NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kiriman Pembakar Amarah

Pagi itu, atmosfer di dalam ruang kerja utama lantai lima puluh terasa berbeda. Tidak ada lagi jarak aman. Meja Alana kini berada tepat di area pandang pria yang mengendalikan seluruh hidupnya. Bunyi ketukan jemari Devano pada papan tik komputer dan gesekan halus pena mahalnya di atas dokumen menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan ruangan.

Alana berusaha memfokuskan matanya pada layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham harian. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali bayangan Devano bergerak di ujung matanya. Pria itu kembali memakai topeng kelumpuhannya, duduk tenang di atas kursi roda dengan kemeja abu-abu yang lengannya terlipat rapi. Sifat dinginnya hari ini terasa lebih mencekam, seolah-olah kejadian di atas ranjang semalam hanyalah ilusi yang diciptakan oleh ketakutan Alana sendiri.

Tok, tok.

Pintu kaca buram diketuk dari luar. Jefri melangkah masuk dengan langkah cepat yang teratur. Di kedua tangannya, asisten kepercayaan itu membawa sebuah kotak persegi berukuran sedang yang dibungkus kain beludru hitam premium, lengkap dengan pita perak yang terikat rapi di bagian atasnya.

"Tuan Devano, maaf mengganggu waktu Anda," ujar Jefri sembari menundukkan kepala hormat. "Ada sebuah kiriman khusus yang baru saja tiba di lobi utama melalui kurir ekspres."

Devano tidak langsung menyahut. Ia hanya menghentikan gerakan penanya, perlahan mengangkat wajah tegaknya. Sepasang netra gelapnya menatap kotak mewah itu dengan pandangan menilai yang dingin. "Dari siapa? Jadwal kerja hari ini tidak mencantumkan adanya penerimaan hadiah dari kolega bisnis."

Jefri sempat melirik ragu ke arah Alana sebelum kembali menatap bosnya. "Kiriman ini... bukan ditujukan untuk Anda, Tuan. Nama penerima yang tertera di kartu ucapan adalah Nyonya Alana Adhitama. Dan pengirimnya adalah Julian Mahendra."

Mendengar nama itu disebut, Alana seketika menegakkan punggungnya. Pena di tangannya terlepas begitu saja, menggelinding di atas meja kayu. Debar kecemasan yang luar biasa kembali menghantam dadanya. Ia menoleh ke arah Devano, dan seketika itu juga, ia melihat perubahan drastis pada raut wajah suaminya.

Aura di sekitar Devano mendadak berubah menjadi sangat pekat. Seringai tipis yang sarat akan kekejaman muncul di sudut bibirnya. Tatapannya beralih dari kotak beludru itu, bergeser lambat hingga mengunci wajah Alana yang mulai memucat.

"Bawa kotak itu kemari, Jefri. Buka di depanku," perintah Devano. Suaranya terdengar begitu tenang, namun ketenangan itu justru mengisyaratkan sebuah ancaman yang mematikan.

Jefri dengan cekatan meletakkan kotak itu di atas meja besar Devano, lalu menarik pita perak dan membuka penutupnya.

Di dalam kotak tersebut terletak sebuah selendang sutra murni berwarna putih gading dengan sulaman benang emas yang sangat halus di sepanjang tepinya. Di atas selendang itu, terdapat sebuah kartu ucapan kecil berwarna hitam dengan tulisan tangan yang rapi menggunakan tinta emas. Devano meraih kartu tersebut dan membacanya dengan suara rendah yang mengalun sinis.

"Untuk Nyonya Alana yang anggun. Kain sutra ini selembut kulitmu. Gunakan ini untuk menutupi lehermu yang tampak kedinginan di bawah bayang-bayang mansion Adhitama yang kaku. Aku akan selalu menunggumu di duniaku. — Julian."

Krak.

Kartu ucapan tebal itu seketika hancur, teremas kuat di dalam kepalan tangan kanan Devano hingga tak lagi berbentuk. Sepasang mata elang sang penguasa berkilat dengan kemarahan cemburu yang begitu dahsyat, mengalirkan hawa intimidasi yang membuat ruangan luas itu mendadak terasa sangat sempit.

"Keluar, Jefri. Kosongkan jadwal rapat siang ini," desis Devano dengan nada suara yang bergetar menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.

"Baik, Tuan," sahut Jefri yang langsung berbalik dan melangkah keluar secepat mungkin, mengunci pintu ganda dari luar demi memberikan privasi mutlak bagi sang diktator bisnis.

Kini, Alana terperangkap sendirian di dalam ruangan. Ia bangkit dari kursinya dengan tubuh yang gemetar, melangkah mundur hingga pinggangnya membentur tepi meja kerjanya sendiri. "Tuan Devano... saya tidak tahu apa-apa tentang kiriman ini. Saya bersumpah tidak pernah berhubungan dengan Tuan Julian..."

Devano tidak membalas pembelaan diri Alana dengan kata-kata. Pria itu perlahan mencopot arloji mewahnya, meletakkannya di atas meja dengan bunyi dentingan yang tajam. Detik berikutnya, ia bangkit dari kursi rodanya. Tubuh tingginya yang tegap melangkah maju dengan derap yang lambat namun pasti, memotong jarak di antara mereka.

Alana memejamkan mata erat saat Devano sudah berdiri tepat di hadapannya. Pria itu tidak berteriak, tidak pula menghantam dinding seperti yang biasa ia lakukan. Kali ini, tindakannya jauh lebih tenang namun terasa seribu kali lebih mengancam.

Devano meraih selendang sutra kiriman Julian dari meja seberang, lalu dengan gerakan perlahan, ia melilitkan kain putih itu ke leher jenjang Alana. Ia menarik kedua ujung selendang tersebut hingga tubuh Alana terpaksa condong ke depan, melekat rapat pada dada bidangnya yang keras.

"Kau lihat ini, Alana?" bisik Devano, suaranya terdengar sangat serak dan berbahaya tepat di depan wajah Alana yang kini dipenuhi peluh dingin. "Bajingan Mahendra itu berani mengirimkan ini ke kantorku. Dia tahu aku menandaimu semalam. Dia tahu ada jejakku di lehermu, dan dia sengaja menantang kekuasaanku."

Napas Alana memburu, kedua tangannya terpaksa mencengkeram lengan kemeja abu-abu Devano untuk menopang berat tubuhnya yang mulai lemas. "Tuan... tolong... lepaskan... ini membuat saya sesak..."

"Sesak?" Devano menyeringai kejam, tatapannya turun menguliti bibir mungil Alana yang bergetar hebat. "Ini belum seberapa dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan pada keluargamu jika kau berani memikirkan pria lain di dalam kepala kecilmu ini."

Devano menarik lilitan selendang itu sedikit lebih erat, mengunci pergerakan Alana sepenuhnya di dalam kuasanya. Tangan kirinya yang bebas bergerak naik, menjalar ke tengkuk Alana, mencengkeram rambut panjangnya dengan tekanan yang pas untuk memaksa wajah cantik wanita itu mendongak mutlak menatap langsung ke dalam manik matanya yang dipenuhi obsesi gelap ekstrem.

"Aku sudah membuang uang miliaran rupiah untuk membersihkan sampah-sampah di sekitarmu, Alana. Aku sudah menjadikanmu wanita paling terhormat di depan publik. Dan sebagai gantinya, seluruh jiwa dan ragamu adalah properti eksklusif milikku," desis Devano dengan nada posesif yang mutlak. "Jika Julian mengira kain sutra ini bisa membawamu pergi dari sisiku, maka dia harus bersiap melihat perusahaannya terbakar habis di tanganku."

Sebelum Alana sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menenangkan amarah suaminya, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh dengan rasa cemburu yang membakar. ciuman kali ini terasa lebih menghancurkan, sebuah hukuman nyata atas kelancangan pihak luar yang mencoba mengusik hak milik sang tirani. Alana hanya bisa pasrah, tenggelam di dalam dominasi Devano yang mengunci seluruh kebebasannya di tengah kegelapan ruangan yang remang-remang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!