersenyum tipis.
“Kalau begitu, silakan sarapan bersama kami.” pinta pak surya.
Tommy mengangguk senang dan menarik kursi di dekat Rayya. Sementara itu, Devan yang duduk beberapa meja dari mereka, sempat melirik ke arah itu. Wajahnya tetap tenang, namun tatapannya tajam dan penuh perhitungan.
Setelah sarapan, Pak Surya kembali membuka pembicaraan.
“Tommy, kami hari ini ada agenda trekking ke Pulau Padar. Kalau tidak keberatan, silakan bergabung.” ajak pak surya,
Rayya refleks menyela,
“Pa, Tommy baru datang. Pasti masih capek. Lagipula Rayya juga rencana mau di hotel saja.” ucap rayya.
Tommy hampir saja mengangguk setuju. Jujur saja, ia lebih memilih menghabiskan waktu berdua dengan Rayya. Namun ketika ia mengalihkan pandangan, tatapan Devan bertemu dengannya.
Sekilas. Tenang. Namun cukup untuk membuat Tommy merasa tertantang.
Tatapan itu seperti berkata: berani atau tidak?
Tommy tersenyum kecil, lalu menoleh kembali ke Pak Surya.
“Tidak apa-apa, Om. Saya ikut saja.” ucap tommy mantap.
Rayya menoleh cepat.
“Tommy, kamu yakin?” tanya rayya.
Tommy mengangguk mantap.
“Yakin.” jawab tommy tegas.
Meski Rayya masih mencoba membujuk, Tommy tetap pada pendiriannya. Dalam benaknya, ini bukan lagi soal lelah atau tidak, ini soal gengsi. Dan entah disadari atau tidak, Devan Yudistira baru saja memancingnya masuk ke sebuah permainan yang lebih besar.
Sebelum rombongan berangkat menuju dermaga, beberapa direksi tampak masih menunggu anggota keluarga mereka yang tidak sempat ikut penerbangan malam sebelumnya. Area lobi hotel kembali sedikit ramai. Koper-koper kecil berdatangan, disusul sapaan hangat dan pelukan singkat antaranggota keluarga yang baru tiba.
Rayya berdiri di dekat orang tuanya, sesekali melirik jam tangan. Ia ingin segera berangkat agar tidak terlalu lama berada dalam situasi yang terasa semakin rumit.
Tak lama kemudian, tiga keluarga direksi akhirnya tiba hampir bersamaan. Salah satunya menarik perhatian banyak orang, bukan karena penampilan mencolok, melainkan karena reaksi dua orang yang sama-sama membeku di tempat.
Wilona.
tommy mengenalinya sekilas dari kejauhan, meski belum pernah bertemu langsung. Perempuan itu turun dari mobil bersama seorang pria paruh baya yang langsung disambut hangat oleh beberapa direksi.
“Pak Daniel,” sapa Pak Surya ramah.
“Akhirnya bisa ikut juga.” sambung pak surya.
Pria itu tersenyum.
“Iya, Pak Surya. Maaf terlambat. Ini putri saya yang kedua.” ucap pak daniel memperkenalkan putri keduanya.
Wilona melangkah maju, mengenakan pakaian kasual yang rapi. Senyumnya sempat terangkat, namun langsung menghilang ketika pandangannya bertemu dengan Tommy.
Sekejap saja, wajah Wilona menegang.
Tommy pun tak kalah terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat Wilona di sini. di tengah rombongan Assyura Group, di Labuan Bajo, di waktu yang sama dengan Rayya. Jantungnya berdegup tidak nyaman.
Wilona hampir saja melangkah mendekat. Tubuhnya sudah condong setengah langkah, bibirnya terkatup rapat menahan emosi yang tiba-tiba melonjak. Namun ia berhenti.
Ia menoleh sekilas ke arah ayahnya.
Wilona sadar, ia tidak bisa ceroboh. Ayahnya baru lima tahun bergabung di Assyura Group. Reputasi masih dibangun, posisi masih dijaga. Satu gerakan salah darinya bisa berimbas pada keluarga. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tenang, lalu memilih berdiri di sisi sang ayah seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, Tommy dengan sengaja memalingkan wajah. Ia segera mendekat ke Rayya, berdiri sedikit lebih dekat dari sebelumnya. Sikapnya jelas, ia tidak ingin ada celah.
Rayya menyadari perubahan sikap Tommy.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.
“Nggak apa-apa,” jawab Tommy cepat, lalu tersenyum kecil.
“Aku cuma lagi mikir jalur trekking nanti.”
Rayya mengangguk, meski tidak sepenuhnya yakin. Namun ia tidak memaksa. Perhatiannya kembali pada persiapan keberangkatan.
Di sisi lain, Wilona melirik ke arah Tommy dan Rayya, bersama. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, antara kesal dan menyesal. Namun kali ini, ia memilih menunduk, menelan perasaannya sendiri.
Rombongan akhirnya lengkap. Persiapan selesai. mereka berangkat ke pulau padar.