Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Lantai Tiga
Suara desis gas halon yang keluar dari ventilasi di luar ruang server terdengar seperti ribuan ular yang sedang mengincar mangsa. Gas itu tidak berwarna, namun efeknya mematikan; ia bekerja dengan cara menghilangkan oksigen di udara dalam hitungan detik untuk memadamkan api—atau dalam kasus ini, memadamkan nyawa manusia.
Baskara segera menarik kerah jaketnya untuk menutupi hidung, meskipun ia tahu itu tidak akan membantu banyak jika gas tersebut merembes masuk secara masif. Di sampingnya, Alea tampak pucat. Gadis itu baru saja menyadari bahwa wanita yang ia panggil "Ibu" selama belasan tahun benar-benar berniat membunuhnya tanpa kedip.
"Bas, pintunya mulai bergetar karena tekanan udara yang berubah," bisik Alea dengan suara gemetar.
Baskara memeriksa segel pintu ruang server. "Ini pintu kedap udara untuk melindungi perangkat elektronik sensitif. Kita aman di sini selama sepuluh, mungkin lima belas menit. Tapi setelah itu, sistem ventilasi otomatis akan melakukan recycle udara, dan saat itulah halon akan masuk ke sini."
Baskara menatap layar monitor yang masih menampilkan sisa-sisa data dari file "Phoenix". Ia harus berpikir cepat. Di luar sana, Linda mungkin sudah pingsan atau mati, dan Sarah sedang menunggu kepastian dari atas.
"Alea, dengarkan aku. Kita tidak bisa menunggu gas itu hilang. Sarah akan mengirim tim pembersih dengan masker oksigen lengkap setelah gas ini disemprotkan. Kita harus bergerak sekarang melalui jalur yang tidak mereka duga," ujar Baskara sambil membongkar panel di bawah meja operator.
Di balik panel itu terdapat pipa pembuangan air chiller (pendingin) server yang menuju ke tangki pembuangan di dek bawah. "Ini sempit, kotor, dan sangat licin. Tapi ini satu-satunya jalur yang tidak terhubung dengan sistem ventilasi gas."
"Aku akan mengikutimu, Bas. Ke mana pun," jawab Alea dengan tekad yang membuat Baskara tertegun sejenak. Gadis yang biasanya lembut itu kini memiliki api di matanya—api yang lahir dari pengkhianatan yang tak termaafkan.
Baskara menendang penutup pipa hingga terbuka. Bau air berlumut dan bahan kimia pendingin segera menusuk hidung mereka. Baskara masuk terlebih dahulu, memposisikan dirinya untuk menahan beban Alea. Mereka merosot masuk ke dalam kegelapan yang pengap.
Sementara itu, di lantai tiga yang kini dipenuhi kabut gas halon yang mematikan, pintu lift berdenting terbuka. Dua orang pria mengenakan setelan taktis hitam lengkap dengan masker oksigen full-face melangkah keluar. Mereka adalah tim elit pribadi Sarah, unit yang tidak tercatat dalam daftar karyawan resmi Mahardika Group.
Salah satu dari mereka memegang perangkat pendeteksi panas. "Target tidak terdeteksi di koridor utama. Linda pingsan di depan pintu Brankas 00. Denyut nadinya lemah, tapi masih hidup."
"Abaikan dia," suara Sarah terdengar melalui radio di helm mereka. "Cek ruang server. Jika pintu terkunci, gunakan peledak termal. Aku tidak mau ada satu bit data pun yang keluar dari ruangan itu."
Kedua pria itu bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Saat mereka mencapai pintu ruang server dan mendapatinya terkunci dari dalam, salah satu dari mereka memasang muatan kecil di engsel baja tersebut.
DUAARR!
Pintu itu terlempar ke dalam, menabrak rak server hingga mengeluarkan percikan api. Namun, saat mereka masuk, ruangan itu kosong. Yang tersisa hanyalah monitor yang menampilkan pesan: DOWNLOAD COMPLETE. SOURCE DELETED.
"Nyonya, mereka melarikan diri. Data telah dihapus dari server lokal. Sepertinya mereka melakukan transfer eksternal," lapor pemimpin tim itu dengan suara berat.
Di pusat kendali, Sarah yang mendengar laporan itu menghancurkan gelas kristal di tangannya. Pecahan kaca menggores telapak tangannya, namun ia tidak peduli. Darah merah segar menetes ke lantai marmer, kontras dengan jubah merahnya.
"Sandi!" teriak Sarah.
Sandi, yang sejak tadi berpura-pura sibuk memulihkan sistem, menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. "Ya, Nyonya?"
"Ke mana jalur pembuangan dari ruang server mengarah? Jangan katakan padaku kau tidak tahu denah anjungan ini!"
Sandi terdiam sejenak, menghitung risiko. "Menuju tangki filtrasi di Dek 4, Nyonya. Tapi itu jalur buntu. Mereka akan terjebak di dalam tangki air yang terisolasi."
"Kirim semua orang ke Dek 4! Aku ingin mereka dibawa ke hadapanku hidup-hidup. Aku sendiri yang akan mematahkan leher anak itu sebelum aku membakar dokumen yang mereka bawa!" Sarah berteriak histeris. Kekuasaan yang selama ini ia jaga dengan darah mulai terasa goyah, dan ketakutan itu bermanifestasi menjadi kegilaan.
Di dalam pipa yang gelap, Baskara dan Alea merayap dengan susah payah. Air dingin membasahi pakaian mereka, membuat suhu tubuh menurun drastis. Baskara bisa mendengar gigi Alea yang bergeletuk karena kedinginan tepat di belakangnya.
"Sedikit lagi, Alea. Kita hampir sampai di bak kontrol," bisik Baskara.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang sangat banyak terdengar di atas kepala mereka. Melalui celah pipa, Baskara melihat cahaya senter yang menyapu lantai dek.
"Mereka tahu jalur ini," gumam Baskara. "Sandi terpaksa memberi tahu mereka, atau Sarah sudah menebaknya."
Baskara berhenti di sebuah persimpangan pipa. Ia melihat sebuah katup manual yang cukup besar. Ia tahu jika ia membuka katup ini, air dari tangki utama akan meluap dan membanjiri koridor Dek 4, menciptakan kekacauan yang bisa mereka gunakan untuk meloloskan diri ke tangga darurat.
"Alea, pegangan yang kuat pada besi di atasmu," perintah Baskara.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Menciptakan tsunami kecil," jawab Baskara singkat.
Dengan seluruh kekuatannya, Baskara memutar tuas katup tersebut. Suara gemuruh air yang tertahan mulai terdengar. Dalam hitungan detik, tekanan air yang luar biasa meledakkan sambungan pipa di depan mereka. Air menyembur keluar seperti meriam, menghantam pintu keluar Dek 4 dan membuat para pengejar di luar sana terhempas.
Dalam kekacauan air dan uap, Baskara menarik Alea keluar dari pipa yang pecah. Mereka merangkak di lantai yang kini tergenang air setinggi mata kaki. Alarm anjungan kini berubah menjadi suara sirine darurat banjir.
"Lewat sini!" Baskara menarik Alea menuju sebuah tangga monyet yang menuju ke arah helipad.
Namun, saat mereka baru mencapai anak tangga pertama, sebuah tembakan menyalak. Peluru itu menghantam dinding besi tepat di samping kepala Baskara.
Baskara segera menarik senjatanya dan membalas tembakan ke arah kegelapan. Di ujung koridor, Linda berdiri dengan wajah yang lebam dan mata yang penuh kebencian. Ia memegang senjata dengan kedua tangannya, meski napasnya masih tersengal akibat sisa gas halon.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Baskara!" teriak Linda. "Nyonya Sarah sudah menunggumu di neraka!"
Baskara mendorong Alea ke balik pilar baja. "Naik, Alea! Naik sekarang! Jangan menoleh!"
"Tapi Bas—"
"SEKARANG!" bentak Baskara.
Alea menangis pelan namun tetap memanjat tangga itu secepat mungkin. Sementara itu, Baskara dan Linda terlibat dalam baku tembak yang sengit di tengah genangan air. Ini bukan lagi sekadar soal perusahaan atau uang. Ini adalah perang antara mereka yang ingin menutupi dosa dan mereka yang ingin menebusnya.
Baskara menatap ke atas, melihat punggung Alea yang mulai menghilang di kegelapan tangga menuju dek atas. Ia tersenyum tipis. Setidaknya, satu bagian dari rencananya berhasil. Alea aman untuk sementara. Sekarang, ia harus menghadapi sisa-sisa iblis dari masa lalu ibunya ini sendirian.
Di telinga Baskara, suara Reno kembali terdengar melalui radio yang mulai rusak terkena air. "Bas... Sarah... dia sudah berada di helikopter... dia bersiap untuk pergi... kau harus cepat!"
Baskara mengokang senjatanya kembali. "Dia tidak akan pergi ke mana-mana, Reno. Tidak malam ini."