NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita, Setelah Semua

Waktu tidak menyembuhkan segalanya.

Ia hanya memberi jarak yang cukup agar luka bisa dilihat tanpa berteriak.

Enam bulan berlalu tanpa pengumuman. Tidak ada pesta kemenangan. Tidak ada deklarasi damai. Dunia bergerak seperti biasa—berisik, cepat, sering kali kejam—sementara di sudut kecilnya, dua orang belajar hidup dengan versi diri mereka yang baru.

Rumah itu tidak besar.

Terletak di pinggir kota yang tidak terlalu terkenal, dengan halaman kecil dan pohon lemon yang berbuah lebih rajin daripada yang diharapkan. Carmela memilihnya karena jendelanya menghadap pagi. Matteo menerimanya karena rumah itu tidak punya sejarah.

Mereka membangunnya pelan-pelan.

Carmela membuka toko buku kecil di sudut jalan—bukan bisnis besar, tidak ambisius. Rak-raknya rendah, kursinya nyaman, dan selalu ada teko teh hangat di dekat jendela. Orang-orang datang untuk membaca, untuk diam, untuk merasa tidak sendirian tanpa harus berbicara.

Ia tidak lagi lari dari masa lalu.

Ia juga tidak menjadikannya identitas.

Kadang, ada orang yang mengenalinya. Ada yang bertanya. Carmela menjawab secukupnya. Tidak defensif. Tidak minta pengertian. Ia belajar bahwa keberanian tidak selalu harus keras.

Matteo berhenti dari sebagian besar dunia lamanya.

Tidak sepenuhnya—ia tahu itu mustahil. Tapi ia mengubah cara ia berdiri di dalamnya. Tidak lagi di depan dengan tangan berlumur, melainkan di samping, mengawasi, menutup pintu yang perlu ditutup, membiarkan yang lain mengering dengan sendirinya.

Nama Lorenzo masih disebut—lebih jarang, lebih pelan. Pria itu tidak jatuh. Ia menyusut. Kehilangan pengaruh, kehilangan cerita yang membuatnya besar. Itu hukuman yang lebih kejam daripada penjara.

Matteo tidak mengejarnya.

Beberapa pertempuran tidak perlu dimenangkan—cukup tidak diwariskan.

Suatu sore, Carmela duduk di halaman, membaca manuskrip kecil yang ia tulis sendiri. Bukan memoar. Bukan pengakuan. Hanya kumpulan cerita pendek tentang perempuan yang belajar berkata “tidak” tanpa merasa bersalah.

Matteo menyiram tanaman, berhenti sejenak. “Kau akan menerbitkannya?”

“Mungkin,” jawab Carmela. “Atau mungkin hanya akan kuberikan pada orang yang membutuhkannya.”

Matteo tersenyum. Ia menyukai jawaban itu.

Mereka tidak selalu sepakat.

Ada hari-hari ketika Matteo kembali terlalu diam. Ada malam ketika Carmela ingin sendiri. Mereka bertengkar kecil tentang hal remeh—jam makan, keputusan perjalanan, rencana yang berubah. Tapi mereka tidak lagi menggunakan cinta sebagai senjata.

Mereka berbicara.

Kadang terlambat. Kadang kikuk. Tapi jujur.

Pada suatu pagi yang cerah, Carmela berdiri di dapur, memotong lemon. Matteo masuk, menyandarkan dagu di bahunya.

“Aku mendapat tawaran,” kata Matteo.

Carmela berhenti. “Dari dunia lamamu?”

“Dari dunia yang mencoba menjadi baru,” jawab Matteo. “Posisi bersih. Lebih banyak meja rapat daripada lorong gelap.”

Carmela menoleh. “Apa yang kau rasakan?”

Matteo berpikir sejenak. “Takut. Tapi tertarik.”

“Takut itu baik,” kata Carmela lembut. “Berarti kau peduli.”

Matteo mengangguk. “Aku tidak akan mengambilnya tanpa bicara denganmu.”

Carmela tersenyum. “Dan aku tidak akan memintamu tinggal hanya karena aku takut kehilangan.”

Itu kesepakatan mereka sekarang.

Sore hari, mereka berjalan ke toko buku. Carmela menyusun rak, Matteo memperbaiki engsel pintu yang berdecit. Seorang anak kecil bertanya apakah ia boleh membaca di lantai. Carmela mengangguk. Matteo memberikan bantal kecil.

CarmelaHidup terasa… biasa.

Dan itu luar biasa.

Malam tiba. Mereka duduk di sofa, lampu redup, hujan turun pelan di luar. Carmela menyandarkan kepala di bahu Matteo.

“Kau menyesal?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak,” jawab Matteo tanpa ragu. “Aku menyesal tidak belajar lebih cepat. Tapi tidak pada pilihan.”

Carmela menghela napas. “Aku juga.”

Matteo mencium keningnya. “Jika suatu hari dunia kembali ribut…”

“Kita akan duduk,” potong Carmela, tersenyum kecil.

Matteo tertawa pelan. “Kita akan duduk.”

Di meja kecil dekat jendela, ada foto sederhana—tidak berpose, tidak sempurna. Hanya dua orang yang tertawa, setengah buram, di halaman rumah dengan pohon lemon di belakangnya.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada bayangan.

Hanya kehidupan yang dipilih, satu hari pada satu waktu.

Dan itu cukup.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!