NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERBANG MAHKOTA AL-ANWAR

Matahari pagi keesokan harinya terbit dengan benderang, menyiram dinding-dinding kaca *Modern Luxury* rumah utama keluarga Mwohan di Jakarta Selatan. Sisa-sisa ketegangan dari malam pelarian yang gila itu kini benar-benar telah larut bersama embun pagi. Namun, bagi Gus Zayyad, ketegangan baru justru baru saja dimulai.

Pukul delapan pagi tepat, tiga mobil MPV premium berwarna hitam dengan pelat nomor dinas dan pelat wilayah Jawa Timur (L dan S) berhenti beriringan di depan pagar tinggi rumah keluarga Mwohan. Dari mobil pertama, turunlah beberapa pengurus senior dewan pengasuh Pesantren Al-Anwar yang mengenakan jas hitam formal berpadu sarung sutra premium dan peci hitam yang terpasang rapi.

Di tengah-tengah mereka, melangkah sesosok pria sepuh yang sangat dihormati Abah Kyai. Wajahnya yang teduh memancarkan wibawa spiritual yang luar biasa kuat, membuat atmosfer di sekitar pelataran rumah mewah itu mendadak berubah takzim.

Gus Zayyad yang sudah berganti pakaian dengan kemeja koko putih bersih berbahan linen premium dan sarung tenun halus, berdiri tegak di samping Bapak Handoko untuk menyambut rombongan tersebut. Penampilan Zayyad kini telah kembali seutuhnya menjadi putra mahkota yang dingin, kaku, dan penuh muruah sangat jauh dari citra *oppa* Korea dadakan yang semalam sempat tercipta di bawah riasan Davika.

"Assalamu'alaikum, Handoko," suara Abah Kyai mengalun dalam dan penuh kehangatan saat beliau melangkah maju, langsung memeluk Bapak Handoko dengan erat. Dua sahabat lama yang sempat dipisahkan oleh kelicikan masa lalu kini kembali dipersatukan di bawah takdir yang bersih.

"Wa'alaikumussalam, Abah Kyai... Akhirnya, keadilan Allah nyata," sahut Bapak Handoko dengan suara yang bergetar menahan haru, matanya berkaca-kaca saat menjabat tangan sang guru.

Zayyad membungkuk takzim, mencium tangan ayahnya dengan khusyuk. "Semua persiapan untuk sidang pleno pembacaan berkas pranikah yang baru sudah siap di dalam, Abah."

Abah Kiai menepuk bahu tegap putra tunggalnya itu dengan bangga. "Zayyad, kamu sudah menjaga amanah ini dengan sangat baik di Jakarta. Sekarang, mari kita selesaikan apa yang seharusnya diselesaikan dua puluh tahun lalu."

...----------------...

Sementara para kiai sepuh dan tokoh logistik hulu berkumpul di ruang sidang utama yang luas, suasana di lantai dua justru berbanding terbalik.

Nara duduk di depan cermin rias kamarnya, mengenakan gamis putih brokat elegan yang dipadukan dengan khimar satin senada yang jatuh dengan anggun di bahunya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Hari ini adalah hari penentuan draf pernikahan resminya dengan Gus Zayyad—sebuah pernikahan yang kini murni didasari oleh kehormatan, bukan lagi paksaan atau jebakan komersial dari Kamil.

Namun, ketenangan Nara mendadak buyar saat pintu kamarnya terbuka dengan sentakan pelan. Davika masuk sambil mengunyah permen karet, masih mengenakan *oversized hoodie* merah mudanya yang santai, kontras dengan rambut hitam lurus barunya yang kini dikuncir kuda asal-asalan. Tangan mungilnya memegang sebuah stoples kosmetik kecil yang sangat familiar bagi Nara.

"Mbak Nara! Davik punya ide brilian!" seru Davika ceriwis, sifat *random*-nya kembali menyala di saat yang paling tidak tepat. "Gimana kalau sebelum akad nikah nanti dimulai, Davik poles sedikit muka Gus kaku pakai sisa *liptint peach* yang semalam? Biar pas difoto buku nikah, muka Gus Zayyad enggak kayak orang lagi mau nagih utang kontainer!"

Nara langsung berbalik, matanya yang bulat melotot tajam menatap adiknya yang super degil itu. "Davika! Sekali lagi kamu sebut-sebut soal dandanin Gus Zayyad, Mbak bakal sita semua koleksi gantungan capybara kamu ya!"

Davika langsung mengerucutkan bibir plum-nya yang cemberut, memeluk stoples kosmetiknya erat-erat. "Pelit banget sih. Padahal semalam Gus kaku kelihatan pasrah-pasrah aja tuh waktu Davik pegang bibirnya di swalayan. Malah pas Davik senderan di bahunya karena lemas, Gus Zayyad badannya langsung kaku kayak patung Pancoran. Lucu banget tahu!"

Nara menahan napas, wajahnya mendadak memerah mendengar cerita polos namun intim dari adiknya mengenai apa yang terjadi selama malam pengejaran kemarin. Di dalam hatinya, Nara menyadari bahwa di balik sifat kedegilan tingkat dewa adiknya, ada sebuah ikatan aliansi tak kasat mata yang telah terbangun di antara Davika dan calon suaminya selama badai semalam berlangsung.

...----------------...

Tepat pukul sebelas siang, ketika draf pernikahan yang baru dan bersih sedang dibacakan di hadapan dewan pengasuh Al-Anwar, sebuah getaran frekuensi rendah terdengar membelah langit Jakarta Selatan. Suara deru mesin jet kargo raksasa Boeing 747-8F terdengar melintas samar di ketinggian, bergerak konstan menuju landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma.

Di dalam kokpit pesawat kargo internasional tersebut, Kapten Sagara melepas sarung tangan penerbangannya yang terbuat dari kulit hitam. Sinar matahari Jakarta yang hangat menerpa wajah tampannya yang berstruktur tegas, memantul di atas empat garis emas di bahu seragam kaptennya yang gagah.

"Kapten Gara, pendaratan sempurna. Semua dokumen manifes kargo Shanghai-Jakarta telah dinyatakan bersih oleh bea cukai," lapor kopilot di sampingnya.

Gara tidak menyahut, ia hanya menarik sudut bibirnya tipis—sebuah seringai dingin penuh kepuasan taktis yang sangat langka. Ia meraih ponsel satelitnya, menonaktifkan mode penerbangan, dan melihat satu notifikasi aman dari Hendra yang menyatakan bahwa seluruh perimeter rumah utama dalam kondisi steril dan Kamil kini telah resmi mendekam di sel tahanan Polda Jawa Timur.

"Kerja bagus," desis Gara rendah, suara baritonnya sarat akan otoritas seorang pelindung utama keluarga Mwohan.

Ia menyambar pet kaptennya, memakai jaket kulit hitamnya yang ikonik di atas seragam putihnya, lalu melangkah keluar dari kokpit dengan langkah kaki yang lebar dan konstan. Burung besinya telah mendarat, seluruh bidak musuh telah dihancurkan dari langit, dan kini sang kakak tertua telah kembali ke bumi Jakarta untuk mengawal langsung gerbang mahkota Al-Anwar demi kebahagiaan adik-adiknya.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!