Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 ibukota naga langit dan hantaman jari sang Kaisar
Roda-roda kayu pedati logistik keluarga Yan berputar tanpa henti, menggilas jalanan berbatu yang meliuk-liuk menembus jantung benua. Satu bulan penuh telah berlalu sejak malam pembantaian di Lembah Maple Berdarah. Jejak darah dan abu yang ditinggalkan oleh Yan Xinghe di wilayah Provinsi Awan Darah telah memicu gempa politik berskala raksasa di kalangan faksi-faksi lokal, namun sang pelaku utama telah lama menghilang, tertelan oleh luasnya daratan Kekaisaran Naga Langit.
Selama satu bulan perjalanan tersebut, lanskap di sekeliling mereka berubah drastis. Dataran gersang dan pegunungan kapur yang beringas telah sepenuhnya digantikan oleh hutan purba berskala raksasa. Pohon-pohon raksasa dengan diameter puluhan meter menjulang menembus awan, sementara sungai-sungai selebar lautan mengalir deras membawa air yang memancarkan pendaran energi spiritual murni. Ini adalah wilayah pusat Kekaisaran Naga Langit, tempat di mana energi alam sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan wilayah perbatasan yang miskin.
Di dalam kabin pedati yang terus berguncang pelan, Yan Xinghe duduk bersila dalam keheningan yang menyerupai patung dewa kuno. Udara di sekeliling tubuhnya terdistorsi oleh hawa panas yang luar biasa pekat, namun tidak ada satu pun barang di dalam kereta yang terbakar. Pengendalian energi Inti Mistiknya telah mencapai tingkat presisi absolut.
Di dalam Dantiannya, butiran *Inti Mistik Tingkat Pertama* berwarna perak-emas berputar lambat namun membawa massa gravitasi yang mengerikan. Tiga energi esensial—Guntur Ungu Kaisar, Api Suci Gagak Emas, dan Esensi Purba Naga Emas—telah melebur menjadi satu kesatuan harmoni yang sempurna.
"Fisik *Tubuh Fana Tanpa Cacat* ini akhirnya memiliki mesin penggerak yang sepadan," batin Xinghe, perlahan membuka sepasang matanya yang kini sesekali memancarkan kilatan kilat keemasan. "Dengan kapasitas Inti Mistik saat ini, aku bisa melepaskan tiga puluh persen dari wawasan *Niat Pedang Pembelah Langit* tanpa perlu khawatir meridianku akan meledak menjadi serpihan."
Di luar kabin, Yan Qingshan sedang duduk di atas papan atap pedati, bertelanjang dada menahan embusan angin kencang yang membawa hawa dingin dari pegunungan. Mantan penebang kayu itu sedang memutar *Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi*. Rona kecokelatan yang menyelimuti kulitnya kini terlihat jauh lebih gelap dan padat, menyerupai lempengan zirah batu granit alami. Menghirup udara spiritual yang tebal di wilayah pusat ini telah mendorong fondasinya semakin kokoh di **Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kelima**.
"Kita sudah hampir tiba, Penatua Yan!" suara Ye Ling'er terdengar dari kursi kemudi depan, memecah keheningan meditasi mereka.
Xinghe menyibakkan tirai kain sutra, melangkah keluar ke papan kemudi. Angin kencang menerpa wajah pucatnya yang datar tanpa ekspresi. Di kejauhan, menembus lapisan awan putih yang menggantung rendah, sebuah pemandangan peradaban fana yang melampaui batas imajinasi manusia biasa akhirnya menampakkan wujud kemegahannya.
**Ibukota Kekaisaran Naga Langit**.
Kota itu tidak dibangun di atas dataran rendah, melainkan didirikan di atas sebuah dataran tinggi raksasa yang melayang ribuan kaki di atas permukaan tanah, ditopang oleh formasi anti-gravitasi kuno berskala masif yang memancarkan pendaran cahaya biru kristal. Tembok kotanya terbuat dari susunan *Baja Bintang Putih*, memantulkan cahaya matahari pagi bagaikan cermin raksasa yang menyilaukan mata. Di keempat sudut tembok kota, patung naga melingkar setinggi ratusan meter berdiri kokoh, yang sesungguhnya merupakan meriam energi spiritual tingkat tinggi yang dirancang untuk meruntuhkan praktisi Alam Melangkah Langit.
Di udara di atas kota mengambang tersebut, ribuan kapal terbang spiritual yang terbuat dari kayu giok dan perunggu lalu lalang membelah awan, mengangkut para bangsawan, tetua sekte, dan saudagar kaya dari seluruh penjuru benua.
"Kota yang lumayan untuk ukuran sangkar burung fana," komentar Xinghe santai, sama sekali tidak terintimidasi oleh kemegahan yang membuat Ye Ling'er dan Qingshan menahan napas kagum. Di mata seorang mantan Kaisar Pedang yang pernah melihat istana dewa yang menutupi seluruh galaksi, ibukota ini hanyalah setitik debu yang dihias dengan rapi.
"Kita harus mendarat di *Gerbang Bumi* di bawah dataran melayang itu," jelas Ye Ling'er sambil mengarahkan pedati mereka menuju jalanan berbatu putih yang sangat lebar. "Hanya bangsawan tingkat atas dan tamu Tanah Suci yang diizinkan terbang langsung memasuki ibukota. Rakyat biasa, pedagang, dan praktisi pengelana harus melewati pemeriksaan identitas di gerbang bawah dan menggunakan elevator gravitasi (Array Lift) untuk naik ke atas kota."
Xinghe mengangguk pelan. "Lakukan sesuai aturan mereka untuk saat ini. Kita membutuhkan tempat yang tenang untuk menempatkan Ibu dan Xiaoxiao sebelum aku mulai mengguncang pilar-pilar kota ini."
Satu jam kemudian, pedati logistik keluarga Yan telah mengantre di jalur masuk *Gerbang Bumi*. Pelataran gerbang itu sangat luas, dipenuhi oleh ribuan kereta barang, monster penarik yang eksotis, dan lautan manusia dari berbagai latar belakang.
Penjagaan di gerbang ini luar biasa ketat. Prajurit yang berjaga mengenakan zirah emas murni bermotif naga—**Kustodian Kekaisaran**. Barisan prajurit rendahan mereka saja berada di **Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Sempurna**, sementara komandan jaga yang duduk di kursi pengawas memancarkan tekanan kuat dari **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Menengah**. Ini adalah bukti nyata perbedaan kekuatan mutlak antara wilayah pinggiran dan pusat ibukota.
Tepat ketika pedati keluarga Yan hanya berjarak tiga giliran dari titik pemeriksaan, sebuah keributan kasar memecah antrean yang tertib di belakang mereka.
"Singkirkan pedati rongsokan ini dari jalanku! Kuda spiritual Tuan Muda kami kelelahan, kami harus masuk ke kota sekarang juga!"
Sebuah rombongan mewah yang terdiri dari puluhan pengawal berpakaian sutra merah menyala menerobos antrean dengan kasar. Mereka mendorong kereta-kereta pedagang kecil hingga terguling. Di tengah rombongan itu, seekor monster singa raksasa bersayap api berjalan dengan langkah angkuh. Di atas punggung singa tersebut, duduk seorang pemuda tampan dengan rambut diikat mahkota giok merah, mengipasi dirinya dengan kipas bulu merak yang memancarkan aura elemen api yang sombong.
Dia adalah Tuan Muda Huo Zun dari *Sekte Teratai Api*, salah satu faksi kelas satu di wilayah pusat. Pemuda itu memiliki kultivasi di **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kedelapan**, sebuah pencapaian yang dianggap genius di usianya.
Pengawal terdepan Sekte Teratai Api, seorang pria berkumis tebal dengan luka gores di dagunya, berjalan menghampiri pedati keluarga Yan. Ia melihat Kuda Bersisik Hitam milik Ye Ling'er dan Qingshan yang berpakaian sederhana, langsung menganggap mereka sebagai mangsa empuk.
"Kalian, pelayan udik!" bentak pria berkumis itu, mencengkeram tali kekang kuda Ye Ling'er dengan kasar. "Mundur dan biarkan rombongan Tuan Muda Huo Zun lewat lebih dulu! Atau aku akan membakar pedati kayu busuk ini beserta seluruh isinya!"
Qingshan yang sedari tadi duduk diam di atap pedati segera melompat turun. Kakinya menapak lantai batu dengan suara debuman keras, tubuh raksasanya memblokir langkah pria berkumis itu.
"Kami sudah mengantre selama dua jam," suara Qingshan berat dan tegas, tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut meskipun pengawal di depannya memancarkan aura Pembukaan Meridian Tingkat Kelima. "Silakan antre di belakang jika kalian ingin masuk ke dalam kota."
Pria berkumis itu tertawa meremehkan. "Seekor semut Penyempurnaan Tubuh berani menasihatiku tentang antrean? Kau mencari mati, Bocah Karang!"
Tanpa memberikan peringatan, pengawal itu mengangkat tangan kanannya yang seketika diselimuti oleh kobaran api spiritual berwarna merah kehitaman. Ia melayangkan satu tamparan mematikan yang dirancang untuk melelehkan tengkorak Qingshan ke arah wajah pemuda tersebut.
**"Jurus Telapak Api Pelebur Tulang!"**
Qingshan menyilangkan kedua lengannya, memutar esensi elemen tanah untuk memblokir, bersiap menerima benturan keras yang mungkin akan merusak kulitnya.
Namun, sebelum tamparan api itu sempat menyentuh kulit Qingshan, sebuah suara yang sangat datar, sedingin es, dan memancarkan kedaulatan absolut terdengar dari arah kursi kemudi pedati.
"Mengotori jalan di depan mataku adalah satu kesalahan. Berani mengangkat tangan pada kakakku... adalah dosa yang tidak memiliki ruang penebusan."
*BZZZZT!*
Xinghe bahkan tidak bangkit dari duduknya. Ia tidak menarik *Pedang Berat Tanpa Bilah* dari punggungnya. Pemuda berjubah hitam itu hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai, lalu menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya ke udara kosong.
Tidak ada ledakan besar atau cahaya yang menyilaukan. Hanya sebuah riak gelombang tak kasat mata dari energi Inti Mistik emas-perak yang bercampur dengan setitik **Niat Pedang Pembelah Langit** melesat memotong ruang.
*KRAAAAK! SPLAT!*
Tamparan api milik pengawal berkumis itu padam seketika layaknya lilin tertiup badai. Gelombang kekuatan jentikan jari Xinghe menghantam lengan kanan pria itu, meremukkan seluruh tulang dari ujung jari hingga ke pangkal bahu dalam hitungan seperseribu detik. Daging dan lengan pria itu meledak menjadi kabut darah merah yang menyemprot ke arah rombongan Sekte Teratai Api di belakangnya.
"AAAAARGGGHHH!"
Pengawal berkumis itu menjerit dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti manusia. Tubuhnya terlempar berputar-putar di udara sejauh belasan meter sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai batu gerbang dengan keras, pingsan seketika akibat syok rasa sakit yang menghancurkan sistem sarafnya.
Keheningan mutlak langsung menyelimuti pelataran Gerbang Bumi. Ratusan praktisi yang mengantre, termasuk para Kustodian Kekaisaran yang berjaga, membeku di tempat. Mata mereka terbelalak lebar, rahang mereka jatuh melihat pemandangan yang baru saja terjadi.
Seorang praktisi Alam Pembukaan Meridian Tingkat Kelima, dilumpuhkan hingga cacat permanen hanya dengan satu jentikan jari dari jarak lima meter, oleh seorang pemuda berjubah hitam yang auranya bahkan sulit dideteksi dengan jelas karena terlalu dalam dan tenang.
Di atas punggung singa apinya, wajah Tuan Muda Huo Zun yang semula penuh senyum meremehkan berubah menjadi kaku. Kipas bulu meraknya berhenti berayun. Kemarahan karena wajah klannya ditampar di depan umum bertarung dengan insting kewaspadaannya.
"Berani-beraninya kau melukai anggota Sekte Teratai Api di depan gerbang ibukota?!" Huo Zun berteriak, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Pengawal! Bunuh bocah berjubah hitam itu! Cincang dia menjadi potongan kecil!"
Dua puluh pengawal elit berpakaian sutra merah segera menghunuskan pedang spiritual mereka, meledakkan aura Alam Pembukaan Meridian mereka secara serempak. Mereka berniat menyerbu pedati keluarga Yan dari segala arah.
Xinghe perlahan bangkit berdiri di atas papan kemudi. Angin kencang menerpa jubah sutra hitamnya. Sepasang mata gelap tak berdasarnya menatap puluhan pengawal yang menerjang maju itu dengan pandangan bosan yang mematikan.
Ia mengangkat tangan kanannya, telapak tangannya menghadap ke bawah, lalu menekannya perlahan ke arah barisan pengawal tersebut.
**"Seni Penekan Langit: Gravitasi Kaisar!"**
*BUMMM!*
Seluruh energi alam dalam radius tiga puluh meter di depan pedati tiba-tiba mengamuk. Sebuah tekanan gravitasi spiritual yang luar biasa padat, bersumber langsung dari kemurnian mutlak Inti Mistik Tingkat Pertama milik Xinghe, jatuh dari langit menimpa dua puluh pengawal Sekte Teratai Api secara serempak.
Suara retakan tulang terdengar mengerikan menyapu udara.
Dua puluh pengawal elit itu, tanpa kecuali, dipaksa jatuh bertelut hingga lutut mereka menghancurkan lantai batu vulkanik di bawahnya. Beberapa dari mereka yang mencoba melawan tekanan tersebut dengan energi api mereka seketika memuntahkan darah segar, organ dalam mereka remuk akibat tekanan vertikal yang menyamai berat sebuah gunung besi kecil.
Singa raksasa bersayap api yang ditunggangi Huo Zun merengek ketakutan, kakinya gemetar sebelum akhirnya makhluk spiritual itu ikut jatuh tengkurap, memaksa Huo Zun tergelincir jatuh dan mendarat dengan tidak elit di atas genangan air kotor di lantai gerbang.
Hanya butuh satu jentikan jari dan satu tekanan telapak tangan. Seluruh rombongan faksi kelas satu bertekuk lutut di bawah bayangan pemuda berjubah hitam tersebut.
Xinghe menatap Huo Zun yang sedang merangkak ketakutan dengan pandangan sedingin es abadi. "Bawa anjing-anjing peliharaanmu ini pergi dari pandanganku dalam waktu tiga detik, atau aku akan memastikan tidak akan ada satu pun dari kalian yang memiliki kaki untuk berjalan kembali ke wilayah sektemu."
Huo Zun tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Keangkuhannya telah hancur lebur di bawah kengerian penindasan aura absolut Xinghe. Pemuda itu bangkit dengan susah payah, tidak memedulikan singanya atau pengawalnya yang masih terkapar memuntahkan darah, lalu berlari terbirit-birit menerobos antrean menuju ke arah luar gerbang.
Xinghe menurunkan tangannya, menarik kembali tekanan gravitasinya ke dalam lautan Dantian. Ia menoleh ke arah Komandan Jaga Kustodian Kekaisaran yang masih mematung dengan mulut setengah terbuka di dekat pos pemeriksaan.
"Apakah ada aturan kekaisaran yang melarang kami membuang sampah yang menghalangi jalan di area antrean ini, Komandan?" tanya Xinghe dengan nada yang sangat sopan, namun memancarkan wibawa yang membuat komandan itu tanpa sadar menelan ludah.
Komandan jaga itu, meskipun berada di Inti Mistik menengah, bisa merasakan bahwa kemurnian dan kepadatan energi pemuda di depannya berada di tingkat yang jauh lebih tinggi dan menakutkan. Tidak ingin mencari masalah dengan entitas misterius yang mungkin merupakan tuan muda dari faksi monster tersembunyi, komandan itu segera menggelengkan kepala.
"T-Tidak ada larangan, Tuan. Antrean Anda sudah tiba. S-Silakan tunjukkan plakat identitas dan silakan gunakan elevator utama menuju ibukota atas," jawab komandan itu dengan sangat sopan, menyeka keringat dingin di dahinya.
Ye Ling'er segera turun dari kursi kemudi, menyerahkan sekantung koin batu spiritual dan plakat pedagang palsu tingkat tinggi yang telah ia siapkan. Penjaga gerbang tidak berani memeriksa pedati logistik mereka yang berisi Ibu dan adik Xinghe, langsung mencap dokumen mereka dan membuka barikade baja tebal yang mengarah ke *Array Lift* raksasa.
Pedati keluarga Yan melaju mulus melintasi pelataran, meninggalkan kerumunan praktisi fana yang masih terguncang oleh demonstrasi dominasi murni sang Kaisar Pedang.
Elevator gravitasi (Array Lift) adalah sebuah piringan batu giok putih raksasa yang ditarik oleh kekuatan formasi spiritual kuno, bergerak konstan naik secara vertikal menembus lautan awan buatan. Di atas elevator ini, keluarga Yan akhirnya bisa melihat wujud Ibukota Naga Langit secara utuh.
Jalanan selebar sungai dipagari oleh gedung-gedung paviliun setinggi puluhan tingkat yang memancarkan pendaran cahaya formasi lima elemen. Di pusat kota terdalam, Istana Kekaisaran melayang lebih tinggi dari bangunan mana pun, dikelilingi oleh sembilan naga emas raksasa yang terbuat dari esensi cahaya padat yang berpatroli menjaga lapisan terluar istana tersebut.
"Kita akan menetap di *Distrik Ketenangan Bayangan* di wilayah barat ibukota," ujar Ye Ling'er, mengarahkan pedati mereka keluar dari pelataran elevator atas menuju jalanan kota yang sibuk. "Tempat itu dikuasai oleh Asosiasi Naga Bayangan tingkat pusat. Aku memiliki jaringan markas di sana yang tidak akan tersentuh oleh patroli militer kekaisaran. Di sana sangat aman untuk menempatkan ibumu dan Xiaoxiao."
Xinghe mengangguk setuju. Ia membiarkan Ye Ling'er mengatur logistik dan akomodasi. Fokus utamanya saat ini adalah memahami peta kekuatan faksi-faksi raksasa di ibukota ini, serta mencari tahu pergerakan Tanah Suci Gerbang Langit Abadi yang pasti telah memiliki pos komando tersendiri di sini.
Malam harinya, setelah menempatkan keluarganya di sebuah kediaman bawah tanah mewah yang dilindungi oleh puluhan segel peredam aura tingkat tinggi, Xinghe duduk di ruang tamu utama. Di depannya, Ye Ling'er membentangkan sebuah peta ibukota dan beberapa gulungan intelijen rahasia yang baru saja ia tebus menggunakan batu spiritual tingkat tinggi.
"Situasi di ibukota saat ini sedang berada dalam titik didih yang sangat tinggi," Ye Ling'er memulai pemaparannya dengan wajah serius. "Satu bulan dari sekarang, Keluarga Kekaisaran Naga Langit akan mengadakan acara terbesar dalam dekade ini: **Turnamen Bintang Kekaisaran**."
"Turnamen fana lagi?" Xinghe mendengus pelan, matanya memancarkan rasa bosan. "Kalian manusia di benua ini sangat suka berkumpul dan memamerkan trik sirkus kalian."
Ye Ling'er tersenyum kecut. "Ini bukan turnamen biasa, Penatua Yan. Turnamen ini tidak membatasi usia atau status, selama praktisi berada di bawah Alam Melangkah Langit. Hadiah utamanya... adalah alasan mengapa seluruh Tuan Muda dari Tanah Suci dan faksi-faksi raksasa benua ini berkumpul di ibukota."
Xinghe menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik. "Apa hadiahnya?"
"Sebuah fragmen kunci kuno yang terbuat dari logam kosmik hitam, yang dikabarkan merupakan satu-satunya benda yang bisa membuka segel **Makam Pedang Penguasa Bintang** di dasar jurang kekaisaran," jawab Ye Ling'er, matanya berbinar menceritakan legenda tersebut. "Makam itu dikatakan menyimpan warisan teknik dewa dari seorang pendekar yang pernah membelah benua ini menjadi dua bagian lima ribu tahun yang lalu."
Mendengar kata 'Makam Pedang' dan 'Logam Kosmik Hitam', jantung Xinghe berdetak satu ritme lebih cepat. Niat Pedang di dalam jiwanya tiba-tiba beresonansi liar. Logam kosmik hitam... deskripsi itu sangat cocok dengan sisa-sisa material puing dari pedang aslinya di kehidupan sebelumnya yang hancur berserakan melintasi dimensi. Jika ia bisa mendapatkan logam kosmik hitam tersebut, ia bisa meleburnya ke dalam *Pedang Berat Tanpa Bilah* miliknya saat ini, meningkatkan kapasitas senjatanya menuju artefak suci sesungguhnya.
"Siapa yang memegang otoritas atas turnamen ini?" tanya Xinghe, suaranya kembali sedingin es, namun memancarkan niat menjarah yang absolut.
"Keluarga Kekaisaran adalah penyelenggara resmi. Namun, tamu kehormatan tertinggi dan pengawas utama acara ini adalah Tuan Muda Gongsun Zhi dari Tanah Suci Gerbang Langit Abadi," jelas Ye Ling'er. Gadis itu menatap lekat-lekat pada wajah pucat Xinghe. "Gongsun Zhi menggunakan turnamen ini sebagai jaring untuk menarik bakat-bakat baru, namun jaringan asosiasku melaporkan bahwa ia juga menjanjikan hadiah tambahan bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi atau membawa kepalamu kepadanya selama periode turnamen ini."
Xinghe tersenyum. Sebuah senyum iblis yang luar biasa elegan dan mematikan, yang membuat Ye Ling'er tanpa sadar bergidik ngeri melihat keindahan kengerian murni di wajah pemuda tersebut.
"Gongsun Zhi... anak ingusan dari Tanah Suci itu rupanya sangat ingin melihatku lagi," Xinghe bangkit berdiri, menyusuri ujung tumpul *Meteorit Bintang Kegelapan* di punggungnya dengan jari telunjuknya. "Dia menggunakan turnamen kekaisaran untuk memburuku? Kalau begitu, akan sangat tidak sopan jika aku tidak datang dan menghancurkan panggung kebanggaannya itu."
"Kau berniat mendaftar ke dalam Turnamen Bintang Kekaisaran?" Ye Ling'er membelalakkan matanya. "Penatua Yan, turnamen itu akan diawasi langsung oleh Kaisar Naga Langit dan puluhan tetua pelindung dari Alam Melangkah Langit! Jika kau naik ke atas arena dan mengekspos identitasmu, kau akan dikepung oleh kekuatan militer gabungan tertinggi benua ini!"
"Dikepung?" Xinghe melangkah menuju jendela, menatap ke arah kemegahan Istana Kekaisaran yang melayang di pusat ibukota, diterangi oleh cahaya gemerlap formasi malam. "Di mataku, berkumpulnya seluruh semut di satu lubang tidak disebut pengepungan. Itu disebut sebagai efisiensi pembersihan."
Xinghe menoleh kembali ke arah Ye Ling'er, sepasang mata emas-peraknya menyala menembus keremangan ruangan. "Ling'er, aku butuh kau menggunakan jaringan bayanganmu untuk mendaftarkan nama 'Lin Xing' ke dalam daftar petarung turnamen. Sembunyikan jejaknya di balik faksi pedagang independen."
"Baik, itu bisa diatur," Ye Ling'er mengangguk, masih merasa cemas. "Lalu, apa rencanamu selama masa tenggang satu bulan ini?"
"Berburu," jawab Xinghe singkat. "Inti Mistikku telah terbentuk, tapi kapasitas lautan Dantian ini masih terlalu dangkal untuk menampung lima puluh persen Niat Pedangku. Aku akan pergi ke *Pegunungan Jurang Bintang* di utara ibukota. Kudengar tempat itu dipenuhi monster spiritual tingkat tinggi elemen petir dan logam. Aku tidak akan kembali sampai batas limit kapasitasku penuh."
Malam itu, di bawah keremangan langit Ibukota Naga Langit yang dihiasi oleh jutaan lampu lampion dan formasi spiritual, sebuah deklarasi badai baru telah dikumandangkan dalam kesunyian. Yan Xinghe, Sang Kaisar Pedang, tidak berniat bersembunyi di dalam bayang-bayang. Ia akan berjalan lurus menembus badai, menaiki panggung kehormatan musuhnya, dan meruntuhkan surga fana mereka di hadapan mata seluruh benua Tiga Ribu Dunia. Roda takdir berputar semakin cepat, menghitung mundur waktu menuju hari kehancuran kesombongan Tanah Suci.