NovelToon NovelToon
The Affair Mr. K

The Affair Mr. K

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Action / Selingkuh
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.

Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.

Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.

Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.

Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

​Deru mesin mobil membelah jalanan distrik elite Los Angeles yang sunyi sore itu. Di balik kemudi, Emmeline Valerio mencengkeram setir dengan jemari yang memutih.

Pandangannya lurus menatap aspal, namun pikirannya sepenuhnya berkecamuk. Logika kedokterannya terus berputar pada satu kesimpulan mutlak: dia harus pulang ke mansion Snowden.

​Dia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di apartemen mewah milik Max, saudara kembarnya.

Max terlalu cerdas, terlalu protektif, dan memiliki insting yang terlampau tajam. Jika dia bertahan di sana satu malam lagi dengan kondisi emosional yang kacau, Max pasti akan mengendus ada yang tidak beres dengan pernikahannya.

Lebih buruk lagi, jika Daddy Kensington sampai mencium keretakan ini sebelum Emmeline siap mengambil langkah hukum, perang terbuka antar dua dinasti bisnis raksasa tidak akan bisa dihindarkan.

Demi formalitas sosial, demi menjaga rahasia dari mata-mata keluarganya sendiri, dia harus memakai kembali topeng sebagai istri Edward Snowden.

​Namun, begitu gerbang besi hitam tinggi berukir lambang keluarga Snowden terbuka otomatis dan mobilnya meluncur melewati pelataran luas, dada Emmeline mendadak dilingkupi rasa sesak yang luar biasa.

Mansion bergaya neoklasik yang berdiri megah di depannya tidak pernah terasa seperti rumah.

Tempat itu tak ubahnya seperti sangkar emas yang dingin, sebuah monumen mati yang dibangun dari tumpukan saham, investasi, dan ambisi kosong dua keluarga.

​Emmeline mematikan mesin mobil. Dia berkaca sesaat pada spion tengah, memastikan riasan wajahnya sempurna dan jas dokter putihnya sudah tersimpan rapi di kursi belakang.

Digantikan oleh blus sutra mahal yang memancarkan kelasnya sebagai seorang Valerio. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menegakkan kembali keangkuhannya yang sempat goyah, dia melangkah keluar dan mendorong pintu utama mansion yang berat.

​Hening. Sunyi yang mencekam menyambutnya di lobi utama yang berlapis marmer Carrara.

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Begitu kaki Emmeline melangkah mendekati tangga melingkar menuju lantai dua, sebuah gelombang suara yang sangat dia kenali mulai merayap masuk ke indra pendengarannya.

Bukan suara keheningan rumah, melainkan suara tawa yang centil, renyah, dan sarat akan nada menggoda yang beradu dengan suara bariton rendah seorang pria.

​“Ah, Edward, jangan di sini... bagaimana jika pelayan atau istrimu yang kaku itu tiba-tiba datang?”

​“Persetan dengan Emmeline. Dia tidak akan pulang sore ini, Sayang. Wanita itu selalu mengemis waktu di ruang operasi untuk menghindari kewajibannya. Biarkan porselen pajangan itu membusuk dengan laporan medisnya.”

​Deg.

​Langkah kaki Emmeline membeku di anak tangga pertama. Darahnya seolah berhenti mengalir, menyisakan rasa dingin yang membekukan seluruh sendinya.

Suara pria itu adalah Edward Snowden, suaminya yang sah. Dan suara wanita itu... Niyna Boo. Selingkuhan yang semalam mengirimkan pesan-pesan menjijikkan ke ponsel suaminya.

​Emmeline mencengkeram pegangan tangga kuningan dengan sangat erat hingga kukunya memutih. Dia melangkah naik dengan sangat pelan, tanpa suara, bagai sebuah bayangan yang menuntut kebenaran.

Setiap langkah terasa seperti duri yang menghunjam telapak kakinya. Rasa mual berkecamuk di dalam perutnya, namun didorong oleh harga diri yang terluka, dia terus berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kamar tidur utama mereka—kamar yang seharusnya menjadi area paling privasi bagi sepasang suami istri.

​Pintu jati kamar utama itu tidak tertutup rapat. Pintu itu sengaja dibiarkan terbuka beberapa sentimeter, seolah-olah sepasang manusia di dalamnya sengaja ingin memamerkan kebejatan mereka pada dunia.

​Melalui celah sempit itu, mata bulat Emmeline menyaksikan sebuah pemandangan yang seketika menghancurkan sisa-sisa dunianya.

​Di atas ranjang bernuansa putih perak yang luas—ranjang di mana Edward selalu menolak untuk menyentuhnya dengan alasan sakit Sampahnya—dua orang manusia sedang terbuai dalam kegilaan yang menjijikkan.

Edward Snowden, dengan kemeja yang sudah terbuka setengah, sedang memeluk erat seorang wanita bertubuh sintal dengan pakaian yang sangat minim.

Wanita itu, Niyna, memiliki paras yang tidak sebanding dengan kecantikan aristokrat milik Emmeline, namun dia memiliki tatapan mata yang liar, murahan, dan penuh dengan gairah yang manipulatif.

​Edward mencium leher Niyna dengan rakus, jemarinya bergerak liar di atas kulit wanita itu dengan agresivitas yang tidak pernah sekalipun dia tunjukkan pada Emmeline selama empat bulan pernikahan mereka.

​"Kau sangat luar biasa, Niyna... jauh lebih hidup daripada Emmeline," bisik Edward, suaranya terengah-engah penuh gairah yang menjijikkan. "Emmeline tidak lebih dari sekadar boneka pajangan. Menyentuhnya hanya membuatku merasa sedang berada di dalam ruang otopsi. Dingin dan angkuh."

​Niyna tertawa manja, jemari berkukunya mengelus rahang Edward dengan posesif.

"Tentu saja, Sayang. Aku bisa memberikanmu apa pun yang tidak bisa diberikan oleh wanita suci dari keluarga Valerio itu. Termasuk anak-anak kembar yang akan mewarisi Snowden Group nanti."

​Melihat kegilaan dan pengkhianatan yang begitu vulgar di depan matanya, pertahanan mental Emmeline runtuh pada titik terdalamnya.

Dadanya terasa seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata hingga dia kesulitan bernapas. Rasa sakit, penghinaan, dan penolakan yang dia terima selama empat bulan ini berkumpul menjadi sebuah hantaman emosi yang luar biasa dahsyat.

​Tes.

​Satu tetes air mata hangat luruh begitu saja dari sudut mata indah Emmeline Valerio, mengalir melewati pipinya yang pucat. Itu adalah air mata kekecewaan, sebuah respons alami dari seorang wanita yang telah mencoba setia namun dibalas dengan pembusukan moral yang paling rendah.

​Namun, air mata itu hanya bertahan selama tiga detik.

​Emmeline segera mengangkat tangan kanannya, menghapus jejak basah itu dengan sekali sentakan kasar menggunakan jemarinya.

Matanya yang tadinya sayu seketika menajam, memancarkan kilatan es yang membara. Darah dinasti Valerio di dalam tubuhnya berontak dengan sangat keras.

Mengapa dia harus menangis untuk pria seperti Edward? Mengapa dia harus mengorbankan air matanya yang berharga untuk sampah yang bahkan tidak memiliki harga diri untuk menjaga kesetiaan di bawah atap rumahnya sendiri?

​Edward Snowden sama sekali tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan martabat keluarganya. Pria itu hanyalah seonggok parasit yang mencoba memanfaatkan nama besar Valerio untuk mengamankan posisi bisnisnya.

Penghinaan Edward tentang dirinya yang 'dingin seperti ruang otopsi' justru menjadi bahan bakar baru bagi Emmeline untuk membakar habis semua sisa rasa bersalahnya.

​Tiba-tiba, memori tentang sentuhan Kingdom Kyle Stone beberapa jam lalu di rumah sakit kembali berputar di kepalanya.

Sentuhan Kyle yang jantan, dominan, penuh dengan gairah murni dan pemujaan sejati yang membuatnya terbakar.

Kyle menginginkannya, Kyle menghargainya, dan Kyle mencintainya selama enam tahun tanpa celah. Dibandingkan dengan Kyle yang masif dan penuh kuasa, Edward Snowden di dalam kamar itu terlihat begitu kerdil, murahan, dan menjijikkan.

​Dengan keangkuhan yang kembali tegak sempurna, Emmeline melangkah maju. Dia tidak berniat membuat keributan seperti wanita kelas bawah yang mendapati suaminya berselingkuh.

Dia adalah Emmeline Valerio; dia akan menghancurkan Edward dengan caranya sendiri, pelan, taktis, dan mematikan.

​BRAK!

​Emmeline mendorong pintu kamar utama itu dengan satu sentakan tangan yang kuat, membuat daun pintu membentur dinding dengan suara gebrakan yang keras, memecah kegilaan dua manusia di atas ranjang.

​Edward dan Niyna tersentak hebat. Kegilaan mereka seketika terhenti. Edward langsung menarik tubuhnya menjauh dari Niyna, wajahnya memucat seketika saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu dengan postur tubuh yang begitu anggun, angkuh, dan tatapan mata yang sedingin es.

​"E-Emmeline?!" gagap Edward, suaranya bergetar hebat saat mencoba membenarkan letak kemejanya yang berantakan. "Mengapa kau... kau bilang kau Tidak akan Pulang!"

​Niyna, meskipun sempat terkejut, dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi sebuah senyuman sinis yang menantang.

Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh minimnya, namun matanya menatap Emmeline dengan pandangan mengejek, seolah-olah dia telah memenangkan pertempuran memperebutkan Edward.

​Emmeline tidak sudi menatap wanita jalang itu. Pandangan matanya yang tajam mengunci lurus pada wajah Edward yang kini dipenuhi ketakutan seorang pengecut.

Emmeline melipat kedua tangannya di depan dada, berjalan masuk beberapa langkah ke dalam kamar dengan gaya berjalan seorang ratu yang sedang menginspeksi area kumuh.

​"Ini masih jam tiga sore, Edward. Dan seingatku, ini adalah mansion milik kita bersama yang dibangun menggunakan setengah dari dana investasi keluarga ku," ucap Emmeline, suaranya terdengar begitu datar, tenang, namun setiap katanya memiliki tekanan intimidasi yang luar biasa berat.

"Jadi, aku memiliki hak mutlak untuk pulang kapan saja aku mau."

​Emmeline melirik sekilas ke arah ranjang dengan tatapan muak yang sangat kentara. "Aku tidak menyangka, seleramu ternyata jauh lebih rendah dari yang kubayangkan. Membawa barang rongsokan seperti ini ke dalam kamar utama kita? Kau benar-benar tidak memiliki kelas, Edward."

​"Jaga bicaramu, Emmeline!" Edward mencoba menggertak, bangkit berdiri dari ranjang untuk mengembalikan wibawanya sebagai kepala rumah tangga yang palsu, meskipun lututnya gemetar. "Niyna adalah wanita yang bisa menghargaiku! Tidak seperti kau yang selalu bersikap Sok suci dan angkuh!"

​Emmeline menyunggingkan sebuah senyuman miring yang penuh dengan penghinaan mutlak. "Sok suci? Tidak, Edward. Aku hanya tahu bagaimana cara menjaga martabat sebuah nama besar. Sesuatu yang tampaknya tidak pernah diajarkan di dalam keluargamu."

​Emmeline melangkah mendekati meja rias, mengambil tas tangan kecilnya yang tertinggal di sana semalam, lalu kembali berbalik menatap Edward.

​"Ingat satu hal, Edward," bisik Emmeline, suaranya merendah menjadi sebuah ancaman yang sangat dingin. "Malam ini ibumu akan datang untuk makan malam. Aku akan tetap berada di rumah ini, berdandan dengan gaun terbaikku, dan bersikap sebagai istri Valerio-mu yang sempurna di depan ibumu. Tapi setelah malam ini selesai..."

Emmeline menggantung kalimatnya, matanya berkilat berbahaya.

"Pastikan wanita jalangmu ini sudah keluar dari rumahku sebelum aku memutuskan untuk membersihkan sampah ini dengan caraku sendiri."

​Tanpa menunggu jawaban dari Edward yang masih membeku, Emmeline membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang begitu tegap dan angkuh.

Air matanya telah kering, digantikan oleh fondasi dendam yang kokoh. Konflik kecil di sore hari ini adalah percikan api pertama yang sengaja dia biarkan menyala, sebelum dia membawa seluruh badai kehancuran bersama Kingdom Kyle Stone.

1
Zahra Alifia Hidayat
love my kaelix😍😍😍😍
Zahra Alifia Hidayat
pangeran bungsu kak😍😍😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Sholikhah Sholikhah
penasaran dgn mantannya emmelin 🤔
Ros 🍂: mantan suaminya Sudah berakhir ya kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Bau2nya freya bkn gadis sembarangan,, mungkin ank konglo yg kabur / di culik pas kcl,, 🤭🤭 jodohnya ken kah,, jangan sampe ada cinta segi4,, 🤣🤣
Ros 🍂: Hihihi author mah ngikut alur Reader saja 🤭🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Tenang mom,, nanti jg di siapkan pawangnya masing2 untuk triple K sama othor,, 🤭🤭
Ros 🍂: haha mommy perlu dikasih tau kak🤭🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Cerita kaelix dulu kk,,! 😌
Ros 🍂: penasaran ya kak🤭
total 2 replies
Agus Tina
Lanjuut ... penasaran sama mantannya Mrs. Stone ...
Ros 🍂: Mantannya Siapa kak?
total 1 replies
Agus Tina
Bagus sekali ... alhirnya sang countess benar2 luluh
Ros 🍂: hehe iya kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Typo,, cucu audrey,, knp yara udah punya cucu,, 😌yara kan menantu audrey ipar emme,, 🤭
Ros 🍂: Author kacau kak🤣🤣 Lupaa 🤭🤭🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Triplet ya thorrrr,, plisssss
Ros 🍂: sesuai request ya kak🫶🥰
total 1 replies
Dev..
istrinya Kensington kan Audrey thor🤔😅
Ros 🍂: asli Sampe lupa Kak 🤭🫶
total 3 replies
Dev..
Kensington kan thor..
Ros 🍂: ma'aciww ya kak komentarnya 🫶🥰
total 2 replies
Agus Hidayat
lanjut,kak kok Yara terus Audrey kak😍😍😍😍
Ros 🍂: kak, itu keliru sama ceritanya yang sebelah, hehe maaf Typo ya kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Hidayat
kok Yara yg bener itu Audrey,Yara istrinya max menantunya ken🙏
Ros 🍂: maaf ya kak🤭 keliru 😭🤣🤣
total 1 replies
rachma yunita
lanjuuuuutt.. triple k
Ros 🍂: siap kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
tri
lanjutin kak... saat anak2 mulai besar dan mengacau hahaha
Ros 🍂: Hahaha siap kak🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Tina
Bahagia sekali ... selamat mr and mrs. Stone
Ros 🍂: hheheh🥳🥳
total 1 replies
Mundri Astuti
pas dah sama kyle, satu militer tangguh, sebelahnya dokter bedah Badas euy
Ros 🍂: hehe sama-sama badas ya kak🤭
total 1 replies
durrotul aimmsh
i love your story kak...👍
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kenapa mereka berdua tiba2 jd manusia bodoh🤣🤣🤣
Ros 🍂: kwkwk🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!