Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Di depan cermin toilet, Nisa menepuk-nepuk puff bedak ke pipinya. Gadis manis berlesung pipi itu senyum-senyum sendiri membayangkan akan mendapatkan kejutan istimewa di hari anniversary ke-8 nya dengan sang kekasih, Sandi. Jika tahun kemarin ia mendapat janji, semoga tahun ini janji itu ditepati, Sandi akan melamarnya.
Hari itu, tepatnya 1 tahun silam, Sandi memberinya hadiah sebuah gelang titanium. "Pengennya ngasih cincin, sekaligus ngiket kamu, tapi...tabunganku masih belum cukup untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Do'ain ya, semoga rezekiku makin lancar. InsyaAllah, tahun depan aku lamar kamu."
Meksi hanya janji, tapi sudah bisa membuat hati Nisa melambung tinggi. Mereka pacaran sejak SMA. Saat mereka jadian, Nisa kelas 2, sementara Sandi kelas 3. Hingga hari ini, tepatnya 8 tahun, hubungan itu tetap terjalin, meski beberapa kali ada masalah, tapi tak sampai putus.
"Cie, cie...yang mau dilamar." Dinda menyenggol bahu Nisa.
"Sialan kamu, Din!" Nisa melotot, menunjukkan lip creamnya yang belepotan, keluar dari garis bibir gara-gara disenggol Dinda.
"Gak boleh marah, nanti aura calon pengantinnya hilang." Goda Dinda sambil menahan tawa.
Di toilet hanya ada mereka berdua karena hampir seluruh staff sudah pulang lebih dulu. Sebagai offlice girl, jam pulang mereka memang bisa dibilang paling akhir, beda setengah jam dari staf. Belum lagi, hari ini mereka lembur, jadi pulang jam 7 malam.
"Belum dilamar, Din." Nisa mengusap lip cream yang belepotan mengunakan tisu.
"Kan udah OTW. Buruan, jangan lama-lama touch up, Pak Sandi pasti udah nunggu di kafe tempat kalian janjian. Tadi aku lihat, dia udah pulang jam 6."
Nisa mengambil sisir di tas, melepas kunciran rambutnya lalu merapikannya. Pengennya sih digrai, tapi ada bekas ikat rambut, jadinya ia kuncir balik.
"Udah cantik." Dinda sampai geleng-geleng melihat Nisa yang lagi dan lagi memastikan penampilannya.
"Beneran, Din?" Mungkin karena mau bertemu pujaan hati, Nisa jadi butuh validasi.
"Beneran. Yakin deh, Pak Sandi bakalan langsung bilang, Nisa, maukah kamu menikah denganku?"
Nisa menutup mulut, tertawa cekikikan melihat Dinda cosplay jadi Sandi.
"Pak Sandi beruntung banget dapat cewek cantik plus pekerja keras kayak kamu." Dinda menyentuh bahu Nisa. Mereka sudah kenal lama, sejak bekerja di perusahaan ini, kurang lebih 6 tahun yang lalu.
"Shutt!" Nisa meletakkan telunjuk di depan bibir. "Jangan kenceng-kenceng, nanti ada yang denger."
"Semua udah pulang."
Di kantor ini, tak ada yang tahu jika Nisa adalah kekasih Sandi. Sandi meminta Nisa merahasiakan itu dengan alasan privasi.
Nisa meninggalkan gedung tempat ia bekerja, mengambil motornya di tempat parkir lalu melesat menuju sebuah kafe yang memorable bagi mereka. Sejak kafe itu berdiri, disanalah tempat favorit mereka untuk ngobrol dari hati ke hati atau sekedar makan. Dan ini tahun ketiga mereka merayakan anniversary disana.
Memasuki halaman kafe, senyum Nisa langsung mengembang. Ia melihat mobil putih milik Sandi, mobil yang tahun lalu dibeli kekasihnya itu secara kredit, yang sebagian DP nya, menggunakan uangnya. Tapi ia tak mempermasalahkan soal itu, toh nanti saat mereka sudah menikah, mobil itu akan dipakai bersama.
Sebelum masuk, Nisa kembali mematut wajah di cermin spion, merapikan rambut yang sedikit berantakan akibat helm dan angin jalanan yang lumayan kencang malam ini. Setelah dirasa cukup, ia melangkah menuju pintu masuk. Situasi di dalam tak terlalu ramai, cocoklah, tak terlalu bising untuk yang sedang merayakan anniversary.
"Nis." Sandi mengangkat tangan sambil sedikit berdiri melihat Nisa celingukan.
Gadis berlesung pipi yang namanya baru dipanggil itu, langsung menghampiri sang kekasih dengan senyuman manisnya. Meski sudah 8 tahun, rasanya tak ada yang berkurang, ia masih sering tersipu malu di depan Sandi, jantungnya juga masih kerap berdebar saat ditatap oleh cinta pertamanya itu.
"Nunggu lama ya, maaf." Nisa memasang ekspresi bersalah, menarik kursi tepat di hadapan Sandi lalu duduk. Ia meletakkan tas selempangnya di kursi sebelah yang kosong, tas yang berisi hadiah anniversary yang telah ia siapkan jauh-jauh hari. Baginya, anniversary itu adalah sesuatu yang wajib dirayakan, dan hadiahnya wajib spesial, meski harus merogoh kocek dalam-dalam.
"Lumayan." Sahut Sandi dengan wajah sedikit canggung, beda dengan biasanya.
"Kenapa, Kak?" Sebagai orang yang telah lama menjalin hubungan, Nisa bisa membaca bahasa tubuh Sandi. Ada yang beda dengan kekasihnya itu.
"Enggak kok." Sandi menggeser satu gelas ice matcha latte ke hadapan Nisa, minuman yang sudah ia pesan saat baru datang tadi.
"Makasih." Nisa langsung mengaduk lalu menyedot minuman favoritnya tersebut. "BTW, happy anniversary," ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Ha, happy anniversary."
Senyum Nisa perlahan memudar, keningnya mengernyit, merasa seperti ada yang beda dengan Sandy. Kekasihnya itu terlihat seperti ada beban berat. "Ada apa sih, Kak? Kamu kok kayak gak nyaman gitu. Kayak ada masalah. Ini anniversary kita ke 8 loh, kamu gak happy?"
Sandi hanya tersenyum sambil mengusap tengkuk, terlihat seperti sedang mengurangi kegelisahan.
"Udah pesen makanan belum? Aku pesenin ya." Nisa mengambil buku menu yang ada di tengah-tengah meja.
"Aku gak usah."
"Hah!" Nisa mengangkat wajah, menatap Sandi dengan mulut setengah terbuka.
"Aku gak lama."
"Ma, maksudnya?" Kegelisahan mulai menyelimuti hati Nisa. Ia mencoba untuk berfikiran positif, mungkin Sandi mau mengajaknya ke tempat lain yang lebih romantis. Iya, mungkin seperti itu.
"Nis, aku mau kita putus."
Deg
Nisa terperangah, terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapan Sandi barusan.
"Kita...sampai disini saja."
Tubuh Nisa mulai gemetar, wajahnya pias, kedua tanganya memegang pinggiran kursi, seperti sedang mencari kekuatan disana. Sandi terlihat sangat serius dengan ucapannya. "Alasannya?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Orang tuaku tidak merestui hubungan kita."
Nisa tertawa pelan, sekaligus pengen nangis. Kenapa alasan itu terdengar seperti sangat dibuat-buat. Bukan satu atau dua tahun, 8 tahun mereka pacaran. Bukan satu dua kali juga ia diajak ke rumah Sandi, beberapa kali ia kesana, meski setahun terakhir ini, hampir tidak pernah sama sekali. Orang tuanya terlihat biasa saja, tidak membencinya, tapi juga tidak bisa dikatanan menyukainya sangat.
"Orang tua ku menginginkan jodoh yang setara untukku. Kamu fahamkan maksudku?" Sandi gelisah, tak berani menatap wajah Nisa. Ia tahu, keputusannya ini pasti menghancurkan hati gadis itu.
Nisa menggigit bibir bawah, menahan tangis.
"Mereka menginginkan menantu yang setidaknya, juga lulusan sarjana, dan memiliki pekerjaan yang setara denganku," lanjut Sandi.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah 8 tahun?" Suara Nisa bergetar, menahan tangis.
"Aku sudah berusaha membujuk mereka, Nis. Tapi sayangnya, mereka tetap tak setuju." Sandi mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu berdiri. "Sekali lagi, aku minta maaf, Nis. Minumannya sudah aku bayar. Aku pergi dulu."
Seperti pengemudi yang tiba-tiba kehilangan arah, Nisa bergeming dengan tatapan kosong. Ia masih diam untuk waktu yang lama, bahkan sampai mobil Sandi meningalkan halaman kafe.
Enggak, ini pasti hanya mimpi. Sandi mencintainya, mereka akan menikah. Iya, ini mimpi. Nisa menampar pelan pipinya sendiri.
"Gak sakit, cuma mimpi." Tubuhnya gemetar, dadanya sesak, berusaha membohongi diri sendiri.
Ia menampar sekali lagi, lebih keras, dan akhirnya, tangisnya pecah. Nisa meremat dada. Ya, dada, karena sakit di pipinya tak sebanding dengan sakit di dadanya. Jantungnya serasa seperti ditikam dengan belati hingga tembus ke punggung, sakit sekali. Ia datang dengan harapan besar, namun kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik, ia dihempaskan dengan begitu kejam, tanpa perasaan.
Nisa membenamkan wajah di atas meja, menumpahkan air mata disana. 8 tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali momen yang tercipta di antara mereka. Banyak juga mimpi yang ingin ia wujudkan bersama Sandi, salah satunya mimpi untuk membina rumah tangga. Tapi, semua yang dibangun selama 8 tahun, kini telah kandas, dan meninggalkan luka yang teramat dalam.
🤣🤣🤣