.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENANTANGAN
Pagi hari di Ibu Kota Utama Kekaisaran Nan Gong tidak pernah mencekam seperti ini. Langit yang harusnya cerah mendadak ditutupi oleh gumpalan awan hitam pekat yang berputar-putar, membentuk siluet kepala harimau raksasa yang seolah siap menelan seluruh kota.
BLAAAM!
Sebuah ledakan energi spiritual yang teramat dahsyat menghantam ubin jalanan di depan Penginapan Awan Surgawi. Tanah bergetar hebat, membuat retakan-retakan panjang menjalar di sepanjang jalan dan memaksa puluhan warga fana serta kultivator tingkat rendah di sekitar area tersebut jatuh pingsan berjemaah karena tidak kuat menahan tekanan mental yang menguar.
Ketika debu perlahan mengendap, sesosok pria paruh baya dengan jubah kebesaran bersulam harimau perak berdiri dengan tegak. Rambutnya berkibar liar, dan dari tubuhnya memancar aura ranah Core Formation tingkat tiga yang begitu pekat hingga membuat udara di sekelilingnya mendistorsi secara visual. Dia adalah Master Sekte Gu Xiong. Di belakangnya, belasan penatua inti Sekte Harimau Barat berdiri dengan senjata terhunus, memancarkan hawa membunuh yang membekukan darah.
"Ji Huang! Keluar dan hadapi kematianmu!" suara Gu Xiong menggelegar layaknya guntur di siang bolong, menggetarkan kaca-kaca jendela di seluruh Ibu Kota.
Di dalam lobi Penginapan Awan Surgawi yang sudah porak-poranda akibat tekanan aura tersebut, Ji Zhen berdiri dengan lutut yang gemetaran. Wajah sang ayah seputih kain kafan. Namun, mengingat pesan anaknya sebelum tidur semalam, dia memberanikan diri melangkah keluar pintu gerbang, menangkupkan kedua tangannya dengan panik ke arah penguasa ranah Core Formation tersebut.
"M-Mohon maaf... Pakar Agung Gu Xiong," suara Ji Zhen bergetar hebat, hampir tidak keluar dari tenggorokannya. "Tuan Muda saya... Tuan Muda Ji Huang... beliau menitipkan pesan untuk Anda."
Gu Xiong menurunkan pandangan matanya yang tajam seperti elang, menekan Ji Zhen hingga sang ayah hampir berlutut. "Pesan apa?! Apakah dia ingin menyerahkan kepala tampannya sendiri?!"
Ji Zhen menelan ludah dengan susah payah, lalu mengucapkan kalimat paling konyol yang pernah diucapkan seorang manusia di hadapan kematian. "Beliau berpesan... agar Anda bersedia menunggu antrean di lobi bawah atau di luar gerbang sampai jam dua belas siang nanti. Karena... karena saat ini Tuan Muda sedang berada di fase krusial tidur paginya dan tidak boleh diganggu oleh suara bising apa pun."
Suasana di depan penginapan mendadak menjadi sunyi senyap selama tiga detik penuh.
Para penatua Sekte Harimau Barat saling pandang dengan wajah melongo, sementara mata-mata klan besar yang bersembunyi di balik atap-atap rumah hampir saja jatuh tergelincir karena syok. Menyuruh seorang penguasa sekte ranah Core Formation yang sanggup meratakan kota untuk mengantre dan menunggu karena masalah tidur pagi?! Ini bukan lagi sekadar arogansi; ini adalah penghinaan mutlak yang belum pernah terjadi sejak fondasi kekaisaran didirikan!
Wajah Gu Xiong yang tadinya dingin seketika berubah menjadi merah padam, lalu menghitam karena amarah yang meledak ke tingkat maksimal. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol keluar bagaikan cacing.
"Bocah kurang ajar! Berani-beraninya kamu mempermainkan aku!" Gu Xiong meraung murka, seluruh energi spiritualnya dilepaskan tanpa sisa. "Jika kamu menolak keluar, maka aku sendiri yang akan menyeret mayatmu dari atas kasur itu!"
Gu Xiong mengangkat tangan kanannya, mengumpulkan energi hitam yang memadat menjadi cakar harimau raksasa berukuran sepuluh meter, lalu menghantamkannya langsung ke arah atap Paviliun Awan Surgawi tempat Ji Huang menginap.
BOOOM!!!
Atap paviliun mewah yang terbuat dari kayu cendana dan genting giok itu hancur berantakan menjadi puing-puing yang beterbangan. Sinar matahari siang yang terik seketika menerobos masuk tanpa penghalang, menyinari bagian dalam kamar yang kini tak beratap.
Di tengah-tengah reruntuhan kamar tersebut, di atas sisa-sisa kasur bulu angsa yang kini ternoda oleh debu, Ji Huang perlahan-lahan membuka kedua matanya.
Sinar matahari yang menyengat langsung menusuk sepasang mata sayunya. Kilatan merah keperakan yang tadinya tersembunyi jauh di dalam jiwanya kini menyala dengan intensitas yang sanggup membuat ruang dan waktu di sekitarnya seolah membeku. Rambut hitamnya yang acak-acakan bergerak sendiri tanpa angin, dan sebuah helaan napas yang sangat berat keluar dari bibirnya.
Janji tidurnya sampai jam dua belas siang telah dilanggar secara kasar. Atap pelindung kemalasannya dihancurkan.
Ji Huang bangkit berdiri dari atas kasur dengan gerakan yang sangat lambat. Jubah tidurnya yang longgar berkibar seirama dengan hawa kematian yang mendadak menguar dari tubuh fisiknya. Ekspresi wajah bantalnya saat ini tidak lagi sekadar cemberut; itu adalah wajah dari seorang Dewa Primordial yang siap menghapus sebuah peradaban hanya karena mereka merusak suasana paginya.
"Kamu..." Ji Huang berbicara dengan suara yang sangat rendah, namun anehnya, suara itu terdengar langsung di dalam gendang telinga setiap makhluk hidup di Ibu Kota, membuat jiwa mereka bergetar ketakutan. "Benar-benar... bosan hidup ya?"
Gu Xiong yang berada di luar tertegun sesaat merasakan tekanan aneh yang mendadak muncul, namun ego ranah tingginya menolak untuk mundur. Dia melompat naik, berdiri di atas sisa dinding paviliun yang hancur, menatap Ji Huang dengan pandangan kejam.
"Ji Huang! Akhirnya kamu bangun juga, sampah! Hari ini, aku akan mencabut seluruh meridianmu dan menghancurkan dantianmu sebagai pembalasan atas apa yang kamu lakukan pada penatuaku!" Gu Xiong berteriak, bersiap merapal jurus pamungkasnya.
Ji Huang tidak menjawab. Dia hanya melirik jidatnya sendiri di pantulan cermin rias yang retak, memastikan tidak ada benjol baru, lalu mengalihkan pandangannya ke arah piring perak kosong bekas bebek panggang kemarin yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Tangannya bergerak malas, memungut piring perak kosong tersebut. Sambil menguap lebar-lebar tanpa memedulikan hawa membunuh musuhnya, Ji Huang menatap Gu Xiong dengan mata setengah tertutup.
"Janggut perak, semalam aku sudah bilang pada ayahku," gumam Ji Huang dengan nada suara yang sangat mengantuk namun dingin. "Kalau ada yang berani merusak tidurku sebelum jam dua belas siang... aku akan mengubah sayap harimau yang kamu banggakan itu menjadi camilan soreku. Mari kita lihat, apakah daging ranah Core Formation itu rasanya sepahit pil obatmu atau tidak."