*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16; Konflik
Cabang Seturan udah jalan dua minggu.
Ramai, lancar, dan omzetnya bikin Mas Bayu senyum-senyum sendiri tiap malam.
Tapi di balik itu, ada satu hal yang bikin Alya nggak bisa tidur nyenyak: novel keduanya.
Editor udah kirim deadline final. 3 minggu lagi.
Masalahnya, 40 halaman terakhir masih kosong.
Alya duduk di meja 7 cabang Senja #1 jam 10 malam, laptop nyala tapi layar blank.
Revan keluar dari dapur bawa dua gelas susu panas.
“Kamu belum nulis apa-apa lagi?” tanya Revan pelan, duduk di sebelahnya.
Alya geleng. “Aku stuck, Van. Tiap kali mau nulis, rasanya… nggak jujur.”
Revan nggak langsung jawab. Dia dorong satu gelas ke Alya, terus baca file draft di layar.
Bab 12 sampe 15 udah selesai. Endingnya manis. Tokoh utama milih maafin mantan yang ninggalin dia, terus buka kafe kecil di pantai.
“Bagus kok,” kata Revan.
“Terlalu bagus,” jawab Alya cepat.
“Ini bukan gue. Ini versi gue yang pengen semua orang suka.”
Revan ngernyit. “Maksud kamu?”
“Endingnya harusnya dia nggak maafin. Dia milih pergi. Dia milih sendirian. Karena kadang, maaf itu bukan solusi.”
Revan diem. Lama.
“Kalau gitu, pembaca bakal kecewa, Al. Mereka suka cerita yang nyembuhin.”
“Nah itu dia,” Alya ketawa pahit.
“Gue nulis buat nyembuhin mereka, tapi gue sendiri nggak sembuh.
Gue capek jadi penulis yang nyediain happy ending buat semua orang, tapi hidup gue sendiri nggak happy ending.”
Suasana jadi tegang.
Revan narik napas. “Jadi kamu mau bikin ending yang bikin orang nggak balik lagi baca buku kamu?”
“Gue mau bikin ending yang jujur!” suara Alya naik setengah oktaf.
“Gue capek bohong, Van!”
Revan berdiri.
“Oke. Kalau gitu gue pulang.”
Alya langsung nyesel.
“Van, tunggu—”
Tapi Revan udah jalan ke pintu.
---
Mereka nggak ngomong 2 hari.
Di kafe, interaksi mereka cuma soal stok susu, jadwal karyawan, sama transfer gaji.
Dingin. Kaku.
Mas Bayu ngeliat itu cuma geleng-geleng.
“Anak muda. Marahan gara-gara ending novel.”
Hari ketiga, Alya nggak kuat.
Dia nunggu Revan selesai shift malem, terus nyetop dia di depan kafe.
“Gue minta maaf,” kata Alya pelan.
“Gue nggak bermaksud bentak kamu.”
Revan nggak langsung jawab. Dia lepas helm, taruh di motor.
“Gue juga minta maaf. Gue nggak boleh maksa kamu nulis yang bikin kamu nggak nyaman.”
Alya ngangguk. Terus pelan-pelan deketin, narik ujung kaos Revan.
“Van…”
“Hmm?”
“Gue takut. Kalau endingnya jelek, orang bakal bilang gue gagal lagi. Gagal move on, gagal nulis, gagal jadi Alya yang baru.”
Revan diem. Terus dia peluk Alya singkat.
“Kamu nggak gagal. Kamu cuma manusia. Dan manusia itu boleh capek, boleh marah, boleh nggak mau maafin.”
Alya nyandar. Suaranya kecil.
“Tapi kalau endingnya jelek, kamu masih mau di sini nggak?”
Revan mundur dikit, tatap mata Alya.
“Alya, gue milih kamu bukan karena ending cerita kamu.
Gue milih kamu karena tiap hari kamu milih buat jujur, meski sakit.”
Alya kedip pelan. Ada air mata yang hampir jatuh.
“Manja banget sih kamu. Bikin gue nggak bisa marah lama.”
Revan senyum miring.
“Strategi. Biar kamu nggak kabur lagi.”
---
Malam itu mereka balik ke kafe.
Nggak buat kerja. Cuma buat duduk di meja 7, buka laptop, dan nulis bareng.
Alya ngetik ending baru.
Tokoh utama nggak maafin mantannya. Dia tutup kafe, pergi ke pantai sendirian, duduk di pasir, dan bilang ke laut:
_“Aku lelah jadi orang baik. Mulai sekarang, aku jadi diriku sendiri.”_
Revan baca, terus ngangguk pelan.
“Pahit. Tapi… hidup.”
Alya nyandar ke bahu Revan.
“Kamu nggak benci gue kan?”
Revan nyengir.
“Benci sih enggak. Tapi gue benci kalau kamu nggak makan malem gara-gara nulis.”
Dia berdiri, masuk ke dapur, keluar bawa semangkuk mie goreng dan es teh manis.
“Deadline boleh dikejar. Tapi perut juga.”
Alya ketawa. Nyuapin mie ke mulut Revan duluan.
“Manja ya gue sekarang?”
Revan ngunyah, terus jawab pelan.
“Manja itu boleh. Asal sama gue.”
---
Besoknya, Alya kirim ending itu ke editor.
Balasannya cuma satu baris:
_“Berani. Aku suka. Ini yang bikin buku kamu beda.”_
Alya baca itu sambil duduk di pangkuan Revan di sofa kecil cabang Seturan.
“Katanya pembaca bakal kecewa.”
Revan ngelus rambutnya.
“Pembaca yang beneran, bakal ngerti.
Dan kalau ada yang nggak ngerti, biarin.
Kita nggak nulis buat semua orang, Al.
Kita nulis buat orang yang butuh denger ini.”
Alya ngangguk. Terus peluk Revan erat.
“Makasih ya. Udah nggak biarin gue kabur.”
Revan kecup keningnya.
“Gue janji. Selama kamu masih mau duduk di meja 7, gue nggak bakal pergi.”
Di luar, hujan turun pelan.
Di dalam, dua orang lagi belajar kalau cinta itu bukan cuma soal setuju.
Tapi soal tetap tinggal meski nggak setuju.
---
*[Bersambung: ]*
---