NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas baru Wisnu

Tepat tengah malam akhirnya Dirga bisa lepas dari padatnya kegiatan kantor yang melelahkan.

Setelah memarkirkan mobilnya pada jejeran mobil di garasi kediaman Martadinata, Dirga segera bergegas masuk dengan tubuh Yeng begitu lelah.

Ia merasakan pegal di sekujur tubuhnya, dan tentu saja pikirannya yang juga sedang kacau.

Apa yang ia katakan kemarin pada Hita dan apa yang Hita katakan melalui kamera pengawas tadi benar-benar tak bisa lepas dari pikirannya.

Hita terbiasa dengan hinaan-hinaan di hidupnya sehingga ia bisa mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya sendiri tanpa raut sakit hati yang terlihat.

Dirga menarik dasinya, melonggarkan benda yang membuatnya merasa tercekik seharian sembari mendorong pintu kayu besar.

Sorot mata tajam di balik kacamata itu meredup ketika melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya.

Lian dan Hita masih berada di ruang tamu seperti saat Dirga membuka kamera pengawas di laptopnya sore tadi. Hanya saja kini mereka tak sedang tertawa ataupun berbincang, melainkan terlelap di atas sofa.

Lampu ruang tamu dimatikan, hingga tampak remang-remang karena pencahayaan dari dapur, dan tentu saja dari laptop yang Masi menyala di atas meja.

Lian terlihat begitu pulas tidurnya bersandar pada punggung sofa, selimut menutupi tubuhnya hingga ke dagu sementara Hita berada di sampingnya.

Hita meringkuk di atas sofa, memeluk tubuhnya sendiri sementara pipinya tampak lucu menekan bantal.

Dirga perlahan mendekat, mengamati wajah istri pengganti dan adiknya secara bergantian sebelum sepenuhnya terfokus pada Hita.

"Hita."

Dirga berbisik pelan, ujung sepatunya menendang pelan lutut Hita, berupaya membangunkan perempuan itu.

Suara menyeramkan dari film hantu yang terputar di laptop menghiasi suasana, namun tak sama sekali mendapatkan perhatian Dirga.

"Hita."

Sekali lagi Dirga memanggil, tapi perempuan itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Kakinya menendang lebih kencang.

"Hita."

Ketiga.

"Hita."

Keempat. Belum ada jawaban.

Dirga mendengus kesal, menyisir rambutnya menggunakan jari dengan tampang frustasinya.

Perempuan ini kenapa susah sekali dibangunkan? Benar-benar membuatnya kesal.

Dirga perlahan berjongkok di samping sofa, mengamati bagaimana wajah polos itu terlelap dan terjebak di alam mimpi.

Luka kecil di dahi Hita masih terlihat, hanya saja tak ditempeli oleh plaster seperti saat di rumah sakit.

"Hita."

Dirga kembali memanggil, ragu-ragu tangannya melayang di pipi tembam itu sebelum menepuknya pelan.

"Bangun—"

Ucapan Dirga terpotong saat sesuatu ia rasakan di bawah telapak tangannya, dahinya berkerut bingung.

Untuk memastikan Dirga kembali menempelkan telapak tangannya pada pipi Hita, merasakan panas yang menyengat di sana.

"Kenapa panas sekali?" gumam Dirga, matanya menatap Hita dengan sesuatu yang samar-samar terlihat seperti kekhawatiran yang tiba-tiba.

Dirga seakan-akan melupakan segala ucapan kasarnya kepada Hita kemarin malam.

"Hita," panggil Dirga, nadanya lebih lembut dari sebelumnya. "Bagun, kenapa badanmu panas sekali?"

Namun alih-alih terbangun, Hita malah tak bergerak sama sekali. Napas perempuan itu berat, dipicu oleh demam yang menyerangnya.

Tanpa ragu Dirga menyelipkan tangannya di belakang lutut dan leher Hita, mengangkat perempuan itu ke dalam gendongannya dengan begitu mudah.

Dirga memejamkan matanya begitu merasakan panas tubuh perempuan itu menekannya, terutama dahi Hita yang menempel di lehernya.

Dirga juga bisa merasakan sisa-sisa luka goresan yang memenuhi tubuh Hita yang disebabkan oleh insiden di mall kemarin.

Kenapa bisa sepanas ini? Dirga yakin bahwa istrinya itu baik-baik saja tadi.

Dirga melangkah menjauh dari ruang tamu dan menaiki tangga, membiarkan Lian sendirian di ruang tamu bersama dengan laptop dan film hantu yang masih terputar.

"Apa yang harus aku lakukan padamu?" Dirga menunduk untuk menatap wajah istrinya itu. "Kau selalu merepotkanku, dan sekarang kau melakukannya sekali lagi."

Tak ada nada tajam yang biasanya ada di ucapan Dirga pada Hita, suaranya lebih stabil dan nyaris khawatir saat merasakan panas tubuh Hita yang menempel di tubuhnya.

Apakah ini karena rasa tanggungjawab lagi?

Dirga merebahkan tubuh mungil itu di atas ranjang dengan gerakan hati-hati begitu sampai di kamar, memposisikan bantal di belakang kepala Hita yang tampak masih terlelap.

Dirga menarik selimut menutupi tubuh Hita, selimut tebal yang sekiranya bisa menghangatkan.

Dirga mengamati bagaimana dada perempuan itu bergerak pelan di setiap napas berat, bagaimana tubuh kecil itu sedikit gemetar karena dingin. Sungguh malang istrinya itu.

Dirga melangkah keluar dari kamar untuk menuju dapur, mengambil mangkuk dan menghangatkan air untuk mengompres.

Tak butuh waktu yang lama untuknya kembali ke kamar dan menyiapkan obat. Semuanya dia lakukan dengan presisi yang sempurna dan begitu tenang.

Laki-laki itu duduk di tepi ranjang, saputangan kecil yang sebelumnya ia raih dari lemari ia mencelupkannya ke dalam mangkuk air hangat. Mengompres dahi perempuan yang menyusahkannua akhir-akhir ini.

Dirga menjauhkan tangannya dari dahi Hita begitu berhasil meletakkan saputangan itu di sana.

Dirga membuka bungkus obat dengan giginya, merobek dan menggenggam obat-obat kecil penurun demam di tangannya.

"Hita," bisik Dirga, menepuk-nepuk pipi Hita. "Buka matamu sebentar, kau perlu minum obat."

"Sebentar saja," bujuk Dirga saat Hita tak kunjung membuka matanya.

Dirga benar-benar tak ingat kapan terakhir kali ia bersikap begitu sabar seperti ini, tapi tetap saja ini membuatnya sedikit frustrasi.

Yang paling membuatnya bingung adalah kenapa ia tiba-tiba peduli. Setelah apa yang ia lihat tadi sore, Dirga mati-matian meyakinkan dirinya bahwa perkataan-perkataan jahat yang dilontarkan untuk Hita memang pantas perempuan itu dapatkan, tapi entah kenapa ia malah justru merasa bersalah.

"Lupakan saja jika kau tidak mau bangun," kesal Dirga, menyugar rambutnya dengan gestur lelah saat Hita tak juga membuka mata. "Kau benar-benar keras kepala."

Tapi meskipun begitu, Dirga akhirnya menyelipkan tangannya di belakang leher Hita dan sedikit menegakkan tubuh istrinya.

Dirga menyelipkan obat penurun panas itu di bibir yang pucat, dilanjutkan dengan air yang perlahan-lahan ia bimbing untuk Hita minum.

"Bagus sekali," bisik Dirga, memuji tanpa sadar.

Dirga perlahan-lahan kembali membaringkan tubuh Hita di kasur setelah memberi obat pada perempuan itu.

"Kak Dirga..."

Dirga menghentikan gerakannya secara naluriah tatkala mendengar gumaman Hita, tubuhnya berada di atas Hita saat berusaha kembali merebahkan tubuh istrinya itu di atas kasur.

Dirga sedikit memundurkan wajahnya untuk menatap wajah Hita. Mata perempuan itu masih terpejam, jelas tak menatapnya. Apakah Hita sedang bermimpi?

"Ya?"

Dirga terkejut pada jawabannya sendiri, pada bagaimana nada bicaranya menjadi begitu lembut saat menjawab gumaman Hita yang mengantuk dan lemas.

"Itu benar-benar kakak?" tanya perempuan itu masih dengan mata terpejam. "Kapan... kakak datang?"

"Baru saja."

Hita mengangguk, seakan-akan tak bisa mengatakan apapun karena mata yang berat dan tubuh yang tak nyaman karena panas.

Sepertinya perempuan itu juga terlalu lemas untuk menyadari Dirga yang begitu dekat dengannya.

Dirga perlahan-lahan menjauhkan tubuhnya dan berdiri tegak, memijat bahunya yang terasa kaku.

"Istirahatlah."

Dirga melangkah ke arah sofa, mendaratkan diri pada sofa empuk dan menyandarkan punggungnya pada punggung sofa.

Mata Dirga terpejam sejenak, pikirannya masih begitu kacau. Masalah kantor dan masalah pribadinya mengacaukan pikiran, mengacak-acaknya.

Pikiran tentang Loria kembali menyerang, menyakiti sekaligus memancing amarah. Bisa-bisanya wanita itu menyewa hotel dengan pria lain saat ia berusaha bersikap dingin dan menjaga jarak dengan wanita lain.

Tapi entah mengapa Dirga tak bisa membenci wanita itu, dan malahan berpikir apa sekiranya kekurangan di dalam dirinya hingga Loria berpaling dan mencari kesenangan pada pria lain.

Bagaimanapun Dirga akan tetap mengharapkan wanita itu dan berambisi membawanya kembali.

Dirga meraih handphonenya dan menghubungi nomor yang akhir-akhir ini sering ia hubungi. Wisnu.

"Selamat malam, Pak."

Belum ada semenit, Wisnu langsung menjawab.

"Maaf, kami belum memiliki petunjuk mengenai Nona Loria dan—"

"Wisnu," Dirga memotong dengan suara pelan namun tegas. "Saya bahkan belum bicara."

Jangan tanyakan sekesal apa Dirga dengan orang kepercayaannya itu saat Wisnu langsung menyerbunya akan kabar Loria yang belum diketahui pasti keberadaannya.

"Maaf, Pak," ujar Wisnu. "Tapi bapak menghubungi saya untuk menanyakan perkembangan tentang Nona Loria, kan?"

Dirga menghela napas. "Tidak, bukan itu kali ini."

Tak ada jawaban yang terdengar dari Wisnu selama beberapa detik, seolah-olah sosok di seberang telpon itu tengah berpikir apa yang kira-kira ingin Dirga bicarakan selain Loria.

Biasanya, jika Dirga menghubungi Wisnu itu sudah pasti menanyakan perkembangan tentang Loria.

"Lalu apa, Pak?"

Dirga sedikit menegakkan tubuhnya, menatap Hita yang kini terbaring di kasur besarnya.

"Saya ingin mengalihkan tugasmu untuk beberapa hari ke depan," jawab Dirga. "Kamu akan ditugaskan kembali di rumah, Nu."

"Di tugaskan kembali di rumah?" ulang Wisnu, seakan-akan heran. "Tapi kenapa, Pak? Apa Nona muda membuat masalah lagi sehingga harus diawasi?"

Terkaan Wisnu sontak membuat Dirga memijat pelipis, pusing rasanya.

Tapi memang kenyataannya selama ini Wisnu ditugaskan di rumah oleh Bram untuk mengawasi Lian yang begitu petakilan dan biang onar, kerap membuat ayah dan ibunya angkat tangan dan menyerah.

"Ya, anggap saja begitu," ujar Dirga. "Lian memang harus diawasi, tapi ada tambahan tugas yang akan saya berikan padamu, Nu."

"Tambahan tugas seperti apa, Pak? Dan bagaimana dengan Nona Loria jika saya kembali ditugaskan di rumah?"

"Jangan khawatirkan itu, saya akan meminta bantuan Baskara untuk mencari Loria," kesal Dirga, entah kenapa banyak tanya sekali Wisnu ini.

"Saya tugaskan kamu di rumah untuk menjaga adik saya, dan... Istri saya."

Tatapan Dirga tak lepas dari wajah damai Hita saat bicara.

"Istri bapak?" Wisnu terdengar sedikit terkejut. "Maksudnya... Nona Pramahita?"

Dirga mengangguk. "Ya."

Wisnu terdiam, bisa dibayangkan bagaimana wajah bingung laki-laki itu saat mendengar perintah tugas baru ini.

"Saya ingin kamu menjaga Hita dan Lian, itu tugasmu selama beberapa hari ke depan. Mereka sama-sama ceroboh, jadi jangan sepelekan tugas ini," peringat Dirga saat tak mendengar jawaban Wisnu. "Lakukan dengan penuh tanggungjawab."

"Dan satu lagi." Dirga menambahkan, pikirannya kembali pada beberapa hari yang lalu.

Pada interaksi Bram dan Hita.

"Apa, Pak?"

Dirga mengeratkan genggamannya pada ponsel, berpaling pada jendela kamar yang terbuka.

Dirga tak tau harus disebut apa perasaannya ini. Tapi jujur saja setiap melihat Bram dan Hita... Ia tampak tak nyaman. Apakah ini karena Dirga malu jika sosok yang menjadi istrinya bersikap genit? Atau tak ingin kakaknya itu tertarik pada istri penggantinya yang tak lebih dari sekedar anak haram?

Dirga menarik napas panjang, bersiap sebelum akhirnya bicara.

"Pastikan agar Bram jauh-jauh dari istri saya."

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Thor yang banyak donk updatednya
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
Liaramanstra: author usahakan ya kak🤍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!