Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
abAB 17
Nayla menoleh ke arah Adam yang sejak tadi mondar-mandir di dalam kamar hotel. Wajah pria itu terlihat tegang, rahangnya mengeras, sementara ponsel di tangannya tak henti-hentinya ia periksa, seolah berharap ada panggilan masuk yang tak kunjung muncul.
“Bagaimana, sayang? Apa kata asistenmu?” tanya Nayla akhirnya, suaranya terdengar berusaha tenang meski hatinya mulai diliputi kecemasan.
Adam menghela napas panjang sebelum menjawab, matanya menatap layar ponsel yang kembali gelap. “Kiandra yang melakukannya. Semua akses ke rekeningku dibekukan. Aku sudah berkali-kali menghubungi dia, tapi tidak satu pun panggilanku diangkat.”
Nayla berdecak kesal, nada tidak sabar langsung terdengar jelas. “Dia pasti sengaja melakukan ini,” ucapnya tajam. Ia menyilangkan tangan di depan dada, pikirannya berputar cepat. “Tapi bagaimana bisa? Apa mungkin… dia sudah mengetahui tentang perselingkuhan kita?” lanjut Nayla, kali ini dengan suara yang sedikit diturunkan, seolah takut dugaan itu menjadi kenyataan.
Adam terdiam. Pandangannya kosong menatap ke luar jendela, ke arah kota asing yang semula terasa romantis, kini justru menyesakkan. “Aku tidak tahu, tapi aku punya firasat buruk. Kita tidak bisa tinggal lebih lama di sini" jawabnya lirih.
"Lebih baik kita pulang ke Indonesia sekarang.”
Keputusan itu terasa pahit. Liburan yang seharusnya berakhir dua minggu penuh kenangan manis, kini terpaksa dipangkas menjadi hanya satu minggu yang berakhir dengan kegelisahan.
Tanpa kartu ATM milik Adam, mereka benar-benar tak bisa berbuat banyak. Hotel, makan, belanja, hingga transportasi, semuanya terasa menekan Nayla yang kini harus mengandalkan uang pribadinya.
Dengan wajah masam, Nayla mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi pemesanan tiket. Jari-jarinya bergerak cepat, meski hatinya mendidih. Ia menghela napas kasar saat notifikasi pembayaran muncul.
“Sial, Ini sama saja aku ikut mengeluarkan uang. Tabunganku berkurang banyak hanya untuk menyelamatkan situasi ini.” gerutunya, matanya melirik Adam dengan tatapan penuh tuntutan, namun pria itu hanya bisa diam, merasa tak berdaya.
Tanpa banyak kata lagi, mereka berdua mulai mengemasi semua bawaan. Pakaian yang belum sempat dipakai kembali dilipat tergesa, barang-barang dimasukkan ke koper tanpa kerapian. Tak ada tawa, tak ada desahan yang biasa mereka lakukan, yang ada hanya suara resleting koper dan desahan napas berat yang mengisi ruangan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah berada di bandara. Langkah mereka terasa berat, seberat pikiran Adam yang dipenuhi kecemasan akan apa yang menanti setibanya di Indonesia.
Di balik kepanikan itu, satu hal mulai terasa jelas, Kiandra bukan lagi wanita yang bisa ia kendalikan, dan permainan ini perlahan mulai berbalik arah.
"Kamu tidak mencoba menghubungi istrimu lagi? Dia tidak sadar kalau tindakannya itu sangat menyusahkan mu. Bagaimana kalau aku tidak ada? Bisa-bisa kamu kelaparan di negara orang dan tidak bisa kembali ke Jakarta" ucap Nayla berusaha mempengaruhi Adam.
Dia tidak sadar jika semua yang terjadi karena dia sendiri penyebabnya. Kiandra tidak mungkin membekukna rekening suaminya jika Adam tidak membelanjalan wanita itu.
"Diam Nay, aku tahu bagaimana Kiandra" ucap Adam tidak senang jika ada yang menjelekkan istrinya. Karena dia sendiri belum tahu penyebabnya apa? Yang jelas Kiandra tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan yang apapun.
*****
Sementara itu, suasana di rumah Nayla mendadak berubah menjadi ricuh. Siang hari yang seharusnya berjalan tenang mendadak dipecah oleh suara deru mesin mobil dan langkah kaki berat di halaman depan. Beberapa pria bertubuh tegap, mengenakan pakaian rapi dan sorot mata tegas, berdiri di depan rumah dengan sikap tak memberi ruang untuk dibantah.
Aria yang tengah berada di ruang tamu langsung bergegas keluar, diikuti oleh suaminya. Wajah Aria memucat saat melihat mobil yang selama ini ia gunakan, mobil mewah milik Nayla yang dibelikan Adam sudah dikelilingi oleh orang-orang asing itu.
“Hei! Mau apa kalian? itu mobil saya! Kalian tidak bisa begitu saja mengambilnya. Saya bisa melaporkan kalian dengan tuduhan pencurian!” teriak Aria dengan suara meninggi, berusaha menutupi rasa panik yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ia berdiri di depan mobil itu, seolah tubuhnya bisa menjadi penghalang.
Salah satu pria maju selangkah. Nada bicaranya datar, tanpa emosi, seakan sudah terbiasa menghadapi teriakan seperti itu. “Silakan saja, Nyonya. Kami tidak keberatan. Saya utusan dari perusahaan Mahendra, dan kami datang untuk mengambil mobil ini sesuai perintah.”
Ucapan itu seperti petir di siang bolong. Aria membeku di tempatnya. Suaminya refleks menggenggam tangan Aria, seolah memberi dukungan, namun raut wajahnya sama-sama bingung dan gelisah. Nama perusahaan Mahendra bukan nama asing bagi mereka, itu perusahaan Adam.
“Apa maksud kalian? Mobil ini sudah kami pakai berbulan-bulan, dan selama ini tidak pernah ada masalah.” suara Aria melemah, tak setajam sebelumnya.
Pria itu mengeluarkan beberapa berkas dan menunjukkan sekilas dokumen kepemilikan. “Mobil ini tercatat atas nama perusahaan. Kami hanya menjalankan tugas.”
Aria menelan ludah. Ia menoleh ke arah suaminya, mata mereka bertemu dalam kebisuan yang penuh tanya. Semua keberanian yang tadi meledak-ledak perlahan runtuh, digantikan rasa tidak percaya.
“Apa mungkin Adam yang menyuruh mereka?” bisik Aria, suaranya gemetar, seakan takut pada jawaban itu sendiri.
Suaminya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Tapi kalau memang dari perusahaan Mahendra… sepertinya ini bukan keputusan kecil.” jawabnya jujur.
Tanpa menunggu izin lagi, para pria itu mulai menjalankan tugasnya. Salah satu dari mereka masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, sementara yang lain memastikan tak ada hambatan. Aria hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumahnya.
Debu tipis beterbangan, menyisakan keheningan yang menyakitkan. Di dada Aria, amarah bercampur ketakutan mulai mengendap. Ada firasat kuat bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Dan kali ini, mereka bukan lagi pihak yang diuntungkan.
"Kita harus hubungi Nayla" ucap Aria.
"Tidak bisa, dia sedang di dalam pesawat menuju kemari. Kamu sabar saja dulu"
*****
Sementara itu di rumah Kiandra, dia sedang tertawa lepas mendapatkan informasi dari orang-orangnya. Jaret telah mengabarkan suaminya sedang dalam perjalanan pulang, dan orang-orang perusahaan yang berhasil mengambil mobil milik Nayla yang di belikan oleh suaminya. Dia sudah bertekad akan menyingkirkan gundik suaminya itu dengan caranya sendiri.
"Ini semua baru permulaan, kalau kau tidak mau menyingkir juga, maka jangan salahkan aku jika aku berbuat lebih dari ini. Aku bisa saja membuat karir mu hancur, dan membuatmu serta kedua orang tuamu mengemis di jalanan" ucap Kiandra penuh amarah dan rasa dendam.
Dia tidak sepenuhnya menyalahkan Nayla, karena di sini suaminya juga ikut andil dalam perselingkuhan ini. Dia juga pasti akan memberi pelajaran untuk suaminya itu.