Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Anak yang Dicari untuk Dibungkam
Suara langkah kaki di atas basement semakin ramai.
Cepat.
Berat.
Dan jelas bukan polisi biasa.
Nadira memeluk Raka erat tanpa sadar.
Tubuh adiknya dingin.
Gemetar.
“Kak…”
“Nggak apa-apa.”
Padahal dirinya sendiri hampir tidak bisa bernapas.
Arsen berdiri paling depan sekarang.
Pistol di tangannya terarah ke tangga basement.
Tatapannya tajam.
Dingin.
Berbahaya.
Sedangkan ayahnya terlihat benar-benar serius untuk pertama kalinya malam itu.
“Kita keluar lewat belakang.”
“Memang ada jalan lain?” tanya Damar.
Ayah Arsen melirik dinding sisi kanan basement.
“Ada lorong lama.”
Papanya langsung membeku.
“Kamu yang bikin lorong itu?”
Pria itu tidak menjawab.
Dan Nadira makin sadar—
Rumah ini penuh rahasia yang bahkan pemiliknya sendiri tidak tahu.
BRAKK!
Suara pintu atas dihantam keras.
Mamannya langsung menjerit.
Raka refleks menutup telinga.
“Aku takut…”
Bisiknya pelan.
Nadira langsung menahan tangis.
Karena sekarang ia tahu—
Adiknya tidak pernah benar-benar hidup normal.
Ia tumbuh dalam ketakutan.
Setiap hari.
Selama bertahun-tahun.
“Arsen.”
Ayahnya bicara cepat.
“Kalau mereka turun, jangan kasih anak itu ketangkep.”
Tatapan Arsen langsung tajam.
“Kenapa mereka nyari Raka?”
Hening sepersekian detik.
Lalu pria itu menjawab pelan,
“Karena dia bukti hidup.”
Deg.
Semua langsung diam.
“Apa maksudnya?” tanya Nayla.
Namun ayah Arsen tidak sempat menjawab.
Karena—
DUARR!
Tembakan menembus pintu basement dari atas.
Kayu pecah berhamburan.
Mamannya langsung menangis histeris.
“Cepat buka lorongnya!” bentak Damar.
Ayah Arsen menekan salah satu batu dinding.
Dan suara gesekan berat langsung terdengar.
Grrrkkk…
Sebuah celah sempit terbuka di balik rak tua.
Lorong gelap.
Lembap.
Dan sempit.
“Masuk sekarang.”
Nadira langsung menarik Raka masuk lebih dulu.
Nayla membantu mamanya.
Sedangkan papanya masih terlihat shock.
Arsen tetap di belakang.
Menunggu semua masuk.
“Ayah ikut.”
Namun pria paruh baya itu justru diam.
Tatapannya mengarah ke tangga basement.
“Kalau aku ikut…”
Senyumnya tipis.
“…mereka bakal ngejar sampai ketemu.”
Deg.
Arsen langsung mengerti.
“Ayah mau tinggal di sini?”
“Harus ada yang ngalihin mereka.”
“Jangan bodoh.”
“Arsen.”
Tatapan pria itu akhirnya melembut sedikit.
Sangat sedikit.
“Ini pertama kalinya kamu milih jalan sendiri.”
Sunyi.
“Jangan gagal.”
Deg.
Nadira langsung melihat sesuatu yang aneh.
Untuk pertama kalinya…
Ayah Arsen terdengar seperti seorang ayah sungguhan.
BRAKK!
Pintu basement akhirnya jebol.
Suara langkah langsung terdengar turun.
Arsen refleks menarik pintu lorong hampir tertutup.
Namun sebelum itu—
Ayahnya menahan bahunya sebentar.
“Lindungi perempuan itu.”
Tatapan pria itu jatuh sekilas ke Nadira.
“Karena mulai sekarang…”
Senyumnya kecil.
“…dia kelemahan kamu.”
Deg.
Dan sebelum Arsen sempat menjawab—
Pintu lorong ditutup dari luar.
Gelap langsung menyelimuti mereka.
Suara tembakan pecah dari basement utama.
DUARR!
DUARR!
Mamannya langsung menangis lagi.
Sedangkan Nadira membeku.
Karena entah kenapa…
Ia punya firasat buruk.
Lorong itu panjang.
Sangat panjang.
Mereka berjalan dalam gelap dengan bantuan senter kecil Damar.
Raka terus menggenggam tangan Nadira.
Erat sekali.
Seolah takut terpisah.
“Aku nggak suka tempat gelap…”
bisiknya pelan.
Nadira langsung menoleh.
“Dulu kamu sering di sini?”
Raka mengangguk kecil.
“Kalau ada orang datang…”
Tatapannya turun.
“…Om Adrian suruh aku sembunyi.”
Air mata Nadira langsung hampir jatuh lagi.
Bayangan tentang masa kecil Raka terasa menyakitkan.
Tidak ada sekolah.
Tidak ada teman.
Tidak ada dunia luar.
Hanya basement.
Dan rasa takut.
“Siapa sebenarnya orang-orang itu?”
tanya Nayla pelan.
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Pak Rudi yang berjalan paling belakang bicara lirih.
“Mereka orang yang danain bisnis lama.”
Deg.
Damar langsung menoleh.
“Mafia?”
“Lebih buruk.”
Sunyi.
“Mereka orang-orang yang nggak bisa disentuh hukum.”
Bulu kuduk Nadira langsung berdiri.
Dan mendadak ia sadar—
Ini bukan sekadar konflik keluarga kaya lagi.
Ini sesuatu yang jauh lebih besar.
“Kenapa Raka penting buat
mereka?”
tanya Nadira.
Pak Rudi mengembuskan napas berat.
“Karena malam kecelakaan…”
Tatapannya jatuh ke Raka.
“…dia lihat semuanya.”
Deg.
Langkah Nadira langsung berhenti.
“Apa?”
“Dia saksi.”
Napas Nadira tercekat.
Sedangkan Raka terlihat bingung.
“Aku?”
Pak Rudi mengangguk pelan.
“Kamu lihat siapa yang nyuruh mobil itu ditabrak.”
Sunyi.
Jantung Nadira langsung berdegup kacau.
Dan perlahan…
Tatapannya jatuh ke arah Arsen.
Karena hanya ada satu nama yang terus muncul sejak tadi.
Ayah Arsen.
“Bukan Ayah gue.”
Suara Arsen langsung dingin.
Seolah bisa membaca pikiran Nadira.
Namun Nadira tidak langsung menjawab.
Karena sekarang…
Ia sendiri tidak tahu harus percaya apa.
“Kamu yakin?” tanya Damar pelan.
Tatapan Arsen langsung tajam.
“Ayah gue nggak sebrengsek itu.”
Namun bahkan setelah mengatakannya…
Ada keraguan kecil di mata pria itu.
Dan Nadira melihatnya.
Tiba-tiba—
DUARRR!
Suara ledakan terdengar dari arah basement utama.
Lorong ikut bergetar.
Mamannya langsung menutup mulut panik.
“Ya Tuhan…”
Nadira langsung menoleh ke belakang.
Dadanya terasa sesak.
Karena satu hal terus mengganggunya—
Ayah Arsen masih di sana.
Dan entah kenapa…
Ia tidak ingin pria itu mati.
Meski dirinya takut padanya.
“Kita harus terus jalan.”
Arsen menarik perhatian semua.
“Lorong ini keluar ke hutan belakang.”
Mereka kembali berjalan.
Semakin jauh.
Semakin gelap.
Dan suasana makin menyesakkan.
Sampai tiba-tiba—
Raka berhenti.
Tubuhnya mendadak kaku.
“Kak…”
Nadira langsung panik.
“Kenapa?”
Anak itu mulai gemetar hebat.
Tatapannya kosong ke depan.
“Mobil…”
Deg.
Nadira langsung merinding.
“Apa?”
“Api…”
Napas Raka mulai tidak beraturan.
“Suara Mama nangis…”
Tubuhnya mendadak lemas.
Arsen refleks menangkapnya sebelum jatuh.
“Dia shock.”
Pak Rudi langsung pucat.
“Memorinya balik.”
Raka mulai menangis.
Tangisan kecil yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Panas…”
Tubuhnya gemetar.
“Aku takut…”
Nadira langsung memeluk adiknya erat.
“Nggak apa-apa.”
Namun Raka justru mencengkeram bajunya kuat-kuat.
“Kak…”
Matanya mulai merah.
“Aku ingat…”
Sunyi.
Dan semua langsung diam.
Karena mereka tahu—
Momen ini penting.
Sangat penting.
“Waktu itu…”
Suara Raka gemetar.
“Aku dengar Om Adrian teriak.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Terus ada mobil lain datang.”
Deg.
Papanya langsung membeku.
“Mobil hitam.”
Tatapan Raka kosong sekarang.
“Ada orang turun.”
“Siapa?” tanya Arsen cepat.
Raka memejamkan mata kuat-kuat.
Seolah memaksa dirinya mengingat.
Lalu perlahan…
Ia menunjuk Arsen.
Tepat ke arah wajahnya.
“Aku nggak tahu namanya…”
Napas semua langsung tertahan.
“…tapi wajahnya mirip Kak Arsen.”
Deg.
Dunia terasa berhenti.
Mamannya langsung menutup mulut shock.
Nayla membeku.
Sedangkan Nadira merasa tubuhnya dingin total.
Karena itu berarti—
Ayah Arsen memang ada di sana malam itu.
“Tidak…”
Suara Arsen melemah.
Tatapannya berubah kacau.
Raka mulai menangis lebih keras.
“Dia lihat aku…”
Tubuhnya gemetar.
“…dan bilang aku harus mati.”
Deg.
Nadira langsung menoleh ke Arsen perlahan.
Jantungnya sakit.
Sangat sakit.
Karena sekarang…
Kenyataan itu terlalu jelas untuk dibantah.
“Dia bohong.”
Namun suara Arsen tidak lagi setegas tadi.
“Ayah gue nggak mungkin—”
“Arsen.”
Suara Nadira kecil.
Namun cukup membuat pria itu diam.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya…
Ada jarak di antara mereka.
Jarak yang menyakitkan.
Karena sekarang Nadira sadar—
Orang yang dicintainya…
Berasal dari keluarga yang menghancurkan hidupnya.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari belakang lorong.
Cepat.
Dekat.
“Sial, mereka nemu jalan ini!” bentak Damar.
Semua langsung panik lagi.
Arsen refleks menarik Nadira.
“Kita lari sekarang!”
Mereka langsung bergerak cepat.
Lorong terasa makin sempit dan gelap.
Suara langkah di belakang semakin dekat.
DUARR!
Tembakan memantul di lorong.
Mamannya menjerit.
Sedangkan Raka langsung panik hebat.
“Kak!”
“Nunduk!”
Arsen menembak balik sekali.
DUARR!
Suara teriakan terdengar dari belakang.
Namun itu tidak menghentikan mereka.
Akhirnya—
Cahaya terlihat di ujung lorong.
“Hutan!” teriak Nayla.
Mereka keluar satu per satu ke area hutan belakang rumah.
Hujan masih turun deras.
Udara dingin menusuk.
Namun belum sempat bernapas lega—
Beberapa lampu mobil langsung menyala dari kejauhan.
Deg.
Puluhan pria bersenjata berdiri di depan mereka.
Menunggu.
Dan di tengah semuanya…
Seseorang turun perlahan dari mobil hitam.
Pria tua.
Berkacamata.
Dengan senyum tipis menyeramkan.
Pak Rudi langsung pucat total.
“Tidak mungkin…”
Nadira menoleh cepat.
“Siapa dia?”
Namun jawaban pria tua itu sendiri membuat semua membeku.
“Akhirnya ketemu juga…”
Tatapannya jatuh tepat ke Raka.
“…anak yang seharusnya mati malam itu.”