Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16: Saling Menguntungkan
Alice POV
Kalau tidak salah, Eri pernah memberitahuku kalau ibunya merupakan penyihir kelas atas, High Wizard sekaligus mampu membuat sesuatu yang kurasa itu adalah Alchemist.
Tak hanya itu, aku juga tahu betul melalui silsilah keluarga yang kubaca sebelumnya di perpustakaan kalau Keluarga Christina sangat mahir dalam bidang obat-obatan melalui ramuan, memungkinkan aku bisa mengajukan ini padanya.
"Jadi, bagaimana dengan duniamu sebelum kamu ada disini, Alice?"
Lagipula ia terlihat penasaran dengan kehidupan lamaku, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bernegosiasi dengannya untukku untuk bisa belajar sihir.
"Aku akan beritahu, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
Sip. Aku berhasil menarik rasa penasarannya.
"Aku akan beritahu semua yang ada di duniaku, tapi sebagai gantinya aku ingin kamu mengajarkan sihir padaku, Tante."
Tiba-tiba ekspresinya tegang saat terkejut mendengar satu syarat dariku sebagai pertukaran.
Aneh sekali. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Tidak, kurasa tidak ada yang salah.
Lagipula aku mengakui diriku sebagai reincarnator, seharusnya tidak ada masalah sedikitpun dengan mengajukan permintaan seperti ini padanya, kecuali jikalau aku mengakui gadis kecil yang ingin memimpin Kerajaan Thijam sebagai ratu berikutnya, itu baru salah karena menarik kecurigaannya padaku.
"Ya, tidak masalah."
"Eh?"
Entah mengapa aku merasakan sesuatu dibalik senyumannya, membuatku teringat masa laluku sebagai Nia di kehidupan lamaku.
•••••
"Tunggu... semudah itu?"
"Ya," angguk Lisa pada Alice dengan wajah tidak keberatan.
"Karena aku ingin tahu tentang banyak hal yang tidak aku ketahui di duniamu dulu. Tidak masalah untuk bercerita, bukan?"
Mendengar pertanyaan dari Lisa membuat Alice merasa ia tidak masalah dengan ini, tapi mengetahui ada rasa penasaran diwajahnya membuatnya terpaksa untuk menjelaskannya sekarang.
"Baiklah."
Dijelaskan oleh Alice pada Lisa mengenai dunia lamanya, dunia dimana ia sebelum reinkarnasi ke dunia ini sebagai Nia.
Pertama-tama, Alice menjelaskan kalau dunia lamanya memiliki alt transportasi seperti mesin yang bergerak karena bahan bakar bensin di jalan mirip seperti kereta kuda yang bernama mobil.
Tak hanya mobil, motor yang digambarkan mesin dengan roda dua juga dijelaskan olehnya pada Lisa, bahkan pesawat pun juga sama dengan terbang tinggi di langit-langit. Ada juga mesin yang bergerak di sekitar laut.
"Whoa!" Mendengar hal tersebut membuat rasa penasaran Lisa semakin meningkat, ia benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang ini.
"Apa lagi?" Mengangguk pada pertanyaan Lisa, Alice menjelaskannya lagi.
Di dunia lamanya, tidak ada peperangan yang terjadi antara manusia dan iblis melainkan hanya ada kedamaian dengan manusia di sana.
Mengenai teknologi, ada mesin seperti ponsel, mesin persegi panjang yang memiliki layar lebar yang bisa disentuh, bisa digunakan untuk berkomunikasi melalui pesan, panggilan, atau bahkan video call.
Lisa yang mendengarnya sempat tertarik untuk mengetahui seperti apa tentang dunia Alice, ia membayangkan penggambarannya di kepalanya untuk dapat memahami situasi di sana.
Dunia tanpa ada ancaman seperti iblis, tenang dan damai hanya ada manusia. Memiliki alat transportasi lebih hebat seperti motor, mobil, pesawat, dan kapal, semuanya bisa di segala jenis di situasi apapun.
"Hei, bagaimana dengan kehidupanmu?"
Seketika wajah Alice menegang. Ia tidak mengira kalau Lisa menanyakan tentang kehidupannya sebagai Nia, kehidupan lamanya di dunia tersebut yang ingin Alice lupakan karena tidak menyenangkan sama sekali sejak kepergian ayahnya yang meninggal karena kelelahan bekerja akibat berdagang.
Mengetahui kalau wajah Alice menegang, Lisa yang sempat hampir memaksanya memutuskan tidak ingin menekannya lebih jauh karena ia juga memiliki masalahnya yang tidak ingin diberitahu siapapun.
"Maaf, aku kelepasan."
"Tidak masalah. Aku memakluminya kok."
Tidak ada kebencian maupun kekesalan dari raut wajah Alice, ia hanya menganggap Lisa sebagai orang penasaran. Tidak menyalahkannya sama sekali karena Lisa tidak tahu atas kehidupan lamanya sebagai Nia, membuat Alice merasa lega kalau ia tidak menekankan pertanyaan ini padanya.
"Andaikan dunia ini seperti duniamu, mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Menurut Lisa, ia iri bila dunia ini seperti dunia dimana Alice berasal sebelum di-reinkarnasi kemari maka tidak ada lagi kesedihan, keputusasaan, kebencian, dan dendam yang terjadi antara manusia dan iblis.
Dengan begitu, ras lain hidup berdampingan satu sama lain, tanpa ada ego yang lebih tinggi yang mampu memantik peperangan.
Tapi, hal tersebut segera dibantah Alice.
"Meskipun dunia damai, kejahatan tetap ada."
"Ara... kupikir tidak ada kejahatan sama sekali."
Menggelengkan kepalanya berkali-kali, Alice menatap Lisa dengan wajah serius dengan hati yang berat saat menjelaskannya.
"Memang, dunia terlihat tenang dan damai di dunia lamaku. Tapi, itu tidak seperti kejahatan menghilang begitu saja karena kebanyakan orang yang terpuruk dapat berbuat kejahatan tanpa pikiran jernih."
Apa yang dikatakan oleh Alice ada benarnya.
Menurut Lisa, kejahatan bisa saja terjadi jikalau seseorang berada dalam kegelapan yang tidak bisa berpikir jernih, seperti dirinya di masa lalu.
Dimana saat itu, ia yang kehilangan suaminya, Vincent pernah dibutakan oleh kegelapan yang membuat pikiran dan pandangannya sempit hingga ia akhirnya membunuh semua pasukan iblis.
Tak hanya itu, ia tidak menerima kenyataan bahwa Vincent telah tiada. Tidak ingin hidup sendirian tanpa cinta, tanpa belas kasihan yang memenuhi kesehariannya sebagai suami-istri, terutama setelah ia melahirkan Eri, putrinya tanpa ada sosok ayahnya.
Awalnya Lisa tidak peduli pada apapun menyibukkan diri dengan bekerja sebagai bidang medis di kerajaan tanpa terganggu oleh siapapun, tapi sejak ia mengenal Luna, hari-harinya berubah meskipun hanya sedikit, itu sudah cukup baik ketimbang sebelumnya.
"Ada apa?" Tersadar dari lamunannya yang panjang, Lisa tersenyum pada Alice yang menatapnya bingung dengan memiringkan kepalanya padanya dengan wajah heran.
"Tidak. Hanya mengingat masa laluku."
"Begitu ya."
Alice tahu kalau ia membicarakan topik sensitif tentang apa yang dipikirkan oleh Lisa, ia bebas dari pertanyaan yang membuatnya penasaran atas kehidupan Alice sebagai Nia sebelumnya.
Tapi, jika ia melakukannya maka ia tidak menghormati keputusan dari kesedihan yang terpasang diwajah Lisa sebelumnya saat murung dalam lamunan panjang. Tidak menghormati kalau Lisa tidak menekankan pertanyaan ini, Alice justru malah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menutupinya.
"Baiklah, kurasa sudah cukup."
Tampak puas dengan penjelasan yang diberitahukan oleh Alice padanya, Lisa harap dunia ini bisa terwujud dalam cara seperti itu meskipun entah bagaimana ia meragukan pemikiran ini.
Ia hanya ingin dunia ini damai tanpa kehilangan siapapun lagi di sisinya, takut ia akan mengalami kesedihan mendalam dalam kondisi penuh keputusasaan, apalagi jikalau ia membenci ketidakberdayaannya saat ingat Vincent, suaminya terbunuh oleh salah satu monster girl, vampir.
"Andaikan dunia ini bisa seperti duniamu, mungkin tidak masalah untuk kehidupan ras satu sama lain tanpa ada perbedaan maupun perdebatan."
Mendengar keluhan dari Lisa, menurut Alice itu sangat masuk akal.
Tapi, menghentikan kebencian yang sudah mengakar sejak lama mustahil untuk dihilangkan jikalau dilihat dari sudut pandang orang-orang yang menderita kehilangan orang-orang terdekat mereka.
Bahkan jikalau Alice sejak awal merupakan orang-orang di dunia ini, ia yang kehilangan kedua orangtuanya karena musibah yang terjadi pada mereka disebabkan oleh ras iblis, mungkin ia akan membenci dirinya atas ketidakberdayaan, dendam tetap ada hingga ia mati.
Tapi sayangnya, Alice tidak memiliki itu untuk saat ini.
Ia hanya gadis yang di-reinkarnasi kemari dari Nia menjadi Alice. Belum pernah menyentuh dunia luar dari penjara bernama kastil ini meskipun kehidupannya dipenuhi dengan kemewahan, kekayaan, serta orang-orang terdekat seperti kedua orangtuanya yang baru seperti; Luna dan Ren, serta teman dekatnya yaitu Eri dan Ken.
"Yah, lupakan tentang itu." Kembali ke ekspresi serius, Lisa menatap tajam ke Alice tanpa terlihat santai seperti sebelumnya. "Mungkin ini terdengar mengejutkan untukmu, tapi aku akan mengatakannya padamu kalau kita sejalan untuk saat ini."
"Sejalan?" Tanya Alice, jelas bingung atas maksud dari Lisa. Tapi, Lisa tidak mengatakan apapun saat ini melainkan hanya mengangguk.
Dari perspektif Lisa, Alice merupakan satu-satunya gadis kecil yang memiliki pemikiran dewasa karena ia merupakan reinkarnasi dari kehidupan lamanya.
Mungkin saja kehidupan sebelumnya di dunia lamanya Alice merupakan orang dewasa? Ia tidak tahu pasti, tapi yang jelas menanyakan itu padanya akan mengganggu ruang privasinya.
Ini sebabnya Lisa memutuskan untuk memberitahu Alice berharap dengan penjelasan ini dapat membuatnya menerima apa yang dipikirkan oleh Lisa saat ini saat menerimanya untuk melatihnya sebagai murid untuk belajar sihir.
"Alasanku mengajarimu sihir bukan karena kasihan," kata-kata Lisa jelas tegas, tidak ada nada dingin, kebencian maupun kasihan pada Alice.
"Tapi karena kita sejalan. Aku melatihmu demi tujuanku, kamu mampu berkembang atau tidak urusan belakangan."
"Eh?"
Tidak memahami apa yang dikatakan oleh Lisa, ekspresi bertanya-tanya terpampang jelas di wajah Alice yang membuatnya semakin bingung.
"Singkatnya, aku melakukan ini karena permintaan seseorang karena aku ingin kamu melindungi dirimu dari bahaya orang lain."
"Bahaya orang lain?"
"Ya," sekali lagi, ekspresi serius terlihat diwajah Lisa tanpa terlihat mengeluh seperti sebelumnya saat hendak menjelaskan pada Alice, menatap langsung ke mata crimson miliknya yang menatap matanya juga.
"Seseorang menargetkan dirimu. Orang itu ingin kamu mati karena kamu tidak sesuai dengan tujuan orang tersebut."
Seketika ekspresi shock terlihat jelas diwajahnya, Alice tidak menduga kalau seseorang mengincarnya disaat ia lemah seperti ini.
Bukannya khawatir atau panik, Alice justru takut jikalau ia mati untuk kedua kalinya, ia ragu bisa mendapatkan kesempatan ketiga untuk kehidupan barunya di tempat lain atau ditempat ini.
"Kamu tidak tertekan, bukan?" Ada nada lembut dari Lisa yang menatapnya dengan wajah khawatir, takut jiwa Alice tergoncang karena pemberitahuan yang buruk yang disampaikan olehnya padanya.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Terlihat wajahnya yang kembali tenang, Alice melambaikan tangan padanya tanpa memperlihatkan kekhawatiran dan ketakutan supaya Lisa tidak mengkhawatirkannya agar tidak merepotkan dirinya.
"Kamu sungguh kuat ya."
"Benarkah?"
"Ya, kamu mirip seperti ibumu, Luna. Dia merupakan wanita pertama yang kukenal yang cukup tegar dalam menghadapi apapun, termasuk mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang dirinya."
Terkejut mendengar perkataan dari Lisa, menurut Alice apa yang dikatakannya ada benarnya.
Ibunya, Luna, memiliki sifat yang sama seperti dirinya di masa lalu sebagai Nia. Tidak mau mencari masalah melainkan cinta damai, mengutamakan perasaan orang lain, menengahi permasalahan yang ada tanpa mengkhawatirkan dirinya.
Tapi, satu hal yang membedakan antara Luna dengan Alice sewaktu ia menjadi Nia dulu.
Luna dikelilingi oleh kekayaan dan kekuasaan, disertai dengan orang-orang yang menyayanginya, sedangkan Alice sewaktu menjadi Nia, ia hanya disayangi oleh adik lelaki dan perempuannya, sedangkan ibunya tidak memperlakukannya dengan baik meskipun ia sudah berusaha keras untuk menafkahi keluarganya.
Memang, Alice tahu itu kesalahannya. Tapi tetap saja, ia tidak ingin berhenti bekerja sebagai Nia dulu untuk menikah, ia memiliki impian untuk tidak bergantung pada siapapun sebelum membahagiakan kedua orangtuanya.
"Baiklah, kurasa sudah cukup," sela Lisa yang memecahkan keheningan dari lamunannya maupun lamunan Alice dalam hening panjang.
"Besok datang kemari jikalau kamu tidak sibuk, aku akan selalu ada di kamarku."
"Tapi, bagaimana dengan Ibuku?"
"Jangan khawatir," senyum lebar terlihat dibibir Lisa dengan wajah percaya diri padanya. "Aku akan jelaskan kalau kamu tertarik untuk belajar bidang medis jadi kamu bisa berakting sesuai dengan caramu."
Ada rasa kagum diwajahnya, Alice tanpa sengaja bergumam "wow" yang didengar oleh Lisa, membuat Lisa yang menyadari kekaguman diwajah Alice terkekeh lalu mengusap-usap rambutnya dengan lembut layaknya putrinya sendiri.
"Jikalau kamu dalam bahaya, beritahu aku maka aku akan lindungi dirimu jikalau kamu tidak mengalami perubahan sedikitpun."
"Baik," angguk Alice, dengan wajah senang karena memiliki ibu angkat yang peduli padanya tanpa tahu apa yang terjadi diantara Lisa dan Gerald kemarin malam saat pembicaraan mereka mengenai situasi yang dialami oleh Alice.