Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama kenalan dengan mama Dwi.
Hari kenaikan kelas pun tiba dan seperti biasa rapot harus di ambil oleh orang tua dan mama dari semalam sudah mempersiapkan baju dan tas apa yang harus di pakai bahkan kak Kanaya sampai turun tangan.
"Ribet amat sih ma, udah aja pakai yang menurut mama nyaman gak usah terlihat waw, " ucap ku di ambang pintu melihat kerempongan mama dan kak Kanaya.
"Gak bisa gitu dong sayang, mama kan gak mau terlihat seperti orang biasa nanti mereka malah memandang mama rendah, " balas mama sambil terus mencoba baju.
"Ya udah terserah mama, " ujar ku lalu pergi dari kamar mama dan masuk ke kamar ku untuk tidur karena sudah lumayan mengantuk.
Paginya aku bangun lalu bersiap untuk ke sekolah namun saat aku turun aku di buat terkejut melihat penampilan mama yang pada akhirnya kembali ke setelan awal.
"Nah kalau gitu kan cantik gak kaya ibu-ibu sosial lita, " puji ku setelah duduk di meja makan.
"Papa kamu tuh dia malah ngatain mama kaya ibu-ibu pejabat yang dapat duit dari hasil korupsi, " balas mama dan aku terbahak mendengar ucapan papa.
"Ma, kita itu gak bisa berpenampilan mewah jadi gak usah terlihat waw yang penting sopan dan kelihatan elegan, " ujar ku dan papa langsung mengacungkan jempolnya.
Namun tiba-tiba sebuah klakson mobil terdengar membuat kami langsung keluar untuk melihat dan ternyata itu kak Kanaya yang datang dengan membawa mobil mewah membuat aku kaget.
"Kanaya, kamu pakai mobil siapa? " tanya papa saat kak Kanaya menghampiri kami.
"Punya bang Indra lah dan dia yang nyuruh mama sama Riana pakai mobil ini, " jawab kak Kanaya.
"Serius kamu? " tanya mama dengan wajah senang. Namun berbeda dengan papa dia langsung masuk tidak bicara apa-apa dan kami semua tau jika papa gak setuju.
Kakak Kanaya dia langsung menyusul papa untuk menjelaskan semuanya. Papa sebenarnya tidak setuju jika keluarga kami harus mengikuti gaya kelurga bang Indra yang merupakan orang terkaya sedangkan kami hanya menengah ke atas. Aku dan mama akhirnya menyusul papa dan kak Kanaya namun saat kami sampai mereka sedang bicara. Bang Rian dia berdiri di depan kak Kanaya dan papa dan tiba-tiba bang Rian memotong ucapan mereka.
"Kalau papa merasa tidak enak dengan semua pemberian atau kebaikan bang Indra, ya sudah pakai saja punya ku agar papa gak merasa hutang budi, " ucap bang Brian membuat semua orang kaget.
"Maksud kamu Rian? " tanya papa.
"Nanti aku jelaskan sekarang aku mau panggil anak buah ku untuk mengantar mama dan Briana ke sekolah, " jawab bang Rian lalu menghubungi seseorang dan tak lama benar saja sebuah mobil yang tak kalah mewah datang.
"Kalian berangkat saja, tar ke buru siang!" ucap bang Rian dan kami pun langsung pergi dengan naik mobil milik bang Rian.
Tibanya di sekolah benar saja lapangan di penuhi dengan berbagai mobil dan mobil itu bukan mobil bisa melainkan mobil-mobil mewah.
"Briana, " panggil Zahara menghampiri ku dan tak lupa menyalami mama.
"Tante cantik banget, " puji Zahara pada mama.
"Makasih sayang, mama kamu mana? " tanya mama.
"Aku gak sama mama tapi sama kakak karena mama sibuk, " jawab Zahara karena mama seorang pengusaha.
"Ya udah ayo kita ke kelas pasti acaranya akan di mulai, " ajak ku dan kami semua masuk ke kelas dan Zahara masuk kelasnya.
Tak lama wali kelas ku masuk dan langsung membuka acara. Lagi dan lagi aku dapat juara kelas dan itu bagi ku tidak terlalu spesial karena terlalu sering. Setelah banyak bicara pembagian rapot pun di mulai dan satu persatu nama murid langsung di panggil. Saat giliran ku aku pun ke depan bersama mama dan bu guru mulai memujiku dan itu membuat aku sedikit muak karena terlihat dia seperti ada niat terselubung apa lagi setelah tau kalau aku adik ipar dari pemilik sekolah ini. Setelah selesai aku dan mama keluar dan saat di luar mama bertanya.
"Mama gak ngerti deh kenapa dia ramah banget sama kita, " ucap mama.
"Ya wajar lah karena dia tau siapa mama, jadi dia cuman cari muka aja, " beritahu ku membuat mama kaget.
"Udah ah pulang yu, " ajak ku namun tiba-tiba aku berpapasan dengan Dwi dan mamanya.
"Tante, " sapa Dwi membuat aku menatapnya namun dia malah cuek aja.
"Tante kenalin ini mama saya, " ucap Dwi mengenalkan mamanya pada mama dan membuat mereka mengobrol dan itu membuat aku kesal.
"Lo kenapa pasang wajah BT? " tanya Dwi.
"Ya gimana gue gak kesal lah, lo ngapain coba ngenalin nyokap lo ke nyokap gue, " bentak ku kesal.
Dwi dia malah terbahak membuat aku memukulnya.
"Sakit woy, " ucap nya sambil memegang tangannya.
"Ya lagian lo ngeselin sih, " ujar ku.
"Gue sengaja ngenalin nyokap gue sama nyokap lo biar gue gampang deketin lo nya, "balas Dwi.
" Ngapain deketin gue? "tanya ku sok bego.
" Ya buat jadiin pacar gue, "jawab nya dengan mudah.
" Dih ogah gue jadi pacar lo. Yang ada gue bakal makan ati karena lo gak cukup sama satu cewek, "balas ku sambil mengangkat bahu.
Dwi dia malah tertawa lagi dan melihat ke arah belakang ku.
" Lihat apa lo? "tanya ku sambil melirik ke belakang ku.
" Ada Yudistira, "jawab nya membuat aku kaget dan mengerti dari ucapan Dwi.
" Jadi lo ngomong gitu karena ada dia? "tanya ku.
" Iya, karena gue gak ada perasaan sama lo, gue cuman butuh bantuan lo buat dekati April, "jawab nya.
" Terus ngapain lo kenalin nyokap lo? "tanya ku lagi.
"Ya kali saat gue ketemu lo dan nyokap lo pura-pura gak kenal, kan gak mungkin, " jawab nya.
"Oh, " balas ku.
Mama dan mamanya Dwi selesai mengobrol nya dan kami pun pulang namun saat di jalan mama malah memuji Dwi dan ibunya juga baik.
"Ma, aku sama Dwi itu cuman temanan gak ada pacar pacaran, lagian ya saat ini dia lagi naksir teman ku April, " beritahu ku.
"Ya mama kan cuman muji dia bukan maksud buat nyuruh kamu dekat dengan nya, " balas mama.
Aku pun langsung memalingkan wajah ku dan menatap ke samping. Aku dan mama tidak bicara lagi kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak butuh waktu lama kami sudah sampai dan aku pun langsung turun dan masuk rumah. Namun aku kaget saat melihat bang Brian duduk di ruang tamu.
"Abang ngapain duduk disini? " tanya ku.