Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Vampir!
Aku enggak butuh serangan panik sekarang, atau kabur dari kenyataan. Yang aku butuhkan cuma menyelesaikan tes sialan ini dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi aku buru-buru klik benar-salah asal-asalan, mengirim hasilnya, lalu langsung pergi.
“Lets gooo!” kataku, sambil menatap lampu-lampu super terang di atas kepala. Aku tahu lampu-lampu itu bakal bikin kepalaku cenat-cenut.
“Kamu kelihatan mengerikan!” kata Agnes sebelum memutar badan dan buru-buru keluar ruangan.
“Makasih!” bentakku kesal.
Aku sudah muak sama omong kosongnya. Aku memperhatikan tengkuk lehernya saat dia membawaku kembali ke ruang perawatan. Dari sana terdengar ribut suara kursi diseret.
“Buat lingkaran!” teriak seorang perempuan. “Ya Tuhan, Fenella, masa kamu enggak tahu apa itu lingkaran? Kasian banget sih kamu.”
Perempuan itu mendesah panjang. Kami meninggalkan koridor dan masuk ke ruangan itu.
Ada sekitar dua puluh pasien, semuanya sedang membawa kursi ke satu sisi ruangan. Aku tahu itu enggak mungkin cukup untuk semuanya, jadi aku tebak mereka dibagi ke beberapa sesi kelompok.
Mereka bergerak kayak zombie, pelan-pelan menyeret kursi. Kursi seseorang lepas dari genggamannya dan orang itu cuma berdiri bengong, kedip-kedip pelan. "Sialan!"
“Astaga!” seru perempuan itu. Dia tampak cukup ramah, tapi aku enggak percaya sama petugas kesehatan mental mana pun.
Buat aku, mereka musuh, sama seperti sipir penjara buat para tahanan. Enggak bisa dipercaya dan selalu melakukan sesuatu demi kebaikan mereka sendiri.
Perempuan itu jalan terhuyung ke arahku pakai sepatu hak tinggi. Rambut pirangnya disanggul ala Prancis, dengan beberapa helai uban muncul dari akarnya.
Senyum paling tulus menempel di wajahnya saat dia mendekat. Ada kerutan di sekitar matanya, aku tebak umurnya lima puluhan. Di lehernya tergantung rantai perak panjang dengan liontin pentagram bertatahkan permata.
Agnes buru-buru minggir, tangannya masuk ke saku depan seragamnya.
“Ini menyenangkan,” kata perempuan itu. “Kami jarang banget dapet pasien baru. Oh, sayang, kamu pasti bakal suka di sini. Semuanya seru dan kamu bakal sembuh. Semua pikiran aneh itu bakal hilang gitu aja,” katanya sambil melambai-lambaikan tangan di udara.
Aku menengok ke orang-orang yang tampak seperti zombie dan enggak ragu sama omongannya. Orang-orang ini kelihatan hampir enggak bisa berpikir, jadi pikiran aneh memang enggak mungkin muncul.
Sebuah kursi jatuh dari tangan seorang cewek, dan perempuan itu menengok lalu menghela napas panjang.
“Fenella, ya Tuhan!”
“Pergi sana, anjing!” balas si Fenella.
Aku perhatikan dia kayaknya enggak peduli sama sekali. Dia kelihatan mabuk. Fenella tampak kayak cewek punk tunawisma, lengkap dengan sepatu bot ujung baja yang talinya dibiarkan terbuka dan jeans hitam ketat robek-robek.
Perempuan itu kembali menengok ke aku dengan tatapan penuh rahasia.
“Sekarang, coba aku lihat kamu. Kita selalu kedatangan cewek-cewek secantik ini di sini.” Matanya menyapu wajahku, dan senyumnya memudar.
“Aku capek banget,” ketusku. Jelas banget aku menatapnya dengan tatapan memelas.
“Uh-huh, aku ngerti. Oke, aku Jetta. Kamu Rowena, kan? Itu singkatan dari ....?”
“NGGAK.”
“Oke, Rowena, duduk di lingkaran. Hari ini pesta penyambutan kamu!”
Beberapa orang mendengus. Seorang cowok dengan kulit paling gelap mulai tertawa terbahak-bahak.
Pandanganku langsung ke sosok yang aku duga Venom.
Siapa namanya tadi?
Torvald.
Topengnya samar-samar mengarah ke arahku. Rasanya enggak nyaman karena aku enggak tahu dia lagi memandang ke mana, ke kaki aku, atau ke sesuatu yang lebih mesum. Lebih parah lagi, aku sama sekali enggak bisa lihat ekspresi atau wajahnya. Siapa pun bisa ada di balik topeng itu. Siapa pun. Aku enggak tahu orang macam apa dia.
Bisa jadi ... yang aku tahu cuma satu, dia jelas-jelas tertarik sama aku, dan dia berbahaya.
Aku menjauh dari sisi ruangan tempat dia duduk dan memilih kursi di sebelah Fenella. Dia menyilangkan satu kaki di atas yang lain, lalu menatapku dengan tajam.
“Coba aku tebak,” kata Fenella sambil mengetuk dagunya dan menyipitkan mata. "Kamu zombie, ya?"
“Ah, abaikan dia, sayang. Begitulah mereka,” kata Jetta sambil melirik Fenella. Wajahku langsung meringis, tersinggung.
“Aku belum pakai make-up, aku kelihatan kayak mayat?” gumamku sambil menyilangkan tangan.
“Oh, jadi bukan zombie ya. Biasanya tebakan aku lebih akurat, tapi obat-obatan ini bikin semuanya agak kabur,” katanya sambil menepuk sisi kepalanya. Rambutnya hitam dengan ujung dicat biru kehijauan. “Eh, jangan tersinggung ya?” katanya sambil mendekat.
Aku sedikit mundur dan berpikir, jangan-jangan aku akan lebih nyaman sama psikopat bertopeng itu.
Dengan ragu, aku melirik ke arahnya. Begitu mata aku ke sana, dia langsung condong ke depan di kursinya.
“Aku suka tebak-tebakan,” kata Torvald dengan nada riang. Dia merentangkan kakinya lebar-lebar, terus mengayun naik-turun dengan cepat.
“Bisa enggak kalian berhenti semua? Kalian tahu obrolan kayak gini enggak diperbolehkan!” teriak Jetta tapi enggak ada yang peduli.
Aku bahkan enggak bisa lepaskan pandangan dari Torvald yang bersenandung sambil menatapku dari balik topengnya.
Fenella bersandar ke belakang, memberiku sedikit ruang.
“Putri duyung,” Akhirnya dia berkata sambil menjentikkan jari-jarinya yang bersarung tangan. “Mereka terkenal suka membunuh.”
Aku berusaha pasang muka datar sebisa mungkin, memaksa diri buat enggak bereaksi, menunjukkan kalau aku sama sekali enggak tertarik sama dia. Dia musuh nomor satu untuk keselamatanku di tempat ini.
Sayangnya, aku payah soal itu.
Wajah aku malah meringis.
“Hei, jangan natap aku kayak orang gila!” serunya. “Aku satu-satunya yang waras di sini!”
Ledakan tawa langsung pecah di sekeliling lingkaran. Para pasien lain ngakak kehilangan kendali. “Kalian semua gila!” lanjutnya sambil mendesah dan bersandar di kursinya. Bahkan Jetta pun ikut tertawa.
“Oke, kalian berdua salah. Kita bakal bilang ini sekali aja dan enggak akan pernah membahasnya lagi! Nona Rowena di sini ngira dirinya vampir. Benar, kan?” katanya sambil mengernyitkan hidung.
“Vampir?” Aku langsung mengerutkan kening.
Maksud aku, iya sih, aku sedikit terobsesi dengan darah … tapi aku enggak sebodoh itu sampai mengganggap aku ini vampir.