Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-Hal yang Disebut Usaha
Sepanjang malam, Anjani merenungkan setiap kalimat Jeong sampai sulit tidur. Alhasil dia bangun sedikit kesiangan pagi ini. Beruntung jam kerja masih dimulai satu jam lagi, jadi tidak masalah.
Sekarang setelah berganti baju yang tidak pernah berganti gayaーselalu hanya atasan kaos panjang atau sesikut, dipadu jeans standar yang tidak ketat, lalu dibalutnya dengan long coat sebatas lutut, rambutnya yang sebatas pinggang tanpa poni hanya begitu saja, selalu diikat dua lipatan di belakang kepala sejajar telinga, dia bercermin.
"Melihat wajahku seperti ini, aku jadi yakin, Jeong mungkin hanya mengasihani. Dia bersinar seperti bintang, pasti banyak gadis dan wanita yang menginginkannya. Aku hanya seorang wanita lusuh yang sudah pernah menikah. Rasanya mustahil dia bisa menyukaiku. Belum ada ketulusan yang kulihat dari pengakuannya. Aku tidak boleh mudah terjebak."
Untaian kalimat itu merujuk padaーsemalam di akhir pertemuan, tepatnya di tangga jalan menuju ke kediamannya ini saat Jeong mengantar pulang dengan motornya, lelaki itu mengungkapkan perasaannya.
"Anjani ... alasan kenapa aku selalu muncul di mana pun, di sekitarmu, adalah karena aku menyukaimu.”
Anjani yang terkejut hanya bisa diam, mendengarkan tanpa menyela.
“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku tidak apa-apa jika kau butuh waktu yang banyak, aku akan menunggu. Tapi kumohon ... jangan langsung menolak. Di waktu kau berpikir dan menilaiku itu, aku akan berusaha menjadi sosok yang pantas untuk setidaknya masuk pertimbanganmu.”
Saat ini, mengingat itu, Anjani mendesah kasar.
"Aku harus bagaimana?" Diri sendiri pun bingung, hatinya masih dalam keadaan belum tertata. "Untuk menerimanya, aku bahkan belum bisa memastikan perasaanku sebaik atau seburuk apa. Tapi jika menolak terlalu cepat, dia pasti akan kecewa dan mungkin sedih.”
Sedikit banyak, mata dan hati sudah lumayan mengenal Jeong yang beberapa pekan terakhir terus muncul sebagai sosok yang hadir khusus untuknya.
Dari sana lahir ragam pertimbangan yang kesemuanya sama, belum yang ada condong ke mana beratnya.
"Aku akan sangat jahat jika mengabaikannya terlalu lama. Tapi jika begitu, aku perlu memutuskan segera, bukan?"
Bayangan wajahnya di cermin nampak buruk sekarang, terutama perasaannya.
“Bagaimana nanti sajalah!"
Memikirkan hal yang cukup sulit dan merenung seperti itu hanya akan membuatnya terlambat sampai di tempat kerja.
Ruas jari-jemari kurus menggamit tas, lalu melenggang ke arah pintu. Sepatu coklat kusam itu kembali membalut kaki. Usai lengkap semua, handle digenggam lalu mendorong diri untuk keluar.
Namun saat pintu tersibak lebar, dia tertegun dan berhenti. Matanya kembali mendapat kejutan tidak diduga, sepagi ini.
"Je-Jeong!"
Pria itu lagi, sudah berdiri dengan senyum merekah satu meter tepat di depan pintu. Rambutnya yang selalu teracak ke depan menutup kening dan hampir menusuk mata, seperti tak pernah disisir. Kendati begitu, tetap tidak bisa menyembunyikan wajah yang indahnya mengimbangi aktor ternama.
"Selamat pagi." Setelah menyapa ramah, Jeong mengeluarkan tangan yang tersembunyi di balik tubuh, sebuket bunga gerbera dia sodorkan pada Anjani. "Untukmu."
Aromanya enak, menusuk hidung Anjani. Bohong jika dia tak suka, bunga yang indah, diberikan oleh makhluk 'tak kalah indah.
Kaku satu tangannya meraih bunga itu hingga resmi dalam genggaman, begitu tak enak perasaannya karena malu, tapi dia tetap harus mengucapkan, “Terima kasih. Seharusnya kau tidak perlu repot begini.”
"Hanya satu buket! Satu truk setiap hari pun, aku tidak akan pernah merasa repot," kata Jeong, ringan percaya diri.
“Kau berlebihan. Meskipun kaya raya, kau tidak seharusnya melakukan itu, terlebih pada wanita seperti aku.”
Raut Jeong sekarang berubah mengerut. “Memangnya kau wanita seperti apa? Kauー"
“Aku janda! Lusuh dan miskin!” sambar Anjani, memotong kalimat Jeong, nadanya menekankan fakta bahwa tidak ada yang menonjol dalam dirinya.
Sesaat Jeong terendap mendengar itu. “Tapi aku suka,” katanya setelah itu. “Tidak masalah bagiku kau janda atau lansia, selama aku suka, selama aku merasa bahagia, aku tidak akan peduli apa pun, termasuk hal-hal remeh yang kau sebutkan itu. Bagiku ... nilaimu lebih dari sekedar visual.”
Wush!
Angin dingin seolah mengusap wajah Anjani, sulit menjawab lagi, teredam diam. Mendesah lalu membuang wajah.
"Ayo pergi bersama. Kuantar kau sampai ke tempat kerja.”
Sikap yang ditunjukkan Jeong itu, harus dia sikapi seperti apa? Pria itu terlalu alami, membuatnya seperti wanita keparat yang sok naif dalam beberapa saat.
"Tidak ... tidak usah. Aku bisa pergi sendiri.”
"Kenapa? Kau marah? Kau tidak suka bersamaku?"
"Tidak! Bukan begitu."
"Lalu? Apa aku membuatmu terganggu?"
Mendesah bingung, Anjani tidak tahu bagaimana cara menjawab lagi. Yang jelas, ada bagian yang terus membuat tak nyaman saat dalam posisi hanya berdua saja dengan lelaki di hadapannya ini. "Aku hanya ... hanya tidak mau meー"
"Aku bangun pagi dan mandi di pagi buta, menyiapkan kendaraan, lalu membeli bunga. Semua agar aku bisa sampai ke sini dengan badan wangi dan wajah yang tanpa debu, juga hadiah kecil itu." Jeong menyergah, hadiah kecil yang dimaksudnya adalah bunga di tangan Anjani. "Apa kau ingin membuat semua usahaku sia-sia?"
Anjani mendesah kasar.
Ini penyiksaan namanya. Dia jadi merasa sangat jahat sekarang. Di satu sisi ada perasaan malu karena sudah terlalu banyak merepotkan Jeong, di sisi lain ... dia justru merasa serakah dengan semua kebaikannya.
"Tidak usah merasa tak enak!" celetuk Jeong, paham ekspresi Anjani yang demikian. "Aku sedang berusaha. Dan dalam usaha itu ... bukankah kau sudah melihat dan merasakannya sendiri? Aku hanya ingin kau tidak menolakku. Setidaknya untuk mengantar sampai tempat kerjamu, sekarang.”
Anjani terdiam, menatapnya lagi dengan kebingungan sama.
"Tolong gunakan hatimu, Anjani. Jika sampai akhir kau tetap tak bisa tersentuh oleh semua yang kuusahakan ... sekurangnya, kau boleh menggunakan diriku saja untuk setiap yang kau butuhkan, tanpa perasaan sekalipun. Aku tidak akan keberatan."
...----------------...
Pada akhir Anjani kalah. Berpasrah naik ke kendaraan yang dibawa Jeong.
Kali ini tidak motor, Anjani sempat terkejut karena mobil yang cukup bagus. "Kau bawa mobil?"
"Iya. Milik temanku," jawab Jeong, tidak berbohong.
Itu mobil milik Kim Raon. Hanya sedan biasa. Jika Jeong membawa miliknya sendiri yang mewah selangit, Anjani bisa jadi akan muntah darah dan pingsan di tempat saat pertama tatap.
"Sepertinya nongkrong bersamaku semalam membuatku bangun kesiangan?" celetuk lelaki itu, membangun pembicaraan selama perjalanan singkat mereka. "Kau nampak kurang tidur."
Nge-blush, Anjani membuang wajah memalukan itu ke sisi lain saat mendengar pertanyaan Jeong yang tingkat sensitifitasnya lumayan tinggiーbaginya. "Ah, tidak kok. Bukan karena itu," sangkalnya. "Akhir-akhir ini aku memang agak sulit tidur.”
Akan sangat memalukan jika dia mengaku tak bisa tidur karena terendam dalam pikiran mendalam karena kata-kata Jeong yang bagai oase itu, semalam.
"Begitukah?"
"Ya."
"Kalau begitu kau harus konsultasi dengan dokter."
"Tidak, tidak separah itu. Aku akan membaik, pola tidurku akan normal setelah meminum vitamin."
"Kalau begitu kita beli vitamin."
"Tidak perlu. Aku masih ada di rumah."
"Harus diganti dengan yang lebih bagus. Buktinya kau masih begitu."
"Haaaa."
Pada akhir ... Jeong akan selalu menang.
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!