NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Mahendra menggenggam tangan Luna dengan sangat erat, seolah menyalurkan sebagian dari kekuatannya yang tak tergoyahkan ke dalam tubuh ringkih gadis itu.

Langkah mereka beriringan keluar dari kamar pengantin, memutus keheningan lorong belakang rumah yang sunyi.

Di ujung lorong, orang tua Luna yang sejak tadi menunggu dengan cemas langsung tersentak.

Mata mereka melebar, menatap tak percaya pada tautan jemari Luna dan pria paruh baya di hadapannya.

"Aku akan menikahi putrimu, Jovan," ucap Mahendra mantap, memutus keheningan sebelum ayah Luna sempat bersuara.

Jovan terperangah, wajahnya yang semula pucat kini memerah padam karena syok.

"Apa?! Jangan gila, Mahendra! Kamu itu calon ayah mertuanya! Apa yang akan dikatakan orang-orang nanti?!"

Mahendra tidak gentar sedikit pun saat mendengar perkataan dari Jovan.

"Anggap saja aku memang gila untuk menyelamatkan keluargamu, Jovan. Pilihannya hanya dua: membiarkan putrimu menanggung malu seumur hidup karena ditinggal kabur, atau membiarkan aku mengambil alih posisi bajingan kecil itu."

Jovan bungkam saat mendengar perkataan Mahendra menghantamnya telak tepat di ulu hati.

Sementara Mama Luna hanya bisa menutup mulutnya sendiri, menangis pasrah di dalam pelukan sang suami.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Mahendra menarik lembut jemari Luna.

Kemudian, mereka berjalan bersama menuju ke meja penghulu di ruang tengah.

Begitu sosok Mahendra dan Luna muncul di ambang pintu ruang utama, atmosfer di dalam ruangan seketika berubah drastis.

Riuh rendah obrolan para tamu mendadak senyap, berganti menjadi desas-desus yang merayap di setiap sudut ruangan.

Para tamu berbisik-bisik, saling menyenggol lengan satu sama lain saat melihat Luna bersanding bukan dengan kekasih mudanya, melainkan dengan pria matang berumur yang selama ini mereka kenal sebagai calon ayah mertua.

"Lho, kok papanya Fauzan yang maju?"

"Apa tidak salah? Itu kan calon mertuanya sendiri?"

"Astaga, beda usianya jauh sekali! Mau ditaruh di mana muka keluarga ini?"

Cemoohan dan tatapan menghakimi itu mulai membuat pertahanan Luna goyah.

Langkah kakinya melambat, kepalanya tertunduk dalam-dalam menyembunyikan genangan air mata yang siap tumpah lagi.

Merasakan getaran ketakutan dari jemari wanita di sampingnya, Mahendra mempererat genggamannya.

Ia sedikit merunduk, membisikkan kalimat tepat di samping telinga Luna dengan suara rendah yang menenangkan.

"Jangan dengarkan mereka. Tatap lurus ke depan, Luna. Mulai hari ini, ada Papa yang akan menjadi perisaimu."

Mahendra menuntun Luna untuk duduk di kursi pelaminan, tepat di hadapan Pak Penghulu yang juga tak mampu menyembunyikan raut keterkejutannya.

Kemudian Mahendra menatap tajam sang penghulu dan saksi nikah bergantian, mengisyaratkan bahwa tidak ada waktu untuk bertanya-tanya.

"Ayo kita mulai pernikahan ini," tegas Mahendra tanpa keraguan sedikit pun.

Jovan, dengan tangan yang gemetar hebat, akhirnya duduk di kursi wali nikah.

Ia menjabat telapak tangan kekar Mahendra—pria yang merupakan sahabat sekaligus kini resmi menjadi calon menantu... atau suaminya sang anak.

Setelah penghulu menuntun khotbah nikah singkat dengan suasana yang paling menegangkan sepanjang sejarah pernikahan di rumah itu, Jovan menarik napas dalam-dalam.

"Saudara Mahendra Dirgantara bin Gunawan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Luna Anastasya binti Jovan, dengan mas kawin seratus juta rupiah dibayar tunai."

Dengan satu tarikan napas, suara bariton Mahendra yang berat, tegas, dan berwibawa menggema di seluruh penjuru ruangan, membungkam setiap bisikan miring para tamu undangan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Anastasya binti Jovan dengan mas kawin seratus juta rupiah dibayar tunai."

"Saksi? Sah?"

"Sah."

Ketukan penghulu sah memutus status Luna. Detik itu juga, takdir baru yang rumit dan penuh badai resmi dimulai antara gadis berusia 25 tahun dan suaminya yang berusia 50 tahun.

Setelah ketukan penghulu resmi menggema dan doa selesai dipanjatkan, atmosfer tegang di ruang tengah perlahan mencair, meski sisa-sisa bisikan para tamu masih terasa di udara.

Mahendra berdiri dengan tenang, lalu membantu Luna yang masih tampak linglung untuk bangkit dari kursi akad.

Tanpa membuang waktu untuk ramah tamah yang tidak perlu, Mahendra berbalik menatap Jovan dan istrinya.

Setelah itu, Mahendra meminta izin untuk membawa istrinya pergi dari rumah tersebut.

Jovan menatap sahabat lamanya yang kini telah resmi menjadi menantunya.

Ia menatapnya dengan tatapan mata yang sarat akan beban, rasa bersalah, sekaligus secercah harapan.

"Jaga dia, Mahendra," ucap Jovan, suaranya terdengar berat dan serak.

Mahendra menganggukkan kepalanya dengan mantap tanpa keraguan sedikit pun.

"Kamu tahu pasti bagaimana aku menjaga apa yang sudah menjadi milikku, Jovan."

Dengan perlahan namun protektif, Mahendra merangkul pinggang ramping Luna, menuntun wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu melewati kerumunan tamu yang masih menatap mereka dengan berbagai spekulasi.

Mahendra membuka pintu depan dan membawa istrinya ke dalam mobil sedan hitam mewah miliknya yang terparkir di halaman.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar, Luna menyandarkan kepalanya ke kursi.

Napasnya berembus berat, mencoba mencerna perubahan status hidupnya yang terjadi dalam sekejap mata.

Mahendra masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin mobil, lalu melirik ke arah Luna yang masih mengenakan kebaya pengantin lengkap.

"Sekarang kita ke hotel," ucap Mahendra santai sambil memutar setir, membawa mobil itu membelah jalanan kota.

Luna tersentak. Kepala gadis itu menoreh cepat ke arah samping.

"Ke hotel?"

Mahendra terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu seksi di dalam ruang mobil yang sempit.

"Tentu saja, Istriku. Pengantin baru dan malam pertama. Bukankah itu kombinasi yang wajar?"

Mendengar kata 'istriku' dan 'malam pertama' keluar dari mulut pria berusia setengah abad itu, darah di tubuh Luna mendadak berdesir hebat.

Luna menutup wajahnya yang memerah padam dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan rona panas yang menjalar hingga ke lehernya.

Pikirannya mendadak traveling ke hal-hal yang belum siap ia bayangkan dengan pria matang di sampingnya ini.

"Papa, ini gila..." gumam Luna dari balik telapak tangannya.

Mahendra melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh pesona maskulin seorang Don Juan.

"Aku suka dengan kegilaan ini, Luna," sahut Mahendra santai, mempercepat laju mobilnya menuju tempat di mana lembaran baru pernikahan beda usia mereka akan benar-benar diuji.

Mobil sedan mewah itu melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.

Di dalam kabin, keheningan sempat merayap selama beberapa saat, hanya ditemani oleh suara hembusan AC yang dingin.

Luna perlahan menurunkan jemarinya dari wajah. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya melayang pada kejanggalan yang baru saja disadarinya sejak kekacauan di rumah tadi.

Ia menoleh, menatap profil samping wajah Mahendra yang tampak tenang dan fokus menyetir.

Garis rahang pria itu tegas, memancarkan aura dominan yang matang.

"Kenapa Papa tidak berada di pernikahan putra Papa?" tanya Luna yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada suaminya.

"Kalau Fauzan melakukan akad nikah dengan Mila pagi ini di tempat lain, bukankah Papa seharusnya ada di sana sebagai ayahnya?"

Mahendra tidak langsung menjawab dan langsung membelokkan setir dengan satu tangan yang tampak begitu lihai, sebelum akhirnya menghela napas pendek.

Sudut bibirnya terangkat, namun kali ini bukan senyuman sinis, melainkan senyum dingin yang penuh ketegasan.

"Karena Papa tidak pernah merestui hubungan murahan seperti itu, Luna," jawab Mahendra, suaranya berat dan terdengar mutlak.

Ia melirik Luna sekilas sebelum kembali menatap jalanan.

"Fauzan mengira dia bisa menentangku dengan kabur bersama wanita itu. Dia pikir, dengan membuat skandal di pernikahanmu, dia bisa memaksaku untuk menerima Mila sebagai menantu di keluarga Dirgantara. Tapi dia salah besar. Papa lebih memilih kehilangan seorang putra yang tidak tahu diuntung, daripada harus melihat harga diri sahabat Papa—ayahmu—hancur diinjak-injak oleh kelakuannya. Lagipula, sejak awal Papa tahu, wanita yang pantas menyandang nama Dirgantara itu kamu, bukan Mila."

Luna terdiam saat mendengar perkataan dari suaminya.

Perkataan Mahendra menghantam dadanya dengan cara yang aneh.

Ada rasa perih karena diingatkan kembali pada pengkhianatan Fauzan, tetapi di saat yang sama, ada rasa hangat yang asing karena menyadari betapa besarnya perlindungan yang diberikan oleh pria berusia 50 tahun di sampingnya ini.

Luna meremas gaun pengantinnya, menyadari bahwa di balik ketenangan sang Don Juan, Mahendra menyimpan ketegasan yang bisa melindunginya atau justru menjeratnya dalam takdir yang tak bisa ia hindari lagi.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!