NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 — Malam yang Masih Berdenyut

POV Ren

Ren berdiri di dapur terlalu lama.

Air di gelas sudah penuh sejak beberapa detik lalu, tapi ia belum juga mematikan keran. Suara air yang jatuh itu seperti mengetuk pelan sesuatu di dalam dadanya. Bukan amarah yang meledak. Bukan juga ketakutan yang jelas.

Lebih seperti tekanan yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

Ia mematikan keran, menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding dapur. Ia menatap Tangannya gemetar sedikit. Ren jarang membiarkan dirinya terlihat seperti ini, bahkan pada dirinya sendiri.

Bayangan di studio tadi sore masih terlalu jelas.

Cara Airi berdiri kaku.

Tatapan matanya yang kosong.

Cara ia memanggil namanya tanpa suara.

Ren mengepalkan tangan.

Ia marah. Bukan marah yang ingin melukai. Tapi marah yang membuat dada terasa sempit karena datang terlambat. Karena baru benar-benar mengerti sekarang betapa rapuhnya Airi selama ini.

Langkah pelan terdengar dari ruang tamu.

Ren mengangkat kepala.

Airi berdiri di sana, mengenakan jaketnya, rambutnya masih sedikit basah karena tadi Ren menyuruhnya cuci muka. Wajahnya lebih tenang, tapi masih pucat. Mata itu belum sepenuhnya kembali.

“Kamu udah minum obat?” tanya Ren pelan.

Airi mengangguk. “Iya.”

Ren berjalan mendekat, lalu mengambil selimut tipis dari sofa dan menyampirkannya ke bahu Airi tanpa berkata apa-apa. Gerakannya hati-hati, seolah takut suara napasnya sendiri terlalu keras.

“Kamu dingin?” tanyanya.

“Sedikit,” jawab Airi jujur.

Ren mengangguk. Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di sudut ruangan. Cahaya redup membuat ruangan terasa lebih aman, lebih tertutup dari dunia luar.

Malam itu berjalan pelan. Terlalu pelan.

Ren duduk di kursi dekat sofa, tidak terlalu dekat, tidak juga jauh. Jarak yang sengaja ia jaga. Ia ingin Airi tahu bahwa ia ada, tapi tidak menekan.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Lalu Airi berbicara.

“Ren… aku mau telepon ibu.”

Ren menoleh cepat. “Sekarang?”

Airi mengangguk. “Aku nggak mau bohong.”

Ren ragu sebentar, lalu mengangguk. “Kalau itu bikin kamu lebih tenang.”

Ia tidak ikut campur. Hanya duduk di sana saat Airi menelepon.

“Ibu…” suara Airi terdengar lebih stabil dari yang Ren kira.

“Iya, aku aman.”

“Latihan tadi agak lama… aku capek.”

“Boleh nggak aku nginep di rumah Ren malam ini?”

Ren menahan napas.

Ada jeda di seberang sana. Airi menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

“Iya… Ren ada.”

“Besok aku pulang pagi.”

Hening lagi.

Airi menutup mata sebentar.

“Iya, Bu. Aku janji.”

Telepon ditutup.

Airi menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Ibu ngizinin.”

Ren ikut menghela napas, baru sadar ia menahan napas sejak tadi. “Syukurlah.”

Airi duduk kembali, selimut masih melingkari bahunya. Ren merasa sedikit lega, tapi belum sepenuhnya.

Ia membuka ponselnya.

Notifikasi baru muncul.

New message "silent echo 🎶"

Haruto:

Besok latihan mingguan di luar kampus ya. Tempat biasa. Jam 10.

Ren membaca pesan itu dua kali.

Latihan di luar kampus.

Sensei tidak tahu.

Ren mengetik.

Ren:

Oke. Besok Sabtu, latihan bareng.

Ia meletakkan ponsel kembali.

Saat itu, Ren merasakan sesuatu berubah di udara.

Airi terdiam terlalu lama.

“Airi?” panggil Ren pelan.

Airi menatap lantai. Jarinya mencengkeram ujung selimut.

“Ren…” suaranya lebih kecil. “Aku kepikiran sesuatu.”

Ren menunggu.

“Aku pengen jujur sama semuanya.”

Ren mengernyit sedikit. “Tentang apa?”

Airi menarik napas dalam-dalam. Lama. Seolah sedang mengumpulkan keberanian dari tempat yang jauh.

“Sensei.”

Ren membeku.

“Aku pengen bilang ke mereka,” lanjut Airi, suaranya gemetar tapi jelas. “Tentang kenapa aku jadi kayak gini. Tentang masa laluku .”

Ren menoleh penuh. “Kamu yakin?”

Airi mengangguk pelan. “Aku capek sembunyi.”

Ren membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingin melindungi Airi, tapi ia juga tahu ini bukan keputusan yang bisa ia ambil untuknya.

“Aku bakal dukung kamu,” kata Ren akhirnya. “Apa pun keputusanmu.”

Airi menelan ludah.

“Ada satu hal lagi,” katanya. “Yang harus kamu tahu.”

Ren menegang sedikit. “Apa?”

Airi mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi tidak lagi kosong.

“Dulu… aku memang sempat menyukai sensei itu.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Ren terdiam.

Bukan marah. Bukan cemburu. Lebih seperti terkejut oleh kejujuran yang terlalu mentah.

“Kamu… suka?” ulang Ren pelan.

Airi mengangguk. Air matanya jatuh.

“Iya.”

POV Airi

Mengatakannya keras-keras terasa seperti membuka luka lama yang belum sepenuhnya menutup.

Airi tahu Ren terkejut. Ia bisa melihatnya dari cara Ren diam terlalu lama. Tapi ia juga tahu, kalau ia tidak mengatakan ini sekarang, ketakutannya akan selalu punya tempat untuk tumbuh.

“Aku masih SMP,” lanjut Airi pelan. “Aku nggak ngerti apa-apa. Dia perhatian. Dia muji. Dia bilang aku berbakat.”

Airi memejamkan mata.

“Waktu itu… aku pikir itu wajar. Aku pikir aku istimewa.”

Suaranya pecah sedikit, tapi ia memaksa dirinya melanjutkan.

“Baru sekarang aku ngerti… itu manipulasi.”

Airi membuka mata dan menatap Ren.

“Aku takut,” katanya jujur. “Takut kalau suatu hari aku dimanipulasi lagi. Takut kalau aku nggak sadar. Takut kalau aku salah lagi.”

Tangannya gemetar di atas selimut.

“Makanya aku pengen jujur. Biar semua orang tahu. Biar aku nggak sendirian lagi.”

Ren tidak langsung menjawab.

Ia berdiri, lalu berjongkok di depan Airi. Jaraknya tetap dijaga, tapi tatapannya penuh.

“Airi,” katanya pelan. “Kamu bukan salah.”

Airi menggeleng cepat. “Tapi aku suka dia.”

“waktu itu kamu anak kecil,” potong Ren lembut. “Dan dia orang dewasa. Yang salah tetap dia.”

Kata-kata itu tidak terdengar seperti penghiburan kosong. Kata-kata itu terasa… kokoh.

Airi menangis. Kali ini tidak ditahan.

Ren tidak memeluknya. Tidak menyentuhnya. Ia hanya ada di sana.

“Aku takut besok,” bisik Airi. “Takut latihan. Takut lihat bayangan dia di mana-mana.”

Ren mengangguk. “Takut itu wajar.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi kamu nggak sendirian,” lanjutnya. “Besok kita bareng. Kalau kamu mau berhenti, kita berhenti.”

Airi mengangkat wajahnya.

“Beneran?” tanyanya lirih.

Ren mengangguk. “Beneran.”

Hening kembali turun, lembut tapi berat.

Airi mencoba memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke sofa. Selimut itu masih melingkari bahunya, hangat dengan cara yang tidak mengganggu. Di seberangnya, Ren tetap di sana. Tidak mendekat. Tidak pergi.

Kata-katanya masih menggema.

Kamu nggak sendirian.

Jantung Airi berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit. Degupan itu tidak keras, tapi cukup terasa. Seperti getaran kecil yang muncul tiba-tiba, tanpa aba-aba.

Kenapa?

Airi merasa di dadanya terasa sempit sesaat, lalu ia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tetap tenang.

Tenang. Jangan salah paham, katanya pada dirinya sendiri.

Ia tahu tubuhnya sedang lelah. Ia tahu pikirannya masih kacau. Hari ini terlalu panjang, terlalu berat. Wajar kalau tubuh bereaksi aneh. Wajar kalau jantungnya belum mau kembali ke ritme biasa.

Ini bukan apa-apa, batinnya mencoba meyakinkan.

Mungkin karena aku masih kepikiran sensei tadi.

Mungkin karena ketakutan belum benar-benar pergi.

Airi menggenggam ujung selimut sedikit lebih erat.

Ren cuma temanku, pikirnya lagi.

Teman masa kecilku. Orang yang kebetulan ada di sini sekarang.

Ia tidak berani menoleh. Tidak ingin melihat wajah Ren dan salah menafsirkan apa pun dari sorot matanya. Ia tidak siap untuk itu. Tidak malam ini.

Degupan itu perlahan mereda.

Airi menghembuskan napas panjang, hampir seperti desahan lega.

Ia belum tahu perasaannya akan dibawa ke mana. Ia juga belum siap menamai apa pun. Yang ia tahu, malam ini berbeda.

Bukan karena ia tiba-tiba menjadi kuat.

Bukan karena lukanya sembuh.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aman tanpa harus berpura-pura baik-baik saja.

Dan itu saja, untuk saat ini, sudah cukup.

Airi menutup mata kembali.

Di luar, malam tetap gelap.

Masalah tetap menunggu.

Namun di ruangan itu, dengan jarak yang dijaga dan kehadiran yang tidak memaksa, Airi membiarkan dirinya beristirahat.

Meski masih takut.

Meski masih ragu.

Malam ini, setidaknya, ia tahu satu hal.

Ia tidak sendirian.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!